About Gladis

About Gladis
#4



"Jika aku sudah mengatakan itu adalah milikku, maka tak ada barangsiapapun yang bisa memilikinya selain aku, walau sudah rusak sekalipun"


-


-


-


-Senja Aquillino


Pria tinggi yang mempunyai bola mata ungu dan sedikit sipit, badannya tegap, otot-otot ditubuhnya terlihat jelas di balik kaos putih itu.


Aren Aquillino Nama pria itu, Aren dalam bahasa Denmark berarti Elang sedangkan nama keluarganya Aquillino sama berarti Elang juga namun dalam bahasa Latin, Spanyol.


Seperti namanya, Aren adalah orang yang bijaksana, dewasa dan cerdas, mata ungu nya selalu bisa menunjukkan tatapan tajam.


Keluarga Aquillino pun sama, setiap dari mereka punya ketegasan dan tatapan Elang yang tajam.


Aren membuka suatu ruangan, ia yakin wanita yang ada di sana pasti sudah bangun dari putri tidurnya.


'Ceklek' Aren membuka pintu ruangan itu. Tak ada sosok manusia di sana, kemana gadis itu?.


Aren masuk terdengar suara kran dari kamar mandi, 'mungkin wanita itu sedang disana', lalu pintu kamar mandi terbuka, keluar sesosok wanita cantik dari sana.


Gladis Leineula, ia terkejut saat mendapati pria tengah menatap aneh padanya.


Lalu..


"AAAAAAAAA" siapa kamu, Gladis menutup matanya, ia malu, saat ini ia sedang mengenakan baju yang basah sehingga bentuk badannya tercetak, karena tadi di kamar mandi ia sedang ingin berendam menggunakan baju, tapi ia lupa kalau sedang tidak dirumah nya, dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengkhawatirkan pakainnya nanti.


"Cih... baju mu ada didalam lemari itu, kenakan saja" lalu Aren keluar dari ruangan itu, kalau saja wanita ini tidak sedang mengandung anaknya, ia tidak sudi untuk membawa wanita itu kemari.


'Penculiknya baik hati dan tampan ternyata' batin Gladis.


🌸🌸🌸


Setelah berpakain rapi, kini Gladis sedang duduk dibalkon, yang ada difikirannya apakah orangtuanya akan mencari Gladis atau mungkin mereka tidak menyadari kalau Gladis sedang tidak dirumah.


Lalu ia terfikir dengan Rama, juga tempatnya saat ini, mana mungkin ada penculik baik hati. Seharusnya ia sedang merencanakan untuk kabur sekarang.


Gladis hendak menghubungi Rama, dan sekali lagi ia baru ingat. Hp nya tidak ada disini!.


Gladis berfikir apa dirinya harus kabur melalui balkon atau mengendap-endap keluar lewat pintu.


"Balkon atau pintu, balkon atau pintu" Gladis menunjukan jari telunjuknya kearah balkon dan pintu. Lalu ia terfikir untuk membaca mantra rahasianya.


"Tang... ting... tung.. kepala buntung, pilih yang mana yang bikin untung, nah aku lewat balkon aja deh". Ucap Gladis setelah menunjuk ke atah balkon dan pintu.


Gladis beranjak dari posisinya menuju balkon. " Gimana cara turunnya ya".


Lalu Gladis teringat adegan di film-film, tentang wanita yang mengikat kain demi kain untuk turun dari lantai atas.


Gladis—wanita itu mungkin akan mencoba nya.


Ia melihat selimut, alas kasur, lalu Gladis memeriksa lemari, beberapa baju ada disana.


Gladis mulai mengikat satu persatu kain-kain itu.


Setelah dirasa panjang, Gladis mengikat ujung kain dibalkon. Gladis mencoba turun melewati kain-kain itu, saat kakinya akan sampai ketanah, kain tadi perlahan seperti naik.


'Apa yang terjadi?'.


Saat sampai diatas, terlihat laki-laki tampan yang tadi pagi Gladis lihat.


"Mau ngapain kamu?" katanya.


"Eungh enggak mau ngapa-ngapain" jawab Gladis.


Lalu pria itu diam, dan berkata "Jangan coba-coba kabur tikus kecil" ucapnya sambil menunjuk kening Gladis dengan sedikit gerakan mendorong.


Gladis hanya diam.


*Bersambung