Forever Want To Be With You

Forever Want To Be With You
Hari yang tak biasa itu pun tiba.



Malam yang cukup sulit bagi Gema . Pasalnya dia hampir tidak bisa tidur , karena kegelisahannya itu . Namun entah mengapa Gema pagi ini terlihat bersemangat datang kesekolah, walaupun pikirannya sedang kacau.


Dia tiba dikelasnya , tampak kelas sudah cukup ramai . Seraya berjalan menuju meja kursi nya , Gema sesekali melirik ke arah Anashira . Dia seperti biasanya , tak seperti Gema yang dalam hatinya cukup gelisah.. Gema tidak tahu skenario apa yang akan di lakukan oleh Anashira , untuk membuat janji pertemuan nanti . Gema juga sempat berpikiran bahwa rencana yang akan dilakukan oleh Anashira , tidak jadi terhadap dirinya , namun laki - laki lain . Namun pikiran itu buyar , saat  Gema ingin mengecek buku yang ingin kemarin dia ambil di laci karena ketinggalan , terdapat sebuah surat di atas buku tersebut. Gema pun duduk seraya memperhatikan surat itu secara detail . Gema pun menyobek surat itu secara perlahan , dan terdapat sebuah kertas yang berisi sebuah tempat bertemu nanti , tidak salah lagi ini surat dari Anashira.


Gema menghembuskan nafas dengan berat . Pikirannya tak beraturan dan jantungnya berdetak kencang , selama pelajaran berlangsung sesekali dia melirik Anashira dari tempat duduknya , namun kali ini Anashira juga melirik kearah Gema , terkadang mata mereka saling bertemu. Setiap mata mereka bertemu , Anashira tersipu malu dan segera memalingkan wajahnya . Jika Gema tidak tahu jika ini adalah tantangan , Gema mungkin akan salah paham .


Bersikap tenang adalah suatu hal yang tidak wajar di kejadian ini . Bayangkan saja bahwa Anashira harus menembak laki - laki yang tidak dia cintai , dan belum kenal betul. Sedang Gema harus berhadapan dengan idola sekolah yang akan melakukan pengakuan cinta palsu terhadapnya.


Hari yang panjang di sekolah sudah berlalu , kini waktunya pulang sekolah . Namun tidak untuk Gema , dia harus bertemu Anashira ditribun lapangan basket . Seraya Gema berjalan menuju ke tribun , terlihat Anashira sudah menunggu di tribun yang kosong tersebut  , rambut nya terurai akibat hembusan angin . Gema melihatnya cukup terpesona dengan kejadian itu , bahkan batinnya berkata ‘Cantik’.


 Sesudah jam pelajaran tambahan usai tadi , tidak biasanya Anashira beranjak pergi dari kelas duluan , ternyata dia langsung menuju ke tribun. .Anashira seraya menunggu Gema dia tampak sedang menonton anak - anak eskul basket sedang latihan , dan itu membuat beberapa dari mereka salah paham . Anashira tampak belum menyadari kehadiran Gema , Gema juga sedang mempersiapkan mentalnya untuk berhadapan dengan dirinya . Secara perlahan Gema menghampiri Anashira .


“Um.. Hei .. apakah kamu yang memanggil ku kesini?”ucap Gema dengan memakai gaya bahasa Aku kamu karena belum terlalu kenal dengan Anashira.


Reaksi Anashira cukup terperanjat , dia langsung menoleh kepada Gema.


“Ah iya .. makasih sudah datang Gema . apakah  ka..kamu ada waktu sebentar?


Anashira membuka mulutnya dengan gugup saat dia berdiri berhadapan dengan Gema.


“Santai aja sih .. pulang sekolah ini aku cukup renggang . Aku bisa pulang kapan aja , jadi apakah ada sesuatu yang bisa ku bantu?”


Gema mengingat sesuatu , ini berkaitan apa yang dia dengar kemarin . Dalam  intinya , Setiap kali para bajingan itu menembak atau melakukan pengakuan cinta kepadanya , mereka selalu melakukan tatapan mesum kepada tubuhnya . Jadi disini Gema berusaha membuat Anashira nyaman saat berhadapan dengannya . Dia sudah mempunyai solusi yaitu , dia harus fokus menatap matanya dan tidak tergoda dengan tubuhnya.


