
“Arwah boneka kayu rupanya.” ucap Biksu Besar Soo Bo Ri ketika melihat laporan penangkapan roh jahat yang dibawa Oh Gong dengan penuh percaya diri. “Bagaimana dengan istrinya?”+
Oh Gong menganga. “Dia punya istri?”
“Jelas, dia ini memakai baju pengantin. Mereka sepasang.” Biksu Besar menegaskan.
“Kalau begitu, akan kucari dan kuurus secepatnya.” kata Oh Gong, sombong. “Dengan demikian, tugas terakhirku di dunia manusia SELESAI dengan sangat baik.”
“Sebenarnya, kembalinya kau ke surga belum diputuskan.” Biksu Besar membuat Oh Gong kesal. “Kerjamu bagus, tapi laporan dari makhluk-makhluk sekitarmu menunjukan bahwa reputasimu itu buruk.”
Oh Gong naik darah. “Auh, laporan pula. Siapa sih yang membuat laporan tentangku, hah? Siapa?!”
“Kenapa? Mau balas dendam?”
Oh Gong menahan amarahnya dalam genggaman tangan. “Aku ingin mendengar kritikan, supaya aku bisa berkaca dan memperbaiki diri.” katanya, bohong.
Bukannya menyebut nama si pelapor, Biksu Besar malah menyebutkan isi laporan: “Katanya, kau mematahkan dua jembatan layang di Ssangmun-dong saat memberantas arwah penyebab kecelakaan mobil. Kau tidak boleh membuat kerusakan di dunia manusia.”
Kepalan tangan Oh Gong sudah tak sanggup menampung kemarahannya. Oh Gong membuang kemarahan itu lewat hembusan napas dan peregangan punggung. Oh Gong bersandar santai ke punggung kursi dan protes, “Aku sudah SUSAH PAYAH menangkap arwah sialan itu, tapi— apa balasannya?” Oh Gong merapatkan gigi.
Biksu Besar menanggapi, “Bagaimanapun kau protes, kau tetap tidak bisa menyangkal laporan yang sudah terlanjur masuk. Sepertinya pengembalian kau ke surga akan ditunda.”
“Sudah kuduga, aku pasti ditipu lagi. HAH!” Oh Gong melabrak meja KERAS SEKALI.
Biksu Besar hampir melompat dari tempat duduknya. “Hey, Dewa Agung. Kau bisa melukaiku kalau begini. Ingat, aku ini GURUMU.”
Oh Gong melotot. “GURU, TAPI INI TIDAK BENAR. Karena dijanjikan posisi bagus di surga, aku MENJALANI HIDUP DAMAI dan TAK PERNAH membuat masalah sejak meninggalkan Gunung Marmer sialan itu.”
“Pokoknya, kau tidak bisa kembali ke surga sekarang. Mungkin lain kali—”
“Lah, sudah lupakan.” Oh Gong memotong. “Apapun tugas yang diberikan, TIDAK AKAN AKU LAKSANAKAN.” dia bangkit dan melemparkan kursi yang didudukinya hingga menancap di dinding, lalu dia melabrak meja panjang dari kayu jati dengan MARAH hingga meja itu terbelah dua dan kaki-kakinya berantakan di lantai.
Beruntung, Biksu Besar berhasil menyelamatkan laptopnya. “Sudah marahnya?” katanya, pada Oh Gong. “Lain kali, kau harus laksanakan tugas tanpa cacat supaya poin kebaikanmu cukup untuk mengembalikanmu ke surga.”
“TAK USAH YA. AKU TAK BUTUH ITU YANG NAMANYA POIN KEBAIKAN. MENDING, AKU MAKAN SAJA ITU MANUSIA BERDARAH SAM JANG. HUAH!!!” Oh Gong asal bicara.
Biksu Besar termenung untuk sesaat. “Bagaimana kau bisa tahu tentang keberadaan Sam Jang?”
Oh Gong penasaran. “Jadi, benar? Ada manusia berdarah Sam Jang yang lahir di dunia manusia?”
“Tidak.” Biksu Besar jelas berbohong.
Oh Gong mencegat kepergian Biksu Besar. “Ada. Dikira, aku ini bodoh apa?”
“Jangan. Kalau kau memakan Sam Jang, kau tidak akan bisa kembali ke surga.” nasihatnya.
