Boboiboy X Readers

Boboiboy X Readers
STAGE 2 A."KENAPA?"



Sedikit info, jika hurufnya menjadi miring dan tebal itu artinya suara (y/n) yaa~


Dan yang mereka nyanyikan itu adalah lagu JKT48 yang berjudul 'Pesawat Kertas 365 Hari.'


Okay, selamat membaca♡


...----------------...


Kisah sebelumnya…


"Apakah kau mau jadi pacarku?"


(Y/N) sedikit terkejut atas pernyataan lelaki didepannya. "Kenapa? " tanya (y/n) tanpa suara. Hali hanya mendengus pelan sebenarnya ia tidak berharap banyak padanya, ia hanya ingin membalas apa yang sudah ia lakukan. "Tidak apa-apa kalau kau tidak menjawab," ucapnya pasrah.


Ketika Hali ingin bernjak dari posisinya, (y/n) mencegat dengan memegang tangan kanan Hali, "Bolehkah kau menemaniku? " tanyanya tanpa suara dan dijawab oleh anggukkan Halilintar.


...****************...


Sambil menunggu Halilintar mengambil sepedanya, (y/n) duduk dibangku taman sekolah sambil menikmati semilir angin sejuk. Tanpa sadar ia bersenandung,


"Kutatap langit dipagi hari,


Ku awali hari dengan doa


Semoga satu hari ini bisa,


Dipenuhi oleh senyum~ "


Halilintar yang mendengarnya sangat terkejut. Ia tidak pernah tau kalau tuna wicara seperti (y/n) bisa bernyanyi walau tak seindah penyanyi diluar sana. Sudah kuduga, dia yang dulu aku temui dirumah sakit.


Halilintar kemudian mendekati (y/n) menaruh sepedanya  setelah itu duduk disamping (y/n). Lalu ia melanjutkan nyanyiannya,


"Didalam mimpiku selalu,


Terlihat ada diriku sendiri


Yang dengan bebasnya,


Walau ku tak semua,"


Sejenak (y/n) menatap wajah Halilintar yang sedang bernyanyi, kemudian ia melanjutkan bersamaan dengan Halilintar.


"Hidup bagai-kan pesawat kertas ~


Terbang dan pergi, membawa impian.


Sekuat tenaga dengan hembusan angin ~


Terus melaju terbang ~


Jangan bandingkan, jarak terbangnya


Tapi bagaimana, dan apa yang dilalui.


Karena itulah satu hal yang penting


Selalu, sesuai kata hati ~


Sanbyoku roku jyu go nichi ~"


Setelah menyelesaikan reff pertama, mereka saling tatap satu sama lain kemudian tertawa senang.


Ah, senangnya bisa mendengar (y/n) bernyanyi lagi setelah sekian lama walaupun sepertinya dia lupa padaku.


...****************...


Mereka kemudian berjalan berdampingan, Halilintar yang menuntun sepedanya dan (y/n) yang menikmati pemandangan sore hari sambil memegang plastik belanjaannya.


Dari kejauhan (y/n) mencium bau aroma makanan yang sedap. Dan ya, ia baru sadar kalau (y/n) belum makan siang. Halilintar yang menatap wajah kelaparan sang gadis, ia pun mengajaknya untuk membeli street food ditaman. Halilintar baru ingat kalau nanti malam ada festival kembang api. Ia bingung ingin ikut atau tidak, "Apa aku ajak dia saja ya? " batinnya.


"(Y/N), kau mau apa?" tanya Halilintar pada (y/n). (Y/N) menunjukkan satu kios yang menjual corn dog. Mereka pun berjalan mendekati kios itu. "Mas, beli dua corn dog-nya." ucap Halilintar pada si pedagang.


(Y/N) menatap penuh binar melihat mas-mas nya sedang menggoreng corn dog-nya. "Kau menatap masnya atau makananmu?" tanya Halilintar cemburu. (Y/N) hanya nyengir kuda.


Setalah selesai dimasak dan Halilintar membayar bill nya, (y/n) gemas ingin sekali mengambil corn dog yang digenggam Halilintar. "Belanjaanmu taruh di keranjang sepeda ku saja," tanpa menunggu lama (y/n) menaruh belanjaannya kekeranjang sepeda Hali dengan kasar dan langsung merebut corn dog nya dari genggaman Halilintar. Hampir saja Hali ingin ambruk karena barang belanjaan (y/n) yang ditaruh sembarangan.


Akhirnya mereka pun makan corn dog masing-masing sambil berjalan pulang.