“Ja..ja..ja..di i.ni..um”


Anashira cukup malu mengatakan hal seperti itu , dia sangat gugup dan kesulitan untuk mengatakan yang sebenarnya. Sama seperti Gema tadi , Anashira juga berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaann palsunya. Walaupun semua itu palsu , Gema juga tidak bisa menghentikan kencangnya detakan jantung. Namun Gema masih menatap lurus kewajahnya dan tidak mengalihkan pandangannya dari matanya.


“A..aku menyukai kamu .. jadilah pacar ku..”


Sebuah kejadian yang tidak terduga , ada sebuah bola basket yang sangat kencang terlempar ke arah Anashira . Gema bereaksi cepat menghadang bola tersebut dengan kepalanya. Benturan keras tidak terhindarkan . Ini membuat dahi Gema terdapat luka memar yang sangat nyeri , ditambah lagi rasa pusing karena benturan tersebut. Gema pun terduduk di tribun itu  , Anashira yang sedang berdiri di samping Gema pun panik . selang beberapa detik , siswa - siswa itupun datang ke posisi mereka berdua , mereka meminta maaf dan segera mengambil bola basket tersebut.


Anashira tampak tidak bisa berbuat banyak . Mengingat juga bahwa Anashira tidak biasa dekat dengan laki - laki . Membuat Gema tergerak dan bangkit dari duduknya .


“Ka..kamu gapapa?”


Anashira yang menanyakan keadaan dari Gema.


“A..ku ga..”


Ucap Gema yang terpotong akibat rasa nyeri , dia juga meraba - raba daerah luka memar nya dan merintih kesakitan. Anashira yang sangat khawatir dengan Gema pun segera merangkulnya dengan berani.


“Ayo kita ke UKS dulu.”ucap Anashira.


...


Kini hanya mereka berdua yang ada  diruang UKS , karena petugas UKS harus mengawasi pelatihan PMR. Anashira pun yang harus mengobati Gema . Untungnya Anashira paham cara mengobati luka memar , dengan mengompreskan es ke area lukanya dan tak lupa dia membawakan obat parasetamol kepada Gema.


“Apakah kamu sudah baikan?”


Suara Anashira yang tampak khawatir.


“Aku sudah mendingan sih ..”ucap Gema walaupun efek obatnya belum terpengaruh.


“Syukurlah...”ucap Anashira yang terisak. Terdapat air yang keluar dari matanya dan mengalir ke pipinya.


Sementara itu Gema merasa menyesal karena membuatnya khawatir. Namun , Gema juga bersyukur bahwa dia bisa melakukan aksi keren , yaitu melindungi Anashira dari bola basket sial itu . Untungnya juga Anashira tidak terluka sama sekali.


“Kamu berbaring dulu aja , sampai benar - benar mendingan.. Aku akan temani kamu kok .”


Perkataan itu cukup manis di benak Gema . Melihat aksi dari Anashira , dia tampak tulus melakukan hal ini dan merasa ini adalah hal yang natural dari dirinya , bukan karena akting atau sandiwaranya. Lalu Gema pun menurutinya , dan berbaring di tempat tidur.


Selang beberapa detik , Anashira pun memegang tangan kanan dari Gema secara spontan . Karena malu Gema pun menyembunyikan muka dengan selimut , namun tampak Anashira tidak sadar karena dia sedang menundukan kepalanya karena merasa bersalah .


“Maaf  ya , aku malah buat kamu terluka.”


Gema yang mendengar hal itu pun membuka kembali selimut dari wajahnya. Gema melihat wajah dari Anashira yang anggun itu yang sangat merasa bersalah. Gema pun bangkit dari tidurnya dan beralih ke posisi duduk , lalu menatap Anashira yang sedang ter tunduk bersalah.


“Anashira ..”


“Ya?”


Wajah Anashira bangkit dari tunduk-nya dan menatap mata Gema.


“Aku ga masalah sih .. dari pada kamu terluka ,  sama aja pasti aku yang akan bawa kamu ke UKS. Hal kek tadi itu gak terduga .”


