FINAL FANTASY

FINAL FANTASY
CHAPTER 7 - Membongkar Misteri



Helena menaikan dagu saat menatap jauh hamparan langit biru. Sementara cahaya mentari perlahan terselimuti oleh hamparan awan putih. Geram lirih menggema dalam batin gadis itu, tak kala dirinya yang menjadi saksi atas hancurnya suatu desa yang bernamakan Altaraz.


Berada jauh di bawah tebing tempat ia berpijak, Helena bergidik ngeri usai mendapati puluhan warga yang tergeletak tak bernyawa. Sementara sisa kobaran api masih terlihat menyala di antara puing-puing rumah warga.


Terdengarnya suara jeritan berpadu antara pria dan wanita, tangis dan marah, membentuk berbagai nada yang mampu memiluhkan jiwa yang terlunta.


Angin dingin berhembus kencang dari balik hamparan udara, menghempaskan di setiap helai rambut Helena, kala gadis itu menyaksikan puluhan korban jiwa dengan kedua matanya.


Sesuatu yang besar berwarnakan hitam menarik perhatiannya, hingga membuat gadis itu berpaling muka. Seekor naga tergeletak di tengah kerumunan warga desa dengan kapa yang sudah terpisah dengan tubuhnya.


"Ah?!" Helena tersentak, secara otomatis kedua matanya terbelalak. "Na-naga Aster ... ba-bagaimana bisa mahkluk itu dapat di tumbangkan?!"


"Itulah sebabnya kau harus percaya dengan ucapan mereka."


Terdengarnya suara asing yang mampu mengusik sepasang telinga, memaksa gadis itu untuk berpaling muka. Kini ia mendapati adanya seorang pemuda yang sedari tadi berdiri membelakanginya.


"William," ucap Helena, gadis itu nampak sedikit mengerutkan dahinya. Sementara pemuda di belakangnya memaksa senyum sembari mengangkat kedua pundaknya.


"Apakah aku telah mengejutkanmu?" senyum hangat meliputi gerak langkah seorang pemuda dengan balutan zirah besih yang melekat pada tubuhnya.


Helena menghela nafas. Alisnya pun sedikit terangkat. "Tentu."


"Helena, kau harus meyakini bahwa pemuda itu adalah pahlawan yang telah menyelamatkan puluhan warga desa."


"Apa maksudmu?" Kerutan pada dahi Helena menampilkan rasa penasaran yang sangat kuat.


"Nirwana, pemuda yang telah kau temui di dalam mansion tua, dia lah seseorang yang berhasil memenggal kepala naga menggunakan kapak besarnya."


"Jangan bercanda! Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan adalah, bagaimana cara ia untuk mengalahkan naga sebesar itu?!" Geram Helena, gadis itu sontak mengarahkan telunjuknya ke arah bangkai naga yang telah dikerumuni oleh sejumlah warga.


"Aku bicara menggunakan logika, Helena. Jika memang faktanya sudah berada di depan mata, lantas mengapa kau masih tidak mempercayainya?" William mendesak dengan nada tinggi.


Hawa dingin sempat melingkupi tubuh mereka hingga menciptakan nuansa hening di area sekitarnya. Hingga suatu ketika, gadis itu berbalik arah dalam rangka beranjak pergi meninggalkan rekannya.


"Helena, tunggu!" seru William dengan satu lengan menggapai udara. Sementara gadis itu sempat menghentikan langkah dan perlahan menoleh ke arahnya.


"Jangan halangi langkahku."


"Apa maksudmu?" Pertanyaan William seakan menampilkan rasa penasaran yang kuat.


Jemari lentik terbalut zirah baja kini menggepal dibagian sisi paha. Sementara gadis itu perlahan mengangkat dagu dan mendongak untuk menatap hamparan mega yang menyelimuti langit biru.


"Selayaknya diriku yang telah tercipta sebagai seorang kesatria yang mengabdi pada negara, pantang bagiku untuk percaya dengan kemustahilan mengenai adanya pahlawan baru mereka. Itulah sebabnya aku ingin melakukan pembuktian secara nyata dengan cara berduel dengan Nirwana."


"Berhentilah bersikap angkuh, Helena!" Pemuda itu berseru lantang dengan satu lengan membentang ke udara. "Jika sampai terjadi sesuatu pada Nirwana, hal ini tentu akan berdampak pada hubungan bangsa elf dan manusia."


"Meski kau adalah Ketua peleton pada pasukan kita, bukan berarti kau dapat bertindak seenaknya, Helena!" Geram lirih William terdengar jelas mengusik indra pendengaran Helena.


