
Mentari senja kembali menyapa, bergerak perlahan kearah barat, meninggalkan semburat jingganya diantara sekumpulan awan dilangit. Bagai permen kapas berwarna jingga yang melayang dilangit bersama burung\-burung yang berkejaran menuju rumahnya.
Gadis itu berjalan sendirian ditrotoar, melangkah dengan gontai tanpa semangat.
Wajahnya terlihat lesu, tertutup helaian rambut pirangnya. Ia menatap jalan berbatu yang ia lewati, jalan yang sama persis seperti dalam ingatannya. Matanya menangkap sebuah papan nama jalan yang kini berada dihadapannya. Papan dengan cat yang terkelupas itu hampir tak terlihat karena tertutup tanaman rambat yang hampir tumbuh menutupinya, ditambah sulur\-sulur pohon beringin yang tumbuh disampingnya, membuatnya makin tak terlihat.
Gadis pirang itu meletakkan tangannya diatas papan nama jalan didepannya. Ia menyingkirkan tumbuhan rambat yang menutupi papan itu, kemudian tersenyum saat melihat tulisan pudar yang ada diatas papan itu, tepatnya sesuatu yang menimpa tulisan pudar itu. Sebuah goresan angka 6 dan 9 yang tak begitu jelas namun masih tetap terlihat. Kilasan ingatan spontan berputar bagai sebuah film didalam kepalanya. Senyum kecilnya mengembang saat mengingat hal itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap langit jingga diatasnya sambil tersenyum hangat. Kemudian kembali berjalan melewati papan nama yang kini kian menjauh dibelakangnya. Menembus jalan berbatu, masuk kedalam komplek perkebunan teh. Angin berhembus menerpa wajahnya, membuat surai pirangnya menari. Jalan setapak yang ia lewati ini cukup jauh dari jalan utama, bahkan mobilnya pun tak bisa melewati jalan ini.
Ia berpapasan dengan beberapa penduduk sekitar, menyapa mereka sebentar kemudian melanjutkan langkah kakinya. Ia sudah lama tak datang kemari, walaupun begitu tetap saja tempat ini tak berubah sedikitpun. Masih terasa tenang dan nyaman.
Ia menendang sebuah kerikil dikakinya, mendengus kesal sambil meletakkan kembali ponselnya kedalam saku jaketnya. Ini semua salah kakak, teriaknya dalam hati. Seharusnya ia sedang duduk mengerjakan ujian masuk universitas, tapi sang kakak memaksanya untuk datang ketempat ini. Benar\-benar menyebalkan. Ia berjanji, jika bertemu dengan sang kakak ia akan menghajarnya nanti, ucapnya dalam hati.
Ia berhenti. Barisan perkebunan teh yang hijau berakhir disini, digantikan dengan pohon\-pohon tinggi didepan sana. Entah pohon apa namanya, tapi yang pasti ia tau jumlahnya. Ia kembali berjalan, mengikuti jalan setapak menembus barisan pepohonan yang kadang menari ditiup angin. Suara burung\-burung kecil terdengar dari atas pohon, berebut masuk kedalam sarang karena malam akan segera datang.
Ia kembali menghentikan langkahnya saat matanya menangkap sosok lain diujung jalan. Seorang laki\-laki dengan hoodie kuning tengah bersandar disalah satu pohon didepan sana. Matahari mulai menghilang diufuk barat bersamaan dengan menghilangnya cahaya jingganya dikejauhan, membuat langit semakin menggelap. Namun tak membuatnya ragu akan sosok laki\-laki yang tengah menatapnya bosan didepan sana, rambut pirang panjang yang diikat dibelakang kepalanya, serta wajah menyebalkan itu. Ia yakin, itulah laki\-laki yang sedang ia cari.
“Kakaaakk..!!”
***