
Suara gaduh membuat perempuan yang tengah tertidur pulas terganggu, menggeliat dan berusaha mencari bantal secara asal untuk menutupi telinganya. Suara-suara itu terlalu keras, suara bising orang tertawa dan benturan barang membuat perempuan itu mengeram kesal. Karena perut juga yang terasa mual membuat perempuan itu berusaha bangkit dari tidurnya.
"Hoooaaamm..." Menguap besar, matanya sangat berat untuk di buka membuat ia berjalan tetap dengan menutup mata.
Setelah seluruh isi perutnya keluar, perempuan itu kembali keranjangnya dan berbaring menatap sinar matahari yang menembus jendela kamar. Kesadarannya masih belum terkumpul ketika suara seseorang membuatnya memfokuskan kesadaran.
"Eh sudah bangun?" Basagita masuk membawa minuman hangat menuju kearah Berlian yang masih mengerjap matanya. Membuatnya dari posisi tengkurep menjadi duduk, sesekali mengucek matanya. "Nih minum," Basagita menyodorkan minuman yang ia bawa tadi.
"Gak mau ah, Berlian pengen muntah." Berlian menggeser tangan Basagita yang sedang menyodorkan minuman, membuat Basagitalangsung menoyor kepala putrinya dengan perasaan kesal dan geram.
"Makanya kalau minum kira-kira dong sayang, sembarangan aja. Untung ya pakdemu dari sore sudah pergi ketemu Client dan saat kalian pulang seluruh warga di rumah ini sudah tertidur pulas, kalau enggak habis lah Mami. Hancur sudah hidup Mami di depan Pakde dan calon mertuamu," Basagita bercerita sembari memperagakan tangannya mencekik lehernya. "Hati-hati kamu Berlian, ini menyangkut masa depan kamu. bisa malu mami kalau sampai besan lihat itu." Ucap Basagita membara.
Berlian mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi sama sekali tidak mengingat apa-apa. "Terus, gimana Berlian bisa masuk dengan selamat?" Basagita menatap Berlian sinis. Dimana letak pikiran putrinya ini. Ya ampun, sungguh tidak tahu diri sekali.
"Siapa lagi kalau bukan menantu Mami yang gantengnya ngalahin mantan pacar Mami, shahrukh khan." Berlian cuma bergidik ngeri melihat kehaluan mamanya. "Yuk keluar, sarapan. Semua orang pergi hari ini." Berlian melihat ke arah Mamanya yang memang sudah berpakaian rapi hari ini.
"Siapa? Mau pada kemana?" Tanya Berlian dengan polosnya.
"Satu, Mami akan ke Jakarta. Dua, Tante Yana akan ikut ke Jakarta mencari baju untuk pertunangan kalian. Ketiga, Chacha dan Dena ke Bandung dari subuh tadi katanya ada pertemuan EXO-L. Keempat, Bude Sarah ada pertemuan dengan gengsquadnya." Berlian sedikit melotot dengan penjelasan Mamanya.
"Pakde, om Abraham, Aryan?" Tanya Berlian lagi.
"Yang pastinya mereka kerja don."
Berlian mengangguk mengerti. "Terus Berlian?"
"Whatever," Basagita mengangkat bahunya, dan pergi berlalu dari kamar.
Berlian turun dari lantai dua menuju dapur untuk mengisi perutnya. Di lihatnya Aryan sedang sarapan pagi di meja makan, seperti biasa. Laptop dan beberapa kertas yang Berlian tidak mengerti selalu ada di dekatnya.
Berlian melihat beberapa orang sedang mengangkat barang-barang ke arah belakang rumah.
"Bi Din, siapa mereka? kenapa buat keributan?" tanya Berlian pada Bi Dina pekerja yang membantu Mbok Jem mengurus rumah Wijaya, Sembari mengunyah roti selai coklat di tangannya.
"Kunyah dulu, Berlian. Mereka lagi dekorasi buat acara pertunangan kita." Aryan menjawab lebih dulu. Berlian hanya membulatkan bibirnya, melihat ke arah Aryan di sampingnya. Masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Bisa gak sih, kerjanya distop dulu, lagi makan juga." Aryan menatap Berlian dan tersenyum manis.
Dia masih gak ngerti ya, kalo dia gak usah senyum gitu kalo lagi ngomong sama gue. Aryan mengemas map-map yang berserakan dan bangkit.
"Masa kamu cemburu sama map dan laptop?"
"Bukan gi-gitu...."
Aryan tersenyum. "Aku pergi dulu," sebelum benar-benar pergi, Aryan sempat mengusap selai coklat yang menempel pada bibir Berlian lalu pergi dan berpamitan kepada Basagita yang duduk di ruang tamu sedang menambahkan polesan make up pada wajahnya.
