
Baju baru tidak mungkin berangsur selalu baru sama seperti bahagia, tidak selamanya penuh gelak tawa. Langit yang cerah dan indah tak selamanya menyejukkan mata adakalanya gelap gulita dan petir datang menyambar pertanda kekuasaannya benar benar ada.
Dan jatuh cinta pada senja sekaligus mengajarkan kita patah hati, dia hadir namun sudah diatur untuk pergi.
Hari minggu, dimana Al menunggunya sedari subuh, Saking semangatnya dia sudah rapi sejak sang Surya masih menyapa malu seluruh semesta.
Begitu bahagianya sampai dia tak sadar senyumnya selalu terukir tanpa henti, kadang mulutnya juga ikut ber senandung ria. Nanananana
Skiipp
Langkah kakinya terhenti tak sengaja saat mendengar gelak tawa menyambar telinganya. Ketika dia melirik untuk memeriksa apakah benar dan ternyata realpict 100% tanpa abal abal.
Al memanyunkan bibirnya kesal. Padahal dia sudah mencarinya sampai kekolong tikus dan jembatan Ampera ternyata kakaknya ada disini, sedang duduk santai dengan enaknya main hp diruang tamu
" Kak setia, ayo berangkat " pinta Al sudah tidak sabar
" Sabar yahh, Abang mau mandi dulu, ganti baju dulu, dandan dulu, maskeran dulu, makan dulu, pakai se -
Al memotong ucapan kakaknya tanpa ragu " Mau nglamar mbak wati apa kondangan sih, ayo buru !! " Ketus Al
Pagi indahnya berakhir sudah oleh kakaknya, tidak ada bagaikan langit dipagi hari berwarna biru sebiru hatiku lagi.
" makan gorengan mbak sar dulu yah " tawar kakaknya dengan wajah memelas.
" Mau aku sekalian gorengin kumisnya kak set bareng gorengannya mbak SAR !! " Hardik Al semakin geram melihat tingkah kakaknya
Wkwkwk, tapi yang ada malah gelak tawa memenuhi isi ruangan ini. Setia memang senang menjahili adiknya apalagi jika moodnya hancur seperti sekarang, seperti tertawa diatas penderitaan saudaranya sendiri.
" Buruan, udah mau siang " ucap Al sedikit memaksa
" Iya iya, hayu " lalu Abang setia pun mengambil kuncinya dan melangkah pergi disusul Al adiknya.
ㅠㅠㅠㅠ
Setelah memarkirkan motornya, mereka langsung masuk.
Baru satu langkah bau obat langsung menyengat ke Indra penciumnya, suasana didalam begitu ramai membuatnya sangat sulit menyamakan langkah kakinya dengan kak setia. Walaupun begitu sampai detik ini bibirnya tanpa henti tersnyuman indah, Al begitu tak sabar bertemu ibunya dan menyapanya bagaimana kabarnya.
Kamar 504
Mereka berdiri tepat didepan pintu yang dituju, kini Al yang membukakan pintunya. Cekrekkk
Pintu terbuka sempurna, Al melihat sekelilingnya. Tiba tiba detak jantungnya berdegup gencang, seluruh tubuhnya gemetar. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi.
Dia begitu bingung kenapa kakaknya yang ke 3 bernama erul sedang menangis bersender ditembok dan ayahnya menatap keluar jendela. Apa yang sedang terjadi ? Dan kenapa tubuhnya tiba-tiba lemas ketika melihat di atas ranjang, seseorang ditutup sempurna oleh kain putih.
Dengan langkah ragu ragu Al mendekat ke ranjang tersebut dan perlahan membuka kain itu.
Brukkk
Al terjatuh dilantai tak berdaya, seluruh tenaganya seakan hilang entah kemana. Bibirnya pucat pasi bahkan air mata entah sejak kapan sudah mengalir deras membanjiri pipinya tanpa henti.
Dia berpikir ini hanyalah mimpi, dengan sekuat tenaga Al berusaha berdiri untuk membangunkan ibunya.
" I.. ibu ? Ibu.. i.. ini al ibu bangun ? " Lirih Al dengan menggoyang goyangkan tubuh ibunya.
Al menggenggam tangan ibunya, dingin sangat dingin. Al tidak tahu harus berkata apalagi, mulutnya terasa kaku. Senyuman indah beberapa detik lalu sekejap luntur.
seperti ada sesuatu yang membom bardir hatinya, sakit namun tak berdarah, sakit namun tak berpanah, lalu sakit apa namanya Hinga rasanya benar benar menghantam diri menghujat relung hati.
Jika ini mimpi, tolong bangunkan dia segera saat ini juga. Seperti Petir menyambar dirinya, tubuhnya kaku dan gemetar hebat tak berdaya seperti mati rasa.
Seseorang disayang dan sangat berarti dalam hidupmu lenyap seketika, seperti tertembak tanpa aba aba. Sakit bahkan sangat menyakitkan. Seakan kau ingin berteriak dan mengatakan pada dunia, namun kau tak mampu mengutarakannya.
Sedangkan kak setia memilih keluar dari ruangan ini, Dia ingin menangis namun lebih memedamnya dengan menyalurkan rasa sedihnya melalui beberapa pukulan keras ditembok belakang rumah sakit yang sepi.
Hilang, tidak bisa dijelaskan seperti apa rasanya namun dunia yang indah dan langit cerah seakan meredup dan lenyap seketika.
ㅠㅠㅠㅠ
Jika ada harapan lain maka dia tidak memilih terluka, kalupun ada rasa maka dia membenci jika itu sakit.
Kenangan lama kini hanya goresan tinta, dikenang hanya membuat luka semakin dalam. Lalu apa yang dilakukan ketika semuanya terasa jelas sangat berbeda ?
Al hanya terdiam dikamarnya,pikirannya terus berjalan kemasa lalu, mengusik hati namun telah terjadi. Dia tidak tahu harus menyalahkan siapa terutama ini sudah kehendak-Nya.
Ikhlas namun air mata selalu menetes, rela namun hati meronta-ronta.
Sudah 1 bulan Semenjak kejadian itu Al lebih banyak diam dari biasanya, pikirannya kacau, tatapannya kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, gairah hidupnya seakan padam entah sejak kapan.
Dia menghabiskan hari-harinya dengan pagi kesekolah siang tidur dan malam tidur, dia jarang makan terkadang tidak makan dalam sehari. Seperti bunga yang perlahan gugur kehilangan daunnya atau kuncup layu kehilangan sinar kehangatannya.
Kak setia sudah 1 Minggu meninggalkan nya dan pergi nguli ke DKI, mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga. Bebannya mungkin bertambah. Karena ibu berpesan menitip Al ke dirinya, menjaga Al dan tak kalah penting sayangi Al. Dan itulah yang membuat Al penasaran kenapa menitipkan dia ke kak setia kenapa tidak kakak 1 2 3 atau ke ayahnya, kenapa dan ada apa ?
masih baru, kritik and saran sangat dibutuhkan disini😊
dan jangan vote yah