BFF

BFF
4



"Dian! Dian! Dian!!" Seorang wanita dengan gaun merah yang melekat indah dibadannya berjalan menaiki tangga dan terus berteriak memanggil anaknya.


Tok! Tok! Tok!


"Dian! Dian buka!!" Tak ada jawaban dari dalam kamar. "Pasti dia tidur lagi."


"Hanum!!"


Seorang wanita paruh baya berlari menghampiri Nyonya-nya. "Ada apa Nyonya?" tanyanya seraya menunduk.


"Mana kunci kamar Dian?" tanya Helena dengan raut wajah marah.


"Tunggu Nyonya, saya ambilkan dulu." Wanita itu berjalan setengah berlari menuju lemari.


"Cepat Hanum!! Saya buru-buru nih! Kerja jangan lelet dong!"


Hanum berlari, dan memberikan kunci kamar Dian pada Helena. Mata Helena membulat, saat melihat putrinya yang sedang tertidur pulas di meja belajarnya.


"Dasar pemalas!" Helena berjalan, menghampiri Dian yang tengah tertidur. "Dian, bangun. Dian!" Namun gadis itu tak juga bangun. Helena mengambil segelas air yang ada diatas nakas dan menyiramkannya ke wajah Dian. Sontak saja, gadis remaja itu langsung terbangun.


"Mama ..."


"Kenapa masih tidur?! Ini sudah jam 8 malam. Acara makan malamnya 15 menit lagi Dian! Dan kamu belum siap!"


"Maaf Ma, tadi Dian kecapean. Soalnya hafal naskah pidato buat peresmian perusahaan Papa yang baru." Dian menunduk sambil meremas roknya.


"Alasan! Pokoknya Mama nggak mau tau! Cepatan siap-siap, Mama tunggu dibawah!" Helena berjalan keluar kamar Dian. "Dalam 5 menit kamu belum siap, Mama nggak bakal kasih makan kamu 5 hari, uang jajan kamu bakal Mama potong."


Setelah kepergian Helena, Dian mengepalkan tangannya dengan kuat. "Kenapa gue harus dilahirin di keluarga kayak gini."


Dari kejauhan, seorang gadis tertawa bahagia melihat Dian yang dimarahi Helena.


"Rasya, kamu kenapa ketawain Nona Dian?" tanya wanita paruh baya yang berada dibelakang Rasya. Gadis itu sempat kaget.


"Bukan urusan lo!" ketusnya berjalan meninggalkannya Hanum.


Hanum hanya bisa sabar menghadapi sikap anaknya.


***


Helena dan Dian sudah sampai di sebuah restoran yang begitu indah dan besar. Dian mengenakan gaun berwarna hitam yang begitu indah sampai lutut, namun tidak ketat seperti yang digunakan Helena. Gadis itu mengurai rambutnya dengan cepitan rambut yang menambah kecantikannya.


Sebenarnya Dian tidak suka menggunakan gaun, dia lebih suka menggunakan celana. Tapi, mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan Helena kalau tidak dia bisa dihukum.


Lagipula, ini makan malam apa lagi? Dian bosan, setiap malam dia harus menghadiri makan malam yang tentu saja berbeda-beda.


"Mama,"


"Hm."


"Kita akan makan malam bersama siapa lagi?"


"Ayahmu dan rekan kerjanya. Pokoknya Mama tidak mau tau, kamu harus terlihat sempurna disana."


Dian menguatkan rahangnya, tangannya mengepal kuat. 'Terlihat sempurna' itu yang terus Mamanya katakan padanya. Helena ingin, Dian sempurna dimana semua orang, terutama istri dan anak-anak suaminya.


Pintu lift terbuka, memperlihatkan beberapa orang dan meja makan yang begitu besar dan panjang. Kursi-kursi ditata dengan sangat rapi, bahkan alat makannya pun disusun sangat indah.


Pandangan Dian beralih kearah Revan yang sedang bersama seorang gadis seusianya. Bibirnya tersenyum miring. "Dasar playboy."


"Siapa yang playboy?"


Pertanyaan cowok itu membuat Dian sedikit kaget. Dilihatnya cowok yang berada disampingnya. Cowok itu menggunakan setelan jas berwarna hitam, tinggi dan sangat tampan. Sedikit membuat Dian tertarik. Sedikit saja.


"Bukan urusanmu." Jawab Dian ketus. Dia tidak terlalu suka ada orang asing bertanya padanya, apalagi jika itu seorang cowok.


Cowok itu tersenyum kecil. "Seperti gue harus perkenalkan diri. Kenalin gue Harvel Alaskar Malendric."


Dian terdiam saat mendengar kata 'Malendric' keluar dari mulut cowok itu. Dia jadi mengerti sekarang, kenapa gadis-gadis yang ada disini memperhatikan dirinya dengan tatapan tidak suka. Ternyata, cowok yang bersamanya ini adalah anak pengusaha yang begitu kaya raya.


"Lo?"


Dian masih tetap diam. Dia paling tidak suka, jika ada orang asing mencoba mengetahui tentang dirinya.


Helena menghampiri Dian. "Sayang ... kok kamu diam aja. Itu, Harvel nanyain nama kamu." Helena bersikap lembut pada Dian. Tentu saja, hal itu tidak membuat gadis itu kaget, Mamanya selalu menjaga image-nya ketika menghadiri pesta atau acara seperti sekarang. Dia akan berubah seperti malaikat.


Dian meringis kesakitan saat Helena menginjak kakinya. Gadis itu tau, jika itu adalah kode dari Mamanya agar dia memberitahukan namanya.


"Nama gue, Dian Gabriel Hamzata."


