FINAL FANTASY

FINAL FANTASY
CHAPTER 3 - Sang Naga & Kekacauan Desa



Puluhan lelaki berjajar rapi di atas tebing, dalam rangka membentuk formasi barisan altileri-pemanah. Sang naga perlahan membentangkan sayapnya sebelum terbang ke atas udara. Sesosok lelaki bertubuh kekar nampak menjunjung tinggi lengan kanannya.


"Jangan biarkan naga itu merusak desa kita! Siapkan busur panah kalian. Tembak!!!" Lelaki itu berseru lantang sembari mengacungkan jari telunjuknya.


Rentetan anak panah melesat kencang dari balik hamparan udara, menembus bagian kulit sayapnya hingga sang naga kehilangan keseimbangannya. Sementara sebagian dari warga desa tengah bersiap menanti jatuhnya makhluk tersebut dengan tombak dan pedangnya.


Sang naga yang tak kuasa menahan keseimbangan pada tubuhnya harus terjerembab jatuh ke permukaan tanah, bertepatan dengan sekumpulan warga desa yang berhamburan keluar dari dalam rumahnya.


Seekor naga hitam mengaung keras untuk menakuti para warga yang hendak menyerangnya. Sementara mulutnya kini terbuka guna mengeluarkan kobaran api yang membara.


Kobaran api seketika membakar rumah warga, menciptakan kepanikan yang tiada tara. Tiara dan Linda berupaya untuk membatu mengevakuasi warga yang terluka, sementara diantara salah satu di kediaman rumah warga terdengarlah suara jeritan yang mampu mengalihkan sudut pandang Nirwana.


"Ibu ...! Ibu ... tolong ....!"


Mendapati adanya teriakan histeris yang mampu mengusik sepasang telinga, membuat Nirwana segera bergegas untuk mencari tahu keberadaan sumber suara.


Seorang wanita muda berupaya untuk mendobrak pintu rumahnya secara paksa, berharap ia dapat menyelamatkan sang anak yang terjebak di dalam kobaran api yang membara.


Teriakan histeris bercampur isak tangis dan airmata, menjadi satu dalam alunan nada pada kengerian yang tercipta. Melihat datangnya sosok pemuda dalam balutan jas hitamnya, sang Ibu sontak memohon kepadanya.


"Tuan, tolong selamatkan anak saya."


Nirwana mengangguk pelan. "Baik."


Sang anak kembali menjerit sekuat tenaga dikala kobaran api kian melahap sebagian dari ruangan kamarnya. Kala itu, Nirwana segera berlari dan menerobos masuk melalui jendela berlapis kaca.


"Ibu ... di mana Ibuku ...." Suara kecil itu terdengar lirih menyayat hati. Meyakinkan Nirwana bahwa apa yang telah dialaminya kini bukanlah sebatas mimpi.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Ke marilah," ajak Nirwana sembari mengulurkan kedua tangannya.


"Aku tidak mau ikut denganmu ... aku butuh Ibu ...." Gadis kecil itu menggeleng pelan. Raut wajahnya terlihat kusam dengan sisa airmata yang membekas membasahi permukaan pipi.


Pemuda itu menghela nafas. "Kita tidak memiliki waktu, ayo keluar dari sini!"


Setelah sang anak berjalan mendekati Nirwana, pemuda itu segera melepas jas hitam yang masih dikenakannya, guna membalut tubuh gadis kecil itu dari panasnya lidah-lidah api yang nyaris membakar tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Nirwana yang nampak mencemaskannya.


Anak itu mengangguk. "Ehm. Aku baik-baik saja."


Nirwana mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Sekarang kita harus keluar dari sini dan segera temui Ibumu."


Setelah sang anak berhasil diselamatkan oleh Nirwana, gadis kecil itu segera berlari mendekati Ibunya. Pelukan hangat itu menyiratkan rasa hibah yang mampu membuat Nirwana terharu dibuatnya.


