High School Love On

High School Love On
12 IPA-A: Semua Berawal Dari Sini



 


Alghif Virane Malgenta. Gadis dengan rambut kemerahan yang namanya selalu dielu\-elukan di Nexus. Bukan tanpa alasan, ayahnya adalah salah satu pejabat negara serta donatur terbesar di Nexus, hingga tak heran kalau dirinya sangat disegani oleh penghuni Nexus.


Wajahnya yang cantik serta sikapnya yang anggun membuat sebagian besar siswa disekolah itu menaruh perhatian padanya.


Tapi bagi mereka yang telah lama mengenalnya, ia tak ubahnya nenek sihir yang kejam. Layaknya cerita putri salju, ia punya peran yang sama dengan ibu tiri putri salju, sang ratu yang tak mau melihat siapa pun 'lebih' dari dirinya.


Sikap angkuhnya yang selalu merendahkan orang lain seringkali membuat beberapa siswa keluar dari Nexus, beberapa siswi juga sudah menambahkan dirinya kedalam blacklist orang yang harus dihindari. Hingga tak ada yang berani melawannya atau sekedar melaporkan prilaku buruknya yang suka melakukan bullying pada murid lain.


Semua itu takkan menghentikannya. Alghif adalah aktris yang hebat, aktingnya didepan guru dapat memutar\-balikkan keadaan, bahkan bisa mengubah peran seseorang. Dari korban menjadi pelaku.


.


.


Sana mengetuk mejanya dengan jari telunjukna berulang\-ulang. Menghela nafas, kemudian melirik meja terdepan, tepat didepan meja guru. Gadis merah itu ada disana, sibuk merias wajahnya. Alghif.


.


.


Lyfa membawa dua buah kabar saat mereka masih berada dilobi, kabar baik dan buruk. Awalnya Sana tak terlalu tertarik, namun saat mendengar kalau kabar baiknya adalah mereka bertiga akan berada dikelas yang sama membuat Sana sedikit tersenyum. Setidaknya Lyfa bisa menghibur Alf dengan kabar baiknya itu, karena ia melihat senyum kecil Alf mengembang diwajahnya. Tapi senyumnya tak bertahan lama, tepat saat Lyfa mengatakan kabar buruk yang tak pernah Sana bayangkan. Alghif juga berada dikelas yang sama dengan mereka.


Sebenarnya Sana tak mempermasalahkan dimana ia ditempatkan, ia juga tak punya masalah dengan Alghif. Ia hanya memikirkan, bagaimana perasaan Alf.


.


.


Sana melirik kebelakang, meja yang diisi Alf. Gadis pirang itu tengah membaca sebuah buku dengan serius hingga tidak sadar kalau dirinya tengah diperhatikan. Mata Sana bertemu dengan sosok Lyfa yang duduk disamping Alf, walau beda meja. Lyfa mengedikkan dagunya kearah Alf, Sana mengerti maksudnya. Namun sebelum ia sempat menegur Alf, pintu kelas dibuka dan seseorang melangkah masuk.


\*


"Nama saya Reynaldi.. kalian bisa memanggil saya dengan sebutan pak Rey.." ucap laki\-laki berkacamata itu sambil tersenyum kearah anak didiknya. Namun tak ada respon yang ia terima, dengan senyum kembali ia melihat sekeliling ruang, memperhatikan satu persatu anak didik barunya.


"Mungkin kalian belum mengenal saya.. itu wajar.. karena saya adalah guru baru di Nexus, saya mengajar fisika menggantikan pak Idrus" ucapnya menjelaskan.


Rey kembali tersenyum, ia teringat kembali kata\-kata kepala sekolah mengenai anak didiknya. Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan wajah\-wajah dihadapannya. Ada berbagai macam perangai dikelas ini, dan ia tau tak semuanya berjalan dengan baik. Ini tugasnya menjadi wali kelas, untuk menuntun mereka.


Rey memanggil nama\-nama mereka yang tertera dalam buku absen, sesekali berhenti untuk melihat pemilik nama yang ia panggil. Berbagai sikap ia ketahui saat memanggil nama\-nama itu, sebagian menyahut dengan \-cukup\- antusias, sebagian yang lain hanya mengangkat tangannya tanpa suara.


Setelah selesai menyebutkan nama mereka satu persatu Rey kembali melihat daftar absensi ditangannya. Ia sempat heran karena jumlah murid laki\-laki dikelas in hanya berjumlah empat orang, sedangkan murid perempuan lebih mendominasi. Sepertinya jumlah perempuan didunia ini lebih banyak dari pada laki\-laki. Hal itu membuatnya tersenyum kembali.


"Baiklah.. sebelumnya saya akan memberitahu kalian bahwa saya hanya akan mengajar fisika dikelas ini.." ucapnya yang sontak membuat ke dua belas anak didik barunya menatapnya dengan penuh tanya. Rey tertawa dalam hati.