(Y/N) masih teringat atas pernyataan yang diberikan Hali padanya. Ia bingung apa yang harus ia jawab. Haruskah ia menolaknya? Tapi Hali orang yang lucu dan baik. Tetapi pula Hali yang orang asing baginya yang tiba-tiba saja mengatakan pernyataan tanpa mengetahui tentang dirinya.


Dengan keberaniannya ia harus menjawab pernyataan lelaki didepannya. Tapi, setiap (y/n) memandang wajahnya, dia malah tersipu dan jantungnya berdegup sangat kencang. Ada apa ini?


Dengan sekali hentakkan (y/n) memegang boncengan sepeda Hali. Dan Hali menoleh kebelakang.


"Su-ka! "


Dengan tiba-tiba (y/n) mengatakan padanya. Ia sangat sangat malu sekali ketika suara nya yang keluar sangat mirip sekali seperti anak ayam yang sedang terjepit. (Y/N) masih menundukkan kepalanya malu dan wajahnya merona merah. Lalu ia memberanikan diri untuk menatap wajah lawan bicaranya.


"Hn? Ah, nanti kapan-kapan aku belikan lagi ya,"


Bukan itu bodoh!


Hali tersenyum tipis ketika menatap wajah gadis didepannya yang sepertinya sangat menyukai makanan street food yang dia beli.


"Ayo pulang, sudah jam lima sore." Hali pun berjalan mendahuluinya sambil menahan malu. (Y/N) hanya pasrah karena yang ia katakan tadi bukan itu yang dia maksud.


...****************...


Ceklek!


"Selamat datang!"


Tiba-tiba dua gadis muncul didepan (y/n) sambil membawa kue red velvet. Ia hampir lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Matanya sangat perih ketika melihat senyum dikedua temannya itu mekar dengan Indah. "(Y/N)! Kenapa kau menangis?!" tanya temannya yang berkerudung pink sambil memegang bahu (y/n) yang sedikit bergetar.


Air mata nya meluncur dengan deras bagaikan air terjun. Mata (E/C) yang Indah tersiram rasa terharu didalam dada. "Terima-kasih," ucapnya kalang kabut.


Gadis berkacamata yang sedang memegang kue itu tak dapat menahan rasa perih sahabat nya itu.


"Sudah, kau bisa bercerita sambil makan kue buatanku dengan Ying!" ucap Yaya mencoba menengkan sahabatnya itu. Memang sahabatnya yang satu ini sering sekali menangis kita hari ulang tahunnya, entah kenapa dia pun tidak tau pasti.


"Red velvet tidak buruk kan?" tanya Ying sedikit khawatir takut jika (y/n) tidak menyukai rasa yang penuh dengan buah merah atau disebut juga strawberry.


"Hm! " (y/n) mengangguk mantap dengan senyum manis yang terpatri diwajah cantiknya.


...****************...


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kedua sahabatnya ini ingin menginap dirumahnya, bertepatan besok hari minggu. Dan kantuknya belum juga menjenguknya tidak seperti sahabatnya ini yang molor disofa besar yang berada di ruang keluarga.


Ting!


Notifikasi pesan dari handphone (y/n) berbunyi. Baru ia membuka aplikasi Line ia sudah dihujani banyak notifikasi.


Ting!


Ting!


Ting!


Irisnya menangkap satu pengirim yang entah darimana.


...Unknown...


Test!


Ini Halilintar, jangan


lupa disimpan ya ~


Oh iya, malam ini kau


ada waktu?


                09:01


^^^Okray!^^^


^^^09:01 √√^^^


^^^Ada kok >_<^^^


^^^09:02 √√^^^


Benarkah? Kalau begitu,


kau mau mengunjungi


festival kembang api


bersamaku?


                      09:02


Blush!


Seketika wajah (y/n) merah padam persis seperti gadis sedang kasmaran.


^^^Oky! >_<^^^


^^^09:04 Read√√^^^


Kalau begitu kita ketemuan


di jembatan merah, ya.


                          09:04


^^^Baiklah.^^^


^^^09:05 Read√√^^^


Tanpa menunggu lebih lama lagi (y/n) langsung menaiki satu persatu anak tangga dan memasuki kamarnya. Ia bingung ingin memakai baju apa, dia keluarkan semua baju yang menurutnya bagus dan menjejer bajunya kekasur.


Sedangkan sahabatnya yang berkacamata terbangun karena suara gaduh yang ditimbulkan si (y/n). Ia tak sengaja melihat chat yang bernama 'Hali>_<' dan membaca semua isi pesan tersebut. Ying sangat terkejut ketika tau siapa orang itu.


