
"Ada hantu!" teriak seorang anak laki-laki saat seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua melintas. Sontak, seluruh anak yang ada di sekitar memperhatikan. Sebuah Sekolah Dasar di pinggir hutan, ramai.
Satu per satu siswa SD Kelas 5 sekolah itu berdatangan, mengerumuni anak perempuan itu sambil menyanyikan lagu yang tak enak didengar. "Hantu telah tiba.. hantu telah tiba.." begitulah liriknya, berulang-ulang. Dan lagu itu selesai ketika bel masuk kelas berbunyi. Semua anak—termasuk anak perempuan itu—menghambur ke dalam kelas, duduk dengan tertib.
Jin Sun Mi duduk tertunduk di kursinya. Dia memandangi mejanya yang kotor, penuh tulisan: 'Pergi kau!', 'Ini sekolah untuk manusia!', 'Pergi sana ke sekolah hantu!', dan lainnya. Sun Mi tidak marah, tapi sedih. Dia menutupi tulisan-tulisan itu dengan buku belajarnya.
"Selamat pagi semua!" ucap seorang wanita sambil melangkah masuk dan berdiri di podium kelas. "...Selamat datang kembali di sekolah. Ayo semuanya beri salam! Berdiri!" katanya pada semua anak, maka Jin Sun Mi berdiri.
Seketika, pandangan semua anak tertuju padanya. Bisik-bisik curiga dan tuduh penuh sangka melontar padanya. Hanya dia yang berdiri di kelas ini.
Sun Mi tahu jawabannya. Guru itu bukan manusia.
Katanya, "Anak yang mendengarkan kata-kataku, hanya kau rupanya." dan wajahnya membusuk tiba-tiba. Kemudian dengan suara melengkingnya, hantu itu memuji: "Kau anak yang baik." dan lehernya membengkok hingga ke bahu. Sekejap berikutnya, hantu guru ini berdiri tinggi tepat di hadapan Sun Mi.
Sun Mi tak bergerak.
Hantu itu berkata di depan mukanya, "Aku harus memberimu nilai tinggi. Hihihihihi."
SRUAK! Payung kuning bulat-bulat putih bermekar di antara mereka. "PERGI KAU!" teriak Sun Mi dengan semua keberanian yang dia miliki.
Semua anak di kelas berlarian takut menuju pintu. Sedangkan hantu itu menghilang karena mantra yang tertulis pada payung Sun Mi. Sun Mi tidak tahu itu. Dia hanya terduduk gemetaran di balik payungnya. "Pergi... Pergi sana..." ucapnya, lirih.
Tak seperti anak lainnya, Sun Mi bisa melihat makhluk halus. Dia ditakuti teman-temannya, juga dikucilkan. Tidak ada yang mau bermain, bahkan sekedar dekat-dekat dengannya. Karena jika berdekatan dengannya, siapa pun akan kena sial, katanya. Entah dari mana asal kata-kata itu.
Hingga sekolah dibubarkan, Sun Mi terus sendirian. Tidak ada teman sepanjang perjalanan pulang di tepi danau, kecuali payung kuning dan hantu guru yang tadi muncul di dalam kelas.
"Oy, mau ke mana? Bareng yuk!" kata suara yang membuat rambut leher berdiri itu.
Karena telah bertemu dengannya satu kali, Sun Mi tidak setakut tadi. Dia menghardik hantu itu dan melanjutkan langkah kaki tanpa menanggapi ucapan konyolnya.
Hantu guru berbisik di telinga, "Ayo belajar sama Bu Guru." godanya.
"Tidak mau!" kata Sun Mi, tegas. Dan dia mempercepat langkahnya.
"Anak-anak harus belajar. Ayo belajar!" nada suaranya semakin memekakan punggung leher.
"Pergi sana!" Sun Mi mempercepat lagi langkah kakinya.
Hantu guru itu terbang cepat ke depan Sun Mi. Dia memaki, "Anak nakal. Kau harus dihukum!" dan dia memijak tanah dengan dendam—hingga daun-daun gugur yang menutupi tanah itu sedikit berterbangan.
