
Hanya sekitar sepuluh menit perjalanan dari rumah Anashira ke sekolah kami, SMA Harapan Bangsa. Perjalanan tampak lancar tanpa ada hambatan apapun.
“Sayang, kamu turun duluan ya. Kekelas duluan aja gapapa.”pinta Gema kepada Anashira.
Anashira pun menuruti Gema, dan dia akhirnya turun seraya memberikan helmnya kepada Gema didepan pintu utama gedung sekolah. Gema pun memarkirkan motornya di parkiran motor sekolah. Salah satu alasan mengapa Gema memilih untuk menurunkan Anashira yaitu menghindari perhatian yang ada di lingkungan sekolah. Namun setelah Gema memarkirkan motornya ia berjalan ke pintu depan Gedung sekolah, Anashira yang berada didepan pintu gedung sekolah, tampak menunggu seorang Gema. Anashira yang sedang menunggu dengan menundukkan kepala dengan wajah lugunya langsung memandang Gema. Lalu dia tersenyum. Mau tak mau Gema harus menghampiri Anashira yang sedang menunggu.
“Kamu gak duluan aja?”tanya Gema.
“Aku nungguin kamu tau.”
‘Ah.. persetan lah. Emangnya kenapa sih kalo mereka melihat gue pacaran sama Anashira!’batin Gema yang berusaha untuk meyakinkan diri.
“Ayo ke kelas.”ajak Gema.
Gema pun mengajak Anashira untuk berjalan bersama kekelas. Namun saat Gema ingin melangkah mendahului Anashira. Tiba - tiba Anashira menahan secara halus baju Gema di bagian lengan. Langkah Gema terhenti, dia langsung menoleh kearah Anashira. Anashira tampak memalingkan wajah sedikit dan tersipu malu.
”Sayang?”ucap Gema yang bingung.
Anashira pun melepas tarikannya dan telapak tangan kirinya berpindah ketelapak tangan kanannya Gema. Gema cukup terperanjat. Rupanya Anashira ingin bergandengan tangan dengan Gema. Bukankah kemarin Gema telah bergandengan tangan dengan Anashira, mengapa Gema cukup terkejut? . Rupanya akar masalahnya ada di lingkungan sekolah. Hal itu yang membuat Gema takut sebenarnya. Dia takut menjadi pusat perhatian. Namun berbeda dengan Anashira, Dia tampak tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Namun mengapa dia sangat berani mengambil inisiatif untuk berpegangan tangan ? Bukan kah dia trauma dengan laki - laki? Apakah kejadian kemarin telah membuat Anashira luluh dan menerima seorang laki - laki yang bernama Gema?
...
Pagi tadi di sisi Anashira.
*Suara alarm handphone berbunyi.
Kini alarm handphonenya berbunyi lebih cepat. Anashira seketika langsung tersadar dari tidurnya.
“Jam berapa?”gumamnya yang setengah sadar.
Anashira cukup terperanjat bahwa ini masih pukul 05.00. Seketika dia lansgung ingat dengan janji dengan Gema. Pasalnya Gema akan menjemput Anashira.
‘Aduh.. gue harus gimana. Gue gugup banget mau ketemu dia.’
Anashira tampak memutar - mutar area kamarnya karena kebingungan.
‘Ohya .. telpon Ahri.’
Anashira yang berusaha menenangkan diri pun mencoba menelepon Ahri melalui Whatsapps. Perlu waktu beberapa detik agar Ahri mengangkat telepon Anashira.
“Ri.. ri!”
[Apa Ana.. masih pagi lho. Hoam..]ucap Ahri yang tampaknya terbangun karena dering teleponnya.
“Ri..gimana nih. Gue nanti berangkat bareng ama Gema!”
[Aduh..gimana ya..]Ahri tampak masih setengah sadar.
[Gandengan tangan aja nanti.. dah ah gue tidur dulu.]Lanjut Ahri yang asal celetuk karena mengantuk~~~~ lalu mematikan panggilan teleponnya. Ahri tampaknya cukup santai dipagi hari ini, karena rumah Ahri sangat dekat dengan sekolah.
“HAHH, RI? .. NJIR DIMATIIN.”
````
Anashira pun berpikir keras.’Bergandengan tangan?’gumam batinnya. Anashira pun mengingat kejadian kemarin. Pasalnya mereka sudah berpegangan tangan semenjak di UKS. Mengingat hal itu Anashira sedikit malu. Namun, bukankah itu tidak masalah kerena mereka sudah berpacaran? Walaupun ragu, Anashira pun berusaha meyakinkan diri. Anggap saja ini adalah latihan agar tidak takut dengan laki - laki.
