
"Kontestan yang dirasuki hantu itu sudah bangun dari tidurnya." kata seorang wanita berbibir sangat merah pada Woo Hwi yang duduk santai di kursi presdirnya. Wanita ini adalah pelayan setianya yang berperan sebagai sekretaris di dunia manusia, Ma Ji Young.+
"Hm. Dia pasti sangat kebingungan, karena tiba-tiba diberi tahu lolos audisi." pikir Woo Hwi, dengan mata tertutup.
"Memberi kesempatan hantu untuk melampiaskan dendam dan membukakan jalan bagi seorang anak manusia untuk menggapai cita-cita. Ma Wang(Iblis)-nim, Anda sungguh luar biasa." Sekretaris Ma memuji.
"Itu sudah seharusnya, supaya aku cepat menjadi dewa." Woo Hwi menikmati udara di sekitar tangan bercincinnya yang berputar-putar lapang.
Sekretaris Ma berkomentar, "Tapi manusia-manusia bodoh itu tetap saja menjelekkan Anda hanya karena Anda menonjol di TV. Ah, dasar makhluk menyedihkan."
Woo Hwi tertarik. "Siapa yang menjelekkanku? Hoh? Ayo katakan padaku. Yang mana? Yang gendut di kananku atau yang wajahnya lumayan di kiriku?"
Sekretaris Ma tak merespons.
Woo Hwi menyimpulkan, "Dua-duanya?"
Sekretaris Ma mengangguk.
BRAK! Tangan mengepal ketat di atas meja. Woo Hwi berusaha SANGAT KERAS untuk menahan amarahnya. Lalu sekretarisnya menggoda, "Bunuh? Anda mau memakan mereka?"
Woo Hwi BENAR-BENAR menahan diri. "Demi menjadi dewa, aku tak boleh membunuh manusia." katanya, pada diriku.
"Kalau begitu, pukul?" godanya lagi.
"Auh." Woo Hwi menguatkan diri. "Seribu tahun lamanya dan kini tinggal beberapa langkah lagi. Aku akan menjadi dewa TANPA TERLIBAT MASALAH." ucapnya, ambisius.
"Tapi ... Dewa yang tinggal dengan Anda membuat masalah lagi." kata Sekretaris Ma, dengan malas.
Dahi Woo Hwi berkerut. "Kenapa lagi dia?" tanyanya.
Sekretaris Ma menunjukan sebuah laporan pada atasannya, "Ini adalah laporan tilang 99Du 5050 untuk bulan ini."
Woo Hwi membaca dan terpekik, "Melanggar batas kecepatan: 190km/jam. HAH?! Senang betul dia, sepertinya. Ckckckck."
Dan siang ini, 99Du 5050 kembali mengebut di jalanan. Terik matahari membuat mobil sport birunya semakin berkilau. Dia berkendara dengan leluasa, karena tidak ada siapa pun di jalan ini selain dirinya—seolah jalanan ini adalah miliknya. Kemudian berbelok ke sebuah perumahan tenang, berhenti di depan sebuah rumah yang diam, dan mengklakson pemilik rumah keras-keras.+
"Apa ini? Kenapa parkir seenaknya di depan rumah orang?" cerocos pemilik rumah—pada pria bermantel bulu yang bersedekap santai, Son Oh Gong—begitu dia muncul dari balik pintu.
Pria ini melepas mantel bulunya dan memamerkan tanda putih di kerah bajunya.
Pemilik rumah segera menunduk sopan. "Oh, Pendeta! Mohon maaf. Saya dan istri sedang menunggu Anda. Silakan masuk."
Tanpa banyak bicara, Son Oh Gong melewati si pemilik rumah sambil melemparkan mantel padanya, dan memasuki halaman rumah. Dia juga melewatkan istri pemilik rumah dengan sombongnya.
"Itu di sana." kata Pemilik Rumah—menunjuk ke sebuah jendela di lantai dua.
Dan PRANG! Lampu meja melayang keluar dari jendela itu. Istri pemilik rumah kaget luar biasa. Setelah lampu meja, kursi belajar dan benda-benda lainnya terus berterbangan ke halaman.
