FINAL FANTASY

FINAL FANTASY
CHAPTER 4 - Impian & Harapan



Cahaya terang sinar mentari menembus tirai merah yang mampu menutupi kamar bernuansa klasik di pagi hari. Di suatu ruangan bangunan tua, terlihatlah


seorang pemuda yang terbaring lemas di atas ranjangnya. Dengan selimut biru bercorak merah yang nyaris menutupi sebagian dari tubuhnya, pemuda itu perlahan membuka sepasang mata dan melihat langit-langit kamarnya.


"Naga! Naga itu—" Ia tersentak sembari bangkit dari ranjangnya dengan nafas terengah-engah. Pemuda yang bernamakan Nirwana itu mengedarkan pandangan mata, dan yang terlihat hanyalah ruangan tirai yang menutupi jendela berlapis kaca. "Di mana aku ... bagaimana dengan naga itu? Bagaimana nasib anak yang aku selamatkan itu?"


Terlihatnya daun pintu terdorong masuk ke dalam menimbulkan suara decitan. Seorang wanita muda dengan tunik biru nampak membawa sebuah nampan di depan dada, kala ia berjalan memasuki ruangan kamar tersebut.


Pemuda itu masih terbaring lemah di atas ranjangnya, melihat wanita tersebut yang tengah menyingkap tirai merah dengan sebelah tangannya, membiarkan kilau panas cahaya mentari memberikan kehangatan alami di pagi hari.


"Nyonya, apakah naga itu telah tiada? Lantas ... di manakah dengan keadaan Tiara? aku sangat khawatir dengannya."


Alih-alih menjawab, wanita itu hanya dapat menoleh guna menampilkan senyuman dan segera beranjak pergi meninggalkan ruangan. Sementara satu lengan terlihat bergerak di atas ranjang, dan semakin dekat hingga telapak itu saling bersentuhan dengan punggung tangan Nirwana yang masih terlipat di atas dada.


Nirwana tersentak kaget mendapati  sentuhan pada punggung tangannya. Hingga suatu ketika, pemuda itu menoleh ke samping dan mendapati adanya sesosok gadis elf yang duduk di kursi dekat ranjangnya.


"Aku di sini, Nirwana ..." Suara lirih Tiara mengawali adanya tekukan pada tubuh hingga pelipis kanannya tertopang oleh dada pemuda itu. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, sebab akulah yang seharusnya mencemaskanmu."


"Ti—Tiara, sejak kapan ada di sini?" ucap Nirwana tergagap kaku.


Tiara masih terlihat menopangkan pelipis kanannya pada dada Nirwana, sementara jemari lentiknya mengusap pelan pada punggung tangan pemuda itu dengan manja. Seraya ia berkata, senyum manis itu tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang berwarnakan merah.


"Ramalan kuno pernah berkata, bahwa sang Dewa akan mengutus seorang kesatria guna menyelamatkan warga desa dari angkara murka ..." Tiara sempat menghentikan kalimatnya, sebab adanya degupan kencang pada jantung Nirwana. "Tuan Nirwana, jasamu akan senantiasa kami ingat sepanjang masa."


Manik hanzel Nirwana kian terpaku menatap langit-langit pada ruangan kamarnya, sementara telapak tangannya  masih mengelus-elus kepala Tiara dengan mesra. "Aku melakukan semua itu bukan karena abdi negara, melainkan untuk melindungimu, Tiara."


"Jika hanya untuk melindungiku semata, lantas mengapa Tuan Nirwana rela bertaruh nyawa demi menyelamatkan gadis kecil itu dari kobaran api yang membara?" Pertanyaan Tiara seolah menimbulkan rasa penasaran yang sangat kuat.


"Tidak ada salahnya bagi kita untuk membantu sesama, selama kita ikhlas untuk melakukannya."


Pagi itu adalah hari pertama pada musim dingin—butiran salju kecil turun dari permukaan langit. Desa Altaras—desa pemukiman elf gunung di pegunungan Alpine semenanjung utara kawasan Amarta. Beberapa elf laki-laki berlalu lalang memikul beban kayu pada pundaknya, menyingkirkan puing-puing bekas reruntuhan rumah warga.


