High School Love On

High School Love On
Bertemu Kembali



Juli 2015.



Tahun ajaran baru telah datang dan seluruh sekolah di Jakarta mulai kembali membuka gerbangnya. Tak terkecuali Nexus, sebuah SMA swasta dibilangan kemayoran yang juga telah siap dengan hadirnya cerita baru dibawah naungan teratai putih yang menjadi lambang sekolah itu.



Para siswa dan siswi baru mulai berdatangan, hilir mudik melewati gerbang sekolah, hampir tak dapat dibedakan dengan murid yang lama. Diantara mereka terdengar tawa serta candaan kecil, menggambarkan betapa senangnya mereka di tahun ajaran baru ini. Mereka berbondong\-bondong berjalan melewati gerbang, kecuali gadis itu. Gadis bersurai hitam yang tengah bersandar dipagar sekolah, menatap layar ponsel ditangannya tanpa menghiraukan tatapan para siswa baru yang sepertinya penasaran dengan gadis manis bersurai hitam itu.



Sana Vlamuella, itulah yang tertulis di atas name tag blazernya. Sana menatap layar ponselnya dengan bosan, memainkan ibu jarinya dilayar ponselnya yang cukup lebar. Ia berdecak kesal sesekali saat mendengar bisikan\-bisikan norak dari siswa baru didepannya, berkumpul didepan sebuah mobil jip merah yang sepertinya milik salah satu dari mereka.



Ia mengedarkan pandangannya, berusaha mencari seseorang ditengah keramaian siswa baru yang berbondong\-bondong berjalan menuju sekolah baru mereka, namun sepertinya Sana tak menemukan seseorang yang ia cari. Ia semakin risih dengan kelompok siswa baru didepan jip merah itu yang sejak tadi menatapnya sambil berbisik kepada temannya, membuatnya jengkel.



Merasa muak, ia meletakkan ponselnya kedalam saku blazer yang ia kenakan lalu berjalan pergi, menjauh dari kelompok siswa baru itu sebelum kesabarannya habis. Ia berjalan kearah gerbang sekolah bersama sekelompok siswi baru dan berisik yang berjalan didepannya.



Kemudian sayup\-sayup terdengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang, ia menoleh kebelakang lalu didapatinya seorang gadis cantik dengan rambut pirang seleher tersenyum padanya. Sosok gadis itu mengenakan seragam yang sama seperti dirinya, tersenyum manis kearahnya seperti tak punya beban sama sekali, padahal Sana yakin ransel putih di punggungnya itu cukup berat.



"Alf..??" Ucap Sana dengan nada memastikan, pasalnya sosok yang tersenyum kearahnya layaknya mbak\-mbak SPG sebuah produk pasta gigi ini, sangatlah berbeda dengan apa yang ia ingat.



"Ini elu kan..??" Tanya nya lagi, kembali memastikan. Sana mulai menatap sosok itu dengan tajam, dari atas kepala hingga ujung sepatunya lalu kembali lagi menatap wajahnya.



"Iya.. ini aku.." Balas Alf sambil tersenyum, ia tak menyangka kalau temannya itu sampai tak mengenali dirinya karena penampilan barunya saat ini.



"Oh my.." Sana tidak menyelesaikan kalimatnya, ia sangat terkejut dengan perubahan temannya itu. Rambut yang digerai bebas, seragam yang cukup seksi menurutnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat rok coklat yang dikenakan temannya itu.



"Rok lu dipotong..??" Tanyanya dengan ekspresi terkejut. Pasalnya Alf adalah satu\-satunya siswi Nexus yang selalu mengenakan rok dibawah lutut, namun kini rok yang ia gunakan sudah melewati batas lututnya.



Alf hanya tersenyum lebar, dan saat itu Sana melihat bibir temannya yang kini lebih merah muda, dan ia yakin melihat semburat merah muda yang samar dipipi temanya itu, Sana tersenyum jahil.



"Alf… elo dandan?" Tanya Sana dengan nada jahil. Senyum di wajah Alf berubah menjadi ekspresi panik yang khas miliknya membuat Sana semakin jahil.



"Udah ah… ntar aku jelasin, tapi gak disini" Ucap Alf sambil berusaha tidak menatap wajah jahil temannya, semburat merah muda di pipinya terlihat semakin nyata, ia sedang malu.



"Aku malu…" Ucapnya lirih, membuat Sana tertawa melihat tingkahnya itu. Dengan segera Sana merangkulnya, berusaha membuatnya tenang.