“Satu lagi nih , daripada kamu mengucapkan maaf , mending kamu ucapin terima kasih yang kesannya lebih baik , setelahnya aku akan bilang ‘sama - sama’ dan merasa senang karena diriku bisa melindungi mu dari bola basket tadi . Ketimbang permintaan maaf yang membuat orang merasa bersalah juga.” Lanjut Gema.


Secara spontan juga tangan kiri Gema pun bergerak menyeka air mata di wajah Anashira . Anashira cukup terperanjat , dan bergumam “eh..” . Wajah Anashira sangat memerah karena hal itu . Melihat keadaan Anashira yang terdiam karena tersipu malu , Gema pun sadar apa yang dia lakukan tadi dan mulai tersipu malu juga. Suasana juga semakin canggung karena tangan kanan mereka terhubung namun kaku untuk melepaskan  , untungnya seorang wanita yang merupakan petugas UKS masuk ruangan dan membuyarkan suasana canggung tersebut.


“Astagfirullah , ga ada tempat pacaran lainkah selain di UKS?”Kaget Wanita tersebut yang di panggil , Bu Leni.


Kata - kata itu memecahkan keheningan di antara kami , Anashira pun melepaskan tangan kanan Gema , dan menjelaskan keadaan Gema sekarang. Bu Leni pun paham , dan Bu Leni pun ikut mengecek luka memar yang di alami oleh Gema.


“Ana , kamu udah melakukan hal yang benar kok.”


“Syukurlah.”


“Malam ini suruh dia istirahat agar mempercepat kesembuhannya..”


“Ja..ja..di apa jawaban mu?”


“Eh?”gumam Gema.


“Mau kah kamu jadi pacar ku?!”Ucap Anashira yang nada sedikit lantang karena malu.


Gema lupa bahwa dia belum mengatakan apa-apa tentang itu . Wajah mereka hari ini banyak memerah karena tersipu malu .


Gema pun bangkit dari duduknya dan mendekatkan diri kepada Anashira , lalu menatap matanya dengan tulus. Pada saat yang sama Anashira memiliki ekspresi gelisah. Gema sedikit heran , mengapa Anashira menampilkan kencantikannya sedangkan dirinya takut terhadap laki - laki. Namun Gema tidak ingin terpengaruh terhadap bagian bawahnya , cukup menatap mata dan paras cantik wajahnya saja. Batinnya juga berkata ‘Harus kah gue menerima kesempatan ini?’. ‘Sial gue gak bisa berkata . Ayolah Gema , tunjukan keberanian mu.’. Setelah sekali lagi Gema memberanikan diri akhirnya dia pun memutuskan.


“Aku tidak tahu mengapa kamu suka kepadaku , tapi Aku mau jadi pacar mu.”


Perkataan Gema , membuat Anashira merubah raut wajahnya dari gelisah menjadi tersenyum lega. Gema tidak tahu apakah itu sebuah akting atau sandiwaranya , jadi Gema tetap berhati - hati.


“Mungkin aku tidak punya kelebihan apapun dari wajah maupun fisik , bahkan otak . Jadi tolong bimbing aku.”ucap Anashira yang merendahkan diri.


Gema merasa harusnya dia yang berbicara seperti itu . Gema pun memegang kedua tangan Anashira karena tidak mau kalah .


“Aku juga ... mohon bantuannya Anashira.”


Anashira pun tersipu malu.


“Astagfirullah.. Dasar anak muda gak tau tempat . Sana pulang udah sore!.”Ucap Bu Leni yang kembali keruang UKS yang ingin mengambil barang untuk perlatihan PMR.


Gema dan Anashira pun meminta maaf kepada Bu Leni , lalu meninggalkan  ruangan UKS.  Mereka pun berjalan bersama di koridor - koridor sekolah yang sepi karena sudah sore.


“Gema ... boleh pinjem hp mu?”


“Heh.. Untuk apa?”


“Aku ingin memasukan kontak ku kedalam wa mu.”


Gema hampir lupa menanyakan hal itu kepada Anashira . Sangat lucu ketika seseorang tidak mempunyai kontak pacar-nya. Awalnya Gema ragu , untungnya aplikasi bernama UC BROWSER itu telah dihapus tadi malam , karena si bego Rendi. Gema pun meminjamkan handphone nya kepada Anashira.


