
Scratch
Sudah lama ini badanku terasa perih sekali. Baik punggung maupun leherku terasa seperi ditusuk. Atau mungkin ini karena faktor kelelahan. Beberapa minggu ini aku disibukkan dengan pekerjaan kantorku. Pulang larut malam sekarang menjadi hal yang biasa.
Temanku Jery menyarankan diriku untuk pergi ke dokter spesialis badan. Aku menolaknya, bagiku ini bukan hal yang serius. Hanya terlalu lelah saja, mungkin minum ramuan racikan resep ibu bisa membuat rasa perih dan pegal di tubuhku hilang.
Tapi lama-kelamaan tubuhku terasa semakin perih. Pegal sudah hilang, tapi rasa perih kian menjadi. Terlebih malam hari saat aku terbangun dari tempat tidurku, aku mengusap leherku yang terasa perih. Sesuatu yang berwarna merah, ya itu darah menempel di leherku. Apa ini?tanyaku setengah tak percaya.
Dengan cepat kuraih telfon genggamku di kasur, segera aku hubungi Jery. Kantorku malam ini tak terlalu sibuk, jadi kupikir tak terlalu merepotkan untuk menggangu istirahat Jery. Beberapa detik kemudian Jery mengangkat telepon.
"Hai Jery, bisa kau antarkan aku ke klinik 24 jam. Tubuhku rasanya semakin perih. Dan apa yang aku temukan di leherku tadi, kau pasti tak akan mempercayainya. Darah!", begitu ucapku tergesa-gesa.
"Keadaanmu sudah sangat parah Bob, baiklah aku anatarkan kau ke klinik!", balas Jery dengan naada setengah santai.
Awalnya nada bicara Jery terdengar santai. Namun sebelum aku menutup telepon. Jery mencegahku.
"Tunggu dulu Bob jangan kau tutup teleponnya. Aku ingin tanya,kau yakin darah yang kau temukan bersumber dari sekadar rasa perih dan pegal di lehermu?"
Jery ragu-ragu namun, aku berhasil membuatnya percaya padaku.
Akhirnya Jery mau mengantarku ke rumah sakit. Dokter bilang di belakang leher dan punggungku ada barutan-barutan berbekas merah. Dokter sempat bertanya padaku"Tuan, apakah kau kemarin tidak sengaja terkena barutan suatu benda. Atau cakaran kucing?"Pertanyaan dokter membuat aku dan Jery bingung. Kami saling bertatapan penuh tanda tanya.
"Tak apa Tuan tak usah bingung, saya akan berikan resep obatnya. Seperti salep!" Kami menangguk, tapi di pikiran kami masih menuju ke pertanyaan dokter barusan.
Jery mengantarkanku pulang. Baik aku dan Jery sudah melupakan pertanyaan dokter tadi. Tapi tidak, kulihat wajah Jery seperti menyinpan rahasia.
Satu-satunya orang yang bisa kumintai bantuan adalah Jery.
"Jery, maaf aku menganggumu. Apa kau bisa antarkan aku ke rumah sakit?"
"Bob, sakitmu tambah parah?atau kau ingin kuantarkan kau ke temanku?
Awalnya aku meremhkan teman Jery. Dari tampangnya saja jelas-jelas dia bukan seorang dokter profesional. Malahan seperti seorang paranormal yang biasa aku liat di televisi, mungkin. Itu dugaanku.
Namanya adalah Yoana, dia memintaku untuk menceritakan semua kejadian dari awal dan akhir. Yoana melihat bagian luka sperti di cakar-cakar di punggung sampai leherku. "Maaf, berkali-kali ia katakan itu".
"Jery bilang kau menganggapnya luka biasa?"katanya dengan sudut bibir terangkat.
"Ehm iya."
"Jery bisakah kau tunjukkan vidio yang kau simpan itu?"
"Tentu" Balas Jery, sembari menyerahkan ponselnya.
Aku semakin tak mengerti"Apa-apaan ini"gumamku dalam hati.
Di vidio itu aku melihat sebuah tangan hitam dipenuhi bercak darah. Tangan itu memiliki kuku panjang tak seperti manusia pada umumnya. Tangan itu merayap di punggungku, menggores-goreskan kuku panjangnya. Hingga melingkari leher Bob. Jelas itu bukan tangan manusia.
By:author