
Gadis Bergaun Hitam
Tepat pada perayaan ulang tahun butik, Clary mengadakan cathwalk. Busana-busana yang ia pamerkan adalah rancangan dirinya sendiri. Kebanyakan, sisanya saudaranya Emily. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Tinggal menunggu hari saja.
Rooftof di lantai 2 disulap menjadi ruang cathwalk. Acara dimulai pukul 4 sore, menurut Clary waktu itu adalah yang paling tepat. Saat matahari hendak tenggelam, jadi pertunjukan bisa dilaksanakan sambil melihat pemandangan di rooftof.
Sebelum pertunjukan dimulai Clary, Emily, dan managernya mengecek semua model yang mengikuti cathwalk. Rata-rata mereka menggunakan gaun berwarna cerah. Dengan dominan warna tosca dan rambut yang dibuat bergelombang.
Jam menunjukkan tepat pukul 4 sore. Peragaan busana dimulai. Peragaan busana ini diperkirakan selesai pukul 6 setelah adzan maghrib. Clary dan Emily merasa puas melihat satu persatu peserta berjalan bak model memamerkan busana rancangan Clary dan Emily.
Namun ada satu hal yang membuat Clary bingung sekaligus heran. Saat matahari beranjak hilang di balik gedung. Seorang wanita dengan sangat anggunya berjalan melintas di atas panggung cathwalk. Berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Tatapannya tajam, wajahnya hampir tertutupi oleh topi hitam. Busana yang ia kenakan berwarna hitam berdesain busana khas kaum bangsawan. Tangan kananya memegang payung berenda. Ia tersenyum ke satu arah dan memandang Clary secara nyata.
Tiba-tiba saja Clary terasa merinding.
"Clary, kenapa kau melamun. Ayo ke belakang. Kita tadi belum sempat berfoto dengan model kita!"Emily menarik tangan Clary.
Clary mengabaikan gadis bergaun hitam tadi, mungkin saja ada tambahan model. Tapi, kenapa Emily tak memberitahku?gumam Clary dalam hati. Terlebih semua busana yang kami rancangkan warnanya dominan cerah.
"Cekrikkkkk"
Pemotretan selesai. Hasil fotomya segera Clary cetak. Clary belum melihat secara betul apa yang ada di fotonya. Saat menuju ruang percetakan, dan Clary meneliti kembali hasil pemotretan yang akan ia cetak. Jantungnya nyaris copot, tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Saat yang ia lihat di sudut kanan paling pojok hanya ada seorang gadis memakai gaun toska. Rupanya tak terlalu jelas tapi ia yakin tadi yang ada di situ adalah gadis bergaun hitam. Sedikit celah masih ada di dekat gadis bergaun toska. Tak mungkin jika gadis bergaun hitam tidak terkena jepretan kamera.
Kejadian tadi mengingatkannya dengan masa lalu butik ini. Ya, dulunya bangunan ini adalah sebuah butik busana Belanda. Pemiliknya bernama depan Isabella. Isabella menyukai pakain para bangsawan. Jadi ia mendesain busananya sama seperti busana kaum bangsawan Belanda. Busana yang ia rancang terjual laris. Banyak yang mengatakan jika modelnya berbeda dengan butik lain. Hal ini membuat ekonomi Isabella meningkat dratis. Dalam beberapa bulan ia mendadak kaya. Butiknya juga banyak dikunjungi oleh jurnalis untuk meliput dan menanyai dirinya seputar kesuksesannya.
Namun sayang, dibalik kesuksesan Isabella ada juga orang yang merasa iri. Teman terdekat Isabella, Serena tak bisa membiarkan sahabatnya hidup bahagia. Entah apa alasannya, berbagai cara Serena lakukan untuk membangkrutkan usaha Isabella. Tapi nihil hasilnya sia-sia.
Berbulan-bulan kian lama butik Isabella, kian ramai. Tentu saja Serena bertambah dendam. Emosi yang menguasai dirinya tak dapat ia kendalikan. Ide bodoh muncul begitu saja di benak Serena. Suatu malam, tepat saat Isabella dan karyawanya sudah menutup butiknya. Karyawannya sudah pulang, tinggal Isabella yang masih di butiknya untuk memastikan semua ruangan sudah terkunci.
Saat Isabella hendak berbalik melangkah ke luar. Tiba-tiba saja sebuah peluru meluncur begitu saja di hadapannya. Peluru itu tepat menembus jantung Isabella. Isabella terbaring tak bernyawa, darahnya mengalir di keramik, berubah menjadi merah darah. Konon terakhir kali busana yang Isabella kenakan sebelum ia meninggal adalah gaun berwarna hitam dan payung berenda yang selalu ia bawa.
By: author