Going My Way

Going My Way
R. A 2



Kampus Felisa di Universitas XX. “lisa, ikut aku yuk... ama kamu juga” ajak Fitri pada Felisa, Tiara, dan Selly


“mau apa?” tanya Felisa


“aku ada nongki bareng, ama Hana, dari jurusan seni rupa kelas B, ngajak cowok juga. Trus cowok yang dateng nanti sekitar empat orangan. Mereka teman-temannya Hana dan aku waktu SMA. Dari universitas sebelah. Siapa tau ada yang ganteng menurut kalian. Kan kesempatan kenal cowok yang bukan dari kampus sini” kata Fitri


“kalo aku sih yes” kata Selly bersamaan dengan Tiara


“kenapa aku diajak juga? Kamu kan tahu aku udah punya...” belum sempat menlanjutkan perkataannya dipotong Fitri


“ssstt... kamu merasa tidak berhutang apa-apa padaku? Masalah mobil kemarin?” tanya Fitri tersenyum jahat


“aku bahkan kasih uang dua kali lipat padamu” kata Felisa


“ no no no... pokoknya harus ikut. Soalnya aku bingung mau ngomong apa, makin banyak temen yang aku bawa, jadi makin banyak pembicaraannya bukan?” kata Fitri


Sesampainya di Level up caffe, tempat pertemuan. Empat cowok yang akan ditemui sudah duduk dan memesan meja terlebih dulu. Fitri melambaikan tangannya dan melangkah mendekati mereka, Felisa, Tiara dan Selly berjalan mengikuti.


“kalian udah lama nunggunya?” tanya Fitri


“ngga kok, baru dateng lima menitan” balas cowok yang memakai baju kotak-kotak.


“kenalin, ini Felisa, ini Tiara, dan mereka yang pake kemeja merah itu Ardi, yang pake kotak-kotak namanya Farhan, yang itu Bayu, yang itu Zaki” kata Fitri memperkenalkan temannya.


“salam kenal” kata Farhan dan dibalas senyum.


“mau pesan apa?” tanya Fitri tangannya memegang buku daftar menu.


“aku cola”


“aku thai tea”


“aku samaan aja deh ama kamu”


“ngomong-ngomong kalian lulusan mana?” tanya Ardi menatap Felisa, Tiara dan Selly satu persatu, kedua tangannya mengepal bersender diatas meja


“aku dari SMA N K” kata Tiara


“aku dari BMS” kata Felisa


“BMS? Binusa Melati School?” tanya Bayu dengan nada terkejut


“ya” balas Felisa mengangguk


“kamu ngga nanyain aku?” tanya Hana


“ngga perlu, kamu kan satu kelas ama aku” kata Bayu membuat Hana manyun


“iya bosen banget tiga tahun satu kelas terus, padahal tiap tahun ada roling” kata Hana


“makanya aku pindah kampus” balas Bayu lagi


Terlihat rombongan karyawan memakai jas rapi sekitar tujuh orang masuk ke kafe. Dan menarik perhatian para pengunjung kafe.


“hey lihat, bukankah dia tampan sekali?


“oh, wow... dia tipeku banget”


“mungkin aku akan mencoba berbicara padanya. Tapi mungkin saja aku bakalan meleleh saat berbicara di depannya”


Bisik para pelanggan melihat rombongan karyawan tersebut.


“wah, SMA Lisa kan terkenal buat kalangan elit. Bukankah biaya di sana sangat mahal?” tanya Ardi, kini semua cowok yang hadir memperhatikan Felisa.


“aku ngga tau persisnya berapa. Karena aku masuk ke sana karena dapet beasiswa” kata Felisa


“beasiswa? Murid teladan rupanya” kata Farhan


“sebenarnya aku ngga begitu pandai, bisa masuk situ gara-gara piagam kejuaraan kontes lukis” kata Felisa


“aku mau liat karyamu boleh?” tanya Farhan


“benar... kamu harus lihat lukisannya. Bagus banget” kata Fitri


Belum sempat menjawab, tiba-tiba Livi berdiri di samping meja tongkrongan Felisa. Livi tersenyum manis sembari menunjukkan payung besar pemberian Felisa tadi pagi.


