
Tirai jendela terbuka lebar, sinar matahari menyilauikan mata tanpa izin, saat ini Berlian masih sangat mengantuk. Matanya terbelalak ketika mendapati dirinya tidur di kamar Aryan.
Dimana pria itu? kenapa ia tidak di bangunkan? kenapa membiarkan Berlian tidur di kamarnya, atau jangan-jangan pria itu malah mengambil kesempatan. Pikiran negative mulai memasuki pikirannya.
Berlian membuka mata lebar-lebar, mengatur nafas dengan lembut, membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan pelan. Nafas lega terhembus, ia masih memakai pakaian lengkapnya, sweter panjang dan celana pendek.
Pintu ia buka kecil, matanya berkeliar ke kanan dan ke kiri, takut ada yang mendapati dirinya tidur di kamar Aryan. Bisa mati menahan malu dia, Nafas lega terhembus lagi, Berlian menuruni anak tangga dengan pelan, berusaha agar sandal lepeknya tidak menimbulkan suara.
"Selamat pagi sayang? Kamu sudah bangun?" Berlian benar-benar terkejut mendapati Udayana yang menyapanya saat Berlian hampir meraih kenop pintu kamarnya.
"Eh. . ee iya tante, selamat pagi," sapa Berlian gagap, sejak kapan ia memiliki rasa takut seperti ini. Bukan karena apa? Berlian hanya takut membuat namanya menjadi jelek. Baru di bawa kerumah tunangannya, sudah berani memasuki kamar sembarangan. Yah, enak juga kalau mereka mau mengerti, jika tidak? Berlian akan di katakan sebagai wanita penggoda dan lain-lainnya. Ahh.. Berlian tidak mau itu terjadi.
"Ada apa sayang? Kamu merasa pusing?" Karena melihat Berlian memukul kepalanya sendiri, membuat Udayana menjadi khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan calon menantunya.
"Engga kok tante, cuma masih belum sadar aja?" Berlian memberikan jawaban asal kepada Udayana, bukannya merasa aneh dengan jawaban Berlian, Udayana malah manggut-manggut saja.
"Kamu masih ngantuk?" Berlian menggeleng. Bagaimana bisa? Saat ini ketakutannya lebih besar dari pada sebuah rasa kantuk. "Ya sudah ayok sarapan sayang,"
"Tante, duluan gak apa-apa, Berlian mau mandi dulu,"
"Kami akan menunggu," Berlian langsung masuk kamar cepat, mandi dengan kilat, bahkan ia tidak mengeringkan ujung rambutnya yang terkena air saat mandi.
********
Sebelum memasuki ruang makan Berlian mengatur nafasnya terlebih dahulu. "Loh kok gak masuk sih?" Udayana membawa Berlian masuk dan bergabung kemeja makan.
"Selamat pagi Berlian," Abraham menyapanya.
"Selamat pagi om," Berlian melihat Aryan, pria itu malah makan dengan santai.
Dasar, ini semua gara-gara dia. kalau sampai om dan tante bertanya. Dia yang harus menjelaskan semuanya.
Berlian benar-benar tidak bisa menjauhkan pikiran negativenya. "Loh om sama tante mau kemana? Kita kan belum makan?" Melihat Abraham sudah lebih dulu keluar dan Udayana berjalan mendekatinya.
"Pagi ini kami mau sarapan bersama rekan bisnis om Abraham, kamu makan bareng sama Aryan aja ya. Selamat menikmati," Berlian mengangguk saja.
"Maaa!!" Terdengar teriakan Abraham dari luar ruang makan.
"Iya sayang, aku datang,," sebelum pergi Udayana mengecup kening Berlian terlebih dahulu, Berlian diam saja dan memperhatikan kepergian Udayana karena mendengar teriakan Abraham lagi yang memintanya memakaikan dasi.
Berlian berjalan mendekati meja makan dan duduk di depan Aryan. "Heh,"
Aryan mengangkat wajahnya menatap Berlian. "Ada apa?"
Ada apa katanya, hah dia ini kok membuatku jengkel ya. Gerutu Berlian.
"Kenapa lo gak bangunin gue, terus suruh gue pindah?"