Ingin mengatakan pada (y/n) namun dia sudah merampas handphonenya kembali lalu pamit padanya. "Tunggu! (Y/N)! Jangan pergi!!" teriak Ying khawatir. (Y/N) menghiraukan teriakkan sahabatnya itu lalu pergi tergesa-gesa dengan wajah gembiranya.


"Gawat, Yaya!! Cepat bangun!! (Y/N) dalam bahaya!!!" teriak Ying sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yaya.


"Ada apa?" tanya Yaya lemah sambil mengusap-usap mata sayu nya.


"Halilintar menghubungi (y/n), katanya dia mengajak (y/n) ke festival kembang api bersama!" ucap Ying dengan skill rap nya. Yaya hanya ber-oh ria lalu-


"APA?!!! Cepat kita susul dia sebelum dia melancarkan aksinya!!"


Mereka berdua pun bergegas menyusul (y/n)-


"Kerudungku mana?!"


"Ya gatau lah, kan kamu yang naroh!"


"Cariin cepet!!"


"Ihh ribet amat sih lu!"


sambil bertengkar sebentar_-


...***...


(Y/N) terus mencari-cari keberadaan pemuda tinggi berambut hitam dengan iris ruby yang menyalang. Irisnya kemudian menangkap sesosok pemuda berhodie hitam lengkap dengan topi hitamnya, sungguh memanjakan mata. Senyum (y/n) merekah lalu ia berjalan mendekati pemuda tersebut.


Namun, belum ia raup lima meter mendekati pemuda tersebut, (y/n) mendengar percakapannya dengan seseorang. "Ternyata dia sedang bicara dengan orang lain, toh."


(Y/N) menajamkan pendengarannya. Menguping memanglah bukan hal baik, namun cara inilah adalah cara yang terbaik untuk membayar rasa penasarannya.


"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya pria yang lebih tinggi dengannya.


"Tidak ada," jawab Halilintar malas.


Tiba-tiba pria itu meraih kerah hoodie Halilintar. "Jangan bersikap bodoh! Kau tau kan ini demi orang tua baj*ngan itu!!"


"Kalau kau bilang dia orang tua baj*ngan! Kenapa kau masih bersikukuh?!!" jawab Halilintar nyalang.


"Kenapa?!! INI DEMI UANG!! KAU MAU TIDAK MAKAN SELAMANYA?!! Nasib baik kau masih punya kakak perhatian sepertiku!" pria yang mengaku kakaknya itu sudah kesal dengan sikap adiknya yang satu ini.


"Mau kok."


Kaget, kaget bukan main. Bukan hanya (y/n) yang sangat terkejut dengan jawaban pemuda yang tadi pagi meminta pacaran si kakak tiba-tiba menampilkan wajah kaget yang bukan main-main.


"Aku juga sudah membunuh kedua orang tuanya, rasanya seperti tersiksa dengan segala penyesalan." ucap Halilintar dengan wajah datarnya.


Si kakak mengusap kepalanya gusar, "Hah… mau sampai kapan kau akan sehat dengan penyakitmu itu kalau tidak ada uang, Hali."


"Aku tidak peduli-"


"KAU MEMANG SELALU SAJA TIDAK MEMPERDULIKAN DIRIMU!! TAPI BAGAIMANA DENGAN PERASAANKU, HAH?!! Aku sudah muak!! Cepat bunuh (y/n) dan bawa kepalanya pada pria tua baj*ngan itu!" setelah percakapan tadi selesai, si kakak pergi dengan mulut yang terus mengumpati si adiknya itu yang sering sekali tidak nurut dengannya.


Wajah Halilintar masam, sepertinya mood nya rusak perihal si kakak sialannya itu muncul diwaktu yang tidak tepat. Kakinya memutar ke arah pulang, namun tubuhnya tiba-tiba kaku seperti telah dikutuk menjadi batu. Wajahnya tegang ketika menatap sesosok gadis cantik dengan dress (F/C) serta hiasan rompi hitamnya sedang menatapnya dengan wajah yang basah penuh dengan bulir-bulir air bening yang jatuh dari iris cantik sang gadis.


"(Y/N)!" mencoba mendekat, (y/n) sudah lari dari hadapan pemuda tadi. Ia tak tau ingin berkata apa, ia sudah menduga kalau akan jadi seperti ini. Kalau saja ia bisa memutar waktu dan mendengarkan omongan Ying, mungkin ia tidak akan tau kebenaran yang sebenarnya. Kebenaran yang menyayat hatinya, perih bukan main. Orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan yang katanya menabrak truk besar. Ia benar-benar tidak ingat dengan semua itu, semua yang menjadikan dirinya yang terbully ini.