Sun Mi menghunus payung kuningnya, tapi terlambat—hantu guru sudah memegang ujung payung sebelum Sun Mi berhasil membukanya. Mereka terlibat saling tarik-dorong. Tangan kecil Sun Mi tidak sanggup melawannya, dia berteriak sekeras-kerasnya—menyuruh hantu itu pergi. TAPI malah hantu itu semakin gigih mendesaknya.
WUSH! Hentakan gaib bergelombang dari arah belakang. Hantu itu terpental, melenting dan melengking, lalu menghilang. Dalam waktu yang sangat singkat, Sun Mi terpesona oleh kejadian barusan. Dan dia merasakan sesuatu dari arah belakang.
Dedaunan terbang turun kembali ke tanah. Di tengah-tengahnya, seorang pria tinggi berambut gondrong dan berkumis sedang mengelus tepian topi hitamnya. Dia tersenyum pada Sun Mi, kemudian bersama payung hitamnya dia dan Sun Mi bertemu dalam jarak dekat.
"Ajussi mengusir hantu itu ya?" tanya Sun Mi, antusias.
"Begitulah." jawabnya, malas.
"Bagaimana caranya?" Sun Mi ingin tahu.
Tanpa bicara, pria berkumis ini mengangkat payungnya dan menghentak tanah dengan ujungnya. Dedaunan berterbangan seketika. Dia memamerkan kemampuan kecilnya.
Sun Mi mempelajarinya, lalu dia meniru pria berkumis itu. Tapi dedaunan tidak berterbangan oleh hentakan payungnya. Sun Mi kecewa. "Kenapa payungku tidak bisa?" keluhnya.
"Hm, begitu ya? Tapi payungku bisa." kata pria berkumis ini sambil meninggikan dagu dan mengayun-ayun payung hitamnya.
Sun Mi menyimpulkan, "Ajussi bukan manusia ya?"
"Yah, karena kau tidak takut, anggap saja aku ini peri." usulnya, sombong.
"Ajussi tidak menakutkan. Hantu tadi yang menakutkan." kata Sun Mi, polos.
Tinggi pria berkumis ditambah topinya hampir dua kali lipat tinggi Sun Mi. Dia membungkuk hampir 90 derajat, tapi tetap sedikit lebih tinggi dari anak ini. Dia mengamatinya dari dekat. "Oh, rupanya kau adalah manusia yang bisa melihat selain manusia." simpulnya, kemudian dia tegap kembali. "..Kebetulan. Aku sedang mencari manusia istimewa seperti kau ini. Kau... LOLOS!" lontarnya, sambil menjentikan jari dengan cantik.
Sun Mi senang mendengarnya. "Kenapa Ajussi mencariku?" tanyanya.
Senyum rendah menyertai. "Karena.. aku butuh bantuanmu."
Mata Sun Mi menyipit. "Kalau aku bisa bantu, kita bertukar payung, mau ya?" tawar Sun Mi, menyodorkan payung kuningnya.
Sekarang tawa rendah yang menyertai. "Oh, tentu. Jadi, artinya kita sudah sepakat ya?" pria berkumis memastikan.
"Sepakat!" seru Sun Mi, dan dia mengeluarkan jabatan tangan kecilnya ke antara mereka. Dia dan pria berkumis yang mengaku peri itu berjabat tangan tanda sepakat.
Lalu dengan memegang masing-masing payung, mereka berjalan beriringan jauh ke dalam hutan. Tanah yang dipijak semakin tebal oleh daun, pohon di sekitar semakin rimbun, dan pandangan semakin kabur oleh kabut. Mereka tiba di depan sebuah terowongan pendek.
Pria berkumis berkata, "Jika kau melewati terowongan ini dan mengikuti jalan setapak setelahnya, kau akan melihat sebuah rumah di ujung tebing. Masuklah ke dalamnya dan ambil satu barang yang ku butuhkan."
"Apa itu?" tanya Sun Mi, dengan seksama.
Agak sulit menjelaskannya. "Benda itu bernama Putri Kipas Besi. Nah, kau tahu kebakaran di hutan sebelah sana itu?" ucapnya, sambil menunjuk ke arah timur. "..Sudah lebih dari satu minggu kebakaran itu terus berlangsung. Aku butuh kipas itu untuk memadamkan apinya. Jika kau berhasil mengambilnya dari rumah itu, payungku ini boleh menjadi milikmu."