"Gak usah kaget gitu... saya juga gak tau kenapa, tapi yang pasti kepala sekolah bilang kayak gitu.." ucap Rey sambil tersenyum. Ia melepas kacamatanya lalu membersihkan lensanya dengan sapu tangan.


"Dan satu lagi.. saya juga menjabat sebagai wali kelas kalian.." ucapnya lagi sambil menebak\-nebak ekspresi yang akan ditunjukkan dua belas orang didepannya.


Dan nyatanya tak ada respon yang berarti, sebagian besar hanya menatap guru muda itu dengan datar, walau ada beberapa siswi yang terkejut. Rey kembali tersenyum saat seorang siswi yang \-entah sengaja atau tidak\- berteriak 'What' dengan suara tertahan. Rey segera menatap siswi yang langsung menutup mulutnya, merutuki kebodohannya.


"Ada masalah? Em.. Syafa?" tanya Rey sambil memanggil nama siswi itu, sedangkan yang dipanggil makin salah tingkah.


Syafa bergumam, sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk guru barunya itu. Rambut bergelombangnya mengayun saat ia menoleh memastikan apa ada yang bisa membantunya. Tatapan guru muda itu bagai menyudutkannya.


"Engg.. itu pak.. saya cuma kaget aja, soalnya gak biasanya guru fisika jadi wali kelas.. yakan??" ucap Syafa sambil menoleh ketempat lain, berharap ada yang meng\-iyakan ucapannya. Tapi tak ada yang menghiraukan perkataannya, malah beberapa siswi menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.


Melihat tak ada yang mendukungnya, Syafa segera menepuk pundak gadis didepannya dengan keras hingga gadis itu mengaduh dengan suara tertahan.


"I..iyakan Lun?" tanya Syafa pada gadis itu saat gadis berambut sepundak itu menoleh kearahnya dengan bisikan 'sakit tau'.


Gadis itu menatap Syafa dengan tajam, tapi Syafa membalasnya dengan tatapan memelas, minta tolong. Tatapan berkaca\-kaca dari Syafa nampaknya cukup berpengaruh pada gadis itu. Sambil menghela nafas ia kembali menatap sang guru.


"Iya pak.." ucap gadis itu meng\-iyakan perkataan Syafa setelah mendapat tatapan menyedihkan dari temannya itu yang seolah berkata 'Pliss.. tolongin gua!!'.


"Soalnya jarang banget guru fisika yang rangkep jadi wali kelas.." tambahnya.


"Ouh gitu?" Rey berpose seolah sedang berpikir, namun saat melihat wajah gadis berambut sepundak itu menatapnya kesal, Rey tertawa dalam hati. Ia kembali mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada sosok laki\-laki yang duduk dibelakang tanpa semangat.


"Em.. gimana menurut para cowok? .. kamu Faadhi.." ucapnya sambil melirik buku absen dimejanya, memastikan ia memanggil nama yang benar.


Laki\-laki itu mengangkat kepalanya yang semula bersandar diatas meja. Ia menatap guru muda yang memanggilnya. Tatapannya terlihat tidak senang saat mendengar namanya dipanggil.


"Kalo saya .. tergantung bapak ngasih saya nilai berapa diujian nanti.." ucapnya datar. Suaranya yang besar serasi dengan badannya yang terlihat atletis, atau mungkin terlalu besar melihat beberapa otot lengannya menonjol dari balik seragamnya.


"Kalo begitu tergantung serius atau enggaknya kamu belajar.." jawab Rey sambil tersenyum kearah Faadhi yang mendesah kesal.


Seseorang mengangkat tangannya, laki\-laki yang duduk tepat didepan Faadhi. Laki\-laki itu terlihat ramah dengan senyum diwajahnya, membuat Rey agak heran karena hanya laki\-laki itu yang tersenyum kearahnya. Rey menunjuknya, memberinya kesempatan untuk bicara.


"Kalo menurut saya.. dibikin simple aja.. jadi.." sebelum laki\-laki itu menyelesaikan kalimatnya, Faadhi segera menutup wajah laki\-laki itu dengan sweater miliknya. Hal itu membuat Rey sedikit terkejut.


"Jangan ngomong simple kalo hidup lu masih rumit..!" ucap Faadhi datar sambil tetap menahan sweater miliknya agar tetap menutup wajah temannya itu.


"Udah pak.. dia gak usah ditanya.." ucapnya lagi.


"Bagaimana dengan kamu.. emm, Dominio?" tanya Rey pada sosok laki\-laki itu.