Namun saat Anashira membuka whatapps. Anashira sedikit terkejut , pasalnya Gema tidak pernah menyimpan nomor orang lain yang pernah mengirimkan pesan , bahkan sama Rendi pun.


“Kamu gak pernah nyimpen nomor orang ya.”


“Ah iya , karena aku juga jarang banget pakai wa . Paling aku pake wa untuk nelpon Rendi doang kalau engga Orang tua , itupun gak di save sama aku. Hehe.”


“Oh gitu ... kamu harusnya save nomor orang yang menurut mu penting.. sini tunjukin nomor orang tuamu sama teman mu , biar aku save in.”


Seraya berjalan keluar gedung sekolah , Gema pun menunjukan nomor - nomor yang menurutnya penting kepada Anashira.


“Dah sip , gapapa . biar aku jadi yang pertama di save in nomor kamu.”


Pasalnya Anashira menyimpan nomornya duluan baru nomor - nomor yang menurut Gema penting itu. Anashira pun mengembalikan handphone Gema. Gema pun terkejut dengan nama kontak yang di berikan , yaitu Anashira dengan emote hati.  Tak lupa juga Gema melihat foto profil Anashira yang sangat imut , membuatnya dia tidak percaya , bahwa dia sekarang adalah pacar Anashira . Mereka pun tiba didepan gedung sekolah . Tidak terasa mereka akan melakukan perpisahan sementara disana.


“Kamu pulang sama siapa?"tanya Gema.


“Aku bakal telpon ayahku untuk minta jemput.”


Jam dihanphone menunjukan pukul setengah lima , bahkan jika Anashira meminta Ayahnya menjemput , dia bakal menunggu lama lagi disekolah .


“Anashira , ini sudah sore . Aku antar aja.”ucap Gema yang sadar akan hal itu.


“Kamu juga nanti pulangnya kesorean .. gak di cariin ortumu apa?”


“Aku tinggal jauh dengan orang tuaku , jadi tak masalah jika aku pulang agak malam.”


“Kamu yakin?”


Gema pun memegang erat tangan Anashira dan membawanya keparkiran motor.


“Kita kan sudah pacaran , kurasa mengantarmu adalah kewajibanku sekarang.”


Gema berbicara tanpa memikirkan kata - katanya. Anashira pun juga hanya mengangguk dan tersipu malu.


Mereka pun tiba di parkiran motor yang sudah mulai sepi itu . Hanya ada beberapa siswa disana yang bersiap untuk pulang , mungkin karena mereka kekelahan dengan kegiatan sekolah , mereka tidak peduli bahwa ada seorang Anashira yang sedang menggandeng tangan Gema.


Gema pun menyalakan motor Vario merahnya , lalu mengeluarkan motornya dari baris parkiran . Setelah itu Gema memberikan helmnya kepada Anashira . Anashira yang sadar bahwa helmnya hanya satu , hanya menerimanya karena masih tersipu malu.


Anashira pun mulai menaiki motor Gema , lalu mereka pergi dengan hati - hati keluar sekolah. Gema sadar bahwa dia sedang membonceng Anashira , jadi dia membawanya dengan hati - hati dan memilih jalan tikus , karena dirinya tidak memakai helm.


Tidak lupa Anashira menunjukkan jalan arah pulangnya . Jalan arah pulang Gema dan Anashira berlawanan , Gema bertempat tinggal di Kenten City sedangkan Anashira di daerah Sekojo (Suatu daerah di palembang) .


Akhir mereka tiba di rumah Anashira . Rumah dua tingkat tapi agak minimalis yang berukuran sekitar 6x12 yang memiliki garasi mobil yang cukup untuk satu mobil.


Namun secara kebetulan ada sebuah mobil yang berhenti di depan Rumah Anashira .


“Ayah.”Gumam Anashira


Gema cukup terperanjat akan hal itu . Pria yang merupakan ayah dari Anashira itupun keluar dari mobil itu ,dengan kemeja batik yang sangat rapi . Dari perawakannya juga badannya lebih besar dari pada diriku dan memiliki tubuh yang tebal .


Pria itu membuka mulutnya.


“Shira , siapa dia?”dengan suara beratnya.