"Yaudah… ke lobi yuk!" Ajak Sana sambil mengajak Alf berjalan bersama dengannya. Alf mengangguk sambil tersenyum.



\*\*\*\*\*



Lobi kembali berubah warna, setidaknya itulah pikiran utama seseorang saat memasuki lobi Nexus. Begitu pula dengan Sana dan Alf, mereka tersenyum lebih dari kata kagum, mereka tersenyum demi menahan tawa saat melihat dinding serta ornamen yang kini berubah warna menjadi..



"Ungu?" ucap Sana untuk kesekian kalinya, membuat Alf mati\-matian menahan tawanya hingga air matanya menetes.



"Sana.. Udah ah, aku gak kuat.." Alf menekan perutnya yang tiba\-tiba sakit karena terlalu banyak tertawa.



Sana menurut, ia melempar ransel coklatnya keatas sofa yang memang disediakan disana, tepat disamping meja resepsionis. Sofa itu pun berwarna ungu. Sana duduk di sofa lain, begitu juga dengan Alf yang duduk berhadapan dengannya. Sana memandang lobi ungu itu, ia kembali tersenyum, ini lucu pikirnya, sebuah lobi sekolah dengan warna ungu, ini mengingatkan dirinya akan kamarnya sendiri.



"Gue merasa kayak dikamar sendiri.." kata Sana sambil tersenyum lebar.



Ia tak tahan untuk tak berkomentar. Lobi memang selalu berubah warna setiap tahunnya. Itu hal yang biasa di Nexus. Tapi kali ini kepala sekolah benar\-benar memilih warna yang menarik. Sana kembali tersenyum.



Alf menatap sambil menggelengkan kepalanya, Sana hanya membalasnya dengan senyum andalannya. Alf mengambil sebuah majalah dari atas meja kaca dihadapannya, membolak\-balik halamannya.



"Kayaknya banyak anak baru yang masuk tahun ini.." ucap Alf sambil membaca sebuah artikel di majalah yang ia pegang. Sana yang tadi sibuk dengan handphone nya kini menatap gadis pirang didepannya.



"Sejak kapan lu suka baca majalah?" tanya Sana heran.



"Aku kan udah bilang.. Aku udah berubah.." ia meletakkan majalah yang ia pegang lalu kembali menatap Sana.



"Sekarang aku bukan Alf yang dulu, bukan lagi nerdy girl kayak dulu.." jelas Alf sambil tersenyum, ia berdiri lalu berputar ditempat layaknya model, membuat beberapa siswa meliriknya.



"Yaa.. Kalo lu bilang gitu, gue ikut seneng deh" ucap Sana sambil membalas senyum Alf. Ia senang dengan perubahan temannya, dengan begitu takkan ada lagi yang akan mengganggu temannya itu. Tapi ia benar\-benar tak menyangka, Alf berubah dalam waktu singkat. Rambut pirang yang dulu panjang hingga punggungnya kini dipotong hingga sebatas leher, kaca mata yang selalu ia gunakan sekarang sudah tak ada dan kini digantikan dengan lensa kontak. Hampir tak terlihat kalau dia adalah Alf.



"Kayaknya bukunya berhasil yaa.." sebuah suara membuat Sana sadar dari lamunannya, sontak ia segera menoleh kebelakang.



Sebuah sinar seperti kilat tiba\-tiba menyapu pengelihatannya, membuat matanya kabur sesaat, ia mengedipkan matanya kemudian mendapati sosok gadis tinggi langsing dengan seragam yang sama dengan mereka \-kemeja putih dibalut blazer coklat susu serta rok coklat dengan garis putih dibawahnya\- tengah memegang sebuah kamera digital berwarna merah muda yang terkesan norak. Gadis itu tersenyum lebar menampakkan lesung pipit di pipinya yang tirus, rambut hitamnya di kuncir dua di kanan dan kiri kepalanya, terlihat lucu saat ia menggeleng.



"Ekspresi yang menarik.." ucapnya sambil memeriksa hasil jepretan kameranya.



Sana menatap gadis itu dengan pandangan sebal. Sana adalah salah satu gadis yang sangat tidak suka difoto, tapi nyatanya gadis didepannya punya selusin foto dirinya dengan berbagai pose, dan jelas itu diambil tanpa sepengetahuan dirinya.



"Gue simpen yaa.." ucap gadis itu sambil tersenyum lebar kearah Sana yang terlihat makin sebal dengan tingkahnya.



