About Gladis

About Gladis
#2



***Bintang


Aku ini seperti Bintang, jika di lihat seksama aku ini sangat indah dan selalu bersinar terang, bahkan aku pun membagikan cahaya ku kepada bulan, tapi sayang, seindah-indah nya aku, aku tetap kecil di mata mereka untuk melihat keindahan ku***.


 


\>♥< \>♥< \>♥<


 


Gladis, wanita itu kembali mengistirahatkan badannya setelah penyiksaan lahir dan batin tadi di laksanakan anggota keluarga tiri dan kandung- ayah nya sendiri.


Ia menatap ke arah langit-langit kamar nya, di sana ia melihat masa depan yang indah dahulu, saat masih banyak lampu-lampu Bintang yang ia tempelkan, namun sekarang walaupun lampu-lampu itu menghiasi kamar nya, pandangan Gladis terhadap masa depan yang indah tidak ada lagi.


Hanya kesuraman yang ia lihat.


Perlahan Gladis memejamkan mata nya, berharap rasa kantuk menyerang dan ia bisa tidur nyenyak malam ini.


***


Kicauan burung tak lagi merdu seperti biasanya, Gladis perlahan membuka matanya 'perih' tak mau memaksakan diri, Gladis berjalan ke arah kamar mandi sembari meraba-raba jalan nya, saat sampai di sana ia menghidupkan shower dan membiarkan dirinya di basahi oleh air.


Perlahan Gladis mulai terduduk di lantai kamar mandi, ia menikmati setiap rasa yang merasuk ke dalam tubuh nya.


Perlahan Gladis membuka matanya, ia melihat keadaan tubuh nya saat ini, perut yang sedikit buncit, walau usia kandungan mya baru menginjak 3 Bulan 2 minggu.


Perlahan ia benarkan posisi nya menjadi duduk sambil memegang kedua kaki.


Gladis menunduk kan kepala nya ke arah lipatan tangan, dan menyandarkan kepalanya di sana.


Beberapa menit ia lalu melihat ke arah baju nya, ada jarum pentul disana, tak tau apa yang ada di fikiran gadis itu.


Gladis mulai menggoreskan sisi tumpul dari jarum pentul ke arah tangan nya, ia menekan saat menggoreskan jarum itu, tak terasa setelah melakukan itu darah segar mengalir dari tangan nya, tak puas dengan satu goresan di tangan, ia mulai menggores-goreskan jarum tadi ke semua tubuhnya, termasuk paha, betis, tangan, dan hampir saja ia menggoreskan jarum tadi ke arah perut dan wajah nya.


Sekarang ia melihat hasil dari karya nya, goresan-goresan tadi mengeluarkan darah segar yang begitu banyak, gladis menutup saluran air yang ada di dekat kaki nya, agar air yang tercampur darah tidak bisa keluar lewat sana.


Gladis melihat ke arah air yang bergenangan itu, lalu muncul seringai di bibirnya, dan ia mulai tertawa keras sambil menjambak rambut nya, ia berteriak dan tertawa sekeras-keras nya.


Lalu sejenak ia terdiam, 'bolehkan aku egois', Gladis pun mau bahagia, seperti kebanyakan gadis-gadis dan wanita-wanita lainnya, tapi sekarang?. Hah sudah lah bahagia atau tidak nya Gladis akan melewatinya mau tidak mau.


Gladis bangkit dari posisi nya, ia membuka penutup saluran air tadi, dan membiarkan air yang berwarna merah itu mengalir ke sana. Gladis melirik ke arah tubuh nya, luka-luka yang telah ia ukir tadi pucat, ada yang sudah tidak mengeluarkan darah, dan ada sebagian yang masih berdarah tetapi hanya sedikit.


Gladis mengambil peralatan mandi nya, ia lepaskan semua baju nya, hingga tak sehelai pun tersisa di tubuh nya.


