
Dian dan 'pacarnya' membelah jalan yang begitu sepi. 'pacarnya' melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Hingga sampai di bawah sebuah pohon, tiba-tiba saja motornya berhenti.
"Loh, kok berhenti Han?" Dian mengerutkan dahinya. "Bensin lo habis?"
Nuhan membuka helmnya. "Gue geli Dian."
"Geli?"
Nuhan menunduk menatap tangan Dian yang masih melingkar di perutnya. "Lo ngapain peluk gue?" Tatapan sinis diberikan pada sahabatnya.
Gadis itu menyengir lalu melepaskan pelukannya. "Sorry."
"Trus, lo ngapain manggil gue sayang? Tuh cowok yang tadi juga siapa? Lo ngapain tengah malam bareng tuh cowok?" tiga pertanyaan dilontarkan oleh Dian secara bersamaan.
Dian memutar bola matanya malas. Dia begitu lelah sekarang, malas menjawab pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya. "Gue capek. Besok aja jawabnya, kalau gue belum mati sih."
"Ya karna itu, lo harus jawab sekarang. Takutnya, besok lo udah mati."
"Lo doain gue?!"
"Enggak sih, tapi hampir aja."
"Jahanam!" umpat Dian kesal.
"Nama gue Nuhan, bukan jahanam."
"Terserah lo." Dian sekarang pasrah. "Buruan jalan, gue kedinginan nih."
"Jawab dulu pertanyaan gue." Nuhan tetap ngotot ingin mendengar jawaban Dian. Gadis itu tidak akan diam sebelum pertanyaannya di jawab.
"Gue panggil lo sayang karna tuh cowok. Tuh cowok anak rekan kerja Papa. Gue bareng tuh cowok karena dia mau ngantar gue pulang, tapi gue nolak."
"Kenapa?"
"Banyak nanya lo! Sekarang gue tanya, kenapa lo lama jemput gue tadi?"
"Itu karna gue lagi ikutan balapan tadi."
"What? Balapan? Nuhan lo-"
"Gue menang kok."
"Tapi lo bisa ce-"
"Tenang, besok gue traktir kalian."
"Serius?" Mata Dian berbinar-binar. Nuhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu memakai helmnya kembali.
"Oke, antar gue pulang sekarang. Gue kedinginan bangat, nih."
Nuhan kembali melajukan kendaraan beroda dua itu, kali ini dia membawanya dengan kecepatan sedang.
***
"Loh, jalan ke rumah gue kan udah lewat Han. Lo mau bawa gue kemana?" tanya Dian sedikit berteriak.
"Ke rumah Grana. Rumah lo jauh, takutnya pas sampai disana ko udah jadi mayat hidup karena kedinginan."
"Jahanam!" Sepertinya kata 'Jahanam' sudah melekat dibibir Dian. Entah dari mana, gadis itu mendapatkan kata itu. Awalnya Nuhan yang mendengarnya merasa sedikit tersinggung, namun entah kenapa sekarang dia malah tertawa mendengarnya.
5 menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah yang begitu megah berwarna putih. Seorang gadis dengan pakaian piyama menatap Nuhan dan Dian yang menuruni motor.
"Nuhan, lo bikin gue khawatir tau." Grana menatap Nuhan tajam, tatapannya beralih pada Dian yang terlihat kedinginan. "Han, lo bawa Dian ikut balapan? Lo jadiin dia taruhan?" Grana menatap Nuhan tidak percaya.
"Gila lo! Otak lo dipinjam Cia? Ya kali gue jadiiin sahabat gue taruhan. Enggak lah, mau hadiahnya triliun juga gue nggak mungkin jadiin sahabat gue taruhannya." Nuhan menatap Grana kesal. Bisa-bisanya gadis itu berpikir seperti itu.
"Trus?"
"Minta penjelasan sama dia." Nuhan menunjuk Dian. "Gue mau tidur dulu, capek." Gadis itu melenggang pergi masuk ke dalam rumah Grana.
Grana menatap lekat Dian. "Jelasin!" Sementara Dian menatap punggung belakang Nuhan. Dia juga ingin beristirahat.
***
"Pagi guys!!!" suara cempreng yang bisa membuat pecah gendang telinga pendengarnya, sudah biasa terdengar di kelas 12 IPA 4. Cia masuk dengan wajah berseri-seri.
"Kok nggak ada yang jawab, sih?"
"Pagi ..." jawab ketiga sahabatnya dengan lemas.
"Kok kalian kelihatan nggak semangat gitu? Semangat dong, pagi-pagi itu harus semangat! Kayak gue!"
"Dian bacain dongeng sampai pagi." Nuhan menelungkupkan wajahnya diatas tasnya. Gadis itu sangat mengantuk, setelah semalam tidak bisa tidur karena suara Grana yang terus bertanya pada Dian.
Cia menatap Grana seolah meminta jawaban. "Jangan sekarang, gue ngantuk." Grana meletakkan tasnya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya. Gadis itu mulai terlarut dalam mimpi.
