Ara

Ara
A라 Satu



Dua huruf satu kata kau tau apa, itu namanya tidak ada kepanjangan atau perpanjangan, marga atau apapun sebagai identitas darah kaya. Mudah diingat bukan, namanya Al dan salam kenal.


Terlahir dari keluarga sederhana dan dibesarkan biasa pula, tidak ada keistimewaan hanya saja hidupnya terlalu rumit dijelaskan.


Ketika dia kecil sama seperti anak lainnya. Bahagia karena dibelikan permen Lima ratus dapet 3, tertawa menurutnya lucu, menangis ketika meminta tak dituruti hanya janji-janji, meminta uang segudang ketika ada pesawat terbang, main petak umpet, kelereng sampai congklak.


Menyenangkan bukan sebelum masa itu datang menyakitkan.


Sakit mungkin sangat sakit bukan karena mengingatnya tetapi tidak bisa mengulanginya.


Ada masa kelam dimana dia mengingat ketika berumur 4 tahun, sebuah pilihan tanpa pemilihan


Tes


Tes


Tes


Cairan putih dan bening masuk ketubuhnya melalui selang kecil dengan jarum menusuk ketangan kanannya


Bukan salah siapa atau menyalahkan orang tuanya ketika dia kecil harus menanggung semuanya, sudah beberapa kali dibawa ke dokter klinik tetapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya hingga harus membawanya ke rumah sakit.


Terbaring lemas diatas keranjang, hidup namun seperti tengkorak mati, pucat pasi menyelimuti seluruh tubuhnya. Entah penyakit apa yang dideritanya hingga membuat kulitnya melekat sampai ketulang tulangnya.


Dia tak sadarkan diri, mungkin Obat bius menghapus rasa sakitnya untuk sementara waktu sebelum dia sadar dan sakitnya menjalar kembali.


" Saya sudah memeriksanya, anda tidak usah khawatir dia akan baik baik saja. Untungnya anda segera membawa dia kesini. Jika tidak dia mungkin sudah kehilangan nyawanya saat ini " ucap laki laki paruh baya dengan jas putihnya


Antara hidup dan mati


Mana yang harus dipilih ketika scenario tuhan memilihnya untuk melanjutkan sedangkan dia meminta untuk menyabut nyawanya saat itu juga. Ketika dia tau lembaran hidupnya selalu kusut, kusam bahkan air mata selalu menodai setiap lembarannya.


ㅠㅠㅠㅠ


Ketika berusia 8 tahun, dibawah belakang tembok besar berwarna cream ada gadis kecil menangis tersedu sedu sambil memeluk lututnya.


Terkadang melempar asal batu krikil yang tak berdosa menjadi sasaran empuk emosinya saat ini, bahkan tanpa disadari laki laki seusianya sedang memperhatikannya dengan wajah polos nan datar sambil menggenggam i-pad besarnya.


Perlahan langkah kakinya mendekat, lalu ikut mensejajarkan posisinya dengan gadis didepannya.


" Apa dimatamu ada penyimpanan buat air, kenapa matamu bisa mengeluarkan air ? " Tanya laki laki kecil itu dengan polos. Yah dia terlalu polos untuk mengerti apa itu air mata, Hidupnya terlalu sempurna diusianya sebagai orang kaya yang turun temurun tujuh turunan.


Al mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara, seketika itu tangisnya langsung mereda dengan ingusnya yang hampir keluar melewati jembatan. Tapi secepat kilat Al langsung menghapus dengan tangannya saat dia tau laki laki itu sangat tampan dan ketampanannya diatas rata rata bak titisan asli dewa Yunani.


" Aku sedih " lirihnya


" Kau seperti langit, ketika langit marah dan sedih dia akan mengeluarkan air hujan dan petir. Dan itu membuatku sangat takut "


" Maksudmu ? "


" Maksudku apa kau anak hantu ? " Tanya laki laki itu dengan wajah polosnya.


" AAPPAA !! " teriak Al kaget, dia tak tau harus mengekspresikan apa wajahnya. Laki laki didepannya telah membuat emosinya bertambah 2 kali lipat dari sebelumnya yang dulu biru kelam kini naik pitam merah padam


" Kenapa kau menangis dibelakang rumahku yang besar dan cantik seperti istana ini ? Apakah tidak ada tempat lain seperti hutan contohnya ? " tambah laki laki itu dengan wajah tak berdosa nya kali ini.


Entah itu sebuah saran atau pengusiran setan, tapi mulutnya benar-benar membuat Al ingin mencabik cabik seluruh raganya lalu dibuang kelaut dan dimakan hiu. Biar tau rasa !


" Apa kau punya tissu ? " Tanya Al mencoba mengalihkan perhatian karena dia lebih memilih meredam emosinya dari pada mencari masalah.


" Aku tidak membawanya, karena tissu dirumahku sangat mahal jadi aku harus menghemat. Jika kau mau gratis akan aku ambilkan daun mangga muda untukmu. Bahkan ini lebih wangi dari pada tissu dirumahku "


Jawabannya kali ini membuat isi kepalanya bisa meledak kapan saja. Dia ingin berteriak sekeras mungkin namun dia masih sadar dia tidak ingin tetangganya mengira dia sudah tidak waras dan ikut turut berduka cita atas kegilaannya yang masih terlalu dini.


