
Dikelas sebelah sedang ramai, semua siswa didalamnya bersorak dan bertepuk tangan. Jelas Lea yang melewati kelas itu langsung mengintip lewat jendela.
Rupanya ada anak cowok yang sedang nembak / menyatakan cinta. Bahkan sedang jam pelajaran sekolah, gurunya pun ada disana.
Lea menggelengkan kepala. Yang ia rasakan saat ini adalah bahwa usianya sudah menginjak 32 tahun. Jadi saat melihat hal seperti itu ia merasa malu bahkan sebal.
"Hadeuhh .. remaja. Cinta gak selamanya indah, mereka pikir pake bunga sama coklat cukup ? .. hehe .. geli banget deh liatnya" gumamnya dalam hati.
Saat ia berbalik, kedua matanya terbuka lebar. Kaget seperti jantung mau copot dan darah turun tumpah ke lantai.
Radit rupanya sudah berada di belakangnya. "Lo ngapain ngintip kelas orang ?" tanya Radit.
Tarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. "lagi ada yang nembak cewek dikelas C" jawab Lea singkat, kemudian berjalan menuju kelasnya.
Radit berjalan menyusul. "Heh, Lele" panggilnya keras.
Lea menoleh tanpa berbicara, lalu duduk di bangkunya. Saat Radit hendak duduk di sampingnya, Lea langsung berdiri dan segera menghindar.
Jelas Radit kesal dengan tingkah sahabatnya itu. "Lo kenapa sih ?. Gue ada salah sama lo ?" tanya nya sedikit emosi.
"Gak, lo ga ada salah. Sama sekali ga, cuman gue menjauh dari fitnah aja" jawab Lea mencoba tenang.
"Yaelah Leleeee .. siapa juga yang mau fitnah kita ? .. semua orang udah tau kalo gue, lo, Dion, Vera, Ica juga Dara itu deket. Ya gak ?"
"Bukan gitu. Maksud gue, Agama kita melarang laki - laki dan perempuan itu saling berdekatan. Haram hukumnya" perjelas Lea.
"Betuuuuul" tak menyangka ternyata Bu Dwi sudah ada di kelas sejak lama dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Eh. . Bu Dwi" Lea dan Radit bersamaan.
Bu Dwi lalu menghampiri siswanya itu. "Betul yang dikatakan oleh Lea. Jangan lah kita mendekati Zinah" sambungnya
"Tapi kan bu kita ga Zinah. Cuman pegang tangan, duduk bareng juga ya cuman duduk aja" balas Dion.
Semua siswa disana mengangguk. Saat Bu Dwi mau berbicara, keburu di potong oleh Lea.
"Nahh .. kan yang dibilang mendekati. Yang kamu sebut tadi itu yang namanya mendekati. Mendekatinya aja udah haram, apalagi kalo sampei kejadian .. Na'udzubillahimindzalikh. Dosanya besar, bukan cuman kita aja yang masuk neraka, tapi orangtua juga.. Terutama kita sebagai perempuan, Ayah kita bisa terjerat api neraka karena ulah kita .. bagi yang sudah tidak memiliki ayah .. ada saudara laki - lakinya .. coba bayangkan ? betapa mengerikannya sebuah dosa Zinah. Nikmat di dunia tapi menderita di akhirat selama 50 tahun" Lea panjang lebar.
Ia tidak sadar kalau sedang menghadapi guru dan teman - teman sebayanya. Sementara ia berbicara seperti pada murid - muridnya saat di tahun 2022.
"Aiihh .. mulai deh jiwa guru gue keluar" batinnya Lea berbicara.
Semua mata tertuju padanya. Tak disangka ternyata semuanya bertepuk tangan mendengar ucapan Lea.
Lalu Dara berkata, "Udahlah cocok kamu jadi penceramah" sahutnya
"Mamah Leaaa .. curhat dong" tambah Dion dan dilanjut tawa 1 kelas.
Lea juga ikut tertawa. MasyaAllah ternyata semua teman dan sahabat sangat menyukai Lea yang sudah berubah. Tidak urakan seperti dulu.
❤💗❤💗❤💗
Perjalanan pulang. Kebetulan Lea satu angkutan umum dengan Vera dan Ica. Vera nampak murung karena ia baru saja putus dengan pacarnya yang anak SMA lain.
"Gak usah dipikirin terus kali Ver" Suara lembut Lea memecahkan suasana hening di angkot.
