Assallamu'Alaikum 2007

Assallamu'Alaikum 2007
Ya Allah, Lindungilah aku !



Kata - kata itu begitu seperti menghujam jantung. Manis namun sakit, malu tapi takut. Entah apa yang ada dipikiran Radit, menyukai Lea ?. Semudah itu ia menyukainya hanya karena perubahan yang begitu singkat menurutnya.


Satu katapun belum keluar dari mulut mungil Lea. Cowok jangkung itupun lanjut terdiam menantikan sepatah dua patah kata dari sahabat yang kini menjadi pujaannya.



"Wow, gue terkejut" ucap Lea setengah mendengus. "Hhmm .. gimana ya ?" Lea menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gak usah di jawab iya atau gak. Gue cuman pengen lo tau aja perasaan gue" balas Radit dengan cepat.


Lea mengerutkan dahinya. Lalu ia harus apa ? .. cukup tau saja begitu tanpa ada kelanjutan ?.


Gadis itu menarik nafas perlahan sambil menengadah melihat langit yang dipenuhi bintang - bintang.


"Gue pulang ya" ucap Radit yang lagi - lagi mengejutkan Lea.


"Lo dateng cuman mau kasih tau itu aja ?"


"emangnya lo berharap lebih ?"


"ya gak juga"


"ya udah, bye"


"lho, lo pulang pake apa ?" Lea celingak celinguk mencari kendaraan apa yang dipakai Radit.


Radit tersenyum sedikit tertawa, haduhh .. senyuman itu yang membuat Lea meleleh dan selalu diingatnya sampai diusianya yang ke 32 tahun ini 😱.


"Gue pake angkot" jawabnya sambil terkekeh. "ya udah, gue pulang ya" Radit melambaikan tangannya, kemudian berlalu sambil berlari pelan menjauhi Lea yang masih berdiri ditempat.


💗❤💗❤💗❤💗❤


Sekolah terlalu ramai untuk Lea menyendiri. gadis itu berjalan menuju ruang guru sambil memeluk sebuah buku tebal yang berisikan tentang hadits - hadits.


Lea ditunjuk menjadi penceramah untuk adik - adik kelas perempuan yang mengikuti Rohis.


Kemudian Bu Dwi datang menghampirinya.


"Udah siap Azzalea ?" panggilnya


"Aduh bu, kaget saya. Insya Allah siap, tapi kenapa saya ya bu ?. Kan masih ada Dara yang lebih lebih pinter" balas Lea panjang lebar.


Bu Dwi merangkulnya. Baru kali ini Bu Dwi merangkulnya. Karena biasanya Bu Dwi lelah dengan ulah Lea yang selalu bikin masalah di Sekolah.


Yup, masalah bolos sekolah, berantem sama adik kelas dan jail pada guru laki - laki yang masih bujangan.


"Ibu lihat wawasan kamu cukup lebih baik dari yang lainnya. Sekalian pihak sekolah juga mau menyeleksi siswa untuk perlombaan Da'i remaja se Jawa Barat, salah satu kandidat itu ya kamu. Ibu percayakan sama kamu"


Terang saja Lea cukup percaya diri. Karena semasa hidupnya di dunia masa depan ya dilingkungan dakwah.


Di Mushola Sekolah. Selesai Dzuhur seluruh adik kelas perempuan anggota Rohis dikumpulkan disana untuk mendengar Kajian dari Lea. Pada zaman itu seluruh siswa menyebutnya ceramah, ya nama bekennya ceramah.


"Kita ini perempuan, masih remaja. Lebih baik kita memperbaiki diri selagi diri kita masih muda. Jangan sibukkan diri kita dengan pacaran, buang - buang waktu guys" ucap Lea dengan ceria.


"Jangan karena wajah tampan kita mudah begitu aja terpikat. Apalagi dengan ucapan cinta yang seolah menjanjikan, hadeeeuuh .. nih, perlu kita tahu ya, yang namanya cinta sejati itu saling membantu untuk menggapai Surga, bukan saling berpegangan tangan menuju api neraka. Nah yang pacaran itu lah jalannya menuju api neraka" lanjutnya


Perkataan Lea ditanggapi begitu amat serius oleh semuanya. Bahkan Bu Dwi pun terpana dengan materi yang dibuat oleh Lea.


Kemudian ada salah seorang siswa yang bertanya,


"Tapi teh, gimana caranya kita dapet suami kalau ga pacaran ?. Kan ga mungkin kenal sama cowok langsung nikah"


"Nah ini nih, anak zaman sekarang ini belum tau prosesnya Ta'aruf. Yang kebanyakan tahu kan gitu, kenal terus nikah. Gak gitu juga mereeeun" jawabnya Lea sambil tertawa pelan.


"Ta'aruf itu perkenalan. Pertama kita saling kasih biodata lengkap. Terus pertemuan, kemudian selama 3 bulan perkenalan itu kita saling cari tau apa kesukaan masing - masing, akhlaqnya seperti apa, agamanya seperti apa lalu keluarganya seperti apa. Kalo udah sreg, bisa lanjut ke jenjang pernikahan. Kalo ga, ya ga di lanjut secara baik - baik" Lea mencoba menjelaskan dengan kata - kata yang mudah di cerna oleh para remaja tersebut.


Bu Dwi mengangguk "Hhmm .. menarik. Mudah - mudahan seluruh remaja di sekolah kita mulai tertarik untuk tidak berpacaran" batin Bu Dwi.


Radit bersandar di tembok dekat mimbar. Amat sangat jauh untuk dirinya mendapatkan hati Lea. Tapi rasa kagum itu semakin tinggi padanya.


Tempat Radit berada dishaf depan dan Lea beserta anak - anak Rohis lainnya berada di shaf perempuan yang tertutup tirai setinggi Bahu orang dewasa.


Radit berdiri untuk melihat keadaan shaf perempuan. Saat ia berdiri, mata mereka seakan beradu. Radit tersenyum, namun sayang senyuman itu tak dibalas. Lea lanjut dengan ceramahnya dan Radit pun berlalu.