
Kota Hua, Kerajaan Jing, Kekaisaran Xia.
Suasana pagi hari terasa cukup sepi. Hanya sebagian pedagang yang membuka toko, dan tidak banyak juga pengunjung yang datang. Alih-alih keramaian, atmosfer yang terasa di kota Hua lebih ke arah mencekam.
Suatu hal pasti menyebabkan ini terjadi. Tidak mungkin kota yang ramai secara tiba-tiba menjadi sepi layaknya kota mati. Di samping itu, Raka tidak berpapasan dengan seorangpun kecuali pengemis di jalanan. Menjelaskan bahwa situasi itu sangat mencurigakan.
"Ini aneh," gumam Raka.
[Tuan tertarik untuk menyelidikinya?]
"Tapi aku tidak peduli," lanjut Raka berkata.
[...]
Raka tidak ingin ambil pusing untuk memikirkan hal sepele. Jangan mengundang masalah ketika tidak memiliki masalah-- itulah yang Raka pikirkan. Terlebih Raka baru saja mengalami situasi menegangkan yang hampir membuat jantungnya copot-- siapa yang mengira begitu keluar dari Mystic Realm, Raka akan dikepung oleh banyak kultivator?
"Aku penasaran mengapa mereka memanggilku 'Senior Immortal'?"
Meskipun Raka hanya manusia biasa yang tidak dapat mempraktikkan kultivasi, tapi para kultivator yang terlihat kuat begitu menghormati dan memanggilnya Senior Immortal-- bukankah itu terasa sangat janggal?
[Mayoritas kultivator tadi masih lemah. Satu yang terkuat hanya berada di ranah Nascent Soul tahap menengah. Sementara, poin ketampanan Tuan sangat tinggi sehingga mengundang Qi Murni untuk menari di sekitar Tuan. Mereka tentu mengira Tuan adalah Immortal yang tak terukur karena melihat Qi Murni itu]
"Kau tidak menipuku kan?" selidik Raka merasa ragu.
[Sistem akan hancur jika melanggar perintah Tuan. Berbohong bisa dianggap pelanggaran]
Sepertinya sistem telah berkata jujur. Tidak--yang lebih penting-- apakah poin ketampanan memang sebuah kekuatan di dunia ini? Raka bisa membayangkan bagaimana dunia bekerja secara tidak adil.
"Eh, tunggu?" Raka menemukan kemungkinan titik temu antara kedua hal, yaitu terbukanya Mystic Realm dan suasana kota Hua yang sepi. "Mungkinkah kota Hua menjadi sangat sepi karena Mystic Realm terbuka tidak jauh dari sini?"
[Cerdas]
Faktor utama yang menyebabkan kota Hua menjadi sepi adalah terbukanya Mystic Realm. Para kultivator yang biasa berkumpul di kota Hua semuanya telah pergi. Sementara pedagang dan orang biasa lain merasa takut dan khawatir akan dampak yang disebabkan oleh kemunculan Mystic Realm.
Kultivator aliran hitam tidak akan tinggal diam. Mereka berkemungkinan tinggi menyebabkan kekacauan agar para kultivator aliran putih merasa kerepotan-- yang pada akhirnya situasi tersebut menguntungkan bagi mereka.
"Aku mengerti, jadi begitu..."
Raka menggelengkan kepala, berpikir bahwa situasi ini tidak terlalu berhubungan dengannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menikmati hidup setelah terkurung selama lima ratus tahun di Mystic Realm. Kebebasan semacam ini sangat sulit untuk didapatkan-- harus dinikmati sebaik mungkin.
Kota Hua merupakan tempat pertama sekaligus tempat yang memberikan kenangan buruk. Sebuah kota yang dulu kecil kini banyak mengalami perubahan. Perasaan nostalgia merasuki tubuh Raka. Terdapat sedikit rasa rindu, sedikit kesedihan, tetapi juga mengandung sedikit dendam karena dulu penduduk kota Hua memburunya untuk dimusnahkan.
"Andaikan mereka masih hidup, wajahku tentu akan membuat mereka kaget sampai mati," ucap Raka sambil terkekeh.
[Berhati-hatilah, Tuan. Di depan ada seseorang]
Raka terlalu asyik mengagumi diri sendiri sehingga tidak menyadari peringatan sistem-- sesuatu tiba-tiba datang dan menabraknya dengan keras di persimpangan jalan. Raka agak terkejut karena sedikit terdorong oleh tabrakan. Melihat ke arah lain untuk mencari, Raka menemukan seorang gadis kecil terjatuh dengan keranjang berisi bunga yang sudah berserakan.
