
Tatapan para murid mulai cenderung ke berbagai arah. Mereka yang sedari tadi menidurkan diri saat jam belajar, sekarang terlihat tidak ingin ketinggalan sesuatu. Barang-barang Yang berceceran di atas tiap- tiap meja kini hilang, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Gerak-gerik siswa seakan tertahan oleh sesuatu, mereka tidak tahu kebenarannya, akan tetapi insting kuat mereka membuat mereka sadar sebelum melihat. Apa yang sepintas terjadi adalah isyarat yang menandakan kepulangan mereka, di saat matahari telah menghilang.
(Akhirnya, waktu pulang!) Dessou senenarnya, suka dengan kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi, entah mengapa dia terlihat ingin berlari, meninggalkan kegiatan saat itu.
Bu guru paham dengan apa yang terlintas di pikiran murid-muridnya, namun dia harus tetap mengikuti instruksi sekolah, dia memastikan sendiri apa waktu kepulangan benar-benar telah tiba, dengan keluar ruangan dan pergi ke halaman terbuka, yang tak tertinggal dari pemandangan terbit dan terbenamnya matahari. Yap, waktunya pulang.
Semua penghuni kelas, memberi salam penghormatan kepada ibu guru mereka, lalu pergi ke asrama masing-masing. Salah satu orang yang sekelas dengan Dessou menghampiri telinga kiri Dessou dan membisikinya dengan suara yang tidak kecil.
" Dahulu kala, ada seorang raja kejam yang membuat sengsara semua rakyat bumi. "
Seseorang lagi datang menghampiri telinga kanan Dessou, dengan melanjutkan syairnya, sambil melemparkan tangan kirinya, melewati sisi kiri leher dessou dan tertopang oleh bahu kiri Dessou.
" Dan tujuh orang pahlawan, datang dan menaklukkan raja kejam itu."
"Hei, apa yang kalian lakukan? " Dari jauh Hanzou mengamati mereka.
"Kami hanya mengulas kembali pelajaran yang telah kami pelajari di sekolah, itu saja, benarkan... Dessou?"
Dessou tidak tahan dan akhirnya berlari menuju asrama, dia tidak tahu apakah dirinya akan dirundung atau tidak disana. Namun di hatinya, hampir tidak lagi menemukan tempat yang bisa dijadikan naungan. Dunia memusuhinya.
Saat dia sampai di depan asramanya, hatinya tiba-tiba dilanda kehangatan kasih sayang, dan semua rasa sakit dalam ingatan, seakan lenyap dalam sekejap. Seorang wanita dengan raut wajah sepuh, menghiasi salam dengan senyumannya, nenek Dessou menyambut cucu kesayangannya.
" Selamat menjalani pendidikanmu Dessou!" Dia memeluk Dessou sebentar lalu menggiringnya masuk ke dalam asrama. Mereka berdua duduk saling berhadapan satu sama lain dan ternyata seorang kakek-kakek bermantel putih sudah lebih dulu mengambil tempat disana. Kakek-kakek itu hanya diam saja sambil sesekali menimbali nenek Dessou dengan senyuman.
"Dessou, aku membawakan pakaian dan semua perlengkapanmu kesini. Maaf, jika aku tidak memberitahukanmu informasi mengenai sekolah ini sebelumnya."
" Tidak apa-apa nek, nenek pasti ragu, apa aku bisa diterima di sekolah ini atau tidak. Tapi lihatlah, aku diterima oleh pihak sekolah, walau mungkin, tidak secara batin."
" Yah, dan kau sudah mendapatkan hukuman di hari keduamu bersekolah." Kakek-kakek bermantel putih itu menyela pembicaraan antar nenek dan cucunya.
"Huuft" Nenek Dessou menggetarkan kedua bibirnya dihadapan kakek-kakek itu, dirinya merasa mengerti apa yang dialami Dessou, walau tidak harus menanyakannya.
" Itu pasti bukanlah kesalahanmu kan? kau tidak suka mencari masalah dengan siapapun kan?"
Dessou tiba-tiba saja menyapu pangkuan neneknya dan mengambil tempat disana.
"Entahlah nek, aku tidak tahu apa itu salah dan benar. Karena apapun yang kulakukan tidak akan berarti di mata orang lain. Mereka hanya menjadikan nama sebagai tolak ukur mereka." Dessou memeluk erat pangkuan sambil terisak-isak dan mengeringkan kesedihannya dengan kain neneknya.
(hmm.. sepertinya terlalu sering mendapatkan tekanan, membuat pemikiran dewasa lebih cepat muncul melampaui umur yang seharusnya.) " Terkadang apa yang salah bisa dianggap benar karena mayoritas, dan yang benar dianggap salah karena minoritas. Begitu pula sebaliknya." Kakek-kakek itu lagi-lagi ikut campur dalam keluh-kesah Dessou kepada neneknya.
