Ara

Ara
A라 Dua



Di umur nya yang ke 12 dimana dia memasuki kelas IX SMP, dia mungkin terlalu muda diantara teman sebayanya. Tapi itulah faktanya, ketika dia berumur 5 tahun ibunya langsung memasukkan dia ke SD tanpa TK terlebih dahulu.


Keberuntungan sekaligus kelebihannya ialah otaknya cepat tanggap dalam sesuatu dan bodoh dalam hal tertentu. Bahasa Inggris contohnya.


Dia selalu alergi dengan mata pelajaran yang turun temurun ada UN itu. Anehnya dia selalu mendapat nilai hampir sempurna. Dan rahasianya adalah menghafal. Yah otaknya terlalu encer untuk menghafal. Maka dari itu walau dia terlalu muda diantara teman sebangkunya dia cukup terkenal akan kepandaiannya walau tak tau artinya tetapi dia tahu jawabannya.


Tengah semester bulan januari Sudah 1 bulan ibunya sakit2an bulak balik kedokter klinik hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Tetapi semenjak dibawa Al tidak pernah punya kesempatan untuk menjenguknya. Bapaknya selalu melarang keras dia untuk melihat kondisi ibunya.


Terlalu kecil, itulah jawaban bapak kepadanya saat Al selalu tanya alasannya kenapa ? Al hanya tahu ibunya menderita sakit darah tinggi tapi perlahan lahan kedua mata ibunya berubah menjadi Julang.


Itulah terakhir Al melihat kedua mata ibunya sekaligus tidak bisa berjalan karena mendadak lumpuh,Al yang terlalu polos untuk mengerti apa itu penyakit hanya bisa menangis Sebelum ibunya dibawa kerumah sakit.


Kakak laki laki Al yang ke 4 bernama setia, lalu dia menghampiri adik kecil kesayangannya yang kini duduk merenung diatas kasurnya dengan memeluk kedua lututnya, ia membiarkan rambut panjangnya menutup seluruh wajahnya. Membenamkan semua kesedihannya dan berharap segera larut dan berakhir semula


Al mengingat kasur dimana dia selalu tidur dengan ibunya. Yahh sampai saat ini dia masih tidur dengan ibunya, dia penakut, benar. Dia gundah, benar. Dia tidak bisa tidur sendiri. Karena saat sendiri seakan ada yang memperhatikannya apalagi lampunya mati. Oh no !


Dan sekarang dia harus belajar tidur sendiri, berat mau tak mau harus mau dengan lampu selalu menyala setiap tidurnya tanpa terkecuali titik.


" Kau sudah makan ? " Suara kecil dan lembut membuat lamunan Al menghilang dalam sekejap


" Ah ! Kak setia. Tadi ngomong apa ? " Tanya Al cuma memastikan apakah pendengarnya benar


" Kau sudah makan ? " Dengan sabar dia mengulangi pertanyaannya.


" Semuanya terasa pahit dimulut, aku rindu masakan ibu, aku ingin ada disampingnya, ak.. aku " lirih Al pelan.


Ada rasa rindu yang begitu menyakitkan dalam hati, dan menyesakkan dada. sangat sakit hanya sekedar menyenbut namanya saja membuat matamu memanas hingga dengan gagah berani air matanya terjun begitu saja, keluar tanpa seijinnya.


Disaat seperti ini dia merasa menjadi seorang kakak yang sangat payah, bagaimana tidak dia tahu jika adiknya sedang menangis dan dia bingung harus berbuat apa. Dia tidak tau bagaimana cara mengungkapkan perasaan sayang seorang kakak ke adik.


" Kau mau melihat ibu lebih menderita saat dia tau putri kecilnya tidak makan dengan baik "


" Aku ingin bertemu dengan ibu kak, please Al mohon.. Al ingin melihat ibu, Al ingin menjenguk ibu dan al ingin tahu bagaimana kabarnya ibu " pinta Al sangat memohon dan berusaha untuk menghapus air matanya


Melihat wajah pucat tertera jelas diwajah adiknya membuatnya merasa iba, setia terdiam sejenak sebelum dia mengeluarkan smrick liciknya. Ide liarnya langsung mencul.


