Gray Knight

Gray Knight
Kerajaan Concordia



 Bayangan merambat menyelimuti malam, air yang tergenang damai terlihat memantulkan sinar rembulan dan sesekali terlihat bergetar ketika ikan-ikan menciumkan bibirnya ke permukaan, membuat lingkaran-lingkaran bergelombang yang saling bersinggungan. Tak lupa aroma khas minyak lentera malam, ditambah udara yang terasa sepoi-sepoi ikut membuat malam terasa sangat tenteram.


(Ya ampun, kakek-kakek itu menyuruhku tidur terlalu cepat, sekarang aku jadi terbangun di tengah malam, dan tidak bisa tidur lagi) Dessou sedikit mengeluh dalam batinnya, sambil memandangi purnamanya bulan dengan menodongkan sikunya ke luar jendela. Dia hanya tinggal mengambil posisi duduk, jika ingin melihat pemandangan di luar asrama, karena tempat dia tidur tepat di pinggir tembok, berpapasan dengan jendela.


(Yah... aku mungkin hanya bisa tidur) Dessou mulai menerima apa yang menjadi takdirnya, dia tahu tidak ada siapapun yang akan menemaninya bermain, jadi dia memang hanya bisa tidur cepat di hari itu.


 Malam tetap berlalu dengan tenang, sampai tiba-tiba sekumpulan prajurit kerajaan membuat sebuah getaran dengan kaki-kaki mereka, getaran tersebut terasa tersebar ke berbagai area yang tidak jauh dari asrama tempat Dessou beristirahat.


"Kemana larinya? Ya ampun, anak kecil itu lincah sekali." Seseorang dari prajurit kerajaan itu terlihat menggerutu dan melihat ke sekeliling.


 Dessou menyaksikan pergerakan para prajurit itu sekilas dari arah jendela, dan langsung menutup jendelanya. Getaran kaki-kaki prajurit itu terasa semakin menjauh.


"Ya ampun ada apa lagi sekarang?"(lebih baik aku segera tidur saja). Dessou kembali ke posisi berbaring dan menutup dirinya dengan selimut. Baru saja matanya tertutup, tiba-tiba ada suara ketukan pelan yang datang dari jendela disamping Dessou.


(Tok tok tok) "Halo, apa ada orang disana?" Seseorang mencoba memanggil Dessou setelah lebih dulu mengetuk pintu.


"Halo, maaf tapi bukannya ini terlalu larut?" (siapa ya, suaranya seperti seorang gadis). Dessou membalas singkat dan tetap membiarkan jendelanya tertutup.


"Tolong bukakan jendelanya, aku sedang dikejar-kejar dan aku takut, aku mohon.. "


"Siapa yang mengejarmu ditengah malam seperti ini, justru untuk gadis sepertimu, ini terdengar aneh."


"Ayolah... kumohon, mereka akan segera menemukanku, kau tidak tau apa-apa tentang mereka." Gadis itu terus memohon, dan akhirnya Dessou membukakan jendelanya dan menarik gadis itu masuk ke asramanya.


"Siapa yang mengejarmu? "


"Para prajurit kerajaan."


"Kenapa mereka mengejarmu?"


"Yah mungkin, karena aku adalah putri raja.. "


"Ya ampun!!! "(arggh.. ku kira apa, justru ini benar-benar masalah buat ku).


"Hmm... Maaf hehe.. "


"Baiklah, aku akan membawamu kembali ke istana"


"Hah istana? Berjalan kaki? Memangnya kau tau jalan ke arah istana?"(ya ampun, anak laki-laki ini, sepertinya hanya diam saja dirumahnya ya) Putri raja itu meragukan Dessou, bagaimana tidak, dia baru saja melakukan perjalanan jauh dari istana bersama ayahandanya menggunakan kereta khusus kerajaan dengan dikawal beberapa prajurit, lalu kabur untuk bermain, dan seorang anak pedalaman berkata akan mengajaknya kembali dengan berjalan kaki.


"Aku sudah cukup banyak mendapatkan masalah. Jadi ayo cepat ikut aku.. " Dessou mengakhiri perdebatannya dengan putri raja, dia langsung bergegas mengambil sepatunya, namun sesuatu membuatnya terkaget-kaget ketika baru saja melihat apa yang ingin diambilnya.


"Awww... " Teriak Dessou dengan sinis.


"Ada apa? iww..! " Putri raja itu ikut melihat apa yang membuat Dessou terkejut. Dan yang ia lihat adalah sepasang sepatu usang yang penuh dengan lumpur.


 Dessou sekilas larut dalam perasaan gelisah, namun dia memilih untuk segera memasang kedua sepatunya, menurunkan keluar putri raja kembali dari jendela dan ia ikut keluar dari jendela.