"Sudah kok," Berlian mengerutkan kening. "Tapi kamu bilang, gak mau tidur sendiri," Berlian tersedak, apa benar ia mengatakan itu. tapi, itu bukan berarti ia tidur bersama Aryan kan?
"Masa?" Berlian pura-pura tidak percaya dengan ucapan Aryan.
Berlian melanjutkan sarapannya dan melihat Aryan bangkit lalu mengelus kepalanya, mengatakan kalau dia akan pergi dulu karena pagi ini ia memiliki jadwal meeting. Berlian cemberut, ia tidak pernah menyukai saat makan sendirian.
********
Tiba-tiba ia kaget melihat Aryan masuk lagi dengan membawa handuk di tangannya. "Loh, kenapa balik?" bukannya menjawab Aryan malah berdiri di belakangnya, membuat Berlian menatap heran.
"Rambut kamu masih basah," ucapnya, tanpa meminta izin Aryan langsung mengeringkan rambut Berlian dengan handuk.
Berlian berdehem, "lo tidur di mana semalam?"
"Jangan khawatirkan aku,"
"Ck, gue gak khawatir." bantahnya kesal, membuat Aryan terkekeh lirih.
********
Semua orang pergi, mungkin saatnya Berlian berkeliling mencari kerjaan karena merasa bosan. Banyak foto Aryan dari kecil sampai sebesar sekarang di dinding, foto keluarga dengan pakaian yang berbeda-beda. Abraham dan Aryan sama-sama tampak gagah di sana, sedangkan Udayana yang duduk sangat terlihat anggun.
Ada foto mereka dengan pakaian khas India juga, Berlian jadi ingat bahwa Abraham adalah orang asli India.
Foto dirinya juga ada di sini.
Sepertinya mereka benar-benar merawat rumah ini dengan begitu rapi. Ahh, Berlian ingat ia belum membereskan kamar Aryan, karena terlalu panik tadi, ia berlari keluar begitu saja.
Berlian memutuskan untuk pergi ke kamar Aryan, selimut masih tersibak, ia berjalan mendekat dan mulai membereskannya. Setelah urusan kasur selesai, ia berjalan mengelilingi kamar Aryan, begini ya kamar seorang pengusaha muda yang kompeten. Kamar ini benar-benar sangat rapi, sepertinya Berlian betah berada di kamar ini, jika ia mengatakan bahwa dia ingin memiliki kamar ini. Apa mereka akan menyetujuinya ya? Berlian tertawa sendiri.
Berlian duduk di sisi kasur dan melihat fotonya yang terpajang di sana, apa ya yang Aryan katakan
semalam tentang foto ini. Berlian berpikir sejenak.
Ah, yaa. . . Foto inu di berikan oleh pakdenya saat keluarga mereka bertemu untuk membuat sebuah rencana, tentang perjodohan mereka.
Tunggu,
Bukannya foto itu ada pada Abraham. Kenapa bisa ada di kamar Aryan, padahal waktu itu Abraham mengatakan foto itu adalah miliknya.
"Kenapa juga gue mikirin ya gak jelas gini," Berlian bangkit ingin keluar, tiba-tiba kakinya terhenti di ambang pintu.
Kenapa itu menjadi pikiran yang mengganjal untuk Berlian?
Dia berjalan lagi mendekati sisi kasur, mengambil bingkai foto itu dan menatap sebentar. "Ini bukan foto yang om Abraham tunjukin sama gue, foto yang berbeda."
Berlian meneliti lagi foto di dalam bingkai tersebut. "Seberapa banyak pakde ngasih foto gue?" Berlian menjadi bertanya-tanya sendiri. "Tunggu, gue kok gak asing ya sama foto ini. Ini foto dimana sih?" Berlian sama sekali tidak ingat, foto dalam bingkai itu sama sekali tidak asing untuknya.
Berlian sangat-sangat penasaran, hingga keinginannya untuk mengeluarkan foto itu sangat besar.
"Hai," Berlian terkejut dengan seseorang di ambang pintu, ia buru-buru membalikkan badan dengan perlahan.
...☘️☘️...