
TING !
08xxxx : Hai Lea, apa kabar kamu dan mama mu?
"Eh ? , Siapa ini" Batin ku.
Aku : Maaf ini dengan siapa ya ?
08xxxx : Lah nomor saya udah di hapus ya ?
Aku : ?
08xxxx : Saya Rafi .
Aku : Oh kamu.
08xxxx : Kenapa kamu gak simpan nomor ku ?
Aku : Karena aku ganti hp
08xxxx : kamu kenapa ? kok jutek gitu balasnya, kamu kan tau aku gak suka digituin
Aku : Eh, sebelumnya maaf nih ya Rafi terhormat. Kenapa kamu masih atur-atur aku ya ? kan komitmen kita udah berakhir lama, dan kamu enggak ada hak untuk mengatur ku lagi.
08xxxx : Kamu cewek loh, gak boleh bicara kasar-kasar gitu
Aku : Hey, please stop. Aku kira kamu udah berubah tetapi belum ada perubahan sama sekali dari kamunya, kalau kamu mau berteman dan dekat sama aku sekarang gak akan aku larang. tapi jika kamu larang-larang aku lagi, aku gak mau.
08xxxx : Maaf Lea.
Aku : sudah aku maafin dari lama
08xxxx : maafin aku, aku janji akan berubah sekarang. Apa kamu mau memberikan aku kesempatan lagi ?
Aku : aku tidak ingin mendengarkan janji mu lagi.
08xxxx : Tolong maafin aku ya
Aku : Iya.
08xxxx : Lea sejujurnya aku menghubungi mu lagi karena aku ingin memulai semuanya dari awal dengan kamu, membangun komitmen lagi. Aku sudah tau kesalahan ku dimana, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi.
"apakah aku harus melupakan apa yang dia lakukan pada ku dulu ?"
Flashback on
Pertemuan ku dengan nya dimulai pada awal bulan Januari.
"Ini nomor saya jika nanti ada yang eror lagi laptopnya" Ucap laki-laki yang ada didepan ku.
"Oh ya, atas nama siapa ya tadi ?" Tanya ku
"Rafi" Jawabnya singkat
"Oke, makasih Fi. Nanti kalau ada yang mau kutanyakan tentang kampus bisa ke kamu kan ? " Tanya ku lagi, kebetulan Rafi dan aku satu kampus hanya berbeda jurusan. Aku jurusan Sistem Informasi sedangkan dia Teknik Informatika.
"Oke dan Terima kasih sudah datang disini" lanjutnya
"Iyah" balas ku singkat.
"Lea, makasih ya udah temenin aku service laptop" Ucap Rini
"Eoh, santai aja..."
"*Aduh si Lea mah, suka begini. Sekarang gimana coba ?" Apa kalian bisa menebak apa yang lu lakukan dengan laptop ku* ?
*Aku menghapus dan uninstall office karena ingin mengganti ke versi 2019. Sekarang aku bingung bagaimana cara Install Office nya karena file yang ku download tidak bisa dibuka, hampir 2 jam mencari cara agar office ku kembali tapi semua usaha ku tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku menghubungi salah satu senior ku*.
"*Halo kak, lagi sibuk kah ?" Ucap ku*.
"*Halo dek, enggak sibuk kok. kenapa ?" Ucapnya dari sana*
"*Kaka bisa bantu aku kah* ?"
"*Bantu apa dek* ?"
*ku jelaskan semuanya apa yang sudah aku lakukan tadi*.
"*Oh bisa, coba bawa aja ke rumah ku sini*"
"*Oke kak. makasih" tanpa tunggu lama setelah komunikasi kami terputus, aku langsung mengganti baju dan pamit untuk pergi ke rumah kak Ita, Iyah nama senior yang kuhubungi tadi adalah kak Ita*.
Apa kalian berpikir laptop ku tidak bisa di atasi oleh kak Ita ?
Jika kalian berpikir seperti itu kalian benar, karena sudah hampir 30 menit aku berada dirumah kak Ita, kami tetap tidak bisa mengatasi nya.
"Aduh dek, maaf aku gak bisa" Ucapnya dengan nada rendah
"Yaudah kak, gapapa" Jawab ku sambil tersenyum kecil
Seketika aku ingat Rafi, aku rasa ia bisa membantu ku sekarang. Tanpa berpikir lama aku langsung menghubungi nya, untungnya aku sempat menyimpan nomornya kemarin.
"Halo Rafi, ini aku Lea yang kemarin datang ke toko kamu" Ucap ku
"Ohya, kenapa Le ? Ada yang bisa ku-" belum sempat ia mengucapkan kalimatnya dengan lengkap aku langsung memotong pembicaraannya
"Kamu bisa Install Office gak ?" ucap ku to the point.
"bisa, coba aja bawa ke toko"
kedekatan ku dengannya dimulai dari sana, tidak tau kenapa laptop ku sering ada masalah dan terpaksa harus ku bawa ke tokonya. hingga suatu hari terjadi hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Rafi : Lea, lagi dimana dan lagi apa ?
