Gray Knight

Gray Knight
Cahaya Putih



    kicauan burung mulai terdengar samar, langit-langit yang awalnya terlihat penuh dengan batasan garis biru kini berganti dengan garis oranye di setiap ujung timur-barat dan selatan-utarayanya. Matahari terlihat hampir hanya kepalanya saja. Semua kronologi perpindahan antara senja kepada malam itu disaksikan oleh seorang anak yang bersender kepada pohon yang sudah mati di sebuah bukit kecil. Mukanya terlihat murung sekali.


 " Aduh.. kenapa begini nasibku, aku merasa sangat tidak beruntung, terlahir di dunia ini."


   Setelah berkata seperti itu tiba-tiba seorang nenek-nenek memegang bahunya dengan cengkeraman yang lumayan keras dari arah belakangnya, anak itu sampai terkaget dibuatnya.


 " Au, siapa yang melakukannya?" Anak itu berteriak sambil menoleh ke arah belakang.


 " Oh, rupayanya kau nek, ada apa?"


 " Jangan berbicara seperti itu, Dessou, semua orang terlahir istimewa, kau hanya perlu menerima apa yang ada pada dirimu. Itu saja"


 " semua orang jahat padaku nek, mereka bilang aku ini adalah keturunan seorang iblis yang hampir menghancurkan peradaban manusia."


   Anak laki-laki itu mendekap erat neneknya, sambil terisak-isak meneteskan air mata.


 " Semua orang punya ujian hidup yang berbeda-beda, dan semakin berat beban hidup itu, maka semakin cerah masa depan yang diperoleh, jika mampu menghadapinya." Nenek itu menceramahinya , dan iapun menuntun cucunya untuk kembali ke rumah tempat tinggal mereka. Sesampainya mereka didepan dirumah, seorang dari pihak kerajaan datang menghampiri mereka berdua.


 " Salam sejahtera nek." Seorang prajurit itu berkata sambil terlihat menahan nafasnya sekilas, dan membuangnya dengan sangat berat, dia melihat sekeliling. Dilihat dari sorot matanya, ia terlihat sangat tidak bersemangat.


 " Apa yang kau lihat, wahai prajurit muda." Sang nenek langsung bertanya tanpa menjawab salam prajurit.


 " Seperti biasa, aku ingin menagih pajak tinggal di area aman ini, atau kau mau aku mengusirmu dan membiarkanmu serta cucumu dilahap monster diluar sana. Ayolah kau harusnya bekerja, atau paling tidak suruh anak itu untuk bekerja juga, omsetmu


bisa lebih banyak daripada sebelumnya"


 " kau memintaku untuk menyuruhnya bekerja? dia baru 6 tahun, dan dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya." nenek itu


berkata sambil menyuruh Dessou untuk masuk ke rumah terlebih dahulu, dan Dessoupun masuk. Sedang neneknya dan prajurit itu berpindah dan mengambil tempat


yang paling tepat untuk berbicara empat mata.


   Dessou mengintip dari dalam rumah melalui celah yang ada di pintu, dia melihat neneknya awalnya bergaya dan berlagak


dalam gaya bicaranya, dan prajurit itu sabar saja ditimpali celotehan oleh nenek-nenek itu, namun tak berselang lama, prajurit itu mulai kesal dan membuat nada bicara yang lumayan tinggi, dan terlihat mengayunkan kedua tangannya, saking kesalnya untuk memberi penjelasan juga kepada sang nenek. Nenek-nenek yang awalnya berada diatas angin itu, kini hanya diam dan perlahan terlihat memohon kepada prajurit itu. Prajurit itu langsung pergi tanpa sepatah katapun,


dan akhirntya nenek dessou mengeluarkan air mata. Semua desas desus perlidahan itu ternonton oleh sebelah mata Dessou, membuatnya semakin penasaran dengan apa yang terjadi, namun sayangnya dia tidak begitu bisa mendengarkan dengan jelas, karena jarak mereka yang lumayan jauh. Dessou melihat neneknya perlahan menoleh ke arah pintu, dan seketika itu, Dessou langsung membuka pintu dan berlari keluar dan langsung memeluk neneknya.