" Biarlah mereka sibuk dengan cacian mereka, disaat kau menjadi yang teratas, semuanya akan berpura-pura lupa dengan siapa kau yang sebelumnya. Mereka hanya akan menjadi perundung untuk pencitraan dan hanya berpura-pura baik dengan sifat munafik mereka. Mereka mungkin bisa menjual permen di satu waktu, tapi mereka juga bisa menjual racun diwaktu yang lain." Nenek Dessou menambahi.
Setelah lama berbincang, akhirnya Nenek Dessou berpamit pulang kembali ke kampung halamannya. Dessou memeluk neneknya lalu pergi ke atas ranjang dan beristirahat sejenak.
Malam masih berlalu, Dessou tidak melihat satupun dari teman-teman seasramanya yang mendiami ruangan tersebut. Dan akhirnya, dia memilih untuk pergi ke sebuah danau yang pernah ia datangi sebelumnya dengan sang putri. Hanya ada satu orang saja yang terlihat memaku diri disana.
" Hanzou..? " Dessou terlihat bingung sambil memanggil Hanzou.
"Oh, kau Dessou... "
"Apa yang kau lakukan disini? "
"Tidak ada, tapi menurutku, merasakan kedamaian disini, membuat perasaanku lebih baik.. "
"(yah kau benar) Memangnya, apa yang terjadi padamu? "
"Tidak ada, aku hanya kesepian... "
"Bagaimana dengan keluargamu? "
"Aku tidak punya keluarga.. "
"Aku turut berbela sungkawa. Tapi mohon maaf sebelumnya, bagaimana bisa kau kehilangan keluargamu?"
"Orang tuaku meninggal disaat ada serangan dari para monster, sedangkan adikku menghilang disaat aku dan dia berada di tempat pengungsian."
"Apa? kenapa kau tidak melapor?"
"Aku sudah berusaha, namun hasilnya naas, tidak ada yang peduli. Di tempatku semua anak-anak yang tertinggal akan ditelantarkan, tidak ada yang peduli dengan nasib kami."
"Lalu bagaimana kau bisa sampai disini? "
"Hmmm.. ceritanya lumayan panjang, aku mendengar ada pendidikan calon ksatria yang menawarkan dana bantuan bagi yang tidak mampu. Jadi aku bekerja dan menabung untuk bisa kesini. Bahkan sekarang aku juga bekerja.."
"Hanya pekerjaan kecil, apa kau mau ikut? "
"Kurasa tidak, lagipula tidak ada yang akan mau menerimaku... "
"Tidak banyak orang yang tahu denganmu, para penyandang Ophalet sekarang sangat sedikit bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.. Jadi aku yakin dirimu akan diterima.. Aku juga akan berjanji untuk menjaga rahasiamu, jadi bagaimana?
"Hmm.. Baiklah, aku ikut.. " Dessou menerima tawaran Hanzou, dia tahu bahwa, tidak banyak yang bisa dia lakukan, jadi penawaran Hanzou lumayan menguntungkan apalagi bisa menjauhkan dirinya dari rundungan anak-anak lain.
"Baiklah kita akan bekerja selama 6 kali dalam seminggu, dan pekerjaan berlangsung setelah waktu pembelajaran selesai, tapi kapanpun kau datang tidak masalah oke, pendapatanmu tergantung kinerja yang kau lakukan."
"Jadi kita akan mendapat upah di hari kita bekerja ya? "
"Yah begitulah, sambil menunggu hari itu tiba.. "
"Hari itu?"
"Hari dimana kita akan di kirim ke beberapa pulau untuk melakukan langkah terakhir dan penentu bagi para calon ksatria."
"Apa yang akan kita lakukan? "
"Kau tidak tahu? Tentu saja bertapa, untuk mendapatkan Colourball."
"Wow, aku tidak sabar dengan hari itu..? "
Hanzou melihat Dessou bergemuruh dengan semangatnya, namun nama yang disandang Dessou membuat Hanzou sedikit ragu, dan bertanya-tanya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah sah menjadi seorang ksatria?"
"Tentu saja aku akan menjalani hari-hari bersama nenekku, aku akan membuatnya bahagia, sepanjang sisa umurnya."
"Itukah tujuanmu? "
"Bagiku nenek adalah segalanya. Hanya dia orang yang mau menerimaku, jadi kurasa tidak ada tujuan lain lagi. "
Hanzou paham dengan perasaan Dessou, namun dirinya agak sedikit kecewa dan merasa khawatir, mendengar tujuan yang diambilnya adalah tujuan yang tidak akan bertahan lama karena bertumpu pada keberadaan seseorang.
"Baiklah, sampai jumpa besok. "
"Sampai jumpa." Dessou membalas salam Hanzou, dan keduanya berpisah.