"Lyfa..!!" teriak Alf dengan nyaringnya membuat Sana harus menutup telinganya sejenak. Alf melompat memeluk Lyfa yang juga antusias dengan sikap Alf.



"Apa kabar Alf?" tanya Lyfa yang sudah berhasil melepas pelukan erat Alf, sebelum menjawab ia lebih dulu menarik tangan Lyfa untuk duduk disampingnya. Sana memutar matanya.




Sana yang merasa ditatap balas menatap gadis berkuncir dua dihadapannya. Ia memasang wajah sebal kearahnya, karena ia tau, cepat atau lambat kata\-kata menyebalkan akan keluar dari mulut gadis berkuncir dua itu.



"Lo cantik hari ini, Sana.." ucap Lyfa sambil tersenyum lebar kearah temannya itu, sedangkan Sana masih tetap diam dengan wajah sebalnya. Sebelum Sana bisa berkata apa\-apa, Lyfa kembali bersuara.



"Serius deh.. Lu kayak Selena Gomez.." ucapnya lagi sambil tertawa pelan diikuti Alf yang terkikik geli. Lyfa segera mengambil kamera miliknya, bersiap mengabadikan wajah sebal Sana.



"Sekali lagi lu moto gua.. Gua banting kamera lu!" ancam Sana dengan nada serius yang sontak mengubah pikiran Lyfa untuk mengambil gambar.



Lyfa segera memasukkan kamera pink\-nya kedalam ranselnya, memastikan benda kesayangannya itu aman dari amukan Sana. Kemudian ia beralih pada Alf yang masih berdiri didepannya. Ia memandangi temannya itu dengan teliti, dari kepala hingga ujung sepatunya, kemudian tersenyum.



"Gimana? Buku dari gue baguskan?" tanya Lyfa pada sosok Alf yang kini ikut tersenyum.



"Iya.. Liat aja hasilnya.." jawab Alf sambil berputar ditempat dengan bangga. Beberapa siswa meliriknya dengan penuh tanya, ada yang berpikir kalau gadis pirang itu adalah murid baru, ada juga yang berpikir bahwa Alf itu gadis aneh yang tengah berputar\-putar dengan senyum lebar. Sedangkan Alf mengartikan lirikan\-lirikan itu sebagai sebagai tatapan kagum yang seolah berkata 'cewek itu cantik'. Setidaknya itu yang ada dipikirannya.



Alf sibuk dengan pikiran\-pikiran ge'er\-nya hingga tak memperhatikan ikatan tali sepatunya yang lepas, hingga ia terjatuh.



Lyfa secara reflek segera membantunya berdiri sambil terkikik geli melihat Alf terjatuh. Sedangkan Sana memperlihatkan ekspresi antara ingin tertawa dan kasihan melihat temannya itu.



"Lagian kebanyakan gaya sih lu.. Jatoh kan jadinya.." Sana menutup mulutnya yang ingin tertawa saat melihat perubahan wajah Alf yang kini memerah karena malu. Lyfa ikut tertawa saat menyadarinya, dengan cepat ia meraih kameranya kemudian mengabadikan wajah merah milik Alf.



"Tempel dimading Lyf.. Trus kasih judul, 'Si cantik berwajah merah'.." ucap Sana kearah Lyfa sambil menggerakkan kedua tangannya seperti sedang memasang papan reklame diudara.



Lyfa mengangguk sambil mengacungkan jempolnya kearah Sana yang kembali tertawa. Sedangkan Alf yang telah duduk kembali disofa memasang wajah sebal. Ia melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil menatap Sana yang semakin geli dengan tawanya.



"Muka lu gak pantes diserem\-seremin kayak gitu" ucap Lyfa yang membuat Sana menundukkan wajahnya, berusaha menahan tawanya.



"Yang ada malah tambah lucu.." tambahnya.



Beberapa siswa menoleh, memperhatikan tingkah ketiga gadis disamping meja resepsionis. Menatap mereka dengan heran, kemudian berpaling saat pintu kaca lobi dibuka dengan sedikit kasar hingga berdecit.



Seorang gadis melangkah masuk dengan anggun, menghentakkan kakinya dengan sengaja hingga suara 'tuk' sepatunya terdengar jelas keseluruh lobi. Rambutnya yang kemerahan digerai indah bergelombang. Ia tersenyum sinis kepada semua orang yang memperhatikannya. Dibelakangnya dua gadis lain mengikuti, terlihat sama angkuhnya dengan gadis merah didepannya.



