Gray Knight

Gray Knight
The Legend Of Colourballs



Angin mulai bertiup, menerbangi jarahan kertas yang menempel di setiap permukaan tanah, sinar mentari yang melewati atap-atap dan struktur bagian atas rumah, membentuk garis miring kearah barat, terbelah dan berkedip ketika setiap leher manusia melewatinya. hiruk pikuk aktivitas warga desa, menyelimuti kian tempat dan waktu di seluruh lingkungan. Dessou terus berjalan dengan menenteng tangan neneknya.


"Nek, aku ingin menjadi seorang prajurit, tapi apa aku harus sekolah?" Dessou bertanya dengan wajah datar ke arah neneknya.


"Prajurit yang berpengetahuan lebih baik, daripada tidak. Lagi pula, raja sudah mewajibkan setiap calon prajurit, untuk menempuh pendidikan yang ada." Nenek dessou memberi sedikit kata-katanya dan hanya melihat kearah depan, tanpa melihat wajah cucunya. Dia memang tidak ingin terlihat lemah.


"Jika aku sekolah, maka nenek akan dibebani biaya, dan siapa yang akan membantu keseharian nenek?"


"Nenek bisa berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk masalah sekolahmu tidak usah dipikirkan. Kemarin ada orang yang mengajukan diri akan membiayaimu sampai lulus."


"Siapa dia nek? Apa dia adalah orang yang kita kenal?"


"Hmmm.. kau tidak perlu mengetahuinya!"


"Berapa lama kira-kira, aku akan bersekolah nek.?"


"Tidak lama, hanya sekitar.. mungkin 10 tahun.."


"Hah, 10 tahun? lalu kapan aku bisa menjadi seorang prajurit hebat?"


"Jangan terlalu terburu-buru, orang yang sukses tidak perlu waktu yang sangat singkat.."


 Mereka berdua terus mengobrol sambil meniti jalan, sampai tak terasa, mereka berdua sudah sampai di depan sekolah.


"Nek, tunggu aku ya, setelah aku keluar dari sini, aku akan banyak memberikanmu uang, dan.. " Dessou ingin mengungkapkan segala impiannya, namun telunjuk neneknya sudah lebih dulu mengunci kedua belah bibirnya.


"Sudah, sana pergi" Nenek Dessou hanya mengeluarkan sepatah kata saja, sembari melihat cucunya melambaikan tangan, masuk ke halaman sekolah, dan hilang dari pandangan. Nenek Dessou segera membalikkan badan dan terlihat merendahkan pandangannya, sepertinya dia kehilangan sesuatu. Dan mungkin dia akan jarang lagi menemukannya.


 Udara terasa sesak, dan gerah. Setiap pijakan kaki dari tiap orang yang berlalu-lalang membuat suara decitan yang terdengar seakan membalas satu sama lain. Kursi dan meja diatur menjadi beberapa barisan, dan diberikan jarak sebagai pemisah antar tiap barisannya. Gumaman tiap orang membuat seakan ruangan itu adalah kotak peternakan lebah yang terus berbunyi. Suasana disana membuat Dessou mulai mengenali ruangan apa yang baru saja dimasukinya. Suasana tidak kunjung berubah sampai seseorang wanita dengan seragam yang khas masuk melalui pintu.


"Selamat pagi semuanya!" wanita itu mengucapkan salam pembuka. Dan semua penghuni ruangan terlihat bangun dari singgasananya kecuali Dessou.


"selamat pagi bu!" Semua memberikan salam balasan, hanya saja Dessou masih belum tahu betul harus berbuat apa, dan hanya diam.


"Oh lihat, sepertinya kita mendapatkan teman baru disini. Coba perkenalkan dirimu kedepan!" Wanita itu langsung saja memberikan perintah sambil menoleh dan mengarahkan telunjuknya ke arah Dessou, dan memberikan isyarat kepada Dessou untuk maju ke depan. Dessou merasa agak tertahan sebentar, lalu berdiri dan melangkah kedepan dengan seketika, saat semua tatapan anak-anak yang lain mengarah kepadanya, menuntut untuk mengikuti arahan sang wanita. Sepertinya dia mulai mengenali siapa pemegang kuasa disana.