[...]
[Sistem sudah memperingatkan]
"Eh, kamu gapapa?" tanya Raka merasa bersalah.
Gadis kecil itu berpenampilan lusuh. Rambutnya panjang, acak-acakan, kusut, kusam, dan tidak terurus. Wajah tidak terlihat jelas karena rambut panjangnya menghalangi. Dia mengenakan pakaian usang dengan tubuh yang kurus kerontang. Jika diibaratkan, gadis tersebut seperti mawar putih layu yang dapat gugur hanya dengan sedikit sentuhan.
"Xu-Xue Bai, tidak apa-apa."
Gadis kecil yang memanggil dirinya Xue Bai itu merapikan bunga yang berserakan dengan terburu-buru. Xue Bai bahkan tidak melihat siapa dan bagaimana orang yang telah menabraknya. Sikap itu terasa seperti Xue Bai tidak berani melihat karena ketakutan.
Raka semakin merasa bersalah. Segera Raka membantu Xue Bai memungut kembali bunga yang berserakan. Xue Bai bergerak semakin panik ketika mengetahui Raka membantunya mengambil bunga.
"Ti-Tidak apa-apa, Tuan Kultivator. Xue Bai bisa mengambilnya sendiri, tolong jangan mengotori tanganmu!" ucap Xue Bai bergetar.
Raka tidak menanggapi larangan Xue Bai melainkan terus membantu Xue Bai mengambil bunga. Raka kemudian merenung dalam perasaan iba kepada gadis kecil yang berusaha bertahan hidup di dunia kultivator yang sangat keras. Bahkan ketika orang lain tidak berani keluar karena suatu hal, Xue Bai tampaknya tetap berkeliaran untuk mempertahankan kehidupannya.
Raka memasukkan kembali bunga ke dalam keranjang sambil bertanya, "Namamu, Xue Bai kan?"
Xue Bai mengangguk, tatapannya masih menunduk ke bawah.
"Sesuatu sedang terjadi di kota ini, sebaiknya kamu pulang ke rumah."
Xue Bai menggelengkan kepala pelan sambil menunjuk keranjang bunga yang masih penuh. Suara kecil, lesu, dan serak itu berkata, "Bunganya, masih banyak. Xue Bai, tidak bisa, makan."
Raka mengerti apa yang dimaksud Xue Bai. "Kemana orang tuamu? Kenapa mereka membiarkan anak kecil mencari makan?"
Sekali lagi Xue Bai menggelengkan kepala. Xue Bai semakin menunduk, tampak merasakan kesedihan yang mendalam. Siapapun bisa menebak apa yang terjadi. Kemungkinan tertinggi adalah kedua orang tua Xue Bai telah tiada atau meninggalkannya.
"Aku turut bersedih."
Dalam keadaan itu, sistem memberitahu Raka sesuatu yang terdengar sangat penting. Komunikasi mereka terjadi secara batin sehingga Xue Bai tidak bisa mendengar atau menyadari sesuatu yang janggal.
[Tuan harus membawa anak ini]
"Mm? Apa maksudmu, mengapa harus?"
[Saat pertama kali tiba di dunia, ada sepasang kultivator yang menyelamatkan Tuan dari kejaran penduduk kota Hua kan?]
"Iya, aku ingat itu. Mereka adalah sepasang kultivator yang baik. Tapi apa hubungannya?"
[Sistem merasakan darah yang sama mengalir di tubuh anak ini. Kemungkinan besar, dia adalah keturunan dari pasangan kultivator tersebut]
Raka mengibaskan pakaian dengan elegan sambil berkata, "Aku melihat bahwa pertemuan kita adalah takdir. Kultivator mencari jalan keabadian untuk menuju surga, sementara aku mencari jalan kebebasan untuk menentang surga. Pikirkanlah dengan baik, apa kamu ingin mengikuti surga atau denganku bersedia menentang surga?"
[Sistem kagum dengan gerak cepatnya Tuan]
"Terima kasih."
[Sistem juga kagum dengan keahlian Tuan dalam membodohi orang lain]
"Bisakah kau diam?"
Xue Bai terkejut, "Me-Menentang Surga?"