"Ayo ikut aku!"


 "Memangnya kau tau jalannya?" Putri raja itu meragukan pengetahuan Dessou.


"Ehhmm.. terkadang aku membantu nenekku menjual kuenya. Jadi aku sudah berkeliling... "


Dessou menjawab dengan nada yang melemah, sepertinya dia juga meragukan dirinya sendiri.


"Sini, ikuti aku" Sang putri itu menarik tangan Dessou sambil berlari-lari terburu-buru. Dan Dessou mengikutinya.


"Kenapa kau berlari? "


"Tssttt... diam saja, lagipula kau tidak tahu jalannya kan?"


 Dessou terus mengikuti sang putri sampai mereka berdua tiba di sebuah danau.


"Inikah kerajaanmu? "


"Tentu saja bukan!"


"Lalu kenapa kau menarikku sampai kesini? "


"Hei dengarnya, dunia ini sangat luas kau tahu, kau kira istana ada di dekat sini, aku datang bersama ayahku ke desa ini, desa Tranquilcampus, aku berasal dari kerajaan Concordia yang bertepatan dengan desa Harmoniaevadum. Aku kabur dari ayahku dan bermain kesini, karena setelah ini aku pasti akan dibawa kembali ke istana. Aku bosan di istana, aku ingin bermain seperti anak-anak lainnya. Ayahku terlalu sayang padaku sampai-sampai ia tidak mengizinkanku bermain bersama orang-orang desa."


"Ooooh.... Memangnya kamu tidak pernah bermain di istana?" Dessou mendengar penjelasan yang lumayan panjang dari sang putri dan langsung menanggapinya manakala sang putri itu menghela nafas panjangnya.


"Disana terlalu menjunjung tinggi martabat, jadi apapun yang kulakukan selalu salah, pokoknya, disana sangat membosankan."


"Oh, begitukah, benar-benar membosankan.. "


 Setelah mendengar keluhan dari sang putri, Dessou terlupa dengan apa yang harusnya dilakukan, terlebih lagi, ketika sebuah tembakan peluru air datang dari hantaman tangan sang putri dan menerjang wajah Dessou. Keduanya bermain dengan ceria dan melupakan waktu. Bahkan sepatu Dessou sampai bersih berkilau seperti sepatu baru.


 Dessou terus berlari tak tentu arah, terkadang posisi batu yang tidak merata kerap membuatnya terjatuh berkali-kali, namun ia tetap berusaha lupa dengan rasa sakitnya dan terus bangkit, memaksa waktu yang jarang ia dapati untuk terus menemaninya, bagaimanapun, dirinya yang selama ini dijauhi dan ditelantarkan oleh warga sekitar, membuatnya kehilangan senyuman. Namun semua kesenangan Dessou dan putri raja itu, harus terhenti manakala sekelompok prajurit datang dan menyergap keduanya.


"Maaf, tuan putri, tapi anda harus segera kembali ke istana.." Salah satu dari prajurit kerajaan itu berbicara kepada sang putri.


"Tidak mau, disana sangat membosankan.. " Sang putri berusaha menolak, dan berniat kabur lagi, namun dirinya kali ini langsung dibopong oleh salah satu prajurit itu.


"Hrrmm.. " Sang putri itu bergumam sambil memasang wajah cemberutnya.


"Dessou!!! " Seseorang perempuan diantara para prajurit itu memanggil Dessou dengan sangat lantang, dia berseragam, namun bukan seragam seorang prajurit.


"Anak-anak di asrama melihatmu lari dengan seorang gadis..." Dia berbicara sedikit, dan menundukkan pandangan sambil tersenyum malu, tatkala berpapasan dengan tuan putri. Bersegera menyambut tangan Dessou, lalu menariknya dengan lumayan keras. Dessoupun mengikutinya sampai kembali lagi ke asramanya.


"Apa kamu tidak tahu dengan siapa kamu bermain semalaman ini? "


"Aku tahu, dia adalah putri raja bukan?"


"Ya dan kamu harus mendapatkan hukuman karena sudah berbuat lancang dengan tuan putri."


"Aku hanya menemaninya bermain, apa itu salah? "


"Apa kamu lupa dengan statusmu? Kamu adalah keturunan orang yang busuk, bagaimana mungkin kamu tidak malu bermain dengan tuan putri?"


 Dessou diam saja menerima cacian dari wanita itu, dan akhirnya ia dijemur di sebuah halaman didepan kelasnya. Ia diharuskan nenerima terik matahari sampai jam pembelajaran dimulai, jadi dia harus menahan panas dari terbitnya matahari sampai matahari berada di atas kepala. Disana, pembelajaran dimulai ketika matahari berada pada puncaknya dan berakhir di waktu petang menjelang malam. Selang beberapa lama kemudian, seseorang dengan mantel putih berjalan sekedar melewati Dessou.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Kakek itu bertanya singkat.