"Aku percaya bahwa apa yang kurasakan pada saat ini bukanlah mimpi. Melainkan kehidupan baru yang harus aku jalani," pandangan Nirwana sontak teralihkan pada sang naga yang berhasil melemparkan sejumlah warga dengan ekornya. "Apapun yang terjadi ... akan aku selamatkan desa ini sampai aku mati!"


Ketika warga desa tengah menyerangnya dengan sebilah pedang dan tombak pada tangannya, makhluk tersebut sontak mengayunkan ekornya yang mampu membuat sebagian dari warga desa terpental jauh ke permukaan tanah.


Tiara dan Linda berupaya untuk berlari sekuat tenaga usai melepas pedang dari sarungnya. Keduanya harus berjuang untuk melindungi warga desa.


"Linda, sebaiknya kau bergegas meninggalkan desa untuk melapor pada prajurit Amarta. Kita tidak mampu melawan naga tanpa adanya bala batuan dari mereka!" Seru Tiara.


"Tapi bagaimana denganmu?"


"Pergilah. Ada aku di sini," sahut Nirwana.


"Kau tidak akan mampu menahannya!" celetuk Linda.


"Selama jantung ini masih berdetak, pantang bagiku untuk menghentikan langkah meski bertaruh nyawa!" tegas Nirwana.


"Baiklah, aku mengerti." Gadis elf yang bernamakan Linda mengangguk pelan sebelum beranjak pergi meninggalkan Nirwana. Sementara pandangan Tiara kian terpaku menatap sang naga.


Setelah mengambil perisai baja yang telah di tinggalkan oleh pemiliknya, Nirwana bertekad untuk memacu sepasang langkah guna melindungi Tiara yang nyaris di terkam oleh sang naga.


Sang naga mengaung keras hingga suaranya menggema ke sepenjuru arah, memperlihatkan lidah-lidah api yang menyembur kuat dari dalam mulutnya.


Sementara Nirwana yang tak memiliki pilihan harus bertekad bertaruh nyawa demi melindungi gadis dicintainya.


Setelah semburan api yang dikeluarkan oleh mulut sang naga mulai mereda dari pandangan mata, manik hanzel Nirwana melirik adanya peluang untuk memberikan isyarat kepada sejumlah warga desa yang berdiri di atas menara.


Suatu rentetan anak panah melesat dari balik hamparan udara, hingga satu di antaranya menancap kuat ke bagian kiri mata sang naga. Sementara Tiara segera bergegas untuk menghunuskan ujung lancip pedang ke bagian paha.


Setelah makhluk tersebut terjerembab jatuh ke permukaan tanah, kini giliran Nirwana untuk mengambil kapak besar guna ia ayunkan tepat ke leher sang naga. Terlihatnya cairan kental berwarnakan merah, seakan menjadi akhir dari pertempuran yang tercipta. Sementara Nirwana yang tak kuasa menopang tubuhnya, kini terjerembab jatuh tak sadarkan diri di samping tubuh sang naga.


Wilayah Amarta bagian utara.


Hutan Altaraz-pegunungan Alpine.


Pagi itu semua prajurit tengah sibuk berjaga di tengah kawasan hutan, sisanya berpatroli di halaman pondok. Sementara satu diantaranya berdiri di atas menara kayu.


Di suatu pondok tua yang menjadi post penjagaan prajurit Amarta, sepasang penjaga terlihat berdiri di sisi pintu ruangan tengah. Terdengarnya derap suara langkah mengiringi datangnya sepasang remaja dengan balutan ornamen baja yang berlambangkan Phoenix di bagian sisi dada.


Sebilah pedang tersandang dibagian punggung lelaki yang bernamakan William, sementara pedang panjang menggantung di sisi pinggang Alisa. Keduanya adalah kesatria Amarta yang di tugaskan untuk berjaga di perbatasan wilayah sebelah utara.