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan namaku Dessou!" Perkenalan yang terdengar sangat singkat dari Dessou.


"Hanya itu? Namamu juga terdengar pendek..


apa tidak ada nama belakang? Coba ceritakan tentang dirimu lebih jelas lagi!"


Dessou mulai ragu, namun kata-kata dari neneknya mulai terngiang. ( jangan pernah takut untuk menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya. Seberapa keras kamu mencoba untuk lari dari kenyataan, sekeras itu pula rasa kebencian yang mereka punya, ketika terungkap segala kebenaran tentang dirimu.)


"Namaku Dessou Kikaeri Ophalet, aku tinggal bersama nenekku di desa Yukija."


Semua orang di kelas itu nampak bingung dan mulai membisikkan sesuatu tentang Dessou.


"Ophalet? Bukannya, itu adalah nama marga terkutuk?" Seseorang terlihat berlagak seperti sedang membisikkan sesuatu kepada teman sebangkunya, hanya saja kata-katanya bisa didengar oleh semua orang disana.


 Semua orang mulai mencaci Dessou, dengan berbagai cacian. Dessou hanya diam saja, dia juga dihujani belasan remasan kertas berbentuk bola.


"Sudah semuanya, ibu guru akan memulai pembelajaran kita hari ini. Jadi berhenti untuk mengolok-olok Dessou!" Wanita itu mencoba mengingatkan perannya kepada anak-anak yang memaki Dessou.


 Entah mengapa semuanya saat itu tidak begitu mengindahkan perintah dari wanita yang mengaku guru itu. Semua tetap saja mencaci dan melempari Dessou, sepertinya mereka tidak mengerti apapun. Mereka hanya larut dalam permainan tindas-menindas, dan sangat senang dengan mangsa baru mereka. Semuanya tetap kacau sampai tiba-tiba seseorang kakek-kakek dengan mantel putih memasuki kelas itu.


"souner sus" kakek-kakek itu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang tidak begitu dapat dimengerti, sambil menjulurkan tangan kanannya kedepan. Dan seketika itu, semua mulut anak-anak pemaki terkunci.


"Apa kalian bisa menutup mulut kalian sendiri? Dengan begitu kalian akan cepat belajar dan langsung pulang ke asrama kalian?"


(Asrama?) Dessou, mulai keheranan. Mengernyitkan alisnya, dipikirannya, dia akan sekolah dengan waktu yang cukup singkat sekedar menerima wawasan untuk menjadi seorang prajurit, dan langsung pulang kekediamannya dirumah nenek. Namun ternyata tidak.


 Semua orang mengangguk-angguk, sepertinya, mulut yang terbungkam adalah siksaan yang paling menyakitkan dikalangan para pelajar, dan pemaki tentunya.


"Sejak zaman dahulu, leluhur kita memanfaatkan sebuah bola hidup, yang terdapat pada bumi ini, mereka memiliki kekuatan, api, air, tanah, dan lain sebagainya." Kakek-kakek itu mulai bercerita, sambil berjalan mengitari sela-sela yang ada diantara barisan meja.


"Hei, bukannya dia sudah bercerita tentang hal itu hampir sebanyak tiga kali?" Seseorang berbisik kepada teman disampingnya dengan sangat hati-hati, dan kakek-kakek itu sepertinya tidak menyadarinya karena jarak yang lumayan jauh.


"Yah, The Legend Of Colourballs, para colourball yang menyimpan sebuah kekuatan.


Dia suka menceritakan hal itu di ruang pengenalan lingkungan sekolah, yah sepertinya dia salah masuk ruangan. Dasar kakek-kakek pikun." balas temannya.


"Dan ada tujuh colourball terkuat, yang sekarang dimiliki dan dikuasai oleh 7 raja di 7 kerajaan yang ada di bumi." Lanjut kakek-kakek itu. Wanita berseragam disampingnya mencoba untuk memberitahunya sesuatu, akan tetapi kakek-kakek itu terus mengabaikannya.


"Bagaimana dengan para monster? Bagaimana sejarah mereka?" Seseorang mengangkat tangannya dan langsung bertanya.


