
Lembayung senja menggambarkan warna jingga pada mega, melukis indahnya cakrawala saat sinar mentari hampir tenggelam dari singgasananya.
Terlihatnya kilauan cahaya dari balik hamparan udara, mengawali terjadinya sambaran petir yang menggema ke sepenjuruh arah, mendominasi derasnya air hujan di sekitar pemukiman warga.
Suasana di sekitar masih terganggu oleh derasnya air hujan yang turun secara tidak terduga. Dari luar pondok, beberapa orang nampak berlindung di bawah pohon yang tumbuh di pemukiman desa. Beberapa diantaranya berlarian memasuki rumah kayu mereka.
Dalam perjalanan menuju ke desa Altaraz, Nirwana mendapati derasnya air hujan yang mengguyur daratan hingga membasahi tubuhnya. Hal itu membuat Nirwana semakin yakin bahwa apa yang di rasakannya pada saat ini bukanlah sebuah mimpi.
Pemuda itu berupaya untuk berjalan lebih cepat dari biasa, disusul oleh Tiara yang membelakanginya. Gemercik air berbaur dengan hentakan alas sepatu seakan mampu menimbulkan percikan lumpur di permukaan tanah.
Saat keduanya tengah berlari menghindari derasnya air hujan yang mengguyur daratan, tanpa sengaja Tiara terpeleset jatuh ke permukaan tanah berlumpur.
"Aw! Sakit ...!" Gadis itu merintih kesakitan dibagian lutut sebelah kanan.
Nirwana sontak menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihatnya sosok gadis yang masih bersimpuh di hadapannya membuat Nirwana mengambil inisiatif untuk mengulurkan lengan kanannya.
"Tiara, kau tidak apa-apa?"
Gadis itu mendongak, menatap senyum indah yang terlukis pada paras tampan Nirwana. Setelah bangkit, pemuda itu segera melingkarkan lengan Tiara pada tengkuknya.
Tiara sedikit menundukkan kepala dan berkata. "Maafkan aku yang sudah merepotkanmu. Seharusnya kau tidak perlu menolongku, melainkan berlari untuk berteduh."
Pemuda itu menggeleng pelan. "Aku tidak mungkin melakukannya."
"Tapi Nirwana, air hujan akan membuatmu sakit," ucap Tiara yang mulai mencemaskan kesehatan pemuda tersebut.
Nirwana menoleh. "Aku akan lebih senang jika harus berbagi rasa sakit itu denganmu. Itulah sebabnya mengapa aku tidak ingin meninggalkanmu."
"Ah? Ehmm ..." Lagi-lagi Tiara tersipu malu dibuatnya. Entah mengapa-namun ia merasakan degupan kencang pada jantungnya.
Di suatu pondok tua, hamparan angin dingin bertiup melalui celah jendela yang masih terbuka. Sementara lantai kayu menimbulkan suara decitan kecil yang mampu mengusik sepasang telinga, kala sepasang insan berjalan mendekati meja.
Sosok gadis remaja tersebut berjalan mendekati kursi. Kini ia duduk sambil memangku pipi dengan punggung tangan bagian kiri. Sementara jemari tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja kayu dalam ritme pelan.
Mata birunya sama sekali tak melihat buket bunga yang terpampang di atas permukaan meja, melainkan pada sosok pemuda yang nampak mematung di sebelah jendela pondok tuanya.
"Apa yang sedang beliau lamunkan ..." Tiara bergumam lirih, angin dingin sesekali masuk dan meniup rambut emas gadis itu dengan lembut. "Sepertinya Tuan Nirwana tengah memikirkan sesuatu, tapi apa ...."
Nirwana bukanlah orang yang percaya takdir. Namun belakangan ini ia mulai ragu dengan kejanggalan dalam hidupnya. Mungkin takdir sedang tertawa, menikmati kebingungan manusia yang telah disiapkan olehnya. Atau mungkin, takdir lebih senang melihat orang-orang yang kecewa dengan hidupnya, dan mengatakan bahwa tidak ada jalan lain baginya.
Ada sesuatu yang ia ingat. Entah mengapa-beberapa hari ini.
Seorang wanita muda bersurai emas menatap pepohonan rindang di luar jendela. "Apa yang membuatmu berbeda dengan orang lain di luar sana, adalah suatu hal yang tidak pernah kau sadari sejak lama." Suara wanita itu terdengar lemah.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
Nirwana tak ingat, sudah berapa lama wanita itu terbaring. Jemari tangannya pun sudah kurus. Namun energi kehidupan tak pernah pudar dari bibirnya yang merah dan matanya yang cokelat penuh cahaya.
