
Berlian menepikan mobilnya di sebuah Cafe, tadi ia sempat mendapatkan pesan singkat dari Gena. Gadis itu menyuruh Berlian untuk menunggunya disana.
Berlian sudah memesan minuman terlebih dahulu, karena Gena memberi kabar ia akan sedikit terlambat. Hampir setengah gelas jus pesanannya ia habiskan, Gena belum terlihat datang juga.
"Kemana sih dia??" Menatap jam tangannya. Sesekali kepalanya menatap pintu berharap Gena muncul tiba-tiba.
Tangan satunya sibuk memegang ponsel yang ia tempelkan di telinganya, bertanya di mana keberadaan gadis yang mengajaknya bertemu itu.
Membuat Berlian terpaksa memesan beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya yang mulai mengeluarkan suara-suara berisik, padahal ia berniat mengajak Gena untuk makan siang bersama.
Masih sibuk mendeal nomor telepon Gena yang selalu tersambung dalam panggilan operator.
Berlian menghela nafas panjang, di taruhnya ponsel di atas meja. Menyerah untuk mengetahui kabar keberadaan Gena.
"Eehh, Berlian bukan sih???" Berlian mendongak, menyipitkan matanya, sepertinya ia mengenali perempuan yang menyapanya ini. "Maaf kalau aku salah orang."
"Zivana ya?"
Perempuan itu berbalik saat hendak pergi, dia mengangguk dan tersenyum manis saat perempuan yang di sapanya mengenalinya.
"Aku kira kamu tidak mengenaliku."
"Maaf, aku tadi sempat tidak mengenalimu."
Zivana tersenyum, "tidak masalah. Kamu sendirian?"
Berlian mengangguk. "Umm, sedang menunggu...."
"Aryan?" Zivana menyela.
"Bukan,,"
"Aku kira. Selagi menunggu bagaimana kalau aku temenin?? boleh kan?" Berlian mengiyakan, tidak mungkin dia menolak. Dia harus bisa menjaga citra baik calon keluarganyakan, tapi kenapa harus perempuan ini sih.
"Kamu sedang apa disini??"
"Makan siang" Berlian membalikkan tubuhnya, mana tahu laki-laki menyebalkan itu ada disini.
"Sama Devan???" Zivana mengangguk. "Terus dia mana???" Berlian harus menjaga jarak dengan laki-laki itu.
"Dia sudah pergi dari tadi, katanya ada urusan mendadak," Berlian membulatkan mulutnya, menanggapi. "Bagaimana hubunganmu dengan Aryan??"
"Baik??" Berlian ingat pesan dari Zaskia waktu itu. 'Kalau lo ketemu sama Zivana, terus dia nanya soal hubungan kalian. Lo jawab aja seakan-akan kalian saling cinta'
"Maafkan soal Devan waktu itu Berlian,"
Berlian mengangguk. "Sudah jangan di bahas, itu sudah aku anggap sebagai angin lalu," perempuan itu meraih tangan Berlian dan menggenggamnya.
"Kamu wanita yang baik Berlian, semoga Aryan bisa melupakanku dan bahagia bersamamu," Berlian mengerutkan keningnya.
Berlian merasa ucapan Zivana berbeda maksud.
"Jangan khawatir, Aryan sudah melupakanmu. Kami sudah bertunangan bukan?" Menunjukkan jari manis yang tersemat cincin. "Do you know, walaupun kami di jodohkan. Kami saling tertarik satu sama lain,"
Zivana tersenyum. "Aku bisa melihat bahwa Aryan masih tertarik denganku, ketika dia menyentuhku." Berlian tersenyum tipis.
"Menyentuh??? About what??" perempuan di hadapan Berlian menyentuh pipinya, bahunya, dan pinggangnya. "Kurang ngerti," ucap Berlian.
"Waktu dia, memegang bahuku, memelukku, lalu mencium pipiku saat pesta itu, you see that." Ucapnya sedikit menyombong.
"Itu memang sering dia lakukan, tidak hanya denganmu," Zivana tertawa, seperti tidak terima dengan Berlian yang merespon dengan santai.
"Kamu bisa merasakan perasaan seseorang hanya dengan tatapan matanya," Berlian terdiam, lalu menatap Zivana lurus.
"Aku lihat itu di mata Aryan," Zivana tersenyum. "Saat menatapku," membuat Zivana sedikit memudarkan senyuman manisnya.
"Aku juga melihat itu saat dia menatapku."
Berlian tertawa. "Itu berarti, Aryan memang seperti itu kepada semua perempuan bukan??"
Zivana menggerakkan jari telunjuknya. "No.. No.. No.. Dia tidak pernah menatap perempuan dalam jangka waktu yang panjang."
Wah, Kayaknya dia mau buat aku cemburu nih. Sekalian panasin aja kali ya. Rasanya tanggung jika menghidupkan kompor dengan air mendidih di atasnya tanpa menaruh mie rebus di dalamnya. Haha, Berlian suka mie rebus buatan Aryan.
