
"Hmm, seperti dia akan sadar sebentar
lagi."
"Ya, ya, aku tidak sabar ingin berbicara
dengannya."
[H-huh?]
Aku mendengar suara-suara orang yang tidak kukenal,
apa itu suara dokter?
Tapi seharusnya aku sudah mati disana... Apa
yang sebenarnya terjadi!?
K-kalo aku berhasil selamat, Dia juga
harusnya tidak apa-apa...
"Hei, sampai berapa lama kau akan tertidur
disana?"
Lagi... Suara itu lagi, aku seperti
diperhatikan oleh beberapa orang?
Tapi aku tidak tau siapa mereka, bisa jadi
mereka orang-orang itu!
Oke aku akan perlahan-lahan bangkit...
"Langit-langit yang tidak kukenal..."
Ohh aku mengucapkannya! Salah satu dari
beberapa kata yang ingin aku ucapkan!
"Hei, bukankah dia sedikit uhm..."
"Yah kesampingkan soal itu dulu"
Saat aku berpikir begitu, aku menyadari,
ada dua orang yang tidak kukenal didepan ku.
"Selamat Pagi. Izumi-kun. Bagaimana
perasaanmu?"
"Nyahalo★~ Izumi-kun★~"
"H-halo?"
T-tunggu sebentar! Apa-apa ini? Dan siapa
mereka? Bagaimana mereka tau nama ku?
Dan apa-apaan sapaan kedua itu? Ahh perutku
sakit!
"Hmm, boleh ku tau ini dimana?
Bukankah aku sudah mati?"
Aku terkena tembakan di dada dan jantung,
seharusnya aku mati... Tapi ini dimana?
Apakah aku sekarang sedang bermimpi? Tapi
sebenarnya aku terbaring di rumah sakit dengan berbagai macam alat menempel
padaku?
Atau ini adalah surga? Tapi tidak mungkin
begitu... Dilihat dari tempat ini. Ini hanya sebuah kuil sederhana.
Atau aku diculik alien!? Dan yang didepan
ku ini adalah alien!?
Mari berharap ini bukan yang pertama dan
yang Terakhir... Tapi kalo ini surga, bukankah ini terlalu sederhana?
"Hei, menyebut kami alien. Itu sungguh
tidak sopan loh~"
"Hahaha. Bagaimanapun kami tau kenapa
kau bingung."
Aneh! Sungguh aneh! Mereka bisa mendengar
apa yang aku pikirkan...
"Ahahaha, jadi dimana aku ini? Apakah
ini surga?"
Aku bertanya kepada mereka berdua sambil
melihat sekeliling.
"Yah, ini bukan surga. Ini lebih seperti
ruang pribadi kami."
"Ya, ya. Dan kami juga bukan alien~"
"Mungkin dari sudut pandang kalian
para manusia. Kalian biasa menyebut kami itu dewa atau semacamnya."
"Itu bener sekali~ Ah, dan kamu bisa
memanggilku Thea. Aku adalah Dewi Cinta desu.~"
"Dan aku juga belum memperkenalkan
diri, aku adalah Uranus. Aku Dewa Dunia."
*Uhuk* Setelah aku tenang\, aku membetulkan
posisi dudukku dan menghadap kepada dua orang, atau haruskah aku menyebutnya
dewa? Baik apapun itu...
"Umm, kenapa aku bisa ada disini Dewa-sama?
Bukankah seharusnya aku sudah mati?"
Aku menanyakan kepada dewa ini kenapa aku berakhir
disini.
"Kau tau, kamu meninggal itu karena
kesalah kami..."
"Ya, benar sekali... Penjahat yang kau
liat tadi. Itu sebenarnya adalah bawahan kami. Ah kami sebenarnya tidak
memiliki dendam apapun terhadap kalian jadi tidak perlu khawatir, ini murni kelalaian
kami. Jadi tolong maafkan kami."
"Tolong maafkan kami."
Ehh? Apa ini? Aku tidak bisa tidak terkejut
dengan ini... Dan untuk kedua dewa ini menundukkan kepalanya kepadaku dan
meminta maaf begini... Aku terkejut.
"Hmm, angkat kepala kalian. Aku
sungguh tidak marah atau apa pun, hanya saja aku sedikit terkejut... Mendengar semua
ini."
Adapun kenapa aku ada situasi seperti ini...
◇
Kembali beberapa waktu sebelum Izumi berhadapan
dengan dewa.
"Bagaimana? Apakah ini cocok dengan
ku? I-kun?"
I-kun. Itu adalah diri ku, atau lebih tepatnya
Amakawa Izumi. Itu adalah nama ku.
Gadis yang memanggil ku I-kun. Adalah
Yukihana Ayase. Dia adalah tunangan ku.
Dan sebenarnya kami sekarang sedang mencoba
beberapa pakaian untuk pesta pernikahan kami.
"Ya! Kamu terlihat cantik menggunakan itu
Ayase-chan."
