
Sepulang dari menyingkirkan arwah jahat, Oh Gong mengunjungi sebuah toko es krim semi permanen di tepi jalan. Tanpa memesan, dia disediakan seporsi besar es krim kerucut rasa vanila dan stroberi dengan berbagai topping di atasnya. Oh Gong sangat menikmatinya.
“Jenderal Es, tokomu sepi sekali. Bagaimana ini?” Oh Gong berkomentar.
Pria awal 40-an yang berjiwa muda: berkemeja kotak-kotak di balik jaket denim dan rambut gondrongnya diikat tinggi dengan sisa poni di dahi sebelah kirinya. Dia tersenyum ramah pada Oh Gong. “Anda tidak perlu memikirkan saya, fokus saja pada cara kembali ke surga.” katanya. Dia melanjutkan, “Karena hari ini Anda telah melenyapkan arwah boneka dengan baik, poin kebaikan anda pasti bertambah banyak.”
“Semoga saja begitu.” kata Oh Gong, dan dia menaruh es krim kerucutnya di cangkir. “Setelah aku kembali ke surga, semua laranganku pun akan dicabut. Dan aku sudah punya 2982 botol minuman keras untuk diminum, ditambah ini jumlahnya jadi 2983 botol.” Oh Gong memamerkan sebotol minuman keras yang baru saja didapatkannya itu pada temannya ini.
“Sebelum botol ke-3000, saya harap Anda sudah kembali ke surga.” Jenderal Es berdoa.
“Tentu saja.” Oh Gong optimis. “Dan sepertinya sekarang kau sudah memutuskan untuk hidup baik—tak membuat masalah di dunia manusia.”
Jenderal Es tersipu.
“Ah, melihat dirimu yang sekarang, tidak akan ada yang menyangka kalau kau sebenarnya adalah Jenderal Es yang pernah membekukan daratan hingga dingin dan sunyi selama berabad-abad lamanya.” Oh Gong memuji.
“Saya tidak akan melakukan itu lagi.” katanya. Lalu dia memberi sebuah pertunjukan: menuang air ke dalam blender dan membekukan air itu dalam sekejap hanya dengan tutupan telapak tangan.
Oh Gong bangga padanya.
“Oh iya.” Oh Gong teringat sesuatu. “Jenderal Es, pernahkah kau mendengar tentang manusia berdarah Sam Jang?” tanyanya.
“Hm, manusia dengan darah berbau bunga teratai maksud anda?” dia menanggapi. “Kalau dengar sih pernah, tapi saya belum pernah bertemu dengan manusia seperti itu.”
Oh Gong sudah menduga itu. “Tapi ... apakah benar, jika meminum darah Sam Jang dan memakan dagingnya, siapa pun akan mendapat kekuatan yang luar biasa? Benarkah begitu?” Oh Gong penasaran.
“Yah, kalau benar begitu, maka dia akan diburu oleh banyak makhluk.” pikir Jenderal Es.
Oh Gong berangan-angan, “Kalau manusia seperti itu benar-benar ada, aku ingin sekali memakannya.”
Jenderal Es bertanya tentang hal lain, “Apakah sekarang pun Anda masih tinggal bersama Ma Wang?”
“Meskipun Ma Wang itu sangat cerewet, tapi rumahnya enak ditinggali dan lahan parkir di sana luas.” jawab Oh Gong.
Gedung tinggi, mobil-mobil berjajar di sekitarnya, dan pos keamanan berada tepat di depannya. Beginilah tempat tinggal Woo Hwi si Iblis yang sangat disukai Oh Gong.+
Pemilik apartemen baru saja tiba di sana. Seorang sopir berlari keluar dari kursi kemudi untuk membukakan pintu mobil bagian belakang. Dari sana, sebuah payung hitam turun terlebih dahulu, disusul sepatu yang hitam mengkilap, lalu dirinya yang tinggi berkumis. Woo Hwi memuji pekerjaan sopirnya untuk hari ini.
Satu kali melangkah, dia dihampiri oleh security yang beberapa helai rambutnya telah memutih—sambil membawa rangkaian bunga di dalam pot keramik. “Presdir, Anda baru pulang rupanya. Ada kiriman bunga ucapan selamat—”
“Ucapan selamat?” Woo Hwi berpikir sejenak. “OH! Ini pasti dari stasiun TV. Aih, kok ya mereka repot-repot sih. Hahahaha.”
“Bukan, Predir.” kata Security, “Ini ditujukan kepada Tuan Son Oh Gong, tapi di sini tertulis alamat anda. Benar kan?” tanyanya, sambil menunjukan alamat yang tertulis pada kertas kecil dan tulisan ucapan selamat untuk Son Oh Gong yang BESAR-BESAR.
Woo Hwi langsung merasa kesal. “Tuan Son Oh Gong, kan ya? TUAN-SON-OH-GONG itu sekarang pasti sedang tidur-tiduran di rumahku. Suruh saja dia turun dan mengambilnya sendiri.”
“Tapi tak ada yang menjawab interkomnya.” Security menahan Woo Hwi yang hendak pergi. “Berhubung Anda ada di sini, sekalian bawa saja ya?” katanya, dan langsung menyerahkan pot keramik itu pada Woo Hwi.
“Aigoo, be-berat sekali ini.” Woo Hwi mengeluh, tapi tak menolak permintaan manusia tua ini.
“Apa lagi?” Woo Hwi kesal.
“99Du 5050 mobil Anda, benar kan?” tanyanya.