"WOI! KOK KALIAN PADA TIDUR!?" Cia berteriak sambil memukul meja dengan keras. Ketiga sahabatnya kaget, sontak saja mereka langsung berdiri.
"CIA!!!"
Cia hanya menyengir sebagai tanda maaf. Gadis itu kemudian tersadar akan sesuatu. Seperti ada yang kurang. "Eh, Lulu mana?"
Pertanyaan Cia membuat ketiga sahabatnya ikut tersadar. Nuhan melirik arloji di tangan kirinya, pukul 6.10 sebentar lagi bel pagi akan dimulai. Tapi, kemana sahabatnya yang selalu tersenyum manis itu?
Dian menekan beberapa nomor di keyboard ponselnya, kemudian menelpon seseorang. Ketiga sahabatnya menunggu jawaban darinya. "Nggak diangkat." Teman-temannya mulai memeriksa ponsel mereka, mungkin saja Lulu mengirimkan pesan kepada mereka. Namun nihil, pesannya tidak ada.
"Lulu kemana, ya?" Cia bertanya sembari menunjuk dagunya.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu kelas, membuat keempat gadis itu menoleh.
"Apa diantara kalian teman kelasnya Fika Annelis Hendra?" Pertanyaan gadis itu membuat Cia dan ketiga sahabatnya menggeleng.
"Emangnya kenapa?" tanya Dian.
"Dia sakit. Kalau begitu saya permisi dulu." Saat gadis itu hendak melangkah pergi, namun Nuhan menghentikannya.
"Apa, keluarga Lulu Puan Rezila nggak kasih tau soal dia nggak masuk sekolah?" Gadis itu hanya menggeleng, lalu melangkah pergi.
Iris mata coklat dan biru itu saling bertemu. Raut wajah kedua gadis itu sangat khawatir tentang sahabatnya.
"Han, Gran, kok muka kalian khawatir gitu?" tanya Cia, yang dari tadi memperhatikan wajah kedua gadis itu. Nuhan dan Grana hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa kok."
***
"Aduh." Buku yang dibawa Grana terjatuh. Mau tidak mau gadis itu harus membungkuk untuk mengambil buku itu. Tapi, bagaimana? Sedangkan buku yang dia bawa saja hampir menutupi wajahnya.
Setelah pelajaran Sejarah selesai Pak Budi menyuruhnya untuk membawa buku paket Sejarah kembali ke perpustakaan. Grana tentu saja tidak bisa membawanya sendiri, dia meminta bantuan Nuhan. Sayang sekali, saat mendengar bel istirahat berbunyi gadis berambut pendek itu dengan kecepatan kilat keluar kelas menuju kantin. Grana memakluminya, dia tau betul sahabatnya itu tidak akan membiarkan cacing-cacing di perutnya kelaparan.
Grana membuang napas kasar, gadis itu mencoba untuk membungkuk. Tiba-tiba saja seseorang mengambilkan buku itu, dan memberikannya pada Grana.
"Kevin?" gumamnya sambil tak menghilangkan pandangannya pada Ketos tampan itu.
"Biar gue bantu." Kevin mengambil sebagian tumbukan buku yang berada di tangan Grana, lalu berjalan lebih dulu menuju perpustakaan. Gadis bermata biru itu mengikutinya dari belakang sambil terus mengukir senyum.
Setelah selesai dari perpustakaan, Grana mengejar Kevin. Gadis itu belum mengucapkan terima kasih pada cowok itu.
"Kevin!" panggilnya dengan napas sedikit hos-hosan, bagaimana tidak langkah Kevin dua kali langkah Grana. Tentu saja dia kesusahan mengejar cowok itu.
"Kenapa?" Kevin menatap Grana dengan tatapan khasnya, dingin dan datar.
"Terima kasih."
"Hm. Sama-sama." Kevin kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Grana yang terus tersenyum bahagia.
"OMG! Mimpi apa gue sampai ngomong sama Kevin!" Grana memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang. Dia terus tersenyum bahagia. Saat membalikkan badannya, gadis itu langsung kaget bahkan sedikit berteriak.
Bagaimana tidak, Nuhan tiba-tiba saja menatapnya dengan mata yang sengaja dijulingkan. Juling benaran baru tau rasa!
"Nuhan!" pekik Grana.
Nuhan hanya cekikikan, sementara Cia dan Dian tertawa terbahak-bahak.
"Ciieeee ... yang dibantu Kevin." Goda Dian. Sementara Cia dan Nuhan mendorong-dorong tubuh Grana pelan.
"Apaan, sih." Wajah Grana seketika merah. Terlihat sekali, gadis itu sangat malu digoda oleh ketiga sahabatnya.
"Ciieee ...!!!"
Keempat gadis itu tidak menyadari, bahwa dari kejauhan seorang cowok memperhatikan mereka.
"Senyumnya manis."
***
Jangan lupa vote and coment guys😊
Follow IG Author : @ainunazizah03
Jangan lupa krisannya ya😉