"(Y/N)!! Tolong dengarkan aku!!" Halilintar berhasil meraih tangan lemah sang gadis. Si gadis meronta-ronta tak ingin mendengarkan pemuda yang membohonginya. "Kumohon…" ucapnya sekali dengan suara yang hampir hilang karena napas yang tersenggal.


Jalanan mulai ramai, ia melihat sekeliling pinggir jalanan yang sedang menonton aksinya. Ada apa ini? Kenapa ini seperti pertunjukkan sirkus ber-genre romance?  Tak tau dengan segalanya yang membuatnya pusing, (y/n) dengan paksa menarik tangannya yang digenggam erat. Ia lupa kalau yang ia lawan adalah laki-laki. Laki-laki pasti mempunyai kekuatan sekuat genggaman harimau, sakit dan juga perih. "Per-gi! " ucapnya dengan suara mencekiknya.


"Dengarkan aku dulu baru aku akan pergi!" sergah Halilintar tak mau kalah.


"Tidak mau! " (y/n) tetap bersikukuh. Terlihat cahay flash yang membuatnya pusing. Ia sudah tak kuat lagi dengan cobaan ini. Karena ingin sekali pergi dari suasana menyeramkan ini, ia dengan sekuat tenaga mendorong dada bidang Halilintar. Halilintar terlihat kesakitan ketika dada bidangnya didorong, rasanya nyeri bukan main. Dan Halilintar dibutakan dengan nyerinya luka yang ditekan (y/n) kemudian tubuhnya ambruk ke tengah jalan. Yang ia lihat terakhir hanyalah wajah ketakutan (y/n) sebelum pandangannya menggelap.


Memang inilah yang sangat pantas didapatkan manusia pembunuh sepertiku.


...****************...


(Y/N) benar-benar hancur. Ia lari dari kenyataan bahwa ia telah mendorong seseorang kepada kematian. Yang ia tunggu hanyalah bagaimana keadaan pemuda tersebut baik atau buruk. Kakinya lunglai tak ingin bekerja. Ia kemudian mendekatkan diri kepagar merah jembatan yang menjadi tempat janjian tadi malam. Sudah jam dua belas malam. Kembang api pun diluncurkan lengkap dengan air mata sialan yang jatuh dari iris pucatnya.


Rasanya ingin sekali mengeluarkan suaranya sekuat mungkin. Tapi ia takut dengan orang yang tinggal disini. Sejak kapan aku peduli dengan itu? Ah, benar juga. Tidak seharusnya ia memperdulikan semuanya. Semuanya yang  telah mengkhianatinya. Sesungguk mulai keluar dari bibir sialannya. Ya. Keluarkan saja.


Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkan suara mencekiknya sekuat tenaga.


"A-Aaaaaaa! "


Ia berteriak demi memenuhi kepuasan batinnya. Ia teriak lagi, lagi dan lagi kemudian diakhiri dengan tangisan pilunya. Dan sialnya lagi, langit ikut merasakan perih hatinya. Dasar langit sialan. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Air hujan mulai membasahi seluruh tubuhnya dan membersihkan air matanya dan menyatu dengan derasnya hujan.


"Jika kau ingin menangis jangan disini, kau tidak kasian dengan langit yang menyaksikan kisah kita berdua yang gila ini sampai menjatuhkan air matanya kebumi?" ucap seseorang panjang lebar.


(Y/N) sontak menoleh ke sumber suara, tampak sesosok pemuda gila dengan wajah yang yang penuh luka serta kedua tangannya yang penuh dengan cairan kental berwarna merah pekat sambil memegang payung hitam yang dimiringkan kebadannya. "Dasar bodoh! " ucap (y/n) sambil terisak.


"Memang, aku tau kau suka dengan orang bodoh sepertiku." Halilintar tersenyum miris kemudian memeluk tubuh ramping si gadis yang bergetar dengan tangisan yang semakin keras dan semakin pilu.


"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu sebelum kau membunuh orang tua baj*ngan itu." Halilintar berbisik tepat disamping telinga (y/n).


...***...


...SELAMAT ANDA TELAH MENYELESAIKAN STAGE KEDUA!!!...


Woo!! Gimana rasanya?? Kurang greget? Aku emang sengaja digantungin kayak gitu soalnya aku berencana untuk melanjutkan kisahnya di stage selanjutnya.


Jadi, untuk stage selanjutnya kalian mau kisahnya siapa nih? >_<


1. Blaze?


Atau


2. Ais?


Jawab dikolom komentar ya!


Oh iya, mungkin di stage selanjutnya akan aku kasih judul biar sreg.


Kalau **kalian suka jangan lupa like dan dukung terus author ya! Agar semakin hidup cerita ini!


💜**