" Aku dimarahi ibuku karena tidak menurut padanya. Kau paham kan ? " Jelas Al kali ini berharap dia bisa memahaminya


Laki laki itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab


" Kenapa kau tidak menurut padanya, dia ibumu, yang telah melahirkan mu dan membesarkan mu sampai sekarang "


Al terdiam, mulutnya seakan terkunci. Dia tidak tau harus menjawab apa.


Jawaban dari laki laki itu 100% sepenuhnya benar tanpa mecin dan formalin, bahkan dia tidak menyangka bahwa laki laki didepannya ini bisa berkata bijak yang membuatnya skakmat.


" Siapa namamu ? " Tanya Al memberanikan diri


" Rayen Sura mahendra, umurku 8 tahun kelahiran Jakarta dan baru dipindahkan di desa hari ini. Keturunan jaya ningrat dengan kekayaan berlipat lipat. Dan ketampanan di atas rata rata seperti majalah oppa Korea " mulutnya dengan lincah menjelaskan semuanya tanpa kesalahan sedikitpun.


Sedangkan Al yang mendengarnya hanya bisa melongo seperti orang ****. Berkali kali dia mengerjapkan matanya kaget bagaimana bisa laki laki berusia 8 tahun mempunyai tingkat kepedean paling tinggi.


Bahkan dari setiap perkataannya tak luput dari rasa sombongnya yang membuat gedek hati bagi pendengarnya. Dan Al sangat yakin jika ada audisi Mr.sombong di dunia, Dia akan menjadi kandidat pertama yang langsung menang tanpa undian atau rundingan.


ㅠㅠㅠㅠ


Semenjak kejadian itu mereka berdua menjadi teman, sudah 2 tahun lamanya tanpa disadari mereka menjadi teman layaknya farel dan rachel. Tapi disini tidak ada percikan api cinta kecuali rasa sombong dan pedenya yang membuat Al muak mendengarnya. Namun ketika disekolah Al lebih suka kumpul dengan teman perempuannya.


Terkadang Al lebih banyak menghabiskan masa kecilnya dengan teman sebayanya, bermain tebak-tebakan, masak-masakan, orang-orangan dan masih banyak lagi bahkan dia diam diam suka mandi di sungai tanpa sepengetahuan ibunya. Walau sudah berapa kali diomongi pun Al hanya menjawab iya dan mengulanginya lagi.


Rasanya lebih menyenangkan dengan mereka dari pada bersama rayen yang kadang suka bikin emosi, dimana sikap sombongnya melebihi tinggkat dewa selalu muncul kapan saja dan semaunya. Dan itu membuat Al males bersamanya.


Gadis dengan kunciran kudanya berlari senang menuju rumahnya, perutnya terus berkoar demo makan.


Langkah kakinya perlahan melambat pelan dan menghampiri ibunya yang sedang menonton tv diruang tengah.


" Masak apa hari ini Bu ? " Tanya Al duduk di samping ibunya mengabaikan suara perutnya yang terus merengek minta jatah makan.


" Kesukaan kamu sayur SOP sama sambal terasi "


Al tersenyum kemenangan, ibunya selalu saja memasak masakan kesukaannya. Tiap malam dia slalu ditanya mau makan apa dan besoknya jadi dibikin.


Al sangat bahagia, walau kadang dia suka dimarahi dan sedikit nakal ibunya selalu melakukan hal terbaik untuknya. Dia bukanlah dari keluarga kaya tetapi ibuhya mengajarkan dia hidup seadanya.


Al terlahir dari 5 bersaudara dan dia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, dia punya kakak perempuan dan itu kakak pertamanya dan ketiga semuanya laki laki. Dimana anak 1 2 3 sudah menikah dan mereka punya rumah yang tak jauh dari ibunya. Dan kakaknya yang keempat sedang mengait rejeki di ibu kota. Sekarang dirumahnya hanya tinggal bertiga yaitu ibu, bapak dan Al.


Al yang begitu lahap dengan makanannya, dihentikan oleh suara berat yang tiba tiba terdengar.


" Assalamu'alaikum " ucap laki laki paruh baya itu, dengan penampilan kusut dan lusuh bahkan rambut putih lebih mendominasi di kepalanya.


" Wa'alaikumussalam " balas mereka berbarengan.


" tumben sore banget pulangnya pak " titah bu Al sambil menyodorkan air putih di meja


" Pak, bawa sesuatu gak buat Al ? " Tanya Al dengan mata berbinar penuh harapan.


Walau pada akhirnya sia sia tanpa sepatah katapun dibalas, membuat matanya kini meredup seperti lilin kehilangan apinya.


Ayahnya lebih memilih diam dan meminum yang telah disiapkan ibunya.


Sebenernya ayahnya bukan tipikal pemarah ataupun berwatak keras, Al berpendapat bahwa ayahnya sudah tua dan seperti orang jaman dulu yang tidak tahu cara mengekspresikan rasa sayang pada anak anaknya.


Ayahnya terlalu menurut pada scenario Tuhan dan hidupnya sangat datar. Berangkat pagi pulang sore malam nntn tv rutinitas yang tidak pernah berubah selalu berputar dan mengikuti arah yang sudah ditentukan Tuhan tanpa merubahnya. Sekalipun berubah kadang ayahnya begadang jika ada siaran bola. Hanya itu tak lebih ataupun dikurangi.


masih belajar, kritik and saran sangat dibutuhkan disini


jangan lupa vote😊