Kedua mata Vera mulai berkaca - kaca. 1 kedipan mata membuat air mata itu tak terbendung. "Katanya dia teh sayang sama gue, tapi malah mutusin gue. Udah 3 taun lho kita pacaran, gak bisa gue lepas gitu aja" katanya sambil terisak - isak.
"Huusssttt .. malu ih diliat pak supir" Ica mencoba menenangkannya. "Masih banyak cowok diluaran sana yang lebih keren dan ganteng. Gak usah diluaran deh, di sekolah kita jg banyak".
Lea melotot pada Ica. "Dari pada mikirin sesuatu yang belum tentu jodoh lo, mendingan lo fokus buat bahagiain diri lo". Lea lalu bergeser hingga posisi duduknya menghadap Vera. "Bahagia gak harus punya pacar, Ver, Ca. Kita masih muda, masa depan kita masih panjang. Kita gak tau kedepannya bakal kayak gimana. Lebih baik kita memperbaiki diri, banyakin temen, dan pantaskan diri .. sehingga suatu saat nanti kita dapetin suami yang pantes dan baik untuk kita".
"Suami ? .. he, kejauhan lo mikirnya" kata Ica meledek.
"Jangan terbalik. Sekarang yang kejauhan siapa ?. Belum jadi suami istri tapi udah ciuman, pelukan, bahkan dilarang deket sama ini itu, di suruh makan, minum .. nurut. Siapa yang kejauhan ?" balas Lea sambil menatap Ica dengan tajam. Nampak Emosi didalamnya.
Lea segera mengucapkan Istighfar dalam hati. Raut wajahnya pun berubah menjadi sumeringah seperti biasanya.
"Hehe .. malah jadi serius amat. Bentar lagi gue turun. Udah Ver .. gak usah sedih. Kalo jodoh gak akan kemana" sambung Lea yang kemudian turun dari Angkot. "Kiri .. gue duluan yaa, Assalamu'alaikum" Lea pun turun dan berjalan menuju gerbang komplek rumahnya yang tak jauh dari jalan raya.
Seiring jalan, Vera dan Ica menatap Lea sampai berlalu.
Ica menarik nafas dalam - dalam, "Lea bisa keren gitu ya, sumpah gue gak nyangka .. dalam waktu 1 bulan dia udah jago ngaji, bahkan ga mau deket - deket sama cowok .. padahal dia kan nempel banget sama Radit" ujarnya.
"iya, sampe - sampe kita curiga kalau dia suka sama Radit" tambah Vera yang sudah berhenti menangis. "Tapi bener ya yang dia bilang tadi. Merinding tau gue mah, cara bicaranya udah kayak guru ngaji gue jaman SMP"
💗❤💗❤💗❤💗❤
Rumah nampak tenang dan damai. Rupanya Dafa dan Azka sedang membereskan kamar yang sudah lama kosong untuk dijadikan Mushola dalam rumah.
Yup, Alhamdulillah kedua adiknya kini mulai terbiasa dengan yang di ajarkan oleh Lea. Bahkan ibu dan ayah pun kini semakin tenang karena putra - putrinya kini menjadi Sholeh dan Sholeha.
"Assalamu'alaikum .." sapa Lea.
"Wa'alaikumusallam .." balas semua yang ada di rumah.
Dafa dan Azka berebutan untuk salim pada kakaknya itu. "Aduuuh gantian atuh" kata Lea sambil tertawa.
"Musholanya udah siap, teh" sahut Azka.
Dafa yang tingginya sudah melebihi Lea lalu merangkulnya, "Insya Allah sholat di rumah ga usah di ruang tamu lagi".
Lea tersenyum senang, "Alhamdulillah .. kalian emang adik - adik terbaik .. Insya Allah Dafa calon dokter dan Azka calon jendral"
"Aamiin" balas mereka berdua bersamaan.
Selesai Sholat Isya. Tiba - tiba saja handphone Lea berdering, saat dilihat ternyata Radit.
Telepon pun berhenti. Tak lama bunyi lagi, masih Radit, akhirnya Lea pun terima panggilannya, mungkin saja penting.
"Assalamu'alaikum" sapa Lea
"Wa'alaikumusallam, lo di rumah ?" Tanya Radit dari sebrang.
"Iya. Baru beres Sholat Isya" jawab Lea datar
"Bisa keluar sebentar gak ?. Ada yang mau di omongin" ajak Radit.
Lea kemudian melihat kalender, yup dia ingat tahun 2007 sebelumnya. Malam ini Radit akan memberitahukan bahwa dia sudah jadian dengan Siska.