Mata Sun Mi terpaku pada payung hitam itu. "Tapi kenapa Ajussi meminta bantuanku untuk mengambil benda itu?"
Pria berkumis menjawab, "Rumah itu sungguh aneh suratannya. Tidak bisa dilihat oleh mata manusia, tapi hanya bisa dimasuki manusia. Hanya manusia istimewa sepertimulah yang bisa masuk ke dalamnya."
Sun Mi senang mendengarnya. Sesaat kemudian, dia tersenyum lebar. "Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang."
"Oh, silakan." pria berkumis membuka telapak tangannya.
Sun Mi melangkah menuju mulut terowongan. Beberapa langkah sebelum tiba di bawah naungan, pria berkumis memanggil: "Hey anak manusia."
Sun Mi berbalik.
"Jika kau telah menemukan dan mengambil benda itu, kau harus segera keluar dari rumah itu. Apa pun yang kau lihat, apa pun yang kau dengar, jangan pernah menanggapinya." pesannya, serius.
"Baik. Aku sangat pandai melakukan itu." kata Sun Mi, cemerlang. "Aku berangkat ya!"
"Ya." ucap pria berkumis, sombong. Dan dia membalas lambaian tangan anak itu sebelum seluruh tubuhnya menggelap karena naungan terowongan. Memandang langkah kecil yang perlahan menjauh darinya, mata pria berkumis menajam seketika.
Setelah terowongan, kabut yang menghalangi pandangan semakin tebal saja. Jalan setapak yang Sun Mi pijak terasa bergetar. Ke arah mana pun matanya melihat, tak ada kehidupan. Dan bermeter kemudian, dia dinaungi oleh barisan pohon botak yang membentang di kedua sisi dan bertemu di atas kepala Sun Mi. Sebenarnya Sun Mi takut untuk melangkah lebih jauh lagi, tapi...
Rentetan tangga membentang di depannya dan tepat setelah itu adalah sebuah rumah di ujung tebing. Dari tempatnya berdiri, Sun Mi menatap betapa tua dan seramnya rumah berlapis cermin itu. Dan keberadaannya yang di ujung tebing sempat menggoyahkan keberanian Sun Mi. Tapi jika dia berhasil mengambil benda itu, payung hitam itu akan menjadi miliknya dan akan berguna sekali. Sun Mi memantapkan diri dan menapaki tangga berlumut ini.
Sun Mi melewati barisan patung berpose pejuang dan mendaki tangga kayu menuju pintu masuk rumah itu. Pintu dan dinding cermin membuat rumah itu sekilas nampak tak ada. Sun Mi meraih gagang kayu pada potongan cermin, menariknya, dan melihat dirinya begitu pintu terbuka. Rupanya hampir seisi rumah ini pun dilapisi oleh cermin.
Kini dan kanan tidak mudah dibedakan. Sun Mi melihat ke sekitar dan ada banyak sekali lilin yang menyala. Kakinya bergerak menaiki tangga dan menuntunnya hingga ke hadapan sebuah kipas bulu berwarna putih-merah berkerangka besi yang melayang-layang di antara lilin-lilin yang berapi. Ternyata tidak sulit menemukannya.
Mengantongi kipas itu di balik mantel, Sun Mi melangkah turun dari tangga. Dan sekelebat sesuatu terasa olehnya dari sebuah ruangan di sebelah kanan. Sun Mi penasaran, dia melupakan pesan pria berkumis tentang segera keluar dari rumah begitu mendapatkan kipasnya. Sun Mi malah melangkah mengikuti instingnya.
Ada meja makan besar dengan banyak kursi di tengah ruangan. Tapi alih-alih makanan, di atasnya malah berbaring mayat pohon yang telah menghitam, dan pada beberapa ujung cabang mayat pohon itu berdiri lima lilin besar yang berwarna kehijauan di bagian pangkalnya. Sun Mi menikmati cahaya lilin yang kelam ini.
Dan PLAK! Sun Mi dikejutkan oleh pukulan yang memercik api darinya—sebuah benda yang mirip pemukul lalat tapi terbuat dari emas. Setelah meja, benda itu memukul dinding—menjauhkan Sun Mi dari area sucinya, yakni mayat pohon berlilin.
