BFF

BFF
1



Terdengar suara tendangan yang begitu keras. Pintu gudang itu terbuka. Memperlihatkan Desi bersama kedua temannya sedang mem-bully seorang gadis.


Desi dan kedua temannya sempat kaget, namun kembali tersenyum menatap sang korban yang sudah tak berdaya. Gadis itu tidak berdaya, dengan seragam yang basah dan dipenuhi dengan tepung. Dia terus menangis sambil menunduk.


Dian menatap ketiga cewek itu dengan sorot mata tajam, seakan ingin memakan mereka. Cia melihat Lulu dengan mata berkaca-kaca. Gadis berambut panjang itu berlari menghampiri sahabatnya yang sudah tidak berdaya.


"Lulu lo nggak apa-apa, 'kan?" Cia mengangkat wajah Lulu perlahan. Terlihat jelas, wajah Lulu sangat pucat. Gadis itu begitu ketakutan. "Ayo, kita pergi dari sini." Perlahan Cia mengangkat tubuh sahabatnya untuk berdiri.


"Heh, Cia! Lo mau bawa kemana upik abu itu!" bentak Desi dengan suara yang sangat lantang.


Cia tidak memperdulikan Desi, gadis itu terus memboyong tubuh sahabatnya. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh Fika. "Lepasin!"


Cia mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman gadis itu. Fika begitu kuat mencengkram tangannya. Tak lama kemudian, terdengar pekikan Fika yang kesakitan. Bagaimana tidak, Dian dengan kasar menarik rambut gadis itu.


"Jangan coba-coba nyakitin sahabat gue!" ucap Dian sambil melepaskan tangannya dari rambut Fika. Sementara Fika, menatap Dian dengan tajam. "Sekali lagi kalian nyakitin sahabat gue, siap-siap angkat kaki dari sekolah ini!"


"Dian! Lo ngapain belain sampah nggak guna ini!" ucap Rasya tak terima. "Lo mau gue aduin ke Tante Rara?!"


Dian mengangkat sudut bibirnya. "Emang lo berani?" Rasya langsung bungkam.


"Jelaslah dia berani! Dia kan sep-" ucapan Desi berhenti karena Rasya tiba-tiba menariknya. Desi menatap Rasya penuh tanda tanya, gadis itu hanya menggelengkan kepala. "Mending kita pergi dari sini."


Dian tersenyum miring melihat Desi dan Rasya. Gadis berambut pirang itu kemudian memberi kode pada Cia. Cia mengangguk, dan berjalan menuju pintu keluar bersama Lulu.


"Heh?!" Fika hendak berjalan menghalangi mereka, namun Dian dengan sigap menarik lengan Fika dengan kasar.


"Aww."


"Kalian benar-benar ingin keluar dari sekolah ini?" tanya Dian dengan nada serius.


"Kami nggak takut! Karena Rasya-" lagi-lagi ucapan Desi berhenti. Rasya menariknya keluar gudang. Fika diam sebentar, lalu mengikuti Rasya yang membawa Desi.


Dian menatap punggung belakang mereka hingga keluar gudang. Pandangannya beralih ke gadis yang sedang menangis di samping Cia. "Yuk, kita keluar," ucap Dian dengan lembut.


Saat berada di pintu gudang, dua remaja berlari menghampiri mereka. Wajah mereka begitu kaget melihat gadis yang berada ditengah Dian dan Cia.


"Astaghfirullah. Lulu ..." Grana menghampiri Lulu. Gadis itu hendak memeluk sahabatnya, namun Lulu melangkah mundur.


"Jangan Gran, nanti seragam kamu kotor." Grana tidak memperdulikan ucapan Lulu, gadis berkuncir kuda itu memeluk Lulu dengan erat. Seolah memberikan ketenangan pada Lulu. Grana tau betul, bahwa Lulu saat ini sangat ketakutan.


