
Nuhan mengepel lantai toilet sambil bersenandung. Tak lama kemudian, terdengar ketokan pintu. Gadis itu mendesis.
"Gue kan udah bilang Lu. Lo nggak-"
Ternyata bukan Lulu yang mengetok pintu toilet, melainkan seorang cowok. Nuhan menatap sekilas cowok itu, kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa lo nggak ikut olahraga?"
Nuhan tidak menjawab. Dia terus mengepel lantai toilet, seakan tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan cowok itu padanya.
"Nuhan, gue tanya sama lo ke-"
"Bukan urusan lo." Potongnya dengan ketus.
Cowok itu mengambil alat pel dari tangan Nuhan. "Apaan, sih?" Dia memberikan sesuatu ke tangan Nuhan.
Nuhan menatap pakaian olahraga di tangannya, lalu menatap cowok di depannya.
"Ambil trus gantian."
Nuhan tersenyum miring. Dia membuang pakaian olahraga itu ke ember perasan pelnya tadi. Lalu menatap cowok di depannya.
Revan menatap pakaian olahraga yang dia berikan kepada Nuhan. Basah. Cowok itu beralih menatap gadis di depannya sambil tersenyum. "Jadi, lo masih benci sama gue?"
"Emang lo siapa?"
Pertanyaan Nuhan barusan membuat Revan bungkam. Cowok itu menunduk. "Gue minta maaf Han."
Nuhan tidak berbicara lagi. Cewek itu diam, lalu mengambil alat pel dan mulai mengepel lagi.
Revan memegang tangan Nuhan. "Han, gue mohon sama lo. Please, maafin gue." ucap Revan memohon.
Gadis itu melepaskan tangan Revan dengan kasar. "Lo cowok! Tapi kek banci!" Sorot matanya tajam menatap kelereng biru Revan. "Mohon kok ke cewek! Banci lo!"
"Nuhan. Ini aku bawain pakaian olahraga buat kamu." Lulu terdiam, menatap Nuhan dan Revan bergantian.
"Astaga ... Lulu, lo baik bangat." Nuhan meletakkan alat pelnya, berjalan menuju kearah Lulu. "Makasih." Dipeluknya sahabatnya itu.
"Sama-sama Han."
"Yaudah, gue gantian dulu. Bye." Nuhan berjalan meninggalkan Lulu dengan wajah bingung. Gadis itu menatap Revan yang menunduk.
"Rev, kamu nggak apa-apa?"
***
Bel istirahat berbunyi. Grana bersama dengan Nuhan berjalan menuju kantin. Saat sampai di kantin, mereka berjalan menuju meja yang diisi oleh Cia dan Dian.
"Lulu mana?" tanya Grana sambil duduk.
"Tuh." Dian menunjuk Lulu yang sedang melayani para siswa yang memesan makanan.
"Lulu giat bangat cari uang." Cia tak menghilangkan pandangannya pada Lulu.
Setelah melayani para siswa yang memesan makanan. Lulu berjalan menghampiri meja sahabat-sahabatnya. "Kalian mau pesan apa?" tanyanya dengan lembut.
"Mie ayam." jawab Cia.
"Oke." Lulu berjalan menuju Bu Tutik, namun Nuhan menghentikan langkahnya.
"Biar gue bantu lo."
"Eh, nggak usah Han. Ini kan tugas aku."
"Sekali aja Lu. Bisa nggak, lo nggak nolak ucapan gue. Emang lo bisa bawa lima mangkuk mie ayam?"
"Bukannya empat?"
"Lima. Sama lo." Nuhan menunjuk dahi Lulu.
"Tapi aku-"
"Gue yang bayarin. Udah, buruan gue lapar." Nuhan berjalan melewati Lulu, menuju Bu Tutik.
"Guys," bisik Cia. Grana yang sedang memakan cemilan dan Dian yang sedang memainkan ponselnya menatap Cia.
"Kenapa?" tanya keduanya.
"Tuh." Cia menunjuk seseorang yang duduk tidak jauh dari meja mereka. Dian dan Grana mengikuti arah telunjuk Cia.
"Revan?" tanya Dian. Cia mengangguk semangat.
"Kenapa? Lo suka sama Revan?" tanya Grana.
"Enak aja. Ya, enggak lah."
"Trus?"
Cia memutar bola matanya malas. "Pasang baik-baik mata kalian. Nggak lihat apa, kalau Revan merhatiin Nuhan trus?"
Dian dan Grana manggut-manggut.
"Emang sih, akhir-akhir ini gue rasa kalau sepupu gue itu merhatiin Nuhan mulu." Dian berkomentar, sambil memakan cemilan Grana. Gadis itu tentu tidak tau, kalau Dian diam-diam mengambil cemilannya.
"Tapi, bukannya Revan udah punya pacar?" tanya Grana. "Masa sih, dia suka sama Nuhan?"
"Kayaknya Nuhan nggak suka sama Revan." Grana dan Cia menatap cewek yang duduk diantara mereka.
"Kenapa?"
Dian menatap Grana dan Cia bergantian. "Kalian nggak ingat, pas gue kenalin dia sama Revan. Mukanya tuh kayak benci gitu sama Revan."
"Apa mereka saling kenal?" tanya Grana.
"Masa, sih? Nuhan itu kan pindahan dari Jakarta. Kayaknya nggak mungkin deh." jawab Cia.
"Bisa jadi. Revan sama keluarganya dulu tinggal di Jakarta." Dian melihat Nuhan dan Lulu yang berjalan menuju ke arah mereka sambil membawa nampan. "Woi, jangan gosipin Nuhan lagi, orangnya datang." Dian sedikit panik, begitu juga dengan Grana dan Cia.