" tidak ada yang terjadi, ayo cepat kita tidur, dan memulai hari esok yang baru."


   Dessou dan neneknyapun masuk ke dalam dan langsung memasuki kamar yang sama dan tidur di kasur yang sama pula. kesedihan yang teramat lelah diperlihatkan, membuat mereka tidur dengan saling membelakangi satu sama lain, mereka tertidur dengan menjadikan air mata, sebagai pengantar tidur mereka.


   Udara mulai terasa dingin, embun embun mulai menampakkan diri di permukaan, ditambah lagi suara hasil gesekan antar atap-atap seng ikut melengkapi malam seorang nenek nenek lemah dengan cucu semata wayangnya. tentunya semua hal itu tidak menghalangi mereka untuk tertidur dengan pulas, karena mereka sudah terbiasa dengan semua itu. Namun berbeda pada malam saat ini, terlihat salah seorang dari mereka mengernyitkan alis dan menggerakkan setiap sudut bibirnya berkali-kali, mukanya terlihat pucat. Dan ternyata, Dessou bermimpi.


   Terlihat bukit yang begitu luas, penuh dengan rerumputan hijau, semua tanaman tumbuh subur. Rumput-rumput yang menari-nari membuat bukit seolah-olah mempunyai gelombang ombak diatasnya, satu-satunya hal yang mengurangi nilai seni disana adalah tempat dimana dessou terlihat sedang terkapar, dan mulai bangkit dari tidurnya.


" Dimana aku?" Dia berucap sambil menggaruk-garuk kepalanya.


   Dessou terus saja diam dalam keheningan, dan sesekali menoleh ke berbagai arah, namun sepanjang mata memandang, dia tidak menemukan apapun kecuali permukaan bukit dan garis laut yang jauh diujung cakrawala. selang beberapa waktu, dia melihat seorang wanita yang entah


muncul darimana, terlihat sedang melambaikan tangannya ke arah Dessou dari kejauhan. Dessou langsung pergi menghampiri wanita itu, saat Dessou sudah didepannya, yang ia lihat adalah sosok wanita paruh baya yang mengenakan gaun versi kuno, umurnya kisaran 35-40 tahunan, wajahnya terlihat putih cerah nan mulus tanpa kerutan sedikitpun, postur tubuhnya tegap dan tinggi. semua yang ada padanya membawa kesan hangat, seolah dia adalah seorang ibu yang sanggup menjadi tempat kita bercumbu rayu dan berkeluh kesah. Tanpa pikir panjang Dessou langsung memeluk wanita itu.


" Apakah kau ibuku?" Dessou bertanya.


   Wanita itu hanya tersenyum manis, dan langsung menggenggam tangan Dessou, lalu menariknya secara perlahan. Dessou mengikutinya terus sampai turun ke kaki bukit. sesampainya mereka disana, wanita itu melepas tangan dessou, merapikan gaunnya lalu duduk santai dengan menelonjorkan


kakinya membelakangi Dessou sembari menengadah ke langit. Dessou yg sejak tadi fokus saja melihat wanita itu, ikut mengangkat kepalanya dan menatap langit, wajah yang tadinya hangat , penuh ceria sebagaimana anak-anak yang pertama kali bertemu dengan sang ibunda kini berubah menjadi pucat pasi, matanya tidak berhenti mencari titik yang lebih damai namun tidak kunjung menemukannya, kedua tangan yang awalnya dapat berayun dengan bebas, kini merambat ke sekujur tubuhnya seperti orang yang tidak lagi bisa memikirkan kepentingan siapapun kecuali kepentingan dirinya sendiri. Apa yang Dessou lihat, adalah langit yang begitu gelap dari ujung ke ujung, awan-awan tampak berwarna hitam keabu-abuan dan memiliki variasi yang terlihat seperti colekan kuas dengan warna ungu membentuk gaya abstrak sangat menyeramkan dan semua awan-awan itu berputar mengelilingi satu titik di tengah-tengah langit, tak hanya langit, udara yang awalnya terasa sepoi-sepoi dan tanah yang begitu lembut, telah berganti menjadi udara yang kasar nan sesak dan tanah yang kering kerontang memuat banyak retakan. Semua perubahan iklim itu benar-benar terjadi menghampiri Dessou secara tidak sadar.