Laki\-laki itu menoleh, menatap Rey tanpa ekspresi yang berarti, membuat Rey mulai berpikir mungkin ini adalah kelas zombie atau vampire, karena sebagian besar penghuninya tak menunjukkan ekspresi apapun sejak tadi.


"Fath.. saya lebih suka dipanggil begitu.." ucapnya mengintruksi gurunya. Rey mengangguk mengerti, lalu kembali menanyakan pendapat Fath tentang dirinya yang akan menjadi walik kelasnya.


"Gak penting siapa yang jadi wali kelas.. lagi pula saya juga gak peduli.." ucapnya pedas. Beberapa siswi menatapnya, Faadhi juga menatapnya dengan tajam.


Mengetahui suasana mulai mencekam oleh aura Faadhi yang menatap Fath dengan tajam bagai melihat mangsanya, Rey segera memecahkan suasana.


"Oke.. mungkin cukup sampai disini perkenalannya, besok kita teruskan.." ucap Rey sambil merapihkan barang\-barangnya dari meja.


"Karena ini baru awal, kalian boleh pulang setelah ini.. atau ingin jalan\-jalan dulu.. atau mungkin makan batagor dulu dikantin?" ucap Rey dengan garingnya, tapi ia tetap bisa menguasai diri.


"Oke.. kita ketemu lagi besok.. jadi.." Rey menggantung kalimatnya saat pintu belakang kelas terbuka. Sosok laki\-laki berjalan masuk dengan santai.


Laki\-laki itu mengenakan kemeja putih dengan seluruh kancing yang terlepas, memperlihatkan baju lain berwarna merah didalamnya. Blazer coklat muda Nexus disampirkan diatas pundaknya bersama tasnya yang juga berwarna coklat. Wajahnya lesu tanpa semangat layaknya seseorang yang baru saja bangun dari tidur, ia melangkah santai. Merasa ditatap, ia menoleh lalu mendapatkan semua orang menatapnya. Sekilas ia melihat sosok guru didepan kelas.


"Maaf saya telat.." ucapnya datar dengan nada malas juga tanpa rasa bersalah, ia melirik arlojinya, lalu tersenyum saat mengetahui ia tiba dikelas pukul sepuluh saat itu. Tanpa mempedulikan tatapan orang lain, ia berjalan menuju kursi kosong diujung yang bersebrangan dengan pintu belakang kelas.


"Kenapa bisa telat.. Anthera!" ucap Rey yang sontak membuat laki\-laki itu menghentikan langkahnya. Rey tersenyum kecil.


Laki\-laki itu menoleh kesumber suara berasal, suara yang benar\-benar familiar ditelinganya. Dan saat menemukan sosok yang berdiri didepan meja guru, laki\-laki itu terkejut, matanya melebar melihat sosok Rey didepan kelas.


Rey tersenyum kearahnya.


"Jangan ulangi lagi.." ucapnya sambil berjalan keluar, meninggalkan sosok itu terdiam ditempatnya berdiri.


\*


Sejatinya Nexus adalah sekolah biasa, walau memang terkadang masyarakat menyebutnya sekolah kalangan atas yang pastinya hanya diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari kalangan tersebut. Tapi Nexus bukan sekolah yang mengkhususkan diri hanya untuk kalangan tersebut. Nexus dikembangkan dengan pola pengajaran yang intens, sehingga para murid bisa mendapatkan pelajaran yang lebih maksimal.


Seperti sekolah lainnya, dihari pertama awal tahun pelajaran baru para murid hanya melakukan perkenalan singkat dengan wali kelasnya, setelah itu mereka diperbolehkan untuk pulang. Namun tak semua murid meninggalkan sekolah. Dihari pertama ini, dipergunakan para murid untuk memilih eskul yang mereka minati, atau sekedar ngobrol dengan teman\-temannya.


Sana adalah salah satunya, ia bersama kedua temannya tidak segera meninggalkan Nexus. Bagi mereka berkumpul dengan teman lebih menyenangkan dari pada pulang kerumah. Karena itu, setelah perkenalan usai, Sana segera menarik kedua temannya itu kekantin, tak mempedulikan Lyfa yang mengaduh sakit pada tangannya. Entah apa yang merasuki dirinya, tapi yang pasti Sana sangat menginginkan batagor.


Dan disinilah mereka bertiga, duduk disalah satu meja yang memang disediakan dikantin. Kantin cukup ramai saat ini, membuatnya terlihat sesak karena dipenuhi para murid. Beruntung mereka sudah sampai disana, karena terlambat sedikit saja kanti bisa dikuasai murid kelas 10 yang notabene sangat banyak.


"Tahun ini benyak yang masuk yaa.." ucap Alf mengawali pembicaraan, ia menoleh kearah tukang bakso yang terlihat paling ramai oleh siswi kelas 10. Alf kembali menoleh, lalu didapatinya wajah Lyfa yang heran dengan Sana. Alf hanya tersenyum melihat wajah temannya itu.