"Mereka adalah para demon, yang merasuki dan mengambil alih tubuh manusia. Jadi sebaiknya, kalian berhati-hati manakala kalian mau membuka pintu masuk Dreamgate Of Nexus." Kakek-kakek itu berhenti dengan kalimatnya, dan melihat banyak tatapan kebingungan.


"Yah, suatu saat, kalian akan diajarkan masalah Dreamgate Of Nexus." Kakek-kakek itu membuat ketertarikan yang amat dalam kepada anak-anak di ruangan itu. Akan tetapi sebuah elusan halus dari tangan seorang wanita tiba-tiba menyapu bahunya.


"Maaf pak, tapi bapak salah masuk ruangan... lagi.." Guru wanita itu mencoba menyadarkannya.


"Oh, benarkah? Kukira ini adalah kelasnya... " Kakek-kakek itu baru saja mau mendekati pintu, meninggalkan ruangan itu, akan tetapi, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Satu hal lagi. Seseorang mungkin bisa diklaim buruk dengan reputasi yang dimilikinya, akan tetapi, jangan menjadikan kelahiran seseorang sebagai alasan untuk diklaim sebagai orang yang buruk, kalian mengerti!" Kakek-kakek itu memasang wajah mengancam, sepertinya dia mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi di kelas itu, sebelum dirinya masuk kesana.


"Mengerti" Anak-anak itu menjawab, dan hanya paham sekelumit dari kalimat kakek-kakek itu.


"Dan kamu!" kakek-kakek itu tiba-tiba menunjuk Dessou, lalu memberi perintah.


"Sebutkan namamu!"


"Namaku Dessou Kikaeri Ophalet."


"Baik, temui aku setelah jam belajar selesai oke?"


"Baik pak. terima kasih"


Setelah percakapan singkat itu, sang kakek langsung pergi dari kelas, dan ibu guru memulai pelajarannya.


Setelah sekian lama. Akhirnya jam belajar selesai dan Dessou bersegera keluar dari kelasnya.


"Ah... Dia tidak memberitahu lokasinya, bagaimana aku bisa menemuinya?" Dessou mengeluh, dia lupa bertanya soal hal yang sangat penting sebelum bertemu dengan kakek-kakek itu.


Dessou mulai mencari, dia mencoba berjalan di berbagai lorong yang ada dan mencoba untuk bertanya kepada anak-anak yang lain, namun ia malah dijauhi. Dia mulai mengerti kalau hal buruk memang lebih mudah diingat dan mempengaruhi persepsi orang.


Setelah lama berkeliling, Dessou mulai lelah dan akhirnya memutuskan untuk menyerah mencari kakek-kakek itu. Namun jerih payahnya terbayarkan, setelah dirinya merasa kaget dengan apa yang datang dari arah belakangnya. Kakek-kakek itu datang menghampirinya.


"Disini kau rupanya! Cepat ikuti aku!" (sepertinya kau sudah terbiasa membebani orang tua sepertiku ya..) Kakek-kakek itu memegang tangan Dessou dengan sigap dan membawanya kedepan asrama.


"Ini adalah tempatmu beristirahat, jika ada hal yang lain lagi, silahkan bertanya, kau juga bisa bertanya dengan teman seasramamu!"


"Anu.. kenapa aku harus berasrama? kenapa tidak sekolah seperti halnya sekolah biasa?


Dan kenapa aku tidak memasuki ruang pengenalan lingkungan sekolah? Padahal aku baru saja masuk kesini."


"Prajurit adalah orang yang memiliki tugas dan peran yang penting, tentu tempat pendidikan mereka adalah tempat dimana mereka akan dilatih untuk mandiri, dan bermental baja. Untuk masalah pengenalan, itu memungut biaya tambahan dan aku tidak mau repot-repot mengurusmu, ikuti saja kelasmu yang sekarang, pelajarannya juga belum terlalu jauh, jadi aku yakin kau bisa dengan mudah untuk mengerti."


"Oh, begitukah? Sekarang aku mengerti, tapi bagaimana dengan nenekku? "


"Kau bisa menemuinya setiap akhir tahun, sekarang bergegaslah tidur, aku masih punya urusan yang lain."


"Baiklah." Dessou memasuki asramanya dengan diiringi mata-mata yang terus melototi pergerakannya. Dia meraih selimut dan langsung tidur di tempat tidurnya.