
Setelah selesai makan malam, aku pun merapal mantra kepada mereka bertiga dan sekali lagi mereka berterimaksih kepada ku.
" Tuan terimakasih atas makan malamnya " ujar wanita yang duduk di hadapan ku
" Nama ku Deva Von Astraea jadi panggil saja aku Deva jangan menggunakan tuan "
Kedua matanya pun melebar setelah aku mengucapkan nama ku
" Maksud anda pahlawan sihir !? "
" Orang orang memanggil ku seperti itu ya " Aku sambil menggaruk bagian belakang kepala ku sambil tersipu malu
" Di kalangan ras Beast anda sangat di puja "
" Ngomong ngomong siapa nama mu ? " tanya ku sambil tersenyum
" AH maafkan saya, nama saya Elia dari ras srigala perak, dan ini putra saya Rei dan putri saya Phina "
" Sepertinya mereka sudah mengantuk, setelah dari sini apa yang akan kamu lakukan ? "
" Kalo boleh saya bekerja di sini bersama kedua anak saya " ujar Elia
" Tapi aku tidak bisa membayar kalian "
" Jangan khawatir, menjadi pelayan anda dan mendapatkan tempat tinggal serta makanan itu sudah cukup "
" Pelayan ku ya, sayangnya aku tidak mencari seorang pelayan untuk melayani ku "
" Saya bisa menjadi pramusaji di tempat usaha anda begitu juga kedua anak saya "
Aku pun memikirkan sejenak
" Hmm... Jika bar ini sudah ada pengunjung aku akan membar kalian tapi untuk anak anak aku bisa mempekerjakan mereka, di usia mereka harusnya menikmati masa anak anaknya "
" Saya mengerti apa yang di maksud tuan ..."
" tuan... ? "
" Maksud saya Deva "
" Berhentilah berbicara formal dengan ku, anggap saja aku bagian dari keluarga mu, mungkin lebih baik seperti itu "
" Jadi mulai sekarang tolong kerjasamanya " Ujar ku
" Iya Deva " Elia tersenyum simpul
" Letakan aja disana, nanti aku yang mencucinya "
" Tapi .. "
" Lihat Rei dan Phina sudah mengantuk "
Elia pun tertawa kecil
" Kita bawa mereka ke kamar "
, Elia pun menggendong Phina dan aku menggendong Rei, Elia terkejut dengan perabotan ku yang rapi dan di kamar aku memiliki kasur yang sangat besar, Aku meletakan Rei dan Phina disana.
" Sebaiknya kalian istirahat saja " ujar ku
" Kamu mau mencuci dan membereskan bekas makan malam kan " tanya Elia
" Lagi pula barnya masih belum tutup " aku tersenyum
" Terimakasih Deva " Elia
Aku pun menutup pintu kamar dan kembali ke bar kecil yang ada di depan rumah ku, bangunan bar dan rumah ku terpisah tapi aku membuat jalan antara bar dan rumah ku dengan atap diatasnya agar tidak ke hujanan atau kepanasan. Bar ini masih belum ada yang mengunjunginya, hahaha wajar saja lokasi dari bar ini berada di tengah tengah hutan Kematian.
Sekarang aku sudah memiliki keluarga, kalo di pikir pikir Elia sangat cantik, bodohnya aku mulai menghayal yang tidak tidak, tapi kan aku ini seorang laki laki dewasa dan cukup umur untuk menikah. setelah selesai mencuci aku pun duduk di sebuah bangku, sambil memikirkan pakaian untuk Elia dan kedua anaknya. tiba tiba sebuah kereta berhenti di depan bar ku.
Aku segera bangkit dari tempat duduk ku, dan menuju bagian depan, ternyata ada beberapa dua kereta dan salah satunya orang menggunakan pakaian bagus, lainya menggunakan baju jirah, penampilan mereka seperti petualang yang di sewa untuk mengawal seorang pedagang.
" Selamat datang di bar hutan kematian " aku menyambut mereka
" tuan pahlawan ! " ujar seorang yang bertubuh gempal dengan pakaian yang bagus
" Sudahlah aku bukan seorang pahlawan "
" Untunglah anda di sini, tunggu dulu anda memiliki bar ini ? " tanya pedagang tersebut
" Begitulah, aku menerima hadiah wilayah hutan kematian sebagai milik pribadi ku "
" Aku bersyukur anda membuka bar di tengah tengah hutan kematian ini,"
" Silahkan masuk " ujar ku ramah
Pedagang tadi mengambil tempat duduk di meja panjang tempat aku berada,sedangkan petualang lain terus menatap ku dengan pandangan kagum.