Kalimat menentang surga merupakan sesuatu yang tidak bisa sembarangan diucapkan. Jika itu sudah melanggar pada taraf tertentu maka akan memicu petir surgawi. Kultivator aliran hitam, atau kultivator jalan iblis bahkan tidak berani secara terang-terangan mengatakan mereka menentang surga. Karena jika begitu, mereka akan dihukum oleh petir surgawi sebelum mereka mampu menahannya.
Xue Bai mengetahui bahwa menentang surga adalah dosa. Dosa akan memicu hukuman surgawi yang tidak dapat dibayangkan. Lantas sosok macam apa yang dengan terang-terangan mendeklarasikan hal itu?
Xue Bai merasa penasaran lalu memberanikan diri untuk menengadah. Begitu melihat sosok Raka, seketika seluruh perasaan negatif dalam diri Xue Bai menghilang. Bagaimana Xue Bai menjelaskannya? Sosok Raka lebih seperti malaikat daripada seorang manusia. Rambut, wajah, kulit, postur, dan pakaian yang dikenakan, semuanya tidak bisa dijelaskan dengan sepatah kata. Itu adalah ketampanan indah yang tak tertandingi.
Xue Bai merasa terpikat oleh penampilan, aura yang dipancarkan, kesan misterius yang disebarkan, dan harapan yang diberikan. Tanpa sadar, Xue Bai yang terkagum meraih tangan Raka yang seperti malaikat.
"Bagus, mulai sekarang kita akan bersama," ucap Raka sambil tersenyum.
Adapun di langit kota Hua, mulai menggumpal awan hitam yang berputar, dan membentuk pusaran mengerikan. Xue Bai memasang wajah pucat karena tahu bahwa awan yang menggumpal merupakan tanda dari kemunculan hukuman surgawi. Xue Bai ingin melarikan diri, tapi kehadiran Raka membuatnya tenang dan lebih berani.
Xue Bai pun penasaran bagaimana reaksi Raka yang telah memicu hukuman surgawi. Apakah itu panik, takut, atau menyesal? Namun, yang Xue Bai lihat adalah ekspresi tenang dan santai.
"Dunia ini memang lucu, bisa-bisanya hal seperti ini muncul seketika."
Raka melihat Xue Bai yang ketakutan. Itu merupakan reaksi yang wajar bagi seorang anak kecil untuk merasa takut.
"Ah, sepertinya kita harus menemukan tempat lain untuk mengobrol? Tidak usah khawatir, ini akan segera berakhir," ucap Raka menenangkan.
Raka beranjak pergi sambil berharap menemukan tempat yang cocok untuk berteduh. Xue Bai dengan patuh mengikutinya di belakang. Mereka berdua pun berjalan membelakangi awan yang menggumpal. Karena merasa takut, Xue Bai melirik ke arah belakang dan menemukan sesuatu yang membuat ekspresinya membeku.
Di bawah awan yang menggumpal, terdapat sebuah portal yang sangat besar. Kemudian dari dalam portal tersebut muncul seekor naga berwarna emas. Naga itu melebarkan rahang dengan penuh intimidasi, kemudian melahap seluruh awan yang menggumpal seakan itu adalah camilan. Awan yang menggumpal sepenuhnya menghilang dan hanya menyisakan langit yang cerah seperti sedia kala.
Naga emas memerhatikan sekitar, tepatnya menatap ke arah Xue Bai dan Raka. Xue Bai takut setengah mati sehingga seluruh tubuh membeku, tidak bisa bergerak bahkan sulit untuk bernapas. Namun tidak lama, Naga emas kembali masuk ke dalam portal. Setelahnya, segala sesuatu berjalan dengan normal lagi seolah tidak ada yang terjadi.
Xue Bai merasa syok. Xue Bai merasa semua itu tidak masuk akal. Belum pernah ada sejarah yang mengatakan petir surgawi bisa digagalkan, bahkan dilahap sampai habis sebelum itu menyerang. Siapa sosok yang diikuti Xue Bai sebenarnya? Bahkan petir surgawi, seperti dipermainkan di bawah telapak tangannya!
Xue Bai memerhatikan Raka dengan seksama. Tapi yang terlihat olehnya adalah sosok malaikat yang bertingkah seolah tidak tahu apa-apa. Apakah itu dilakukan agar Xue Bai tidak merasa takut?
"Te-terima kasih, Tuan Kultivator," ucap Xue Bai pelan.