"Buku itu akan menuntunmu menuju kehidupan baru, agar kau dapat merubah takdir dalam hidupmu."
Nirwana terdiam, lalu menunduk. Namun sebuah tangan dingin segera menyentuh pundaknya. Mata hanzel Nirwana kembali bertemu dengan wanita itu.
Lagi-lagi Nirwana hanya membisu. Bahkan ia sampai melirik ke samping guna menghindari kontak mata yang terlalu lama dengan Misaki Rin.
"Tuan Nirwana."
Panggilan itu membuyarkan lamunan Nirwana seketika. Konsentrasinya kembali ke pondok tua. Sementara gadis bermata biru itu menatap cemas padanya.
"Kau tidak apa-apa?"
Dengan tangan masih terlipat di depan dada, Nirwana menggerakkan kepala hingga setidaknya pandangan mereka saling bertemu. "Aku baik-baik saja, Tiara. Kau tidak perlu mencemaskanku."
"Lantas apa yang kau lamunkan?"
"Takdir kehidupan adalah ramalan yang menjadi kenyataan. Itulah yang tengah aku pikirkan."
"Takdir kehidupan?"
"Seseorang pernah berkata bahwa buku yang kutulis adalah cermin kehidupan dari sisi kegelapan. Sementara sang pencipta adalah sutradara yang harus mempertanggung jawabkan alur cerita di dalamnya," ujar Nirwana, sementara langkahnya berjalan mendekati meja.
Malam dingin dan damai seperti biasa di desa Altaraz—desa pemukiman para elf di pegunungan Alpine, yang terletak di bagian utara negara Amarta. Beberapa elf laki-laki berlalu lalang di jalan—ada yang baru saja kembali dari dalam hutan, serta yang hanya berpatroli di pemukiman desa.
Seorang gadis elf yang berdiri di atas menara lonceng menatap jauh cahaya redup bulan purnama, senyum indah kian terlukis pada paras cantiknya kala ia melihat gemerlap cahaya bintang di angkasa. Namun, senyuman itu segera sirna setelah sesuatu berhasil menangkap perhatiannya. Sekelebat bayangan hitam melesat kencang dari balik keheningan sang malam.
Gadis elf yang bernamakan Linda itu memicingkan mata. Ia terperanjat setelah mendapati adanya seekor naga yang tengah terbang menuju ke pemukiman desa. Dengan cepat gadis itu segera membunyikan lonceng sebelum berlari menuruni menara.
"Naga! Aku melihat naga yang terbang menuju desa kita!" serunya sambil berlari di sepanjang jalan. Sebagian penduduk berhamburan keluar rumah.
Beberapa elf laki-laki segera mengambil busur dan anak panah. Sementara gadis itu memisahkan diri dari kelompoknya, dan menuju ke arah pondok kediaman Tiara guna memberitahukan adanya kemunculan sang naga di desanya.
Malam itu semua warga nampak sibuk mengungsikan diri keluar dari pemukiman desa, sisanya terlihat berjaga dengan membawa pedang dan busur yang dilengkapi oleh anak panah.
Kegaduhan di luar ruangan sontak didengar oleh Tiara yang tengah duduk di kursinya. Sementara Nirwana masih berdiri di dekat jendela dan seakan tak menghiraukan kegaduhan yang tercipta.
Suara gaduh menyentak kesigapan Tiara guna beranjak bangkit dari kursinya. Sementara daun pintu terbuka secara paksa, memperlihatkan kehadiran sosok remaja dengan penuh butiran keringat di bagian dahinya.
Sosok gadis remaja bersurai hitam yang di kuncir ekor kuda membelakangi kepala, baru saja mengacungkan jari telunjuknya keluar pondok kediaman Tiara. Gadis itu seakan memaksa suaranya agar keluar dari dalam mulut, dengan nafas terengah-engah.
"Naga! Aku melihat naga terbang yang mengarah ke desa kita!"
Tiara tersentak kaget. Sontak gadis itu beranjak bangkit dari kursinya. "Apa?!"
Dahi Nirwana mengerut sesaat. "Apa maksudmu?!"
Tiara menoleh hingga setidaknya keduanya saling bertatap mata. Namun gadis itu seketika mengerutkan dahinya. "Tuan Nirwana! Anda boleh tidak percaya, tapi inilah kenyataan pahit yang harus kami terima."
"Maafkan aku."
Tiara sontak bergegas keluar rumah, diikuti oleh pacuan langkah kaki seorang pemuda yang membelakanginya.