Manik biru kedua penjaga mengamati disetiap pergerakan sepasang insan yang hendak memasuki ruangan tengah, membiarkan daun pintu terdorong masuk ke dalam. Sorot mata Alisa memaksa kedua penjaga menegapkan tubuh saat mereka hendak memasuki ruangan tersebut.


Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka. Lelaki itu bernamakan Steven, seorang pemimpin pasukan altileri yang menjaga perbatasan wilayah di sepenanjung utara kawasan Amarta.


Rambut pendek tercukur rapi dengan kumis tipis yang menawan, menambahkan ketampanan yang tak biasa bagi seorang pemimpin pasukan. Kapten Steven terlihat mengenakan kemeja sutra hijau dengan jaket doublet, serta celana cokelat ketat hose.


Lelaki tersebut duduk bersandar pada punggung kursi, berhadapan langsung dengan dua kesatria Amarta.


"Mengapa kalian kembali ke basecamp?" Manik hijau Steven melirik ke kiri dan kanan. Sorot matanya kini teralihkan pada sesosok gadis dari bangsa elf yang nampak memasuki ruangan tersebut. "Dan siapa gadis elf yang berdiri di belakang kalian?"


"Kami bertemu dengannya saat sedang berpatroli di semenanjung utara, Kapten. Dan kedatangan beliau adalah untuk melaporkan adanya penyerangan yang dilakukan oleh naga di desa Altaraz," ujar William.


Melihat Linda yang termenung di kursi serta berhadapan langsung dengan sang Kapten, membuat William mengambil inisiatif untuk membuka suara.


"Kapten Steven, beri kami perintah untuk menjalankan tugas."


Pandangan mata Steven teralihkan pada selembaran peta yang terpampang di atas meja. "Jika naga itu terbang ke desa pada tengah malam, maka ada kemungkinan bahwa mahkluk tersebut masih berada di kawasan desa."


"Itu benar. Dan sebelum naga itu datang, salah seorang dari gadis desa telah membawa warga asing ke sana." Gadis itu—Linda hanya dapat menundukkan kepala dan tak berani menatap wajah sang Kapten.


"Apakah orang asing itu dari bangsa elf?" tanya Steven.


Gadis itu menggelengkan kepala, lalu berkata. "Dia adalah bangsa manusia yang mengenakan busana layaknya seorang bangsawan, Tuan."


"Begitu, ya?" Kapten Steven menyipitkan mata, sudut pandangannya kini teralihkan pada sepasang kesatria yang berdiri membelakangi Linda. "William, kenapa kau tidak melaporkan adanya bangsa manusia semenanjung utara kawasan Amarta?"


"Kapten Steven, kami tidak pernah melihat adanya manusia di semenanjung utara pegunungan Alpine, kecuali bangsa elfen dan monster," tegas William.


"Itu benar, Kapten. Jika memang ada, kami pasti akan membujuknya untuk segera berpindah tempat ke Ignea, sebab di sanalah seharusnya bangsa manusia itu berada." Helena menengahi pembicaraan.


Dahi Steven mengkerut. Ia melirik William, Helena dan Linda. Tapi setelah tak ada tanggapan, lelaki itu menarik nafas. "Baiklah. William, siapkan prajurit  bersenjata untuk ikut bersamamu ke pemukiman desa, dan pastikan untuk mengevakuasi korban yang terluka."


Mendapati adanya perintah dari sang Kapten, menyentak kesigapan William guna berdiri tegap layaknya seorang tentara militer. "Siap laksanakan!"


"Sementara kau, Helena. Galih informasi mengenai kemunculan pemuda asing tersebut. Pastikan kau mengantar Nona Linda dengan selamat dari gangguan monster, dan pastikan kau kembali dengan membawa laporan yang tepat."


"Siap Kapten!" Helena memberi hormat dengan cara memukulkan tangan kiri yang terkepal ke bagian kanan dada.