Nuhan-- gadis yang berlari bersama Grana tadi memperhatikan Lulu dengan tatapan sulit diartikan. Tangannya mengepal, wajahnya memerah. Terlihat sangat jelas, bahwa gadis itu sangat marah.


"Bedebah!" Nuhan berjalan, namun baru dua langkah lengannya dipegang oleh Dian. Gadis berambut pendek itu menoleh, bukan pada Dian melainkan pada Lulu.


"Jangan Han, udah biarin aja."


Nuhan melepaskan tangan Dian sedikit kasar. "Biarin?! Mau sampai kapan gue biarin mereka giniin lo! Lo pikir gue senang lihatnya? Enggak Lu, gue nggak suka liatnya! Kalau aja bunuh orang nggak dosa, udah lama gue habisin mereka!"


"Nuhan!" Lulu menghampiri sahabatnya itu. Bibirnya mengukir senyum manis, "Aku nggak apa-apa kok. Udah jangan khawatir."


"Ta-tapi-"


"Udah, aku nggak mau kamu masuk BK lagi."


Nuhan mendesis kesal. Dia begitu benci sikap Lulu yang seperti ini. Gadis didepannya ini tidak pernah sedikitpun melawan saat Desi bersama kedua temannya mem-bully-nya, kalau saja Lulu tak melarangnya melaporkan semuanya kepada guru, mereka pasti sudah keluar dari sekolah.


"Lemah."


Lulu hanya tersenyum mendengar Nuhan mengatai dirinya lemah. Gadis itu tau betul, bahwa sahabatnya ini sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Triiiing!!!!" bel masuk berbunyi.


"Udah bel, kalian masuk duluan ke kelas. Aku mau beres-beres dulu." Lulu melangkah meninggalkan keempat sahabatnya.


"Lu!" Lulu menoleh. "Biar gue bantu lo beres-beres." ucap Dian.


Lulu menggeleng sambil tersenyum. "Jangan Din, ntar kamu telat masuk kelasnya."


"Tapi Lu-" sekarang Cia yang berbicara. Namun lagi-lagi Lulu melarangnya.


"Nanti kalian telat masuknya. Aku nggak apa-apa kok bersihin sendiri."


Grana berjalan menghampiri Lulu. "Nih," sambil memberikan kantong berwarna hitam pada Lulu. "Seragam gue, tapi nggak apa-apa lo pake dulu."


"Tapi Gran, nanti-"


Nuhan mengambil kantong hitam itu dari tangan Grana dan menarik tangan Lulu lalu meletakkan kantong hitam itu. "Jangan keras kepala, deh. Kesal gue dengarnya."


"Yaudah."


"Nanti biar gue sama Dian yang ijinin lo." ucap Cia.


"Makasih Cia."


"Sama-sama Lu."


"Kalau gitu kalian tunggu apa lagi? Sana pergi ke kelas, ntar kalian ketinggalan pelajaran." Lulu memutar badannya, lalu berjalan meninggalkan sahabat-sahabatnya.


***


Lulu menatap pantulan dirinya di kaca. Dia sudah sangat rapi sekarang. Gadis itu mengambil kantong hitam berisi pakaian kotornya, lalu melangkah untuk membuka pintu. Namun, pintunya tidak bisa terbuka. Lulu terus menggoyang-goyangkan ganggang pintu itu, namun percuma. Hasilnya tetap sama, pintunya tidak bisa terbuka.


"Tolong!! Buka pintunya!!" teriaknya sambil memukul-mukul pintu. Terdengar suara tawa seorang gadis dari luar. Lulu terus memukul-mukul pintu itu.


Dari luar, seorang gadis tersenyum bahagia mendengar teriakan dari dalam toilet.


"Rasain lo!" umpatnya. Saat hendak kembali ke kelasnya, Fika tiba-tiba kaget melihat seorang gadis sedang bersandar di dinding menatapnya horor.


"Nu-Nuhan?"


Gadis berambut coklat itu menghampirinya dengan sorot mata tajam. "Punya masalah apa sih, lo sama sahabat gue?"