"..na.. lu sehat kan?" tanya Lyfa yang sejak tadi dibuat heran oleh Sana yang dengan lahapnya menjejalkan batagor kemulutnya, membuat pipinya menggembung penuh. Alf tertawa melihatnya.


Sana yang sadar tengah ditertawai Alf menoleh kearah mereka, membuat Alf makin tertawa karena wajahnya yang terkena bumbu batagor. Awalnya Sana tak sadar dan bingung melihat Alf tertawa kearahnya, tapi setelah Lyfa memberinya isyarat tangan, Sana segera menyambar tisu dari tengah meja, lalu membersihkan wajahnya.


"Nyengir deh.." ucap Lyfa yang membuat Sana tersenyum lebar. Lyfa, dengan cepat menyambar kamera miliknya lalu kilatan cahaya yang sangat dihafal Sana muncul dengan cepat.


"Daaapet deehh.." ucap Lyfa lagi dambil tersenyum jahil kearah Sana yang sekarang menatapnya dengan kesal.


Lyfa tak mempedulikan tatapan Sana yang tertuju kepadanya, ia malah asyik melihat hasil jepretan kameranya lalu menunjukkannya pada Alf yang kemudian tertawa geli. Lyfa segera menunjukkannya pada Sana. Foto itu memperlihatkan dirinya yang tengah tersenyum lebar, tapi terlalu lebar membuatnya terlihat seperti orang aneh. Sana berniat mengambil kamera itu, tapi Lyfa lebih cepat.


"Eits.. foto yang udah gua ambil.. bagus atau enggak, gak boleh dihapus.." ucap Lyfa memperdengarkan slogan kebanggaannya. Sana menatapnya sebal sedangkan Lyfa hanya menimang\-nimang kameranya sambil bernyanyi kecil. Alf tersenyum melihat kedua temannya.


"Udah ah.. gua mau mesen baso dulu.." ucapnya sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Alf lu mau gak?"


"Iya.. tapi jangan pedes\-pedes ya.." jawab Alf sambil tersenyum kearah Lyfa yang kemudian mengacungkan jempolnya kearah Alf.


Setelah Lyfa pergi, bergabung dengan kumpulan siswi kelas 10 didepan tukang bakso, Sana segera menyambar kamera pink milik Lyfa, dengan cepat ia mencari foto dirinya. Alf tersenyum melihatnya.


"Gak adalah.. na, memorinya diganti sama dia.." ucap Alf.


Sana mengangguk lemah, ingin sekali dia menghapus semua foto dirinya dikamera itu. Dengan perlahan ia meletakkannya kembali ketempat semula. Alf lagi\-lagi tersenyum melihat tingkah temannya itu.


"Ngomong\-ngomong, menurut kamu gimana wali kelas kita?" tanya Alf pada Sana sambil mengaduk jus jambunya dengan sedotan. Sana menatapnya kemudian berpikir sejenak.


"Eng.. biasa aja sih.. sama aja kayak wali kelas yanag lain.." jawab Sana sambil mengaduk\-aduk piring batagornya.


"Kecuali pak Idrus.." ucap Sana lagi sambil menatap Alf, seolah ingin mengirim kenangan menyebalkannya tahun lalu saat wali kelasnya adalah pak Idrus. Alf tertawa kecil melihat ekspresi Sana. Kemudian Sana menceritakan kekesalannya tahun lalu saat harus berurusan dengan pak Idrus selaku wali kelasnya. Alf hanya tertawa dibuatnya.


"Kalo menurut lu gimana?" tanya Sana setelah ia selesai bercerita tentang wali kelasnya itu tahun lalu.


Alf terdiam. Ia memandang jus jambu miliknya yang sejak tadi hanya ia aduk. Sana melihat mata biru temannya itu, cahayanya redup, untuk sesaat ia menyesal telah bertanya. Tapi kemudian Sana mengubah pertanyaannya.


"Eh.. maksud gue.."


"Iya.. gak apa\-apa.." ucap Alf yang membuat kalimat Sana terpotong. Alf mengangkat wajahnya menatap Sana. Ia tersenyum walau Sana tau mata birunya masih tetap redup.


"Aku suka sama pak Rey, maksudku.. dia baik, aku tau itu.. tapi itu gak terlalu penting.. yang penting, aku seneng bisa sekelas sama kamu, juga Lyfa.. aku gak tau tahun ini akan jadi baik atau malah akan jadi tahun yang buruk. Tapi baik buruknya tergantung bagaimana kita memulainya .. yakan?.. karena ..apapun itu.. semuanya berawal dari sini.." ucap Alf sambil tersenyum, membuat Sana juga ikut tersenyum kearahnya.


"Ya.. "