   Detak jantung Dessou semakin kencang setiap detiknya, dia benar-benar kebingungan, dan satu-satunya hal yang mungkin membantu Dessou untuk memahami semuanya adalah wanita misterius itu, jadi kali ini sebagaimana sebelumnya , ia mengamati terus sang wanita misterius itu, berharap memberikan suatu isyarat untuk memecah situasi sulit disana. Secercah cahaya rasanya mulai menggumpal di hati Dessou, manakala wanita itu menunjuk kearah depan, dan Dessoupun langsung menghampiri wanita itu tanpa melihat ke arah depan, namun yang ia lihat adalah hal yang membuat dia semakin bingung harus berbuat apa. Wanita misterius itu mengeluarkan air mata dengan muka penuh kesal dan geram sambil tetap mempertahankan tangannya segaris dengan permukaan tanah, lurus kedepan. Dessou akhirnya memenuhi harapan sang wanita misterius itu, dia menoleh ke arah depan dan yang terlihat hanya kabut abu yang samar samar dan kosong. Namun selang beberapa lama kemudian terlihat ada dua orang laki-laki mengenakan baju zirah ksatria zaman kuno yang sedang beradu pukulan yang tidak biasa. Setiap pukulan memancarkan aura yang memiliki warna khas dan kuat. Awalnya semua scenario pergulatan nampak seimbang, akan tetapi terlihat salah satu dari keduanya melancarkan pukulan dengan lebih stabil, dan banyak menguras energi lawan. Terlihat dari lawannya yang tempo waktu semakin lemah dan menaikkan emosinya.


 Menit ke menit terasa semakin menegangkan ketika kedua pegulat itu mulai memperlihatkan sesuatu yang lain, mereka berdua mengucapkan sepatah dua kata dengan gaya berbeda yang Dessou tidak mengerti, dan lingkungan di sekitar mereka terlihat berubah ubah tak tentu, seakan alam mengikuti titah mereka. Namun yang paling menegangkan adalah ketika orang yang sedari tadi unggul terlihat hampir menggapai kemenangan dan mencoba memberi serangan pamungkasnya. Dia mengepalkan tangan kanannya, terlihat banyak partikel cahaya mulai membentuk garis lurus dan masuk ke celah-celah kepalan tangannya. Dia langsung menghampiri lawannya dan langsung menjatuhkan kepalannya tepat ke area jantung lawan. Dessou tidak mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi, karena ada ledakan cayaha putih yang begitu menyilaukan tiba-tiba mulai memenuhi segala penjuru.


  ( crik, crik,) terasa percikan air mulai menembaki seluruh permukaan wajah Dessou.


"Dessou, Dessou, ayo bangun !" Nenek Dessou sepertinya sedari tadi mencipratkan air sejuk ke muka Dessou, dan akhirnya kedua mata Dessou mulai mumbuat jarak diantara tiap kelopaknya.


   Belum lama mata-mata Dessou membelalak, namun tiba-tiba saja dia berteriak;


"Nek, cahaya putih nek, cahaya putih, caha..." (slah) belum selesai dengan gumaman nya Dessou langsung dilempari wadah air beserta isi-isinya.


" Sudah, berhenti menghayal cepat mandi, lalu ganti bajumu. Nenek akan mengantarmu ke sekolah, kamu ingin menjadi seorang prajurit bukan..?"


Dessou melihat neneknya dengan tatapan bingung lalu memandangi dirinya sendiri yang basah kuyup dibanjiri air. Entah kenapa, nenek Dessou terlihat lebih kejam pagi ini. Sepertinya, sudah banyak waktunya yang terbuang untuk membangunkan Dessou cucunya..