Cahaya mentari seakan tak menunjukan sinar terangnya di pagi hari, karena terselimuti oleh mega putih dan butiran salju yang mendominasi hawa dingin di semenanjung utara kawasan Amarta.


Seorang gadis berkulit pucat terlihat  mengenakan pakaian putih yang dibalut oleh zirah besi. Rambut kuning keemasannya terlihat panjang sepundak, dikepang setengah di bagian atas rambutnya. Ia bernamakan Helena Christopher, sesosok gadis berusia tujuh belas tahun keturunan bangsawan, yang mengabdi pada negara sebagai seorang kesatria.


Helena memperlambat laju kudanya, membiarkan William dan barisan prajuritnya menyusul dari belakang. Tubuh jangkung pemuda itu—William nampak sempurna dalam balutan zirah besi berlambangkan Phoenix yang membalut tubuhnya. Dengan rambut cokelat cepak dan pupil mata sebiru langit, seolah pemuda itu terlihat gagah dan memukau pandangan wanita manapun yang memandangnya. Namun tidak termasuk Helena, meski mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama.


Pikiran Helena yang suntuk mencoba untuk mencari inspirasi dari tempat yang ia datangi sekarang.


"Akhirnya kita hampir sampai," kata Helena usai menarik nafas lega. Gadis itu menoleh ke belakang, manik birunya memperhatikan seorang pemuda dan segelintir prajurit yang berbaris rapi membelakanginya. "William, kita harus bergegas untuk keberadaan mahkluk tersebut."


"Maksudmu naga?" tanya William, pemuda itu sontak menoleh ke kiri dan kanan. "Ayolah ... kenapa Kapten Steven harus menumbalkan nyawa kita hanya untuk seekor naga."


"Ehem!" Linda berdeham.


William sempat mendongak saat duduk di pelana, membiarkan pandangannya menatap jauh langit biru yang berselimut hamparan mega. "Pekerjaan sebagai seorang petani jauh lebih baik dan tidak beresiko, dari pada harus bergabung dengan akademi kemiliteran Amarta yang menghilangkan nyawa kapan saja."


Helena hanya dapat menghelakan nafas panjangnya. Namun tidak bagi Linda, gadis itu lebih terlihat malas menatap sosok pemuda di sebelahnya dengan hampa. "Mengeluh tidak akan dapat merubah nasibmu, Tuan."


William sontak menoleh ke arah sumber suara. "Oh, ya? Lalu bagaimana jika sampai aku di makan naga? Tentu saja diriku yang tampan ini tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Komandan Leona yang cantik jelita."


"Meski aku tidak mengenalnya, beliau bukanlah tipe wanita yang mudah untuk jatuh cinta. Jadi, lupakan saja mimpimu yang tidak sempurna." Celetuk Linda.


"Huh! Komandan Leona hanya sibuk dengan pekerjaannya. Lagi pula, orang sepertiku akan terlihat jauh lebih berjasa jika berhasil mengalahkan naga," pemuda itu menepuk pelan dada kirinya dengan bangga. "Aku sudah pernah menghabisi lima orc, tentu saja suatu hal  yang mudah bagiku untuk mengalahkan naga."


"Teruskan saja mimpi recehmu, Tuan."


"Huh! Kalimatmu tidak bermakna."


"Dan kau tidak berguna."


Wiliam masih bersungut-sungut, tetapi ia tetap menjawab. "Elf payah!"


"Kesatria receh!" Timpal Linda.


Helena tahu, jika bukan hanya dirinya yang geram mendengar perdebatan itu, tetapi juga barisan prajurit yang berjalan di belakangnya.


"Berhentilah untuk berdebat, tetaplah fokus pada tujuan utama kita," sahut Helena.


"Maafkan aku," ucap Willian seraya menundukkan kepala.


"Eh, maafkan saya juga, Nona Helena ..." sahut Linda.