"Ah, baru kali ini dia melempar-lempar barang seperti ini." kata istri pemilik rumah, prihatin.
Oh Gong berasumsi, "Nampaknya dia tidak senang dengan kedatangan saya."
"Anak kami aneh sekali." kata istri pemilik rumah, "Kadang, dia melayang-layang di atas ranjangnya."
"Pendeta, tolong kami." pinta Pemilik Rumah.
Son Oh Gong berpikir sejenak: dia harus memastikan sesuatu sebelum masuk dan memenangkan pertarungan dengan makhluk di dalam kamar itu. Dia berjalan ke arah lemparan benda-benda, dengan santai menghindari lemparan yang tak henti datangnya, dan memilih salah satu dari mereka—yang bisa dijadikan alat untuk mengukur sesuatu yang ingin dipastikannya: tingkat kemampuan.
Oh Gong mengambil pemukul kasti dan sebuah bola. PIUNG! Dia melayangkan bola ke jendela yang menganga. Segera setelah suara mengaduh yang serak, bola itu dilempar keluar dan bersarang di sebuah batang pohon. Oh Gong menilai, "Aigoo, ini sih 100 poin. Wah, kalau begitu aku harus serius menghadapinya." Oh Gong meregangkan pundak dan leher.
Kemudian bersama pemukul kasti, dia masuk ke dalam rumah—sendirian, meminta para manusia untuk tidak ikut—dan segera merasakan aura gelap dari sebuah kamar yang berada paling ujung dari tangga. Oh Gong mendorong pintu kamar itu dengan pemukul kasti, dan aura gelap semakin kental terasa olehnya. Dia melihat seorang anak laki-laki—kira-kira 13 tahun—sedang meringkuk di atas ranjang dengan tangan dan kaki diikat kuat ke kaki-kaki ranjang.+
"Pendeta, tolong lepaskan ikatan saya. Ini sakit." rengeknya, pada Oh Gong yang berdiri santai bersama pemukul kasti—tepat di hadapannya.
"Sakit?" Oh Gong pura-pura prihatin, dan sedetik kemudian dia menajamkan mulutnya, "Berani sekali kau menipuku. Heh, kau pikir: dengan merasuki anak kecil begitu, aku tidak akan bisa memukulmu? Tak usah buang-buang tenaga. Sebelum aku habis kesabaran, mengaku saja. Hm?" Oh Gong menodongkan pemukul kasti ke dagu anak laki-laki ini.
Oh Gong tersenyum sombong. "Padahal kau tahu siapa aku, tapi kau TETAP SAJA ber-omong kosong begini. Sepertinya, kau sama sekali tidak takut padaku, ya?" timbang Oh Gong. Dia melihat ke sekeliling ruangan, "Yah, tidak ada pilihan lain. Aku harus menghancurkan objek tinggalmu." BRAK!! Oh Gong memukul benda-benda di atas meja belajar—sekaligus, dengan pemukul kasti.+
"Kau terjebak, bukan?" seru arwah itu—menghentikan aktivitas Oh Gong. "Kau tidak bisa kembali ke surga, tapi LAGAKMU SOMBONG SEKALI."
Oh Gong berusaha sabar. "Karena itulah, aku harus melenyapkan arwah jahat macam kau ini supaya poin kebaikanku bertambah dan bisa kembali ke surga."
"TAK USAH BANYAK BICARA!"
Oh Gong menghembuskan napas marahnya. "Auh, kau BENAR-BENAR membuatku kesal. Okeh, akan ku HANCURKAN semuanya."
BRAK! BRAK! BRAK! Oh Gong memukul papan ketik hingga tombol-tombol mungilnya berhamburan, lalu menyingkir barisan mobil mainan—dengan kejam, sehingga beberapa bagian tubuh mobil mainan itu lecet dan patah—dan matanya terus menjelajah. Dia mencari sebuah benda yang ditinggali arwah jahat—yang sedang merasuki anak manusia ini. Jika benda itu dihancurkan, maka arwah jahat itu pun akan menghilang.
"HENTIKAN!" seru Arwah Jahat, ketika Oh Gong hendak melayangkan pukulan pada sebuah boneka kayu pria dengan tuksedo. Oh Gong menoleh.