Demikian waktu ke waktu terus berlalu. Dessou menjalani hari-harinya dengan mengikuti pembelajaran, terkadang ia terlihat menidurkan diri di saat pelajaran sejarah, dan fokus di pelajaran lainnya. Saat saat setelah pulang sekolah diisi dengan bekerja bersama Hanzou, keduanya terlihat semakin akrab. Rundungan demi rundungan tetap dilancarkan oleh beberapa anak nakal kepada Dessou, namun ia memilih untuk terus bertahan dan terkadang melawan rundungan mereka walau akhirnya tetap saja berakhir dengan kekalahan. Semua kisah gelap seakan sirna dengan mudah ketika Dessou pergi mengunjungi neneknya di setiap akhir tahun. Dan akhirnya 10 tahun telah berlalu, dan hari yang ditunggu-tunggupun tiba.
"Tidak terasa 10 tahun telah kita lalui bersama." Seorang wanita yang berlagak telah lama memberikan bimbingan memberikan kalimat pembuka kepada para calon ksatria yang berbaris rapi di dalam ruangan.
"Sekaranglah saatnya, kalian menjalani vase terakhir sebagai penentu, apakah kalian pantas untuk menjadi seorang ksatria."
Semua penghuni kelas terlihat tidak sabaran, namun terus menahan diri.
"Keberadaan Colourball terletak pada titik-titik tertentu di beberapa pulau. Orang-orang ini akan menjelaskan kepada kalian rinciannya. " Kakek-kakek bermantel putih juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemberangkatan itu, dan memberikan sedikit himbauan. Tiba-tiba beberapa ksatria raja masuk ke ruangan kelas tersebut.
" Salam bagi kalian semua yang akan menjadi seorang ksatria. " Salah satu dari ksatria itu memberikan hormatnya.
"Salam!! " Semuanya menjawab sigap dan tanggap.
"Sebelum kalian berangkat menuju destinasi penentu kalian, aku ingin bertanya. Apa kalian tahu pekerjaan apa yang dilakukan oleh seorang ksatria? "
Semuanya terdiam, apa yang ada dipikiran mereka hanyalah kekuatan dan kekayaan. Mereka lupa dengan konsekuensi yang lain.
"Kalian akan melawan monster!! Bekerja dengan pilihan hidup sebagai seorang pejuang atau mati sebagai sebagai seorang pahlawan. Itulah ksatria."
Semuanya terdiam lalu lagi-lagi seseorang diantara para ksatria itu membuka mulutnya.
"Baiklah, apa kami harus memberi penegasan ulang terkait penjelasan Colourball?"
"Mohon bimbingannya.! " Dessou menyahut.
"Colourball memiliki kekuatan yang beragam, mereka yang terlihat berwarna merah dikenal dengan Red Colourball kekuatannya adalah elemen api. Efek serangan yang dilancarkan sangat kuat. Colourball ini sangat direkomendasikan bagi para mereka yang berani berjuang di garis depan. Dan yang kedua adalah Brown Colourball mereka sangat kuat dalam pertahanan, kalian bisa membuat benteng yang kokoh, dengan kemampuan manufaktur Colourball ini. Disarankan untuk mereka yang memilih posisi sebagai tameng. Dan yang ke tiga, Green Colourball, Colourball ini mempunyai kekuatan berelemen kayu/tanaman dan mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka. Dan yang nomor 4 adalah Blue Colourball, kekuatannya adalah elemen air. Yang ke-5 White Colourball kekuatannya adalah elemen angin. Yang ke-6 adalah Yellow Colourball, kekuatannya adalah elemen cahaya, kalian bisa membuat laser panas dengan Colourball ini. Yang terakhir adalah Black Colourball, kekuatannya memungkinkan pengguna untuk bisa menggunakan berbagai elemen seperti air, api, kayu, dan lain-lain. Hanya saja penggunaannya sulit dan tidak stabil, dan serangan yang dilancarkan tidak sebesar pengguna elemen yang sesungguhnya. Baiklah, bagi kalian yang menginginkan Red Colourball, akan mengikuti tuan Vulcano, dengan destinasi pulau Ignisia kerajaan Pyroclast. Brown Colourball dengan tuan Kolloneil, kalian cukup bertapa di pulau ini, pulau harmonia, tapi disini ada beberapa colourball yang berbeda, jadi ada kemungkinan kalian akan mendapatkan Colourball yang tidak sesuai dengan keinginan kalian. Blue Colourball dengan tuan Brainie dengan destinasi pulau Aquria kerajaan Coralium. Green Colourball dengan tuan Gortein dengan destinasi pulau Terrranova kerajaan Sylvanara. Yellow Colourball dengan tuan Zack dengan destinasi pulau Luminara kerajaan Luxarium. Black Colourball dengan tuan Romguiss dengan destinasi pulau Umbrion kerajaan nocturna. Terakhir White Colourball dengan tuan Sanloiss dengan destinasi pulau Venturia kerajaan Zephyria. Kami beri waktu untuk kembali ke asrama kalian dan memikirkan keputusan secara matang sampai terbenamnya matahari. Begitu matahari telah terbenam kembali lagi kesini dan kalian akan berangkat ke pulau tujuan sesuai instruksi."
Setelah mendengarkan penjelasan yang lumayan panjang, semuanya dibubarkan, dan kembali ke asrama mereka masing-masing.