Sun Mi tersentak saat melihat wujudnya. Dia nampak seperti seorang pemuda dengan rambut ikal yang memanjang tipis di bagian punggung lehernya. Dan pada lehernya mengalung sebuah gambar berwarna hitam—sulit untuk dijelaskan. Dia adalah tahanan rumah aneh ini.
Sambil memanggul tongkat emasnya, tahanan ini berkata, "Ku pikir lalat, ternyata manusia." sambil menatap tajam pada Sun Mi. Lalu dia menghunus tongkat emas pada anak itu, "Hey bocah, bagaimana kau bisa masuk ke sini?" dia menginterogasi.
Sun Mi teringat pesan pria berkumis: dia tak boleh menanggapi yang terlihat dan yang terdengar. Maka Sun Mi berbalik badan dan melangkah pergi.
Tapi tas punggungnya ditangkap tahanan ini. Sun Mi digantung dengan mudah pada sebelah tangannya dan ditanyai lagi, "Kau bertamu dengan tangan kosong rupanya? KAU TIDAK BAWA APA-APA? MINUMAN MISALNYA?"
Sekeras apa pun makhluk itu bersuara, Sun Mi tak menanggapinya. Dia hanya bergantung dengan suka rela sambil diam-diam berusaha untuk melepaskan diri dari genggamannya.
Tahanan mendesah. "Ah, sayang aku tak bisa minum." gumamnya, "...padahal ada darah segar datang sendiri ke sini."
Tahanan itu berkeluh kesah. "Yah, tak mungkin seorang anak manusia bisa melihat dan mendengar ucapanku." dan dia menurunkan Sun Mi. Muslihatnya dimulai saat dia dengan sengaja menjatuhkan payung Sun Mi yang menyelip rapi pada tas punggung, dia berseru, "Oy, payungmu jatuh tuh!"
Sun Mi bereaksi. Dia berjongkok, dan secepat kilat mengambil payung kuningnya. Tapi sebelum dia pergi cukup jauh dari tahanan itu, Sun Mi ketahuan olehnya.
"Kau bisa mendengarku?" katanya.
Sun Mi berusaha menahan diri, tapi tanpa dijawab pun tahanan itu sudah tahu jawabannya.
Tahanan ini berjalan santai ke depan Sun Mi yang menunduk—menghindari kontak mata dengannya. "Kau bisa mendengarku, mengaku saja. Kenapa kau ke sini?" tanyanya, dan mata tajamnya menemukan jawaban di balik mantel Sun Mi. "Kenapa kau mengambil benda milik rumah ini?"
"Aku dimintai tolong." kata Sun Mi, tanpa memandang ke arah tahanan. "Ajussi Peri memintaku untuk mengambil kipas ini."
"Peri?" pikir si tahanan, lalu sesosok makhluk terlintas dipikirannya. "Apa dia berbadan tinggi dan berkumis? Makhluk itu mengaku peri?"
"Kalian saling kenal?" Sun Mi menengadah padanya.
"Tentu saja. Aku sangat mengenalnya." kata tahanan, pamer. "Tapi kok bisa anak manusia sepertimu menjadi pesuruh makhluk itu." dia bergumam dengan maksud tertentu.
"Aku bukan pesuruh. Kami membuat kesepakatan." Sun Mi menjelaskan.
Bibir tahanan menyungging. "Kesepakatan? Kalian membuat kontrak?" tanyanya, penuh muslihat.
"Kontrak?" Sun Mi terheran.
"Tidak buat?" kata tahanan, gawat.
Sun Mi geleng kepala.
"Wah, kau bisa gawat." kata tahanan, dengan berpengalaman.
"Kenapa?" Sun Mi panik.
Tahanan membungkuk supaya bisa menatap dekat anak manusia ini. "Setelah keluar dari sini, kau tidak bisa tahu apa yang akan terjadi. Makhluk penipu itu mungkin saja akan menyerangmu dengan sangat liar."
Sun Mi tersentak.
Tahanan tersenyum licik. "Ah, berbahaya. Ayo keluar bersama Oppa. Oppa akan melindungimu."
Sun Mi diam.