Raka tidak mendengarnya karena cenderung fokus pada perubahan cuaca yang benar-benar acak. "Sial, dunia ini mempermainkan aku ya?"
Raka kesal pada dunia yang dalam sekejap membuat cuaca cerah menjadi mendung seperti akan terjadi badai. Tapi sesaat kemudian cuaca yang mendung itu menjadi cerah kembali. Raka merasa dunia ini seperti mempermainkannya!
...
Para kultivator yang sebelumnya berkumpul di sekitar portal Mystic Realm dibuat panik oleh kemunculan hukuman surgawi. Mereka merasakan sumber hukuman berada di atas langit Kota Hua. Siapa yang berani menentang surga di Kota Hua? Mereka tidak tahu.
Para tetua Sekte Pedang Jiwa ketakutan karena mengira bencana besar akan terjadi pada kota Hua. Namun sesaat sebelum hukuman surgawi itu menyerang, mereka melihat sesuatu yang lebih mengejutkan. Sebuah naga emas muncul dari balik portal misterius. Naga emas itu dengan mudah melahap hukuman surga seolah itu bukan apa-apa. Terlebih, naga emas tidak melakukan hal lain, sebelum akhirnya masuk ke dalam portal dan menghilang lagi.
Terlalu banyak kejadian tidak masuk akal yang terjadi dalam satu waktu. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa rentetan kejadian tidak masuk akal itu berpusat pada Sang Immortal.
Topik mengenai portal Mystic Realm, Sang Immortal, hukuman surgawi, dan Naga Emas pasti akan menjadi topik yang terus dibicarakan untuk beberapa waktu ke depan.
....
Alam Surgawi
Kaisar Surgawi duduk di atas singgasana tertinggi. Sang Kaisar merasakan adanya penentangan yang terjadi di dunia fana beberapa saat lalu. Lantas, Sang Kaisar memberikan sedikit hukuman kepada sosok yang menentang itu dengan mengirim petir surgawi. Akan tetapi, petir surgawi yang seharusnya memberi hukuman malah menghilang bagaikan debu.
"Siapa yang berani menentang surga di dunia fana?!" hardik Sang Kaisar.
Pelayan di sekitar Sang Kaisar tersungkur karena ketakutan. Amarah Sang Kaisar merupakan sesuatu yang tidak boleh terjadi. Jika Sang Kaisar marah, berapa banyak kehancuran yang akan terjadi? Mereka tidak bisa menanggung konsekuensinya!
"Mohon tenangkan diri, Yang Mulia! Saya akan menyelidiki ini secepatnya."
Dia adalah pelayan setia Sang Kaisar yang dikenal sebagai Heavenly General. Pemimpin dari jutaan pasukan surgawi yang mampu menghancurkan sebuah dunia dengan mudah. Sebagai Heavenly General, tentu dia merasa ikut terhina oleh keberadaan penentang surga yang bisa lolos dari hukuman surgawi.
Meski hampir tidak mungkin untuk menghindari hukuman surgawi, tetap ada variabel lain yang memungkinkan suatu kemustahilan. Oleh karena itu, sudah menjadi tugasnya sebagai Heavenly General untuk membasmi siapapun yang mengganggu kedaulatan surga.
"Kalau begitu cepat selidiki. Jika dibiarkan, surga akan menjadi bahan tertawaan," perintah Sang Kaisar.
Heavenly General menerima perintah. Dia langsung pergi untuk mengutus terlebih dulu para bawahan untuk turun ke dunia fana dan menyelidiki siapa yang telah berani menentang surga. Terlebih berani menghindari hukuman yang diberikan oleh Kaisar Surgawi.
Utusan Heavenly General itu pun pergi. Oleh karena turun ke dunia fana, mereka harus menekan kultivasi agar tidak menyebabkan banyak bencana di mana-mana. Setidaknya, setiap utusan menekan kultivasi hingga ranah Divine Tribulation tahap awal. Meski begitu, ranah Divine Tribulation merupakan tingkat tertinggi di dunia fana sehingga bisa menyebabkan seseorang dipanggil Dewa.
....
Alam ???
Sosok naga oriental berwarna emas tampak melayang-layang di kekosongan. Naga itu tidak sendirian, banyak entitas-entitas lain yang melayang di antara kekosongan bersama dengan dirinya.
"Aku kira sudah waktunya perang, ternyata hanya menelan listrik kecil." (The Divine Immortal Dragon Emperor)
....