Fika bungkam. Dia mematung menatap Nuhan sambil mengeratkan genggamannya. Nuhan melirik tangan Fika.


"Sini kuncinya."


Fika menggeleng.


"Sini kuncinya, sebelum gue berlaku kasar sama lo."


Fika terus menggeleng sambil melangkah mundur.


Brang!! Nuhan memukul pintu toilet dengan keras. Membuat Fika dan juga Lulu kaget.


"SINI KUNCINYA FIKA!!"


"Nuhan?" gumam Lulu.


Fika memilih untuk lari. Andai saja dia tau, jika memilih lari dari Nuhan adalah pilihan yang salah. Pekikan Fika terdengar begitu keras. Lulu khawatir dengan apa yang diperbuat sahabatnya di luar sana.


"Sini kuncinya!"


"Nggak!"


"Sini!" Nuhan terus menarik rambut Fika. Gadis itu terus berteriak, seakan rambutnya akan keluar bersama kulit kepalanya.


"Sini kuncinya Fika!!"


"Nggak!!"


Pekikan Fika terdengar sangat histeris tatkala Nuhan menarik kencang mahkotanya. Lulu memukul pintu toilet. "Nuhan! Jangan sakitin Fika! Nuhan!"


Nuhan tidak menghiraukan Lulu yang berteriak di dalam toilet. Gadis itu terus menarik rambut Fika. Dia tidak peduli, kalau saja rambut gadis itu tercabut.


"Sini!" akhirnya Nuhan berhasil merebut kunci itu dari genggaman tangan Fika, diikuti dengan tangannya yang melepaskan rambut Fika.


Nuhan berjalan menuju pintu toilet. Dia tidak menghiraukan Fika yang menangis histeris memegang kepalanya.


"Lulu, lo-" ucapan Nuhan berhenti, saat setelah membuka pintu toilet Lulu berlari menghampiri Fika. Sementara Nuhan menatapnya dengan bingung.


"Makan apa sih?" gumamnya tidak habis pikir dengan apa yang Lulu lakukan.


"Kamu nggak apa-apa Fika?" tanya Lulu dengan lembut. Gadis itu mencoba menghapus air mata Fika, namun ditepis dengan kasar oleh Fika.


"Nggak usah sok perhatian! Gue nggak butuh!"


"Tapi Fika-" tubuh Lulu ditarik oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nuhan.


"Nggak usah peduliin dia."


"Gue juga nggak butuh kali!" Fika berdiri, menghapus air matanya dengan kasar lalu berjalan meninggalkan kedua gadis itu. Namun saat melewati Lulu, Fika dengan sengaja menyenggol lengannya dan berkata, "Gue nggak butuh perhatian dari anak wanita ****** kek lo!"


"Woi!" Nuhan hendak mengejar Fika. Namun lagi-lagi Lulu melarangnya. "Kenapa lagi sih?"


"Udah." Lulu menyeka air matanya. Dia tersenyum menatap Nuhan. "Lo kenapa nggak masuk kelas?"


Nuhan menatap Lulu sebentar, lalu berkata, "Gue dihukum bersihin toilet karena nggak bawa pakaian olahraga." Gadis itu kemudian melangkah menuju peralatan bersih-bersih yang ada di sudut ruangan.


"Aku bantu, ya."


"Nggak!" Nuhan menepis tangan Lulu yang hendak mengambil alat pel.


"Kamu kan udah bantuin aku. Sekarang aku yang bantuin kamu."


"Kalau gue bilang enggak, ya enggak Lu. Lagi pula, gue udah biasa kok."


"Tapi-"


"Sana, ke kelas." Nuhan melewati Lulu sambil membawa alat pel.


"Nuhan." Nuhan menoleh, "Makasih."


Gadis berambut cokelat itu hanya tersenyum.


Lulu melangkah keluar, "Semangat jalanin hukumannya."


"Iya ..."


***


Jangan lupa vote and coment guys😊


Follow IG Author : @ainunazizah03


Jangan lupa krisannya ya😉