
“Apakah kau makan dengan baik? Ada apa dengan wajahmu” Kata Felisa
Untuk beberapa detik, Felisa dengan Livi bertukar pandang beriringan suara kendaraan yang berlalu lalang. Mata Livi bulat membesar dengan ekpresi tak percaya, tenggorokannya tercekat.
Setelah beberapa detik hanya terpaku di tempat, “Kamu... Mau menerimaku lagi?” Tanya balik Livi ekpresinya terlihat cukup tegang dan menahan nafas
Felisa menggelengkan kepalanya, “Dari awal aku ngga pernah menolakmu” Balas Felisa dan Livi langsung memeluk erat Felisa.
“Jangan pelukan di sini, banyak yang liat” Felisa mendorong pelan Livi
Livi mengangkat kedua tangannya, “Ah, iya... Maafkan aku” Kemudian Livi menggandeng lengan Felisa ke arah mobil dan membukakan pintu mobilnya. Sepanjang jalan pulang, Livi tidak berhenti bolak-balik memandang ke depan dan ke arah Felisa.
“Hadap ke depan, fokuslah menyetir” Kata Felisa sembari tersenyum
“Aku takut ini mimpi, biarkan aku menikmatinya” Ucap Livi
“Aku memang cemburu pada Donita, tapi sekarang aku menyukainya” Kata Felisa dan Livi mengernyitkan keningnya
“Kalian berdua bertemu? Apa yang dia katakan padamu?” Tanya Livi dan Felisa menahan senyumnya dengan menutupi mulut.
“Dia bilang kamu menolak berciuman dengannya, kalimat itu membuatku yakin kak Livi tidak mungkin menghianatiku atas kasus pil KB” Ucap Felisa, membuat Livi tiba-tiba menghentikan laju mobilnya, tubuh Felisa terdorong ke depan dan kepalanya hampir terbentur kalau tidak dihalangi lengan Livi.
“Kak Livi... Aku bilangkan hati-hati saat mengemudi” Ucap Felisa dengan nada marah
“Ah, maafkan aku... Maafkan aku” Sahut Livi sembari memeluk Felisa
“Aku sudah menemukan orang yang menukar pil herbal mu, hanya menunggu waktu sampai dia ditangkap” Terlihat Livi mengepalkan tangannya dengan kuat menahan marah, Felisa mengamati Livi yang sedang emosi dan mengurunkan diri untuk bertanya lebih lanjut
“Bicarakan itu di rumah saja kak, kamu sedang menyetir, ini hari pertamaku ke rumah setelah lama tidak pulang, aku ngga mau berakhir masuk ke rumah sakit” Kata Felisa mencoba mendinginkan Livi
“Betul sekali, jangan fikirkan apa-apa. yang terpenting kamu mau kembali padaku”
“Aku mau cerita Donita yang tadi siang datang padaku dan bercerita bagaimana kalian bisa pacaran”
“Apa yang dia katakan? Sampai bisa membujuk Lisa pulang?” Wajah Livi terlihat sangat antusias
.
.
.
Dengan wajah ditegakkan kedepan penuh percaya diri, Donita berjalan layaknya model masuk ke dalam restoran, kaca mata hitam yang dikenakannya dibuka, dan melihat sekeliling restoran. “Apa ini?” Tanya Donita menarik Felisa yang sedang membersihkan meja pelanggan.
Sedikit terkejut, Felisa diam mematung melihat sosok wanita di depannya. “Apa yang sedang kau lakukan, nyonya Direktur Deravota” Bentak Donita cukup menarik perhatian pelanggan restoran sehingga menatap kearahnya.
Felisa menarik Donita untuk keluar, tapi dia menolak. “Pesan es jeruk, untuk dua orang” Ucap Donita pada Dewi
Kemudian Donita memberikan dua ratus ribu kepada Dewi. “Aku pinjam dia sebentar, mengobrol di sini” Ucap Donita dan Dewi mengernyitkan keningnya setelah menerima uang sogokan Donita
Felisa menghela nafas melihat kelakuan wanita di depannya tersebut, karena tidak ingin membuat keributan, dengan terpaksa ia menuruti perkataannya untuk duduk.