"Eheheh, mendengar itu dari mu, aku jadi
malu. Baik, setelah ini bisakah kita makan malam dahulu sebelum kembali?"
"Tidak apa-apa, aku kosong sampai
besok Ayase-chan~"
Setelah kami selesai melakukan beberapa
percobaan.
Kami berjalan di jalan mencari sebuah
restoran... Tapi tiba-tiba suasana dijalan itu menjadi tegang.
Ada beberapa orang berlari, dan berteriak mengisyaratkan
untuk pergi menjauh.
Karena aku menyadari ketidakberesan ini, aku
berinisiatif untuk pergi mejauh.
Tapi sebelum kami sempat bergerak, aku
melihat seseorang, dengan Rifle ditangannya.
Sialan, seharusnya aku membawa katana ku,
disaat-saat begini!
Yah, aku tidak mau sombong tapi aku sudah
belajar beberapa ilmu pedang didojo... Tapi aku sekarang tidak membawa katana ku.
Apa yang harus kulakukan, disaat aku berpikir begitu.
Mata kami bertemu dengan sekelompok orang itu,
dan aku reflek melindungi Ayase-chan, dari mereka... Dan ketika aku sadar.
*Ratta tatta tat*
Eh? A-aku baru saja tertembak?
*Uhuk*
"I-kun!? Hei I-kun!!!"
Aku mendengar teriakan Ayase-chan, tapi itu
perlahan memudar. Pasti aku tertembak di bagian yang vital.
"A-ayase-chan, jangan menangis. Aku
baik-baik *uhuk* saja."
Aku meraih pipinya yang berlinang air mata,
dan mengusap nya.
Pandangan ku mulai kabur dan tak lama visi
ku mulai menjadi semakin sempit.
Aku bisa melihat Ayase-chan mendekati
mereka dengan sebuah pisau tapi agak panjang? Hah? Tunggu sebentar!? dari mana
dia dapat benda seperti itu!?
Ah kesadaran ku mulai menipis, dan ini menjadi
sangat dingin disini... Aku mendengar teriakkan Ayase-chan, tapi itu semakin
jauh.. sigh. Apakah aku akan mati disini? Setidaknya! Biarkan kami menikah dulu
sialan! Sigh tapi apa boleh buat, sepertinya aku akan mati disini.
Tapi setidaknya biarkan Ayase-chan selamat...
◇ POV YUKIHANA AYASE ◇
"Sialan kau! Berani-berani nya kau melakukan
ini kepada I-kun!"
"Oi oi oi, apa-apa ini nona muda? Apa
kau ingin kita menghibur mu disana?"
"Gyahahaa. Kami tidak keberatan untuk menghibur
mu ditempat tidur nona~"
"Aku tidak akan memaafkan kalian!
Tidak akan pernah. mati!"
Udara di sekitar Yukihana Ayase berubah
secara perlahan namun pasti.
Tekanan yang dia buat sedikit membuat takut
para berandalan tersebut.
"Oi, bukankah ini gak bagus bro?"
"Tch, sungguh sangat disayangkan kita
harus membunuh nya."
"Ya, benar dia lumayan cantik."
Pandangan mesum mereka semakin tidak menyenangkan..
dan itu mengganggu Ayase.
Orang-orang disekitar nya, berusaha menghubungi
polisi dan pihak keamanan lainnya untuk melaporkan kejadian ini.
"Brengsek! Apa yang kau lihat ha?
Hanya I-kun yang pantas melihat ku dengan pandangan itu!"
Muak dengan semua ini. Ayase berusaha maju dan
menusuk mereka. Tapi sungguh sangat amat disayang kan.
Mereka semua menggunakan senjata api.
*Ratta tatta tat*
Suara memuakkan terdengar sekali lagi. Semua
orang yang panik berteriak histeris.
Tapi Ayase tidak menyerah untuk membalas
dendam kepada mereka.
"Satu! Setidaknya satu dari mereka!
Aku ingin membunuhnya! Argh!!"
Dengan teriakan nya, dia berhasil bertahan.
Dan dia berlari cepat kearah satu orang itu.
Beberapa detik kemudian.
*Slash* *spark* *cling*
Dia berhasil menusuk salah satu berandalan
tersebut.
Para berandalan lainnya terkejut akan hal
itu dan hanya berdiri mematung memandang Ayase.
Ayase mengambil kesempatan ini untuk menusuknya
lebih jauh.
Dan berandalan itu mati seketika, Karna ditusuk
tepat di jantung nya.
Berandalan lain tersadar dan melihat
rekannya yang mati.
Mereka melihat ke arah Ayase dan.
"Kurang ajar kau!"
"Sialan kau ******!"
"****** kubunuh kau!"
*Ratta tatta tat* *dor dor*
Suara peluru bergema di seluruh tempat.
Dan Ayase yang sedari tadi memaksakan
tubuhnya, tidak bisa bertahan lebih jauh.
Dan dia meninggal disana juga, disamping mayat
Izumi.