Perlahan galdis mengambil sabun dan menggosokkan ke tubuh nya, 'shttt' perih terasa kentara di tubuh nya, ia tidak peduli dan melanjutkan aktifitas mandi nya.


Selesai mandi dan berpakaian, Gladis melihat sekeliling kamar nya, sangat berantakan, tak ada niat ia membereskan kamar nya, perlahan ia langkahkan kaki nya menuju balkon kamar.


Gladis mengambil nafas panjang lalu melepaskan nafas nya dengan kasar.


Ia menatap langit pagi yang cerah, sayang tak secerah hati nya, lalu pandangan nya beralih ke bawah, sangat tinggi, jika di kira-kira mungkin jarak dari bawah ke atas ada 12 meter, Gladis memanjat pagar balkon nya. Bersiap akan melompat, Gladis menutup matanya, satu langkah lagi Gladis akan melompat dari balkon kamar tapi ia hentikan, ia lirik perut nya, 'anak ini tidak bersalah' Gladis teringat akan sesuatu.


Gladis: ram, masalah perasaan lo ke gue, lo serius?.


Rama: eh, Gladis.. iya gue sayang sama lo, gue juga serius sama lo, jadi lo nerima gue?.


Gladis: iya, tapi ada satu syarat nya, lo harus nikah sama gue, dalam 3 hari ke depan, ortu lo harus ngelamar gue, gimana lo setuju?.


Rama: eh,, iya deh gue usahain.


Gladis melepas kasar nafas nya, calon nya sudah ada, tapi bagaimana kalau nanti Rama tau dirinya hamil dengan orang lain, terus Rama tidak mau menikah dengan nya, apa Gladis harus memberitahukan keadaan nya, atau membiarkan Rama dengan ketidaktahuan nya.


"Gue harus ngasi tau Rama yang sebenarnya", gumam Gladis sambil melirik handphone nya.


Gladis: ram... bisa ketemu hari ini?.


Rama: iya bisa.


Gladis: nanti aku kirim lokasi nya.


Gladis, sekarang harus memikirkan bagaimana cara nya dia keluar dari rumah ini.


Setelah beberapa kali menimbang-nimbang, akhirnya Gladis memutuakan untuk memakai jaket dan celana yang panjang, untuk menutupi luka-luka di tubuh nya.


Gladis, membuka pelan pintu kamar nya.


'kriett'


Gladis melihat ke kiri dan ke kanan, setelah di rasa tidak ada orang, Gladis berjalan dengan menjinjitkan kakinya sambil mengendap-endap.


'Tidak ada orang'


Tumben rumah nya kosong, kemana semua orang?


Gladis, menuruni satu persatu tangga rumah nya, lalu membuka pintu keluar rumah.


'Deg!!'


Gladis melihat, ayah, ibu tiri, dan adik tirinya sedang mengemas barang, dilihat dari barang-barang yang mereka bawa porsi nya banyak.


'Apa mereka akan pergi jauh?, tapi kenapa tidak mengatakan nya padaku?' batin Gladis.


Gladis hanya menatap mereka dari depan pintu, seperti nya mereka tidak menyadari ada Gladis yang menatap sendu ke arah mereka.


Satu pijakan gas dari supir membuat mobil yang di tumpangi ayah, ibu tiri, dan adik tirinya, melenggang menjauh.


Gladis terdiam sejenak, lalu ia melirik ke arah meja di ruang tamu, seperti ada surat. Lalu Gladis mendekat, dan mengambil kertas itu.


*Anak sial, saya, ayah dan anakku pergi ke padang untuk memberitahukan keadaan kamu ke nenek mu, liat apa rekasi mereka nanti saat mengetahui cucu kesayangan mereka hamil di luar nikah, hahahahaha, tidak itu hanya rencana saya, kalau rencana ayah tercintamu sih hanya untuk liburan saja, kamu gak di ajak, kenapa?, karena ayah mu jijik dengan sampah seperti mu.


~bersambung*