‘Ok aku akan bergandengan tangan dengan Gema disekolah’batinnya seraya berkaca dengan cermin yang bertujuan untuk menyemangati diri.
Anashira pun bersiap - siap sekolah. Dia tidak lupa memberi kabar kepada Ayahnya tentang Gema yang akan menjemputnya. Sehingga Ayahnya tidak perlu mengantarnya lagi. Ayahnya atau dipanggil oleh Gema Om Basuki yang awalnya ragu itupun menyetujuinya.
...
“Ini sedikit memalukan, tapi aku mau bergandengan tangan sama kamu.”ucap Anashira dengan lemah dan sedikit manja.
Gema yang mendengar hal itu sejujurnya tidak enak untuk menolaknya. Sehingga Gema memilih untuk mengikuti arus nya.
“Ya..um. Gapapa sih lagian kita kan sudah pacaran? hehe”ucap Gema seraya memalingkan wajahnya sedikit serta senyum~~ masam ~~kecilnya yang sebenarnya juga menahan malu dan tekanan.
Gema yang awalnya merasa genggaman Anashira sangat tegang dan kaku, Akhirnya mulai lemas dan lemah. Pipi Anashira memerah dan memberikan senyum malu - malu. Untungnya masih pagi, jadi hanya beberapa siswa yang ada di lingkungan sekolah.
Gema pun mulai menuntun Anashira secara perlahan menuju kekelas. Namun, tampaknya beberapa dari mereka tertarik melihat pasangan lugu ini. Seperti yang diharapkan, mereka menatap Gema dan Anashira dengan heran. Mereka yang mengenal Anashira saling berbisik.
“Ternyata rumor itu benar.”
“Itu Anashira?cowo nya itu pacarnya die?”
“Anjir dia kan yang kena bola basket kemarin? Mereka jadian?”
“Gue gak pernah liat cowonya njir..”
Bisik orang sekitar mereka berdua. Tampaknya rumor Anashira dan Gema sudah mulai beredar. Sejujurnya Gema merasa tidak enak dengan semua ini, tapi mau bagaimana lagi. Gema melirik wanita disampingnya, Anashira. Dia diam dan cukup menikmati berjalan bersama dengan Gema. Apakah dia tidak peka dengan keadaan sekitar?
Anashira pun tersadar bahwa Gema sedang melirik dirinya. Anashira pun tersenyum yang memamerkan giginya yang indah. Gigi putihnya berkilau seperti iklan pasta gigi pepsodent yang ada di televisi.
Setelah beberapa langkah yang hening, Anashira pun mulai dengan membuka sebuah percakapan ringan. Anashira bertanya tentang hobi Gema, Lalu Gema menjawab bahwa dia sangat suka bermain game. Lalu Anashira bertanya sedikit tentang foto profil yang ada diwhatapp Gema. Sepertinya Anashira memiliki pengetahuan sedikit tentang Anime. Gema pun menjelaskan bahwa dia adalah karakter favorit Gema di anime Class room of the elite. Gema tidak berani menyebutkannya dengan istilah waifu, karena itu cukup memalukan. Obrolan ringan ini membuat mereka menikmati perjalanan mereka dikoridor sekolah menuju kekelas mereka yang ada di lantai dua. Gema menganggap kemampuan Anashira dalam berkomunikasi sangat baik, Anashira hebat memperluas percakapan bahkan memulai percakapan. Tidak seperti Gema yang sangat kaku. Akibatnya, seluruh waktu di perjalanan dihabiskan untuk berbicara tentang diri Gema. Gema sangat ingin berminta maaf, kalau dirinya sangat membosankan.
...
Kelasnya memang sangat kecil dan begitu mereka berdua masuk, kelas tiba - tiba menjadi berisik. Satu - satu orang yang tidak membuat keributan adalah Ahri, Ahri tampak tersenyum iseng kepada Anashira. Sebenarnya ada satu lagi teman dekat dari Anashira, dia dari eskul drama dan ketenaran nya tidak kalah dengan Anashira dan Ahri. Dia adalah Cantika Dariani. Kemarin dia tidak masuk karena mengikut lomba pentas seni di suatu SMA Negeri yang ada di Palembang. Cantika tampak memberikan tatapan sinis kepada Gema. Wajar saja dia tidak tahu dengan tantangan dari Ahri. Ahri juga hanya memberi tahu Cantika bahwa ada sebuah kejutan hari ini.