Dengan diberati pot keramik, Woo Hwi menjawab, “Ya, benar. Kenapa?”
“Mobil Anda selalu terparkir seperti itu. Tidak baik sekali.” kata Security menunjukan ke 99Du 5050 yang terparkir horizontal tepat di belakang Woo Hwi. “Bukan hanya dua tempat, tapi tiga. Kalau begini, mobil yang lain jadi tidak bisa parkir.”
“Dasar preman.” gigi-gigi Woo Hwi bergetar. Kemudian dia terus mengumpat dengan tak beraturan pada Son Oh Gong yang tak ada di hadapannya, sedangkan ceramah Bapak Security dia abaikan mentah-mentah. Begitu ceramah itu selesai dan dia mendapat salam perpisahan yang sopan, umpatan Woo Hwi berakhir dengan satu kalimat: “Kubunuh kau, Oh Gong-Oh Gong. Dasar gila!!”
Setelah repot-repot membawa pot keramik sepanjang jalan menuju apartemen, dia dibuat MARAH oleh mantel bulu yang dengan seenaknya bergelantung di patung kerbau suci miliknya dan oleh keberadaan patung monyet menyebalkan di tempat tinggalnya ini. “Seenaknya betul dia menaruh patung itu di sini. Dia pikir, ini rumahnya?!” gerutunya. Terpaksa, Woo Hwi membawa serta mantel bulu yang seenaknya itu hingga ke ruang utama.
Son Oh Gong sedang bersantai menonton TV sambil tidur-tiduran di sofa. Dia tertawa keras karena tontonan, sedangkan Woo Hwi—pemilik rumah—bersusah payah karenanya.
“Hey, aku kan sudah bilang: jangan menggantung mantelmu di patung suciku! GANTUNG MANTEL DI KAMARMU SANA!!”
“Oh, sorry.” Oh Gong sibuk menonton.
“Terus kenapa kau tidak menjawab interkom?”
“Hahaha. Mungkin karena suara TV, jadi aku tidak dengar.” dan barulah Oh Gong bangkit dari posisi santainya. “Sudah nonton ini? Acaranya seru sekali. Ini saingan acaramu yang bilang ‘lolos-lolos’ itu. Siap-siap deh, rating acaramu akan segera tersusul.” kata Oh Gong.
Woo Hwi masih belum bisa duduk karena repot dengan barang-barang Oh Gong. Dia menunggu bantuan, tapi tak kunjung datang. Dan dia malah meladeni ucapan Oh Gong tentang rating acara, “Perbedaannya dua kali lipat. Itu tidak mungkin.”
“Aih, tapi kan tidak ada yang tidak mungkin. Dilihat dari komentar netizen, acaramu cuma dapat komentar-komentar buruk tau. Iblis lebay apalah begitu, katanya. Ah, aku jadi tidak tenang memikirkan nasibmu.” Oh Gong tak sepenuhnya berbohong.
“Kau tak perlu memikirkanku, tapi pikirkanlah tingkah laku dan barang-barangmu.” Woo Hwi akhirnya menaruh pot keramik di meja dan mantel bulu di sofa tanpa bantuan dari siapa pun. Dan dengan alasan tingginya tagihan listrik, dia mengakhiri tontonan seru Son Oh Gong.
Oh Gong mengamati kiriman bunga untuknya. “Oh, dari Oh Jeong rupanya.”
Woo Hwi bertanya, “Memangnya kau sudah bisa kembali ke surga?”
“Belum pasti sih, tapi Biksu Besar Soo Bo Ri memanggilku untuk bertemu besok. Ma Wang, sepertinya kali ini aku akan dapat tambahan poin YANG BANYAK.” Oh Gong percaya diri sekali.
Ma Wang merasa itu tak mungkin. “Aigoo, justru menurutku kau akan mendengar kabar buruk: bahwa aku diangkat jadi dewa lagi dan ditugaskan untuk mengasuh monyet tak tahu diri sepertimu.”
Oh Gong tak peduli pada ucapan Woo Hwi, dia melanjutkan khayalannya. “Kalau aku dapat posisi bagus di surga, aku akan gunakan pengaruhku supaya kau bisa jadi dewa lagi. Aku cukup tahu diri untuk berterima kasih padamu karena kau telah membebaskanku dari Penjara Gunung Marmer yang menyesakan itu.”
Dari monyong-monyong tak percaya, Woo Hwi berubah jadi melotot marah. “Enak saja. Aku tidak pernah membebaskanmu.” katanya. “Itu kesalahan. Tak sengaja. Dan demi membersihkan kesalahan yang tak disengaja itu, aku RELA mengizinkanmu tinggal di rumahku yang nyaman ini. Tapi setelah kau kembali ke surga, kau akan keluar dari sini, dan AKU AKAN BISA MENIKMATI KENYAMANAN DI RUMAHKU.”
Oh Gong menentang, “Tapi aku suka di sini. Tempat parkirnya luas dan mudah dijangkau.”
“Tidak, tidak, tidak.” Woo Hwi menunjuk Oh Gong. “Kau harus keluar dari rumahku ini. Soal tempat parkir, aku akan carikan untukmu—yang luas dan mudah dijangkau.”
Oh Gong cemberut.
Sambil berlalu menuju kamar, Woo Hwi terus mengoceh tentang mengusir Oh Gong dari rumahnya. Ocehannya bisa didengar oleh Oh Gong. Karenanya, Oh Gong geleng-geleng kepala. “Auh, mungkin karena komentar jahat dia jadi bawel begitu. Sungguh, komentar jahat itu mengerikan.”