"Benarkah???" Zivana mengangguk. "Aku merasa special, saat Aryan menciumku." Tatapan Zivana berubah menjadi tidak terima, tangannya mengepal, Berlian lihat itu.
"Gak boleh?" Ucapnya dengan nada ketus.
"Ngapain duduk disini, ini duduk aku?" Terlihat lebih ketus dari nada ucapan Gena.
"Iya, ini mau pergi kok," berdiri karena Gena menarik lengannya. "Aku permisi, senang bertemu denganmu Berlian."
Berlian tidak menanggapi, dia hanya menatap datar.
Melihat Zivana sudah keluar dari Cafe, buru-buru Gena mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan ia usap pada bangku dan meja yang baru Zivana tempati.
"Kamu ngapain?" tanya Berlian keheranan.
"Mas, mintak semprotan pembersih dong saya lupa bawa hand sanitizer," pelayan pria itu bergegas mengambil yang di minta Gena dan membawakannya pada gadis itu.
"Gena, kamu itu sedang apa sihh??"
"Kata Kak Kia, aku gak boleh ketularan dia. Jadi apapun yang berhubungan sama wanita itu, aku harus jauhin,"
Berlian tertawa. "Membersihkan itu juga?"
"Umm, begitulah."
"Segitunya?"
"Uum.. Mau dengar satu cerita? Dulu waktu aku ulang tahun, kak Zee pernah kasih aku boneka beruang berukuran besar. Kak Kia tau, terus besoknya boneka itu di bakar. Terus aku di beliin sama kak Kia boneka yang lebih besar,"
"Oh my God" Berlian tertawa keras. Segitu bencinya Zaskia terhadap Zivana.
"Sejak saat itu kak Kia gak pernah izinin aku untuk dekat-dekat dengan perempuan ular itu." Berteriak memanggil pelayan meminta buku menu. "Dia ngomong apa sama kakak?" Sembari duduk karena merasa air pembersih sudah kering pada bangku dan meja.
"Gak ada, cuma basa basi biasa," Gena manggut-manggut dan menerima sodoran buku menu dari pelayan.
"Apapun yang di bilang sama dia, jangan percaya. Semua dusta," Berlian mengangguk saja. "Dia kok bisa disini?" Masih memandang Zivana yang berada di luar berjalan menuju mobilnya.
"Ini kan tempat umum, lagian katanya dia habis makan siang bareng Devan," memasukkan Steak kentang pada mulutnya.
"Oh ya?" Berlian mengangguk. "Bullshit, mana mau Devan makan bareng dia."
"Haa!! Kenapa? Dia kan tunangan Devan?"
"Kalo emang tunangan, pasti ada Artikel yang nulis, kayak waktu mas Aryan tunangan sama kakak. Devan itu gak kalah terkenalnya kok sama mas Aryan," Berlian mengangkat bahu, mana perduli ia dengan hal itu. "Dia itu, cuma ngaku-ngaku saja, biar famous di kalangan holang kaya."
Ini, dia ngomongin apa sih.
Gena memanggil salah satu pelayan lagi untuk membawakan pesanan yang dia catat. "So, kita alih pembicaraan,"
"Hmmm... " membuka ponselnya dan mulai membalas pesan entah dari siapa.
"Jadi, siapa laki-laki tadi pagi?"
"Pacarku," mata masih tetap fokus pada ponsel.
"Really???"
"Ummm," Berlian menganga tidak percaya, bukan karena apa, di lihat dari penampilan laki-laki itu, jauh dari tipe kebanyakan wanita. Siapa laki-laki itu, sampai Gena bisa menyukainya. "Kakak gak percaya??" Berlian menggeleng ragu. Berlian sempat mendengar laki-laki itu menyebutkan Gena sebagai pacarnya. Tapi......"Karena penampilannya kan?" Berlian mengangguk samar.
"Kak, cintaku itu tidak memandang fisik maupun materi," ucapnya sembari tersenyum ramah kepada pelayan yang mengantarkan makanan pesanannya. "Dia satu-satunya orang yang menerima aku apa adanya,"
"Hmmm,,"
"Kakak, tidak pesan lagi?" Melihat gelas dan piring cemilan Berlian yang semakin kosong.
"Kenyang, kamu aja." Tidak bisa di biarkan.
Gena, memesankan minuman lagi untuk Berlian. Sepertinya mereka akan membicarakan sesuatu hal yang sangat panjang.
Tentang masa kecil Aryan, tentang kenapa Aryan sangat tidak menyukai Devan, dan kenapa banyak orang tidak menyukai keberadan Zivana yang menurut Berlian cukup ramah di awal pertemuan.
Di tambah tentang percintaan Gena yang tidak masuk akal bagi Berlian. Itu janji Gena kepada Berlian, saat gadis itu memintanya untuk menjemput.
...☘️☘️...