"Keputusanku sudah bulat, William."


Gadis cantik bersurai emas perlahan menjejakkan langkah dalam rangka beranjak pergi meninggalkan rekannya. Hembusan Angin dingin bertiup cukup kencang seakan mampu menghempaskan jubah kelabu miliknya. Sementara William hanya dapat berpasrah, dan mengamati gerak langkah yang semakin jauh dari pandangan mata.


Sementara itu, keheningan masih mengisi ruangan tengah pada mansion tua. Seorang pemuda terlihat merenung dalam kebisuan yang tercipta sebab adanya perasaan trauma. Ia tak menyangka bahwa mitos yang sebenarnya tidak ada dalam hukum logika, kini menjadi nyata dalam pandangan mata.


Pemuda dalam balutan jas hitam tersebut adalah Nirwana, seorang gamer Mobil Legend yang tak menyangka bahwa takdir harus membawanya pergi dari kehidupan nyata layaknya manusia pada umumnya. Kini ia telah terjebak dalam portal dimensi alam yang berbeda, yang membuatnya bertemu dengan mahkluk berjeniskan naga, serta bangsa elf yang nyaris menyerupai manusia.


Saat ia beranjak pergi meninggalkan sofa, pemuda itu berjalan mendekati tungku perapian yang masih mengeluarkan bara api membara. Sorot matanya menatap hampa kobaran api yang membakar kayu di dalamnya, menimbulkan perasaan trauma akan adanya insiden penyerangan naga yang telah terjadi di kawasan desa.


"Nirwana ..." Panggilan itu membuyarkan lamunannya, membuat sosok pemuda tersebut berpaling muka dan mendapati gadis elf di sampingnya.


"Tiara," sahutnya.


"Sepertinya kau nampak mencemaskan sesuatu," gadis itu berjalan mendekati Nirwana. "Bisakah kau menceritakannya padaku?"


Alih-alih menjawab, pemuda itu lebih memilih untuk menggeleng pelan di hadapan Tiara.


"Nirwana ... Ayo, katakan ...." ajak Tiara. Gadis itu menatap intens raut sedih wajah pemuda di depannya.


Tatapan sayu Nirwana menggambarkan kepedihan dalam palung hati. Pemuda itu perlahan menekuk satu lengan, hingga jemari tangannya bersentuhan dengan kulit pipi gadis di depannya.


"Jika suatu hari nanti aku pergi ... Maka bukan kematian yang membuatku pedih. Melainkan kesedihan karena tidak bisa melihatmu lagi."


Saat sepasang insan saling bertatap muka, keduanya terlihat intens untuk saling mengisi kepedihan yang sama. Hingga suatu ketika, jemari lentik Tiara berhasil menyentuh punggung tangan Nirwana.


"Nirwana, kau adalah pahlawan bagi bangsa kami. Kau adalah kesatria yang telah bertaruh nyawa demi kami ... Dan sejatinya kami akan senantiasa ada untuk selalu berjuang bersamamu hingga suatu hari nanti. Aku mohon agar kau tidak mengungkapkan kalimat itu lagi ...."


"Mengapa ..."


"Kau hanya akan membuat hatiku sakit."


Terdengarnya suara lirih yang mampu mengguncangkan palung hati, seakan mendominasi kepedihan yang sekian lamanya menjadi misteri. Sosok pemuda yang bernamakan Nirwana tersebut meraba pelan punggung gadis yang berada depannya sembari berkata.


"Aku hanya ingin pulang, Tiara. Aku rindu Ibu ..." Telapak tangan Nirwana meraba pelan pada punggung gadis di depannya, menciptakan nuansa melankolis yang mampu mendominasi kepedihannya. "Disaat seorang anak harus terpisah dengan orang tuanya, maka hanya airmata yang mampu melepaskan kerinduan dalam dada ...."


"Seperti burung elang yang terkurung dalam sangkar, yang tidak mampu terbang untuk melihat indahnya ombak yang menabrak karang," Tiara perlahan menyandarkan kepala pada dada Nirwana, hingga pelukan mesra menambah nuansa hening di sekitarnya. "Berdiam diri tak akan dapat merubah segalanya, tanpa adanya perjuangan yang terdapat dalam diri kita."


Nirwana sedikit mengangkat dagu disaat gadis itu tengah menyandarkan kepala pada dada pemuda tersebut. Setetes airmata berlinang membasahi pipi, menciptakan kesedihan yang menyayat hati.