Tiba-tiba Donita terkekeh. “Kamu cemburu padaku? Apa sebabnya?” Tanya Donita tanpa basa-basi
“Astaga! Aku kira Haris sedang bergurau padaku, ternyata kalian beneran pisah rumah karena aku? Jadi siapa di sini yang bodoh? Kalian kan sudah lama tinggal bersama, kenapa tidak saling percaya begini?” wajah Donita kali ini serius menatap Felisa.
Kapan awalnya kita berhubungan? Mengenang kembali masa SMA kelas XI. “Apa hobimu suka menabrak orang” Bentak Livi pada Donita
“Maaf, aku tidak sengaja” Balas Donita
Padahal dia duluan yang menabrakku... Bisik batin Donita menatap sebal, tiba-tiba Livi mendorong Donita ke dinding dengan tangannya di ulurkan samping sisi Donita.
“Diam...” Ucap Livi dengan nada berbisik, posisi mereka terlihat seperti berciuman dari kejauhan. Donita melirik sebentar ke arah samping, beberapa siswi tampak terkejut melihat posisinya dengan Livi.
“Aku tidak bisa bernafas, dan dia juga terlihat menahan nafas.... sejak kejadian itu kami digosipkan pacaran... “ Donita mengenang hubungan lamanya dengan Livi, sembari menggelengkan kepalanya.
“Kamu memanfaatkanku, supaya para fansmu pergi kan?!” Bentak Donita pada Livi
“Kenapa tiba-tiba bahas ini” Balas Livi tak kalah judes membentak Donita
“Cium aku, kalau kamu benar menyukaiku” Donita menarik Livi dan Livi mendorong Donita dengan keras
“Jangan buat aku menjadi penghianat, aku punya tunangan” Livi pergi begitu saja meninggalkan Donita
Donita dan Felisa masih duduk berhadapan, setelah bercerita panjang Donita menyeruput es jeruk pesanannya, dan melanjutkan ucapannya, “Dia menolakku, dari awal itu hanyalah cinta sepihak. Bagaimana bisa ada laki-laki menolak diajak berciuman dengan wanita cantik sepertiku? Jujur saja, aku hanya suka wajahnya, selain itu menurutku dia laki-laki yang menyeramkan”
Felisa terkekeh mendengarnya, perasaannya yang semula panas sekarang berangsur lega dan lepas, “Benar sekali, dia sedikit keras kepala dan pemilih saat makan”
Donita mengernyitkan keningnya, “Jadi berhentilah cemburu padaku, dia laki-laki yang punya prinsip tanggung jawab yang sangat tinggi. Sangat jarang ada laki-laki seperti itu”
Lalu Donita berdiri dari tempat duduk dan menepuk bahu Felisa, “Mendekatinya saja sulit, bagaimana kamu menganggapku sebagai rival? Okey, bye... Aku sibuk. Pulanglah dan pakai pakaian yang bagus, celemek ini ngga cocok untuk nyonya Deravota”
Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya... Bisik Felisa berlari mengejar Donita
Haris menunggu Donita di depan parkiran mobil, “Udah selesai, aku pergi... Sekarang aku sudah menuntaskan masalah atasanmu kan” Ucap Donita
“Bagaimana denganku? Kamu belum menuntaskannya padaku” Kata Haris
“Apa aku punya masalah denganmu?” Tanya Donita
“Hatiku yang bermasalah denganmu” Sahut Haris
Tanpa keduanya sadari Felisa mendengar percakapan mereka. Dan menahan senyumnya. Aku urunkan saja mengucapkan terima kasihnya, sepertinya kehadiranku mengganggu obrolan romantis mereka... Bisik Felisa
.
.
.
“Jadi Haris suka Donita? Kenapa aku tidak menyadarinya” Sahut Livi seusai Felisa bercerita
“Aku mendukung mereka kalau beneran jadian, dan untuk menjadikan Haris sebagai asistenmu, kak Livi ngga salah memilihnya, dia sangat bisa dipercaya dan bijak” Ucap Felisa pas sekali dengan laju mobil Livi yang terhenti di depan gerbang rumah.
Livi menatap istrinya, “Sama seperti aku yang tidak salah memilih kamu menjadi pendampingku” Tangan Livi memegang bagian tengkuk Felisa dan perlahan memajukan kedepan sehingga bibir keduanya bersentuhan. 💕💕