" kau mau bertemu ibu kan ? "


" Iya " jawab Al secepat kilat


" Kalau begitu belikan aku gorengan mbak sar yah "


" Mbak sar yang janda kecentilan kurang belaian itu !! " Hardik Al kaget, bagaimana bisa kakaknya kecantol janda ganjen itu. Tidak habis pikir Al dengan kakaknya.


" Ak -


Al langsung memotong kalimat kakaknya


" Awass yah !! Jika kak setia Deket Deket janda itu. Aku sunat lagi nih " ancam Al tak main main kali ini


" Ciuh ! Yang ada juga kamu ju abang botakin rambut kamu jika deket Deket rayen. Masih kecil main cinta cintaan sekalian ajh main anak anakan. Lagian juga abang cuma nyuruh kamu beliin gaorengan mbak sar bukan ngatain cinta ke mbak sar ! " balasnya tak mau kalah dengan adiknya.


" Kenapa jadi bawa bawa rayen ! Mendengar namanya saja sudah bikin mual perut apalagi bertemu dengannya. Bisa muntah jeroan aku " cerca Al


Tanpa surat dan pesan, angin dan hujan tiba tiba suara tak asing menyambar kilat tanpa permisi


Ekhhmm


" Pantas saja tadi aku makan pizza mahal lidahku selalu kegigit, ternyata kamu al yang ngomongin aku. Lanjutin aja ko gak papa, ikhlas Itu malah mengurangi dosaku dan menambah dosamu "


" Kenapa kau bisa ada disini ? " Tanya Al tanpa basa basi


" Rumahmu terlalu rapuh untuk ku ketuk. Aku takut jika mengetuknya langsung retak dan rubuh semua bangunan rumahmu. Bisa bisa.. kau jadi menginap diistana megahh ku. Oh tidak ! Itu tidak boleh terjadi " jelasnya penuh kekhawatiran membayangkan hal itu akan terjadi


" Astaghfirullah ! Bagaimana bisa orang sepertimu lahir di dunia ini " picik Al yang emosinya kini mulai naik pitam


Al berfikir sejenak, jika dia terus terusan berurusan dengannya bisa bisa membuatnya jadi penyakit darah tinggi karena kebanyakan emosi. Al tidak bisa membayangkan hidupnya akan mengenaskan jika masih muda, cewe kena darah tinggi ! Big no.


Dia pernah berusaha untuk sabar menghadapi sikapnya ehh lama lama sombongnya menjadi tidak tahu diri.


Kini Al berusaha meredam amarahnya, dan beralih menatap lekat mata kakaknya.


" Kak setia ? " Lirih Al dengan wajah memelas, berharap kakaknya mengerti apa yang dimaksudkan adiknya kali ini.


" Jangan lupa makan, kalo nggak ! Abang gak akan mengajakmu bertemu ibu Minggu depan " ujarnya sebelum melangkah pergi dari kamar adiknya.


Entah itu sebuah ancaman atau saran, dia tidak tahu. Tapi kata terakhir yang diucapkan kak setia barusan mampu membuat dunianya cerah kembali secerah pagi hari.


" Yang ada juga loh yang pelit, makan gak gak pernah bagi bagi ! "


" Sari roti roti sari roti, kau tau kan merk ini ? Mahal. Aku tidak akan pernah berbagi sesuatu yang mahal untukmu "


" Lama lama gue cabik juga yah mulut loh " cerca Al semakin geram mendengakan ocehan pedesnya terasa sambalado. Apalagi dengan muka polosnya seakan tidak merasa berdosa terselip sedikitpun. Ciuh


" Sesadis itu kah hidup loh " ujar rayen cukup prihatin


" Gue rukyahin juga loh lama lama " ketus Al semakin geram dibuatnya.


" Kamu udah mandi "


Rayen berusaha mengubah alur topiknya disaat ia merasa suasana disini berubah panas.