Arwah Jahat memohon, "Lepaskan aku. Aku janji, akan meninggalkan anak ini dan pergi ke tempat lain."
"Ogah, ah. Ngapain? Kau bisa kasih aku apa untuk menebus dirimu itu?" ucap Oh Gong, lalu segera melanjutkan penghancuran, tapi—
"Dewa Agung!!" Arwah Jahat memanggil lagi.
"APA SIH? APA? APA?!!" Oh Gong kalap.
Dengan tubuh anak manusia, Arwah Jahat duduk melipat dan membungkuk sopan di depan Son Oh Gong. Dia berkata, "Dewa Agung, tahukah Anda bahwa Sam Jang telah lahir?"
"Eh?" kemarahan Oh Gong teralihkan.
"Aku telah bertemu dengan manusia berdarah Sam Jang. Jika Anda meminum darah Sam Jang dan memakan dagingnya, ANDA AKAN MENJADI YANG TERKUAT."
Oh Gong mengistirahatkan pemukul kasti. "Benarkah ada manusia seperti itu?" Oh Gong tak percaya.
"Tentu saja. Aku sempat mencicipi dagingnya, dan darahnya berbau SANGAT LEZAT." kata Arwah Jahat, sambil menggerakan boneka kayu di belakang Oh Gong: mengambil benda berujung tajam (jangka).
"Kau pasti bohong." tuduh Oh Gong.
"Tidak." lalu dia menggeliat: menggigit lengan anak manusia dengan gigi jagung busuknya. "Aku sempat mengigitnya seperti ini." dia menunjukan empat lekukan bulat berjajar dengan cabang-cabang merah darah mengerikan di sekitarnya—pada Oh Gong. "Jika Anda melepaskanku, aku bersedia menangkap Sam Jang untuk Anda. Bagaimana, Dewa Agung? Hahahahaha." dan boneka kayu itu melayang menuju Oh Gong.
Pikirnya, Oh Gong tak tahu. Dengan satu pukulan, boneka kayu itu melayang dan terbentur dinding kamar. Rasa sakit menjalar seketika dari perut ke seluruh tubuh. Dan WUSH! boneka kayu itu lenyap, kemudian Arwah Jahat terbaring dengan wujud aslinya di atas ranjang. Sesaat kemudian, wujud itu menghilang dan kegelapan lenyap tanpa sisa.+
"Wow, nyaris saja." gumam Oh Gong.
Di luar rumah, Pemilik Rumah dan istrinya sedang berdebat dengan dua orang pendeta. Mereka adalah pendeta yang seharusnya datang melihat keadaan anak pemilik rumah ini, tapi didahului oleh Oh Gong—pendeta bohong. Baik para pendeta maupun orang tua, sama bertanya-tanya tentang ini.
Oh Gong pun keluar dari rumah. "Sudah selesai." katanya.
"Oh, terima kasih!" kata Pemilik Rumah dan istrinya.
Istri pemilik rumah segera menghambur ke dalam rumah—tak sabar melihat keadaan anaknya.
"Permisi, Anda dari gereja mana ya?" tanya salah satu pendeta.
"Oh, saya datang langsung dari atas sana." kata Oh Gong, sambil menunjuk langit. Tentu saja, pendeta-pendeta itu kebingungan karenanya.
"Oh, dan ucapan terima kasih Anda sudah saya ambil sendiri." kata Oh Gong—pada Pemilik Rumah—sambil menunjukan minuman keras mahal yang telah dia sembunyikan di balik jas.
"O-oh, ya." kata Pemilik Rumah: tidak rela minuman itu diambil, tapi tidak mungkin mengambilnya kembali—apalagi dari seorang pendeta yang telah berjasa menyembuhkan anaknya.
Oh Gong memunggungi Pemilik Rumah. Dia menunggu sesuatu yang tidak otomatis dimengerti oleh Pemilik Rumah. Setelah Oh Gong menggerakan sedikit bahunya, Pemilik Rumah pun mengerti: 'tolong, pakaikan mantel bulu saya', begitulah kira-kira.
"Permisi." kata Oh Gong, lalu beranjak pergi.
"Terima kasih, Pendeta!" seru Pemilik Rumah.