"Aku sudah bermain dengan sang putri, kek.. "


"Terkadang kau harus berhati-hati dengan siapa lawanmu berbicara, masalah sekecil apapun yang dibuat rakyat jelata kepada penguasa, bisa mendapat hukuman yang seberat-beratnya , sedang masalah sebesar apapun yang dibuat penguasa, bisa tuntas hanya dengan secarik kertas."


" Boleh aku bertanya kek? " Dessou awalnya terdiam sebentar menerima sekian wejangan dari kakek-kakek itu lalu bertanya.


"Apa? "


" Kenapa kau menyuruhku tidur terlalu cepat kemarin malam? Aku jadi bangun tengah malam kek... "


"Aku menyuruhmu untuk tidur di waktu itu, untuk beristirahat sejenak, bukan menghabiskan malam yang panjang. "


 Kakek-kakek itu baru saja mau meninggalkan Dessou dan memberikan senyuman semangat, namun senyumannya kali ini sepertinya adalah dengan alasan lain, karena seseorang yang tadinya menghukum Dessou datang dengan membawa mangsa baru.


"Sepertinya kamu mendapatkan seorang teman baru Dessou..."


 Kakek-kakek dan wanita itu berbicara sambil melangkah menjauh, meninggalkan kedua orang bimbingannya. Suasana agak cangung sampai-sampai salah seorang dari mereka memulai untuk berbicara.


"Hai, aku Hanzou Braincracker, siapa namamu?"


"Aku Dessou"


"Darimana asalmu?"


"Desa Yukija.. "


"Yukija? Oh maksudmu Serenitasrivus..?"


"Serenitasrivus? "


"Ya, itu adalah sebutan resminya, dipeta kau tidak akan menemukan nama Yukija termuat di pulau Harmonia.."


"Yah... sepertinya pengetahuanku sangat dangkal ya?"


"Tidak juga kok, ini hanya tentang peta, mungkin Yukija adalah nama yang sering disebut oleh kebanyakan orang disana. Lalu bagaimana kau sampai kesini? "


"Berjalan kaki.. "


"Apa? Berjalan? Dari desa Serenitasrivus ke desa Tranquilcampus.. kenapa tidak menaiki kereta angkutan saja, perjalanan berkilo-kilo bahkan bisa terasa singkat karena terkadang pengemudinya menggunakan kekuatan Colourball ( yah itu ilegal sih..) Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk kesini?


"Tidak terlalu jauh kok, aku dan nenekku tinggal di area perbatasan desa, dan sekolah ini juga ada diujung desa tranquilcampus, jadi waktunya sekitar dari pagi menjelang siang sampai matahari tepat dipuncaknya, mungkin untuk sampai kesini. Aku sudah terbiasa berjalan jauh bersama nenekku, masalah menaiki kereta, itu banyak menghabiskan dana kurasa. Apalagi mereka tidak suka dengan marga kami, Ophalet. "


"Ophalet? "


"Kenapa?" Dessou sedikit berharap, Hanzou mau menerima keadaannya sebagai penyandang Ophalet.


"Ehh.. Tidak ada.... Lalu bagaimana kau bisa dihukum disini? "


"Ceritanya sangat panjang, dan aku rasa, aku tidak diperbolehkan untuk memberitahunya. "


"Oh.. Baiklah, tidak apa-apa" (Apa masalahnya ya? apa karena sepatunya masih basah? Tidak.. dia bilang, dia tidak boleh memberitahukannya.)


"Bagaimana denganmu? Apa yang menyebabkanmu dihukum bersama denganku disini?"


"Yah, aku dilempari pertanyaan, dan aku tidak bisa menjawabnya. Pelajaran disini kurasa kurang rasional, jadi aku selalu enggan untuk menjawabnya. "


 Waktu berlalu, dan jam belajarpun dimulai, Dessou dan Hanzou dihampiri wanita petugas asrama dan dibolehkan untuk masuk ke kelas masing-masing.


" Hei, biar kutambah sedikit pengetahuanmu tentang pulau ini oke? Pulau ini bernama Harmonia, pulau dengan alam yang seimbang dan harmonis, padang rumput luas dan danau indah, kerajaannya bernama Concordia. Masyarakat disini hidup dalam keseimbangan dengan alam. Dan satu hal lagi, Colourball yang ada disini beraneka ragam, tidak seperti pulau-pulau lainnya.. "


 Dessou menerima semua penjelasan singkat dari Hanzou, lalu keduanya masuk di kelas masing-masing.