
bunga matahari
Aku ini bunga matahari, hanya akan mengikut sang surya nya, bila ia terbit maka aku akan menengadah menatap nya, namun bila ia terbenam aku akan menunduk patuh padanya, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti sang surya.
🌼🌼🌼
\-
\-
\-
\-
"Hiks...hiksss..." seorang remaja menangis sesenggukan di bawah meja belajar nya, gadis ralat wanita berbadan dua itu tengah menangisi nasib sial nya, setelah di perkosa dia sekarang harus mendapat buah dari perilaku keji itu, dia hamil dan bodoh nya dia tidak tau siapa yang telah menghamilinya, dia sedang dalam keadaan tidak sadar saat itu, entah manusia laknat mana yang telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman nya, sehingga ia bisa berada di posisi paling bawah saat ini, dia down.
Gladis satu nama beribu kejadian di balik nama cantik itu, ibu nya memberikan nama gladis karena itu adalah nama nenek nya, ibunya mau Gladis akan seperti neneknya. Wanita tegar, setia dan bijaksana, walaupun di tinggal pergi berperang oleh kakek nya, neneknya tetap setia menunggu kakeknya sambil merawat Gracia, ibunya. Gladis tetap menunggu kepulangan suami nya selama bertahun-tahun, sampai datang lah kabar bahwa suami nya telah meninggal dunia saat berperang membela pemerintah di atas kaum pemberontak, Gladis ibu Gracia itu tetap tabah dan memilih untuk setia sampai akhir hayat nya, Gracia sangat mengagumi ibunya, ibunya wanita tegar, ia sedikit pun tidak pernah memperlihatkan kesedihan nya di depan Gracia, ia menafkahi Gracia kecil dengan kerja keras nya, dia selalu bijaksana dalam mengambil sebuah tindakan, oleh karena itu Gracia ingin kelak anaknya bisa seperti ibunya, wanita tegar, setia dan bijaksana.
🐣🐣🐣
"Hey..... Gladis keluar kamu, jangan sembunyi kamu di dalam kamar, setelah apa yang kamu lakukan, kamu mempermalukan keluarga kita" Sekarang mama tiri Gladis mengetuk-ngetuk pintu kamar Gladis, ah tidak dia bukan sedang mengetuk sekarang, lebih tepat nya menggedor!.
Gladis bangkit dari tempat nya, ia berjalan pelan menghampiri pintu dan membukakan untuk Nada, mama tirinya.
"Ceklek" pintu terbuka, dan nampak lah seorang wanita paruh baya tengah berkacak pinggang sambil menatap jijik ke arah nya.
Dengan kasar Nada, menarik kerah baju Gladis dan menyeret nya ke ruang keluarga, lalu menghempaskan gadis itu kelantai saat sampai di sana.
Gladis mendongakkan kepala nya, memperlihatkan betapa memprihatinkan wajah nya sekarang, mata sembab, hidung merah, dan bekas aliran air mata yang masih terlihat di wajah cantiknya.
Sekarang giliran pria paruh baya yang berdiri menatap Gladis, lalu di layangkannya sebuah tamparan "Plakkkk" bunyi nya nyaring menggema ke seluruh ruangan, bisa kalian bayangkan betapa keras nya tamparan itu.
Gladis tersungkur dari tempat nya, ia sekarang tengah meraba bekas tamparan ayah nya, perih... kini matanya turut menumpahkan aliran deras air mata, "dari aku lahir bahkan aku tak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari ayah, tapi sekarang ia menampar ku" batin Gladis.
Arya sudah tak sanggup melihat putrinya saat ini, ia pun memilih duduk di sofa, menyeruput kopi nya lalu meninggakkan ruang keluarga tersebut, yang tinggal saat ini adalah Dona dan Nada mereka melihat Gladis seperti melihat mangsa yang siap di terkam pemangsa nya.