Nuhan membanting nampan diatas meja dengan sedikit keras. Keempat sahabatnya menatapnya.
"Kamu kenapa Nuhan?"
"Kalian gosipin gue, 'kan?" Nuhan memicingkan matanya, menatap Cia, Dian dan Grana.
"Kok lo bisa tau?" tanya Cia.
Nuhan duduk lalu mengambil semangkuk mie ayam. "Telinga gue merah." Gadis itu mulai melahap mie ayamnya. Lapar, dari tadi dia menahan air liurnya agar tidak jatuh saat Bu Tutik menyajikan mie ayam diatas nampan.
"Masa, sih?" Dian terlihat tidak percaya.
Grana mengangkat rambut Nuhan yang menghalangi telinganya. Matanya setengah membulat. "Wih, benaran merah."
Cia dan Dian yang tidak percaya ikut melihat telinga Nuhan. Mereka begitu terkejut melihat telinga gadis itu merah.
"Bisa gitu, ya?"
"Makanya, jangan gosipin gue. Sakit tau telinga gue." Nuhan berkata sambil terus memakan mie ayamnya.
"Kamu kelaparan?" tanya Lulu. Nuhan mengangguk. "Gue nggak sempat sarapan di rumah Grana."
"Lo nginap di rumah Grana?" tanya Cia.
Nuhan mengangguk. "Udah 5 hari."
"Emang lo nggak takut dicariin bokap lo?" sekarang Dian yang bertanya.
Nuhan tersenyum miris. "Dia lebih takut nggak dapat perempuan buat nemanin dia tidur." Jawaban Nuhan sontak membuat semua sahabatnya diam, terutama Dian. Gadis itu langsung bungkam dan merasa bersalah atas pertanyaannya.
"Nggak usah merasa bersalah Din. Emang benar kok, 'dia' nggak mungkin nyariin gue." Nuhan tersenyum menatap Dian. 'Dia' yang dimaksud Nuhan adalah Ayahnya. Dia tidak suka menyebut Ayahnya dengan kata 'Ayah'. Ada alasan tersendiri mengapa gadis itu tidak memanggil Ayahnya dengan sebutan 'Ayah'.
"Tapi Han, lo-"
"Udah nggak usah bahas 'dia' lagi. Telinga gue bisa meledak."
"Masa? Coba gue-" Cia langsung menghentikan ucapannya saat mendapat tatapan horor dari Dian dan Grana.
Cia pun mengurungkan niatnya. Dia kembali menyantap mie ayamnya. Kelima sahabat itu makan dengan khitmat. Tak ada yang membuka suara.
Tak lama kemudian, terdengar pekikan seorang gadis. Pandangan seluruh penghuni kantin tertuju kepada gadis itu, tidak terkecuali lima sahabat tadi.
"Kenapa lo jadi berubah sih, Revan? Gue salah apa sama lo?" tanya gadis itu sambil menatap seorang cowok yang sedang duduk di kursi kantin.
Revan tetap diam, tak menghiraukan gadis itu.
"Revan! Kenapa nggak jawab?" Gadis itu muak melihat Revan yang tidak menggubris pertanyaannya. Alasan utamanya kesini, karena cowok itu mengirimkan dia sebuah pesan semalam. Pesan yang berisi putusnya hubungan diantara mereka.
Lagi-lagi Revan tak menjawab. Dia seakan menganggap pertanyaan gadis itu hanya angin yang lewat. Tidak jauh darinya dan gadis itu, senyum miring terukir dari bibir gadis berambut pendek itu.
"Masih sama seperti dulu."
"Hah? Kamu bilang apa Han?" tanya Lulu. Nuhan hanya menatap Lulu sekilas, lalu menggeleng. Dia kembali melahap mie ayamnya.
"Nuhan, orang lain lagi sibuk lihat Revan sama Seren berantem, lo asik makan mie ayam." Cia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya.
"Emang mereka penting? Nggak tuh." Cia mendengus kesal mendengar jawaban sahabatnya. Dia kembali menonton dua sejoli yang sedang bertengkar disana, sekalian mengumpulkan informasi untuk gosipnya nanti malam. Cia itu ratu gosip SMA Garuda.
"Revan!!!" Akhirnya Seren marah. Gadis itu memukul meja Revan dengan keras. Mata biru milik cowok itu menatap tajam Seren. Dia berdiri, "Ngapain lo ke sini? Kita nggak punya hubungan apa-apa lagi."
Ucapan Revan barusan membuat penghuni kantin menjadi kaget bukan main. Bagaimana tidak, Revan dan Seren adalah pasangan yang paling populer di SMA Garuda.
Mata Seren berkaca-kaca. "Lo kok ngomong gitu Van. Gue salah apa sama lo?" Perlahan Seren memegang tangan Revan, namun ditepis oleh cowok itu.
"Udah deh. Gue udah bosan sama lo." Revan melangkah meninggalkan Seren yang menangis tersedu-sedu.
Dian menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bukan hanya Dian, namun seluruh menghuni kantin.
"Cowok gitu ya? Setelah bosan sama cewek, dia bakal ninggalin cewek itu. Trus, nyari yang baru deh." Gadis yang baru saja menyiramkan kuah mie ayam ke wajah tampan Revan memiringkan kepalanya. Menatap wajah cowok itu "Miris bangat, deh."
Nuhan melangkah menuju Bu Tutik yang diam mematung. "Ini Bu, uang mie ayamnya. Saya bayarin mereka juga ya." ucap Nuhan sambil menunjuk keempat sahabatnya yang diam melihatnya.
***
Jangan lupa vote and coment guys😊
Follow IG Author : @ainunazizah03
Jangan lupa krisannya ya😉