Siswa - siswa lain tampak penasaran dengan hubungan Anashira dan Gema. Terutama para perempuan di sana, Mereka pun mengelilingi mereka berdua. Jiwa introvert Gema tidak tahan akan hal ini. Hal itu membuat Gema segera melepas tangan Anashira dan berusaha menjauh dari keributan tersebut. Hal hasil hanya Anashira saja yang diwawancarai oleh para perempuan. Setelah mereka berpisah, Gema duduk dikursinya dan meletakan tasnya. Namun bukannya merasa lega, tatapan yang menusuk tajam telah mengancam Gema. Para laki - laki memberikan tatapan sinis kepada Gema. Tatapan mereka seperti binatang pemakan daging yang sedang memburu.
Siswa laki - laki itu mendekati Gema. Mereka terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu kepada Gema. Gema sudah bisa membayangkan pertanyaan yang akan mereka ajukan kepadanya. Bagaimana Gema dan Anashira bisa sedekat itu, sambil berpegangan tangan pula? Akhir terbentuk lah sebuah perkumpulan sementara para lelaki didekat meja kursi Gema. Bahkan wajah yang tidak dikenali Gemapun juga ikut berkumpul. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Gema bahwa Gema dikelilingi oleh begitu banyak orang. Salah satu siswa laki - laki yang bernama Ridwan itupun membuka mulut.
“Kok bisa lo pegangan tangan dengan Ana?:
Para siswa laki - laki ingin tahu jawabannya. Mereka pun menyimak pertanyaan Ridwan yang tidak diduga menjadi perwakilan sementara mereka.
“Um..ya.. karena gue pacarnya Ana..”
Mereka terperanjat mendengar pernyataan langsung dari Gema.
“Jadi rumor itu benar!?”ucap ~~~~salah satu siswa laki - laki yang tidak dikenal Gema menyela seakan dia tidak mempercayai Gema.
“Ya.. begitulah.”jawab Gema.
Beberapa laki - laki terdiam seolah mereka menangis di dalam hati karena tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar dan harapan mendapatkan Anashira telah pupus. Gema tidak bisa menolak fakta, bahwa mereka tidak percaya karena Anashira berpacaran dengan laki - laki suram seperti Gema. Kemudian Gema menerima rentetan pertanyaan dari para lelaki tersebut.
Dari sisi Anashira. Anashira tampak menerima rentetan pertanyaan dari para perempuan tersebut. Anashira pun menjawabnya dengan senang hati.
“Jadi hubungan lo sama Gema. Kok bisa pegangan tangan gitu.”ucap Salah satu perempuan tersebut.
“Kami pacaran..”jawab Anashira.
“Gue gak nyangka cowo pendiam kayak Gema bisa nembak elo na..”
“Eh.. engga gitu. Sebenarnya gue yang nembak Gema.”
Mereka tambah terperanjat setelah mendengar hal itu. Pasalnya seorang Anashira selama ini mempunyai perasaan kepada Gema.
“Emang elo suka Gema darimananya sih?”
Mendengarkan hal itu Anashira pun berpikir sejenak untuk mendapatkan sebuah alasan.
“Um.. dia misterius. Hehe.”ucap Anashira yang tersenyum kecil~~~~.
Anashira pun tidak bisa menyangkal bahwa dia berpacaran dengan Gema karena tantangan dari Anashira. Sehingga dia menjawab berdasarkan definisi yang sesuai dengan Gema.
Para perempuan tersebut paham apa yang dimaksud Anashira. Laki - laki misterius itu sering digambarkan di cerita novel ataupun cerita *******. Dan biasanya akan menjadi pasangan protagonis wanita disebuah cerita. Biasanya juga laki - laki misterius dan pendiam itu dalam cerita novel memiliki sifat yang dingin, penuh teka-teki dan peka kepada orang terdekatnya. Beberapa perempuan memandang Gema secara seksama dari jauh. Mata mereka cukup bersinar, mereka tidak menyangka bahwa Gema memiliki definisi itu selama ini.
Setelah beberapa menit yang heboh ini, Suasana mulai tenang. Anashira bisa pun mulai bergabung dengan sirkelnya Ahri dan Anashira.
“Gue gak nyangka lo bakal pegangan tangan ama Gema”ucap Ahri yang tertawa kecil.
“Lah itu kan saran elo. Gue ngikutin doang.”
“Eh.. emang iya?”
Sepertinya tadi pagi Ahri asal menyeletuk saja. Makannya Ahri lupa apa yang diucapkan tadi pagi kepada Anashira.