Lea begitu siap mendengarnya. "Okeh, tungguin aja bentar lagi gue kesana" Lea pun menutup panggilannya.
Sementara itu dilokasi Radit yang tak jauh dari Pos Satpam. "Lah, maen tutup aja. Emang dia tau gue dimana ?" kata Radit. Saat ia mau menelepon Lea lagi Rupanya gadis itu sudah datang menggunakan motor matic hitam milik ayahnya.
"kok lo tau gue disini ?" tanya Radit sambil berjalan menghampiri Lea.
Lea mengernyit, "yaa tau aja lah, he" jawabnya.
"Nyi Marinah yang kasih tau ?"
"aihh .. horror, amit - amit"
"terus ?"
"kedengeran suara dangdutan pak satpam" tiba - tiba saja suara musik dangdut yang didengar pak satpam menjadi ide untuk dijadikan alasan.
Untungnya Radit menghiraukannya. Aneh, wajah Radit tidak sumeringah seperti di alam 2007 sebelumnya. Raut wajahnya kali ini nampak seperti ada persoalan.
"Bukannya lo jadian sama Siska kan ?" langsung saja Lea to the point agar tak berlama - lama.
Radit langsung melihat kearahnya, dan ia tertawa. "Ampuuuuun .. udah lewat itu mah".
Hah ?? maksudnya lewat gimana ? udah jadian .. lho kok beda ?? . Batin Lea bergejolak, mana mungkin bisa berbeda, toh selama ini dari Dion kena genteng, Dara jualan kue basah, bahkan sampe Vera diputusin pacarnya, itu semuanya yang terjadi di tahun 2007.
"Gue gak jadi nembak dia" sambung Radit
"hah ?" kaget Lea.
"gak jadian gue sama dia .. ada sebulan yang lalu lah gue bilang ke dia kalau gue milih jadi temenan aja"
Lea semakin penasaran, ia lalu turun dari motornya. "Gimana - gimana ?. Ko bisa beda ya ?, harusnya lo tuh malem ini girang banget karena udah jadian sama Siska .. terus gue .." Lea langsung berhenti bicara, hampir ia keceplosan kalau dia menangis dipojokan kamar karena tidak terima Radit dan Siska jadian.
Kedua alis Radit terangkat tanda ia ingin tahu kelanjutannya.
Lea segera melanjutkan, "gue yaa seneng banget lah kalo lo seneng .. iya" sedikit kaku sih, tapi its okay lah.
Radit tersenyum aneh mendengar penjelasan Lea yang menurutnya tak masuk akal. "kenapa gue harus jadian sama Siska ?" tanya nya.
"Ya kan lo emang suka sama Siska"
"Iya sih, tapi kan itu dulu dan ga ada yang tau. Lo tau dari mana sih ?" Radit semakin memaksa ingin tahu apa yang membuat Lea selalu tau dengan apa yang akan terjadi di masa depan.
"ee .. nebak aja lah" kilahnya
"bohong banget"
"serius"
"jujur !"
"......."
"ayo cerita !"
"ya gitu"
"ya gitu apa ?"
"okeh lah, Nyi Marinah yang bilang !"
"Stop !"
"kenapa ?"
"dia ada dimana sekarang ?" Radit melihat sekeliling dengan perasaan agak takut.
"hahahaha .."
"udah ahh jadi horror. Pokoknya gue ga jadian sama Siska, titik!" sahut Radit.
"terus ngapain lo kesini ?. Mau apa ?"
Radit berdiri dihadapan Lea, jaraknya cukup jauh karena ia tahu Lea pasti tidak suka.
Radit berdehem, cukup aneh sih gerak geriknya. "Ini sih biar lo tau aja. Sebentar lagi kita UN, trus keluar dari SMA .. dan entah kemana tujuan kita selanjutnya, bisa jadi kita gak ketemu setelah itu" jawab Radit yang bertele - tele.
"Emang bener sih, beres UN lo tiba - tiba ngilang gitu aja, Dit" gumam Lea dalam hati.
"Gue tau lo bakalan ga terima, dan mungkin ga suka .. tapi gue pengen lo tau aja" diam sejenak, tarik nafas dalam - dalam. "Gue suka sama lo dan entah dari kapan perasaan suka itu tiba - tiba muncul"
Wow !. Apa yang harus dilakukan Lea ?. Kenapa Radit jadi menyukainya. **Apa Lea bakalan seneng dan terima gitu aja ? .. atau tetap pada tujuannya, yaitu memperbaiki diri karena Allah .. ??
Next Episode guys 😘😘**