"Nah, berhubung aku akan keluar, aku harus ganti baju dulu. Sambil menunggu, kau matikanlah lilin-lilin itu." katanya, bijak. Lalu dia melangkah santai menuju tanpa arah sambil diam-diam berusaha melirik pada Sun Mi yang menjadi anak baik dengan meraih pemadam api berbentuk lonceng yang terbuat dari perak. Dia menantikan padamnya lilin-lilin di atas meja itu.
Karena ditatap begitu ketat, Sun Mi curiga. Lonceng perak yang sudah berada sangat dekat dengan batang lilin ditariknya kembali menjauh. Sun Mi menyodorkan benda itu pada tahanan. "Oppa Peri matikan saja sendiri lilinnya." kata Sun Mi.
Tahanan tertawa. "Aih, kenapa? Matikan sana." katanya.
Sun Mi tersenyum tahu. "Tidak bisa ya? Hanya aku ya yang bisa mematikan lilinnya? Sebenarnya Oppa sedang meminta bantuanku kan?"
Maka kedua tangan tahanan bertemu hormat di hadapan Sun Mi. Dia bertekuk, "Kau benar, anak manusia. Tolong aku. Jika kau mematikan lilin-lilin itu, aku bisa keluar dari rumah aneh ini."
"Apa itu tidak berbahaya?" tebak Sun Mi.
"Oh, tidak, tidak!" seru si tahanan. "Lima lilin itu adalah perwakilan Gunung Marmer. Mereka menahanku seperti ini. Lihat." dia menunjukan pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan lehernya yang dilingkari oleh simbol pengikat yang bermantra. "Kalau kau mematikan lilin itu dan mengeluarkanku dari rumah ini, aku akan melindungimu di luar sana. Okeh?"
Sun Mi tidak mudah ditipu. "Kontraknya?" tagihnya.
"Ah, bocah ini pintar juga. Baiklah, kau mau apa?" tanyanya, dengan melebarkan telinga.
Sun Mi bercerita. "Tolong lindungi aku. Aku.. bisa melihat makhluk-makhluk menyeramkan."
Tahanan terdiam untuk sesaat. "Kau bisa melihat iblis rupanya." gumamnya, dan diiyakan oleh Sun Mi. "Hidup itu sulit, bukan?" katanya, dan dia mendapat anggukan cepat. "Siapa namamu?" tanyanya, dewasa.
"Jin Sun Mi." jawab Sun Mi.
"Jin Sun Mi." ulangnya. Dan dia berorasi, "Aku adalah Dewa Agung titisan surga, Son Oh Gong. Jika kau memanggil namaku saat dalam kesulitan, ketakutan, dan bahaya, aku akan berada di sana dan melindungimu." dan dia memberikan telapak tangannya pada anak itu.
Sun Mi puas mendengarnya. "Kalau begitu, ini adalah kontrak ya?" Sun Mi mengelus telapak tangan itu dan seberkas cahaya muncul dari sana.
"Nah, sekarang kau matikan lilin-lilin itu dan kita keluar dari rumah yang menyesakan ini." ucapnya, dengan desah.
Sun Mi mengangguk patuh. Lilin pertama menghilangkan mantra di pergelangan kaki kanan, lilin kedua untuk pergelangan kaki kiri, lalu tangan kanan, tangan kiri, dan akhirnya leher. Hilangnya mantra-mantra terasa tajam bagai percik api dari gesekan besi, dan asap sisa api menghembus untuk terakhir kali. Son Oh Gong meraih kebebasan yang amat diinginkannya ini. "Wahahahahaha." tawanya membahana, disambut senyum senang Sun Mi.
Kemudian cermin-cermin bergemericik pergi. Dinding demi dinding menghilang bagai asap api. Dan sekitar mereka berubah menjadi padang ilalang tanpa langit kelam.
Son Oh Gong pun berubah penampilan. Rambutnya tak lagi ikal dan panjang, tapi rapi. Bajunya tidak lagi tipis, tapi lengkap dengan mantel bulu yang hangat. Dia melompat-lompat girang saat melihat padang ilalang dan langit yang luas. "AKU BEBAS!!" teriaknya, sekuat hati.
Sementara Sun Mi berdiri heran. "Rumahnya menghilang!" serunya.