“Terus tumben banget rambut lo di kuncir?”tanya Ahri lagi.
“Kepengen aja.”jawab Anashira yang sedikit jutek.
“Kok lo bisa sih jadian ama Gema?”tanya Cantika yang tidak tahu apa-apa.
“Lah lo belum dikasih tau Ahri.”ucap Anashira.
“Apaan, dia mah cuman ngomong kalo hari ini ada kejutan. Ini kejutannya ri?”ucap Cantika seraya menoleh ke Ahri.
“Hooh.” Ahri yang mengangguk.
Lalu Anashira menjelaskan tentang tantangan yang diberikan oleh Ahri. Tentunya mereka membahas ini dengan bisik - bisik, agar tidak ketahuan siswa lain. Cantika pun mengerti tapi raut mukanya tampak menunjukkan tidak kesetujuan.
“Kenapa harus Gema? Kalo mau tuh sekalian sih Ridho anak basket yang terkenal itu. Ini mah kaku-kaku amat.”
“Itu mah lo kali yang suka Can.. lagian lo kenapa sih gak tembak dia aja?”celetuk Ahri.
“Engga lah”ucap Cantika yang memiliki gengsi yang tinggi.
Dalam benak Cantika, harusnya laki - laki itu yang nembak dia. Bukan dirinya.
“Sebenernya .. Gema itu menyelamati gue kemarin...”
Anashira pun menyela percakapan mereka berdua. Dia mulai menceritakan hal yang terjadi kemarin. Dari bola basket, dan kejadian di UKS.
“Hem.. gak nyangka sih dibalik sifat nya yang pendiam gitu. Dia ternyata sangat dewasa.”ucap Ahri yang memuji Gema.
Lalu Anashira melanjutkan ceritanya tentang pertemuan Gema dengan orang tua Anashira. Ahri dan Cantika cukup terperanjat mendengarkan hal itu.
“Jadi hubungan lo direstui ama nyokap bokap lo? Selamat ya.”ucap Ahri.
“Selamat - selamat. Mana ada, lagian cuman satu bulan kan?”celetuk Cantika.
“Pengecualian can, kalo Ana jatuh cinta pada Gema. Kenapa ga lanjut?”
“Gue rasa gak bakal sih, ya kan Na?”ucap Cantika seraya menoleh Anashira.
Tampak Anashira tersipu malu ketika Ahri berbicara tentang “Jatuh cinta”.
“AH.. GA TAU DAH!”ucap Anashira dengan lantang.
‘DIA SUDAH JATUH CINTA!?’Sentak batin Ahri dan Cantika yang terperanjat melihat wajah Anashira yang memerah karena tersipu malu.
Anashira masih ragu dengan perasaannya. Dia tidak percaya, masa iya sih baru saja dekat kemarin sudah bisa jatuh hati? Anashira berusaha menyangkal hal itu.
Dari sisi Gema, tampak suasana mulai kondusif beberapa siswa sudah kembali ke meja kursinya masing - masing. Manusia Introvert ini tampak kewalahan menghadapi rentetan pertanyaan dari para siswa laki - laki itu. Tiba - tiba Gema mendapatkan notifikasi pesan whatapps dari Anashira.
Anashira: Kmu aman ?
Gema pun segera membalas pesan tersebut.
Gema : Aman koq.
Anashira : Maaf ya malah jadi heboh.
Gema : Santaii aja sayang. Namanya juga terkejut seorang bidadari kek kamu pacaran dengan orang suram kek aku.
Anashira : Ih.. kamu ga boleh ngerendahin gitu tauu . Kita tuh setara.
“Setara” itu adalah bentuk ideal dari sebuah hubungan. Anashira tampaknya menganggap bahwa dia dengan Gema itu setara. Gema pun langsung meminta maaf kepada Anashira.
Gema : Iya maaf sayang..
Anashira : Iya gpp. Tapi kamu jangan kayak gitu lagi ya. Aku ga suka.
Gema : Iya maaf, aku gak bakal gitu lagi.
Anashira : sip :)
Bel masuk pun berbunyi. Beberapa siswa kembali ke tempat duduknya masing - masing.
Anashira : Sampai nanti sayang..
Gema : Okey semangat belajarnya
Anashira : kamu juga...
Gema tampak tersipu malu melihat pesan dari Anashira. Dia tidak menyangka bisa sejauh ini. Gema juga berpikiran apakah ini pesan ini terlalu alay? Tetapi bukan kah itu wajar dalam berpacaran.
‘Ah tau ah .. pesetan dengan alay!’batin Gema.
````