Entah itu dasar kamarnya tidak ada kipas, AC atau pewangi semacamnya mungkin juga pemilik kamarnya yang kurang mengaji. membuatnya berpikir sejenak bahwa kamar ini tidak layak huni.


" Aku bukan soal UTS yang harus selalu jawab benar dan jujur "


Rayen mangut mangut mengerti.


" Gue tuh bingung sama Abang setia. Dia manggil dirinya Abang kenapa loh bisa manggilnya kak setia. Kasihan nih sih pembacanya dibikin linglung sama kamu "


" Aku jelasin yah jema'ahhh oohhh jema'ah, kak itu panggilan kesayangan aku. Sama kaya kak setia manggil aku uju, uju itu panggilan kesayangan kak setia ke adik tercintanya, paham semua ? " Jelas Al secara pelan, rinci dan detail sedangkan rayen mangut mangutkan kepalanya lagi seperti anak kecil.


" Nih " tiba tiba rayen memberikannya sebuah permen kiss 1 kepada Al temannya.


" Apa ? " tanya Al ragu, dia hanya memastikan apa ini benar untuknya atau sekedar bercanda.


" Buat kamu, aku denger katanya kamu belum makan jadi aku kasih ini untukmu secara cuma cuma tanpa pungut biaya. Walau sebenernya terpaksa karena ini murah 500 dapet tiga "


" Demi Patrik berubah kotak BOLEH AKU TERIAK !!"


ㅠㅠㅠㅠ


Malam hari, Al main kerumah temannya siapa lagi jika buka rayen. Tersirat sesuatu jelas dimukanya. Namun kegundahan jelas sekali menyelimutinya.


Dia baru ingat jika ada pr yang harus dikerjakan, Selama ini pikirannya terlalu sibuk tentang ibunya dan hampir melupakan segalanya.


Ketika Sampai didepan rumahnya, Al langsung menyelonong masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Ia melakukannya semata mata mengikuti rayen yang seenak jidatnya keluar masuk rumahnya tanpa pungutan biaya. WC umum aja keluar masuk bayar 2000 walau hanya untuk berkaca.


" Rayen, bantuin aku ngerjain pr bahasa Inggris yah ? " Nada Al berubah lembut dan mulai menghampirinya yang sedang asik bermain game


" Kalo ada sesuatu aja deketin, dasar temen musiman ! " Cibir rayen menjauh kan layar ponsel dari matanya untuk sementara.


" Sekarang tuh pada mainstream. Tiba tiba datang minta tolong kalo gak perlu lagi yah dibuang "


" Najis ! "


" Buruan ajarin, jangan ngegrutu ajh tuh mulut, dosa ! " Sentak Al sambil menarik buku dalam tasnya


" Waktuku mahal, kau harus membayar per menitnya " ucapnya dengan wajah sok mahal.


Tanpa sadar all yang melihatnya, membuatnya takjub sekaligus mengagumi ketampanan yang hampir sempurna bak titisan asli dewa, yang tak kalah tampannya dengan artis Korea.


Ketampanannya semakin bertambah seusianya, dan Al baru menyadarinya. Dan mengingat bagaimana rayen disekolah yang dikerumi banyak kaum hawa.


" Gak usah sampe ngiler juga kali lihatnya " ucap rayen menyadarkan Al yang sedari tadi diam memperhatikannya.


" Siapa yang ngiler ! Bu.. Buruan ajarin " ujar Al dengan gelagat salah tingkahnya yang terlihat jelas sekali dibaca oleh rayen. Bagaimana tidak, mereka sudah berteman lama mustahil jika mereka tidak saling tahu kebiasaan masing-masing temannya.


Sedangkan Rayen yang melihatnya hanya tersenyum tipis.


" Kau harus membayarnya " ujar rayen mengingatkan


" Kalo udah sukses "


" 3 kali lipat yah "


" Apa kau ingin mengkorupsi temenmu sendiri "


" Ahh.. ternyata kau sudah membaca pikiranku "


" Maksudmu " tanya Al mencoba memahami dan mencerna apa arti dari kata tersebut.


" Maksudku kau mau membelikan ku gorengan mbak sar ? "