“Lisa... entah kenapa aku jadi ingin bawa payung besar ini ke manapun. Padahal langitnya keliatan cerah” kata Livi, ia tidak menghiraukan tatapan pelanggan yang memperhatikannya.


“hehe... kak Livi, sedang apa di sini? Kafe ini kan jauh dari kantor” kata Felisa sedikit merasa bersalah, ia takut Livi salah paham kepadanya.


“siapa?” tanya Ardi menatap ke arah Fitri


“pacarnya” bisik Fitri


“boleh ikut gabung? Sepertinya mejanya kalau di satuin ama meja sebelah bisa jadi lebih panjang. Liat teman-teman sekantor ku itu? Mereka masih jomlo semua” kata Livi menunjuk ke arah enam temannya.


Kyak... ganteng semua... bisik Tiara


Udah kerja lagi... bisik Fitri


“tentu saja” kata Tiara, kemudian para lelaki bergotong royong mengangkat meja.


“boleh minta kontakmu?”


“tentu saja”


Bincang-bincang


“kak Livi... mau pesen apa?” tanya Felisa


“samaan aja ama Lisa” balas Livi


“eh, dia adikmu Livi?” tanya haris pada Livi


“kenapa? Kami ngga mirip?” tanya Livi lalu menatap ke arah Felisa


“jadi dia kuliah di sini...” kata Haris, tidak melanjutkan pertanyaannya, ia tidak mengerti maksud perkataan Livi yang memancingnya untuk menebak siapa Felisa.


“kalian bagian apa di perpajakan?” tanya Tiara dan langsung membuat suasana hening


O’ooh... aku lupa telah membohongi mereka... bisik Felisa sembari memegang kening dan menutupi mata kanannya.


“pajak?” tanya Arjun rekan sekantor livi


“iya... kata Felisa pacarnya kerja dibagian pajak” kata Tiara dan tanpa komando semuanya memalingkan pandangan menghadap Felisa.


“maaf... maaf... hehe... aku berbohong pada kalian. Sebenarnya kak Livi kerja di D.C” kata Felisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Deravota Center? Perusahaan D.C yang jual hp merk J-ZERO itu?” tanya Tiara dan Hana tidak percaya.


Sudah ku duga Felisa berbohong... bisik Fitri menggelengkan kepalanya


“kenapa kamu berbohong sih? Kami juga ngga bakalan rebut pacarmu kok” kata Tiara


“ngga ada yang salah dengan ucapannya, aku yang bilang padanya kalau aku kerja di pajak, biar sekarang dia tahu aku kerja di D.C dia tidak menyobongkan diri pada kalian, memang seperti itulah sifat Felisa, dia lebih suka merendah” kata Livi membela Felisa


“hoho... ceritanya membela pacar nih” sindir Randy teman sekantor Livi


Lalu mereka melanjutkan bincang-bincang sampai satu jam lamanya.


“baiklah, kami harus pulang ke kantor” kata Haris menghadap ke teman-teman Felisa


“hati-hati dijalan” kata Felisa dan Livi mengangguk


“sialan... kenapa bisa-bisanya, mereka ikutan nongkrong. Tentu saja mereka lebih menjanjikan karena sudah kerja” rutuk bayu dan zaki mengangguk setuju


“benar... aku merasa terintimidasi. Apa lagi ama cowoknya Lisa” kata Farhan


“lain kali, jangan ngajak Felisa yah” bisik Ardi pada Fitri


“tapi kan akhirnya kita dibayari mereka” balas Fitri tertawa kecil


“hey Livi, apa aku perlu sepertimu yah? Pura-pura kerja di tempat yang gajinya rendah. Aku bosan dapat cewek matre terus. Minta ini minta itu... emang aku atm berjalan apa” kata Haris


“haha... ide yang bagus tuh” kata Glen dan Livi hanya membalas senyum.