Aku : Lagi dirumah sambil makan Bakso sama keluarga
Rafi : Rumah kamu dimana ?
Aku : Memangnya kenapa Fi ?
Rafi : Nanya aja kok
Rafi : kapan-kapan aku boleh kah datang kerumah kamu ?
"Eh ? ada apa nih, tiba-tiba mau datang kerumah ?" batin ku
Aku : Untuk apa ?
Rafi :nanti aja aku kasih tau kalau udah tau rumah kamu.
Sebenarnya aku udah tau maksud dari perkataan nya itu, tapi aku menutupinya dan menjadi pura-pura polos dan enggak tau apa maksud nya. kemudian besok malamnya ia kembali bertanya rumah ku dimana, hingga ia memberitahu ku kenapa dia bertanya tentang alamat ku berkali-kali.
Aku : Kenapa sih Fi ?, kamu tanya rumah ku terus.
Rafi : kamu risih ya, aku tanya begitu terus ?
Aku : Ya.
Rafi : oke, aku minta maaf tapi niat ku bertanya rumah kamu dimana itu karena aku suka sama kamu
Rafi : Aku suka sama kamu sejak awal kamu datang ke toko ku.
Kaget ? pastinya. sekarang aku bingung harus menjawab apa
Aku : kamu yakin suka sama aku ?, dan maaf aku gak mau pacaran dulu
Rafi : Aku yakin. Aku juga gak mau kita pacaran, aku mau lebih dari itu.
Aku : maksudnya ?
Rafi : Aku mau kita berkomitmen untuk ke jenjang yang serius. kamu mau gak jadi pendamping hidup ku ?
Aku : Eh ? maaf Fi , bukan maksud ku untuk menolak mu tapi lebih baik kita jalanin aja dulu perlahan, kita juga baru kenal 2 bulan.
Rafi : Tapi aku takut kehilangan kamu.
Aku : Untuk sekarang kita jalanin aja dulu ya. aku juga belum siap untuk menikah sekarang
Rafi : aku akan nunggu kita lulus kuliah dulu, setelah itu aku akan datang melamar kamunya. bagaimana ?
Aku : hem... Aku gak janji. kita jalanin aja dulu ya.
Rafi : okey Le, makasih udah kasih aku kesempatan.
Komitmen kami dimulai dari sana, aku kagum dengan caranya menyampaikan perasaannya, laki-laki yang langsung ingin serius dengan ku tidak seperti laki-laki lain yang hanya mengajak pacaran lalu memutuskan hubungan dan ditinggal pergi. Awalnya kami baik-baik saja hubungan kami sudah berjalan 1 bulan, tapi siapa sangka hal yang tak terduga terjadi. Dia mulai mengatur kehidupan ku.
Rafi : Kamu jangan tidur diatas jam 9, pokoknya jam 10 sudah harus tidur
Aku : loh kok kamu gitu sih ? kamu kan tau aku sekarang lagi di fase susah tidur
Rafi : aku gak mau tau. sekarang udah jam 20.50 siap-siap tidur sudah.
"Oke, untuk sekarang aku akan menuruti kamu nya Rafi." Batin ku
aturan-aturannya tidak berhenti di malam itu, beberapa hari kemudian dia mengeluarkan aturan baru. ah ya, karena kondisinya aku kuliah pagi dan dia kuliah malam jadi kami jarang ketemu, dan hanya berkomunikasi lewat chat saja.
Rafi : Lea, aku gak suka kamu bicara pakai bahasa inggris ya.
Aku : lah kenapa Fi ? kan kamu tau sendiri kalau aku sekarang lagi mengasah bahasa asing. kadang pakai bahasa korea, kadang Inggris, kadang juga China.
Rafi : aku gak mau, karena aku gak tau artinya dan aku malas translate bahasanya.
Aku : bahasa yang ku gunakan itu sangat mudah loh, kayak No, Yes, Okay, its's Okay. kadang aku juga selalu selipkan artinya setelah aku bilang itu dan dirumah ku juga kadang kami berkomunikasi pakai bahasa Inggris.
Rafi : pokoknya aku ga mau.
Aku : hm
Rafi : aku juga gak suka kalau kamu balas pesan ku singkat, aku calon mu masa kamu jawabnya singkat-singkat begitu
Aku : Udahlah ya Fi, semua yang ku lakukan selalu salah deh dimata mu, kamu mau aku ikutin semua keinginan kamu tapi kamu gak mau hargai akunya. Aku rasa kita memang enggak bisa bersama deh.
Rafi : oh, kamu mau pergi ? yaudah silahkan.
Setelah pesan itu, Rafi tidak pernah mengirimkan pesan lagi. dan kami lost contact hampir setengah tahun.
Flashback Off
Setelah berfikir beberapa menit kemudian aku menjawab pesan nya.
Aku : Hem, maaf aku...