Beberapa siswi berbisik dengan temannya sambil menatap ketiga gadis itu, sedangkan para siswa menatap mereka dengan kagum sambil tersenyum, berharap ketiga gadis itu mau menyapa salah satu dari mereka.



Lyfa dan Alf juga tak kalah kagum dengan kecantikan ketiga gadis itu, terlebih lagi dengan gadis berambut merah yang berjalan didepan. Gadis yang selalu modis dan elegan.



Entah apa maksudnya, Lyfa menekan tombol kameranya, mengambil gambar ketiga gadis itu dengan suara 'klik' yang membuat Alf menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.



Sana memutar bola matanya sambil menghela nafas saat melihat sikap berlebihan penghuni Nexus dalam memandang seseorang. Sana tak lagi ambil pusing, ia menggeleng sebentar lalu kembali melihat galeri foto di handphone\-nya. Ia melirik Lyfa dan Alf sebentar saat mereka duduk disofa tepat didepannya.



"Mau gimana juga.. Emang gak bisa dibantah lagi.. Dia emang cantik" ucap Lyfa yang mulai membuka mulutnya, Alf mengangguk setuju dengan sedikit rasa enggan mengakuinya.



"Tapi, gue tetep gak terima sama sikap tuh cewek sama orang lain, apa lagi sama lu" ucapnya lagi yang tiba\-tiba geram. Alf hanya menunduk.



Sana mengangkat kepalanya, menatap Alf yang tertunduk diam disamping Lyfa yang makin ramai bicara sendiri. Sana melihat perubahan wajah teman pirangnya itu yang terlihat murung. Perubahan sikap Alf yang mendadak ini terlihat aneh, bahkan bagi orang yang mengenalnya. Sana sudah lima tahun mengenalnya, dan itu cukup untuk membuatnya paham dengan sifat temannya itu.



Alf adalah gadis pemalu. Hal itu sangat terlihat dari pembawaan canggung dirinya. Sana ingat, mereka berdua takkan pernah berteman jika ia tak mengulurkan tangan lebih dulu.



Alf tetap pada sifat awalnya hingga kini. Walau penampilan telah merubahnya, namun sosol Alf tetap sama seperti dulu.



Sikap gadis pirang itu selalu membawanya kedalam permainan orang lain. Ia sering mengerjakan tugas orang lain, diejek, bahkan dijauhi.



Sana ada untuk membela temannya yang terlihat suka diperlakukan seperti itu. Tak ada yang berani menyentuh Alf jika ia ada disampingnya. Bahkan para siswa tak ingin mencari masalah dengan Sana. Dan itulah yang membuat Alf aman.



Setidaknya hingga tahun lalu.



Sana menatap Alf dengan sendu. Sosok pirang itu tetap menunduk, hanya menjawab 'ya' sesekali saat Lyfa bertanya padanya. Ia ingin menegurnya, tapi segera ia urungkan niatnya itu. Ia mengingat janjinya.



Saat itu pukul lima sore, sekolah sudah selesai satu jam yang lalu. Sana kembali ke sekolah untuk mengambil beberapa bukunya yang tertinggal diruang kesenian. Tak pada siapapun disekolah kecuali sekelompok siswa yang tengah berlatih basket dilapangan.



Sana tak mau berlama\-lama, ia segera keruangan seni kemudian mengambil bukunya yang tertinggal. Saat ia ingin pulang, ia menatap keluar jendela yang mengarah ke sebuah taman kecil yang biasa digunakan Alf untuk membaca novelnya.



Entah apa yang membuat kakinya melangkah ke taman itu, hingga akhirnya ia terkejut. Alf ada disana, tapi tak seperti biasanya. Alf terduduk diatas rumput dengan penampilan yang kacau. Seluruh tubuhnya tertutup cairan kuning kental yang berbau aneh, ia tertunduk, badannya bergetar, ia menangis. Segera Sana berlari menghampirinya lalu bertanya tentang apa yang terjadi, awalnya ia menolak, tapi akhirnya ia bercerita.



Sana geram, ia mengepalkan tangannya, ia benar\-benar marah saat tau siapa yang melakukannya pada Alf. Tapi Alf memegang tangannya, lalu meletakkan jarinya sendiri didepan mulutnya kemudian menggeleng perlahan.



Sana segera sadar, bahwa Alf tak mau dirinya ikut terlibat.



\*\*\*\*\*