"Dona balik kamu ke kamar kamu, dan tutup pintu kamar kamu rapat-rapat, ada yang ingin mama bicarakan dengan ******* ini" suara Nada kini menajam, ia bahkan bertindak semena-mena dan melupakan siapa sebenarnya BOSS dalam kepemilikan aset keluarga.
"Ssssshhhttt" Gladis meringis pelan saat Dona dengan sengaja melakukan itu.
"Uppsss maap keinjek ya?, soalnya ellu sih sama kayak keset, bagus nya di injek-injek" Suara Dona seakan mencibir Gladis.
Gladis hanya menatap Dona sekilas, setelah itu dia menunduk, meratapi betapa mirisnya nasib ia saat ini.
Setelah itu Dona pergi ke kamar nya.
Kini yang tersisa di ruang keluarga itu hanya Gladis dan sang mama tiri, Nada.
Nada melangkahkan kaki nya pelan memutari Gladis.
Sesaat kemudian Nada menarik kerah baju Gladis, "katakan padaku, siapa laki-laki beruntung yang telah menghamilimu".
Gladis hanya menggeleng pelan, jangankan orang nya, ia bahkan tidak tau bagaimana rupa atau nama orang yang telah menghamilinya.
"Baiklah jika kau tidak memberitahukan nya padaku, maka aku terpaksa menikahkan mu dengan orang pilihan ku" ucap Nada di selingi seringai jahat pada bibir nya.
"Aa..ku.. hiks..hikss.. masih mau sekolah, aaa..kuuu gak mau nikah dengan siapa pun saa..saa..at.. ini"
suara serak Gladis terdengar begitu pilu, siapapun yang mendengar nya pasti akan luluh, tapi tidak untuk seorang Nada, hati nya benar-benar telah hitam untuk memiliki rasa belas kasihan.
"Owh... bagus kamu gak mau nikah ya..." kini Nada berjalan pelan memutari Gladis yang masih terduduk di lantai ruang keluarga, sambil sesekali ia membersihkan kotoran di sela-sela kuku jari nya, dan menghembus-hembus kan nafas nya ke kuku tersebut, padahal kuku nya sama sekali tidak ada kotoran.
Sesaat kemudian Nada mendongak kan kepala Gladis, ia menarik rambut Gladis, "lalu kamu mau kami menanggung serta aib mu di sini?" ucap nya, sesaat kemudian Nada tertawa miris, "Seandainya Gracia masih hidup ia pasti akan sangat menyesal telah mempunyai anak kotor seperti kamu".
Perasaan Gladis tertohok, ia teringat, ibunya pasti akan benar-benar sedih jika mengetahui hal ini, untung saja ibunya telah berada di sisi tuhan, pasti ibunya tau apa yang sebenarnya terjadi pada Gladis.
"Denger ya biang masalah, kalau kamu gak bisa membawa laki-laki beruntung yang telah menghamilimu dalam waktu 1 minggu, maka mau tidak mau kamu akan ku nikahkan dengan orang pilihan ku" ucap Nada, sebenarnya suda lama Nada berencana menjodohkan Gladis dengan orang tersebut, karena kebetulan perusahaan Arya dalam masa kritis saat ini, pernikahan mereka akan membuat kondisi perusahaan kembali stabil. Tapi ia dulu takut Gladis tak mau dan tak bisa memaksa nya untuk harus mau menikah dengan orang itu, karena Arya pasti akan melindungi Gladis. Tetapi dengan adanya berita kehamilan Gladis akan mempermudah rencannya itu.
Nada meninggalkan Gladis, ia berjalan penuh kemenangan, "siapa yang akan datang untuk bertanggung jawab, ia saja tidak tau ayah dari anak iblis yang berada di dalam rahim nya" batin Nada.
Gladis termenung oleh kata-kata yang di ucapkan Nada tadi, apa yang harus ia lakukan sekarang, masa depan nya sudah hancur di depan mata.
🐣🐣🐣
Nantikan kelanjutan episode dari "about gladis",
ৡbersambungৡ