“Jadi itu benar, rupanya.” Oh Gong menyimpulkan. Dia SANGAT berambisi. “Dan benarkah kalau memakan Sam Jang bisa menjadi kuat luar biasa?” dia sangat ingin tahu.
“OH GONG-AH!”
“Okeh.” Oh Gong bermuslihat. “Kalau begitu, aku akan temukan Sam Jang, memakannya, dan jadi yang terkuat.” lalu dia pergi tanpa permisi dari hadapan gurunya—bagai angin yang tak tahu diri.
Bukan disuguhi minuman atau camilan, Biksu Besar malah dipameri lima kristal warna-warni oleh Woo Hwi. “Ini adalah energi dari konser di L.A., ini dari konser di Vancouver, Tokyo, Bangkok, dan ... yang merah menyala ini adalah dari Paris.”
Biksu Besar berasumsi, “Sebenarnya, idol yang populer di agensimu adalah siluman, kan?”
“Itu rahasia perusahaan.” kata Woo Hwi, misterius.
“Ey, aku tahu.” kata Biksu Besar. “PK? Jeo Pal Gye menceritakan semuanya padaku. Katanya, Jang Na Ra juga siluman ya? Pantas saja. Mana mungkin dia awet muda tanpa operasi plastik.”
“Makanya itu sekarang dia berniat untuk operasi plastik, supaya kelihatan tua.” Woo Hwi menambahkan.
“Dan Hyun Bin ... demi menghindari pemeriksaan kesehatan, dia berangkat wajib militer. Benar?”
“Wow, sepertinya Anda sangat tertarik dengan dunia hiburan.”
“Energi dapat, uang dapat. Kau pasti bahagia sekali, Ma Wang.” komentarnya.
Woo Hwi berasumsi, “Sepertinya kedatangan Anda ke sini adalah untuk membongkar siluman-siluman di agensiku. Bukan begitu?”
“Aih, sebenarnya aku ingin membahas tentang Dewa Agung.” kata Biksu Besar.
Wajah ramah dibuat-buat Woo Hwi menghilang seketika. Dia duduk tegap dan sombong. “Apa? Mau menginformasikan kembalinya Dewa Agung ke surga dan mengusulkan pesta atau semacamnya, begitu?”
“Jangankan kembali ke surga. Monyet itu sepertinya akan membuat masalah.” Biksu Besar sangat yakin.
Woo Hwi bahagia-bahagia-sedih mendengar ucapan Biksu Besar. “Aih, kenapa ... dia tidak bisa kembali ke surga?” kata Woo Hwi sambil menahan tawa bahagia. “Sebenarnya—masalah apa—yang—Son Oh Gong buat kali ini?” dia semakin tak bisa menahan tawanya.
“Dia berniat untuk memakan Sam Jang.”
Dan tawa yang SANGAT diinginkan Woo Hwi menghilang seketika. “Sam Jang? Jadi, benar Sam Jang telah lahir ke dunia?”
“Waktu itu, anak manusia yang membebaskan Oh Gong dari Gunung Marmer, bukankah kau yang mengirimnya?” tanya Biksu Besar pada Woo Hwi si Iblis.
Woo Hwi segera memberinya penjelasan, “Saya bukan mengirim anak itu untuk membebaskan Son Oh Gong. Untuk memadamkan api di Gunung Taebaek, saya meminta anak itu untuk mengambil Putri Kipas Besi. Dan karena itu, aku mendapat skors 100 tahun penggunaan kekuatan dalam menjalani 1000 tahun hukumanku di dunia ini.”
“Pokoknya. Apa kau masih ingat dengan anak manusia itu?” tanya Biksu Besar.
“Tentu saja.” jawab Woo Hwi.
“Anak manusia itu adalah Sam Jang.”
Woo Hwi terperanjat.
“...Sebagai hukuman karena telah membebaskan Son Oh Gong, anak manusia itu ditakdirkan untuk berhadapan dengan segala jenis arwah jahat seumur hidupnya.”
“Oh begitu rupanya.” Woo Hwi belum mengedipkan mata.
“Bisakah kau temukan anak manusia itu dan menjadi pelindungnya?” Biksu Besar meminta.
Woo Hwi terdiam. Dia masih ingat dengan jelas senyuman dan lambaian tangan anak manusia itu saat pergi untuk menjalankan tugas yang diberikannya. Dia tak menyangka akan begitu takdirnya. “Anak itu ... Sam Jang?”