Harvel tersenyum ramah. "Gue nggak pernah tau, kalau keluarga di Hamzata ada cewek cantik kayak lo."


Helena tertawa kecil. Sementara Dian tetap diam, dia tidak suka di ... tentu saja gombal.


"Iya dong Harvel. Lihat aja siapa Mamanya." ucap Helena. Harvel tertawa kecil. "Yaudah, kalian ngobrol aja, ya. Oh iya Harvel, Dian emang susah diajak ngomong." Helena berjalan meninggalkan Dian dan Harvel.


Lagi-lagi Dian hanya diam. Namun saat melihat Helena yang menatapnya dengan tajam, Dian pun menjawab.


"SMA Garuda." Tetap saja, masih ketus.


"Ooh ... Pantas saja lo kenal sama Revan. Lo tau nggak, siapa cewek disamping Revan itu?"


"Nggak tau dan nggak pengen tau."


Lagi-lagi Dian menjawab pertanyaan Harvel dengan ketus. Tentu saja, hal itu membuat Harvel tersenyum, karena baginya Dian itu sangat lucu.


"Dia adik gue."


"HAH?!" kaget Dian bukan main. Suara yang dia keluarkan juga cukup keras, hingga menarik perhatian. Dian menunduk malu, karena menyadari dirinya menjadi pusat perhatian. Gadis itu hanya bisa mendesis kesal. Sementara Harvel menyembunyikan tawanya dibalik tangannya.


"Jangan ketawa lo. Ntar gue santet." Ancam Dian dengan sorot mata tajam. Namun Harvel terus tertawa.


Cowok itu mendekat ke telinga Dian. "Coba saja."


***


Setelah makan malam selesai, Dian menuju toilet untuk menyikat giginya.  Membawa pasta dan sikat gigi kemana pun dia pergi, dia tidak suka jika giginya kotor setelah makan. Saat hendak keluar dari toilet, Dian dihadang oleh tiga gadis remaja yang berdiri di depan pintu.


"Lo ngapain dekatin Harvel? Lo itu nggak cocok sama Harvel. Tau diri dong."


"Cewek murahan!"


"Dasar, gatal!"


Dian mengepalkan tangannya, dia tidak suka ada yang mengatai dirinya seperti itu. Padahal jelas-jelas tadi Harvel sendiri yang mendekatinya.


"Karna gue lebih cantik dibandingkan kalian. Cewek muka standar!"


"Apa lo bilang?!" Cewek bergaun biru itu hendak menampar Dian, namun sayangnya temannya yang tertampar karena Dian dengan cepat menghindar.


"Lo kok nampar gue?"


"Siapa suruh lo ada disitu."


"Ooh ... jadi lo salahin gue?!"


Kedua gadis itu mulai aduh mulut, sementara temannya berusaha melerai mereka. Tentu saja, kesempatan ini digunakan Dian untuk melarikan diri. Bukan takut, tapi dia malas bertengkar apalagi perutnya sangat kenyang saat ini.


Saat kembali ke ruang makan itu, Dian tak menemukan Mamanya. "Loh, Mama kemana?" Gadis itu celingak-celinguk mencari Helena. Tiba-tiba seseorang menepuk lembut pundak Dian. Gadis itu menoleh. "Lo?"


"Tante Helena pulang duluan," ucap Harvel.


Dian menghentakkan kakinya kesal. Apa-apaan ini, Mamanya pulang duluan dan meninggalkannya. Tidak ada satupun orang yang dia kenal disini. Revan pun sudah pulang. Apalagi, dia tidak membawa uang sepeser pun.


"Tenang, lo pulang bareng gue kok."


"Hah? Nggak. Nggak mau, gue mau naik taksi aja." Dian melangkah melewati Harvel.


"Emang lo punya uang? Ini udah tengah malam, mana ada taksi yang lewat."


Harvel benar, sekarang sudah tengah malam. Dian baru sadar. Apa yang harus dia lakukan? Jika pulang bersama Harvel, tentu dia tidak mau. Dia paling benci dengan orang asing. Apalagi, menurut Dian seperti Harvel sangat penasaran dengan dirinya. Gadis itu terus melangkah.


"Lo mau jalan kaki atau naik mobil bareng gue?"


Dian menoleh ke belakang, "Sorry, gue mau pulang bareng pacar."


***


Sudah 30 menit Dian menunggu, namun seseorang yang dia sebut 'pacar' itu tak kunjung datang.


"Yakin, pacar lo bakal datang?" Pertanyaan Harvel membuat Dian sedikit kaget. Cowok itu belum juga pulang, sedikit membuat Dian merasa nyaman. Pasalnya disekitar restoran itu sudah sunyi, hanya dirinya, Harvel dan beberapa pelayan.


"I-iya dong. Kali aja macet di jalan." Dian mencari alasan sambil mengelus kedua lengannya yang kedinginan.


"Gue baru tau, jam 00.35 bisa macet." Harvel melepaskan jasnya, dan meletakkannya dipunggung Dian. "Pacar lo berdosa bangat, biarin lo nungguin dia sampai kedinginan gini."


"Itu-" Dian menghentikan ucapannya, saat sebuah motor sport berwarna merah berhenti tepat di depannya. Pengendara motor itu memakai pakaian serba hitam dan helm full face. "Tuh, pacar gue datang."


Dian menghampiri pengendara motor itu. "Gue tau kok sayang, lo pasti bakal datang." Gadis itu kemudian mengambil helm yang diberikan oleh si 'pacar'. Dian naik lalu memeluk pinggang 'pacarnya'. Pengendara motor itu menunduk sebentar, lalu melakukan motornya.


***


Jangan lupa vote and coment guys😊


Follow IG Author : @ainunazizah03


Jangan lupa krisannya ya😉