
New Tape
Ayahku baru sama kembali dari kantor. Kemarin Ayah janji padaku untuk membelikan kaset film yang kemarin dibicarakan teman-temanku. Ya, butuh perjuangan untuk membujuk Ayah membelikam kaset yang harganya lumayan mahal.
Berbagai cara aku lakukan untuk mendapatkan kaset itu. Akhirnya perjuanganku tak sia-sia. Sudah 3 jam aku menunggu Ayah pulang. Bahkan ibu menyuruhku untuk segera tidur saja. Jika ayah sudah pulang, maka hadiahnya akan ibu taruh di meja belajarmu. Begitu nasihat ibuku.
Namun, aku menolaknya. Aku tahu itu bukan cara yang baik untuk menghargai perjuangan Ayahku membeli kaset itu. Ibu mengalah, membiarkanku menunghu Ayah sendiri di ruang tamu. Keadaan hening, tiada orang di sini selain aku. Bahkan anjingku yang setia menemaniku. Sudah bosan menunggu 3 jam lamanya. Dia sudah kembali ke kandangnya. Tetanggaku, rumah kami satu sama lain jaraknya cukup jauh.
Jadi bisa dibayangkan saja. Keadaan saat itu sunyi,sepi, dan aku merasakan suhu udara sedikir berbeda. Aku kembaki melirik jam dinding. 5 menit lagi pukil 12. Aku ingat hari ini adalah Jumat Kliwon, tak akan mungkin aku menunggu Ayah sampai tengah malam begini. Karena konon malam jumat Kliwin makhluk takkasat mata lebih menampakkan intensitasnya dibandingkan malam-malam biasa.
Mungkin benar nasehat ibuku tadi. Dengan mata yang terbuka beberapa senti saja. Langkahku sudah mulai terbatas untuk ke kamar. Rasanya aky mengantuk sekali.
Seketika kantukku mulai hilang. Aku dikejutkan dengan suara orang membanting pintu.
"Apa mungkin itu Ayah?", tanyaku dalam hati. Badanku berbalik ke belakang. Benar itu Ayah. Mataku yang tadinya mengantuk kembali segar setelah kedatangan Ayah. Seperti biasa aku menyambut Ayah. Tak henti-hentinya aku menodongi Ayah dengan berbagai pertanyaan.
Wajah Ayah tak secerah biasanya. Kantung matanya tampak mendominasi kulit Ayah yang terlihat sangat pucat. Begitupula dengan bibir Ayah yang terlihat pucat pasi seperti orang kedinginan. Aku berpikir mungkin saja Ayah terlalu lelah karena pulang tengah malam.
Ayah menyerahkan sebuah kotak gelap dengan pita berwarna blood. Ini pasti hadiah yang isinya kast film keinginanku itu. Ya begitulah asumsiku. Sedari tadi Ayau tak berucap kata apapun. Aku memeluk Ayah. Mengucapkan terimakasih. Tinggiku hampir sama dengan Ayah. Saat itu pula rambutku tak merasakan adanya embusan nafas. Ketakutanku mulai bertambah. Positif thinking, gumamku dalam hati.
"Tonton sekarang!", perintah Ayahku dengan nada mengitimidasi, tatapannya masih datar. Padangan Ayah ke satu arah.
Aku mengangguk. Sebenernya ini sudah terlaru larut malam. Tapi kenapa Ayah menyuruhku untuk tetap menonton. Mungkinnkah Ayah juga penasaran dengan isi film di kaset itu. Kubuka laptop yang sudah kusiapkan dejak tadi. Segera kumasukkan kaset di tempat penaruhan kaset.
•
•
•
•
•
Kuperhatikan dalam-dalam. Ternyata pria parubaya itu adalah Ayahku sendiri. Lalu.........orang tadi.
Di akhir vidio layar laptopku menampilkan angka 29, apa maksudnya.
Angin berhembus dengan sangat kencangnya membuat pintu terbuka sendiri. Di balik pintu, seorang pria memakai jubah hitam, bertopeng.......Aku sadar sosok tadi sama yang kulihat di vidio tadi. Apa yang harus kuperbuat.
Dia mengangkat senjatanya setinggi-tingginya. Mendekatiku yang meringkuk gemetar.
"Giliran kau, 29.... 29......29................29.........29.......29......"