"Ya." sahut Oh Gong. "Penjara yang menyesakan itu telah menghilang. Bagus sekali, Jin Sun Mi. Sekarang aku telah bebas dan aku ingin sekali minum-minum, tapi aku tidak mungkin mengajakmu. Jadi—"
"Mau ke mana?" Sun Mi menahan lengannya. "Mulai sekarang, Oppa Peri harus melindungiku. Itu isi kontraknya."
"Oh, benar." desah Oh Gong.
Sun Mi menagih. "Sekarang, antarkan aku ke tempat yang aman. Aku tinggal berdua dengan nenekku. Dia orang yang sangat baik. Nanti aku kenalkan Oppa padanya."
"Sebentar." Oh Gong melepas tangan Sun Mi. "Biarkan aku berpikir." katanya.
Sun Mi cemberut. "Kenapa? Oppa Peri mau melanggar kontrak ya?"
Oh Gong bersedekap. "Jin Sun Mi, kau itu anak yang pintar, jadi kau pasti tahu apa itu penjara. Katakan, siapa yang tinggal di dalamnya?" dia menggurui.
"Orang jahat." jawab Sun Mi.
"Kalau begitu, AKU yang pernah terkurung di dalamnya ini apa?" Oh Gong berorasi.
Sun Mi berpikir, "Orang jahat?"
"YA, BENAR SEKALI. PERKENALKAN, AKU ADALAH MAKHLUK YANG SANGAT SANGAT JAHAT." jelasnya, sombong.
Sun Mi cemberut, "Kalau begitu, kontrak tadi akan dilanggar?"
"Yah, meski sebenarnya keinginanku begitu, tapi kontrak dengan manusia itu sangat sakral bagi makhluk sepertiku. Dan menurut kontrak, aku akan melindungimu jika kau memanggil namaku. Nah, Jin Sun Mi, apa kau masih ingat namaku?" tanyanya, licik.
"Tentu saja. Nama Oppa Peri adalah—"
KLIK. Jari-jari Oh Gong menjentik di pelipis Sun Mi, lalu dari sana keluar bola kuning bercahaya yang berisikan ingatan Sun Mi tentang nama Son Oh Gong. Dia mengeluarkannya.
Sun Mi mulai akan menangis. "Nama Oppa Peri adalah... namanya... namanya siapa ya?"
"Kau tidak akan ingat. Aku sudah mengeluarkannya." kata Oh Gong sambil menggenggam ingatan itu di ujung jari. Lalu dia membawanya berdiri tegak dan meniupnya seperti bunga dandelion.
Betapa pun Sun Mi melompat-lompat untuk meraihnya, angin telah membawanya terlalu tinggi.
"Aigoo, ingatanmu diterbangkan angin tuh." komentar Oh Gong, dengan lagak sombongnya.
"Jahat!" seru Sun Mi.
"Memang. Aku kan sudah bilang, aku ini sangat jahat." Oh Gong mengangkat bahu, menyukai fakta itu. "Dan ada satu lagi kabar buruk untukmu. Kau, karena telah melepaskan aku yang sangat jahat ini dari penjara, mungkin akan dihukum oleh langit."
"Dihukum apa?" Sun Mi cemas.
"Tenang saja, aku doakan kau baik-baik saja." Oh Gong menepuk pundak Sun Mi sebagai dalih merampas kipas cantik besi darinya.
"Aku pergi ya." kata Oh Gong kemudian.
Sun Mi bergelantung padanya, "Oppa Peri, jangan pergi." dia memohon.
Oh Gong berbalik untuk beramah-tamah palsu pada anak ini. "Kapan pun kau memanggil namaku, aku akan datang untuk melindungimu. Tentu, jika kau bisa mengingat namaku." dengan mudah, Oh Gong melepaskan pertahanan sekuat tenaga Sun Mi. "Dan perlu kau tahu, aku ini bukan peri. Aku adalah... yah, semalat tinggal!" ucapnya sambil berkipas dan menghilang bersama angin topan dan awan hitam.
Dalam sekejap, gunung yang berkoar-koar karena terbakar menjadi tenang. Sedangkan Sun Mi merasa sangat tidak tenang. Dia bermantra, mencoba untuk menyebut namanya, tapi... Sun Mi tidak bisa mengingatnya—sama sekali.