********
Berlian duduk dibawah pohon rindang hanya menatap beberapa orang yang sibuk mondar mandir mengangkat barang kesana dan kesini sambil menggunakan earphone di telinganya. ia tengah bingung menatap semua orang.
Berlian menghembus nafas panjang menatap foto dirinya bersama Farrel. Tiba-tiba kehadiran seorang pria tinggi yang berdiri di depannya membuat Berlian kembali duduk dengan benar dan langsung menyembunyikan foto itu disisi telapak tangan dan pahanya.
Berlian bergerak melepaskan kabel earphone di telingan.
"Daddy. ini jam 11:03 berarti Guten Tag
(Selamat siang dalam bahasa Jerman) gitu aja gak tau," Berlian tertawa kecil sembari kembali duduk, ia juga sempat menggeser foto itu di selipan pantatnya.
"Terserah," pria itu berjalan mendekati bangku dan duduk di dekat Berlian. "Menurut kamu bagus warna pink atau merah maroon untuk tempat inti??" Berlian menatap kebelakang tempat inti berada.
"Hitam," jawab Berlian,
Itu memang warna kesukaan Berlian.
"Ini acara pertunangan, Berlian. Bukan pemakaman, jangan hitam," Berlian tertawa mendengar itu. "Cepat yang mana?" Paksa pria itu.
"Merah maroon." Pria itu berteriak memanggil salah satu bawahannya. Pria yang di panggil tampak lari cepat melihat siapa yang memanggilnya.
"Iya Pak? Jadi warna apa Pak?" Tanyanya.
"Keduanya," Berlian menatap pria di sampingnya takjub lalu memutar bola mata malas. Pria yang di tugaskan mengangguk pamit dan langsung berlari ke area inti.
"Kenapa pakai nanyak kalau keduanya bakal di pakai, Daddy Saaaammmm..." Samuel tertawa terbahak-bahak.
"Hanya ingin menyapamu," Samuel menggeser tubuh Berlian agar mendekat. "Gak nyangka anak Andro Sudah tumbuh dewasa bahkan ia akan melaksanakan pertunangan," Samuel mengelus kepala Berlian. "Papimu pasti bangga karena kamu tumbuh menjadi gadis yang tangguh."
"Danke schön (terima kasih dalam bahasa jerman)" Samuel mengangguk, ia beralih mengambil tangan Berlian dan di himpit dengan kedua tangannya.
"Timo memang keluargamu, tapi yang lebih tau tentang kamu adalah aku, Daddymu." Berlian menatap Samuel yang mulai mengarahkan pembicaraan yang serius. "Tentang kenakalanmu, percintaanmu, hatimu, sekolahmu, kehidupanmu Daddy tau semua. Saat kehilangan istri dan anak Daddy, semua kasih sayang dan perhatian Daddy curahkan kepadamu dan Charlotte. Mendengar kamu telah di jodohkan dan tidak ada yang memberitahu kepada Daddy, Daddy sangat tidak terima, karena kamu adalah anakku," Samuel mengucapkan itu dengan wajah kecewa.
"Daddy tau dari siapa kalau Berlian akan tunangan?" Berlian merebahkan kepalanya pada bahu Samuel yang tegap.
"Basagita. Kamu tau tidak?" Berlian menggeleng. Lalu kembali menatap Samuel. "Mami mu melarang Daddy menemui mu "
Berlian sangat terkejut. "Hah kenapa?" dia benar-benar sangat terkejut, pasalnya Basagita sangat mempercayakan Berlian kepada Samuel sedari dulu. Lantas kenapa Samuel berkata seperti itu.
"Dia takut Daddy membawamu lari, karena dia tau kalau Daddy paham betul bahwa kamu tidak menyukai perjodohan ini," Berlian tertawa. Samuel mendekat dan berbicara sedikit berbisik. "Jangan percaya pada Mamimu Berlian, kalau dia berencana membatalkan perjodohan ini atau saat pernikahan kalau kekasihmu kembali," Berlian menjauhkan telinganya dan melotot ke arah Samuel.
"Maksudnya??" Tanya Berlian.
"Daddy belum siap," Berlian kembali mendekatkan telinganya dan mendengarkan bisikan Samuel. "Katakan kepada Daddy kalau pria itu menyentuhmu sampai terluka, Daddy orang pertama yang akan membunuhnya dan jika kekasihmu kembali lalu kamu ingin bersamanya lagi Daddy yang akan membantu?" Pernyataan itu membuat Berlian melotot. "Jangan percaya pada siapapun" tambahnya.
"Beneran??" Samuel mengangguk.
"Timo berada di bawah naunganku, setelah Daddy menelponnya dan bertanya tentang pertunanganmu, dia langsung meminta maaf dan mengundang Daddy untuk membantu apa saja yang kamu butuhkan di acara pertunanganmu. Sebenarnya Daddy tau itu hanya basa basi tapi Daddy tetap datang. See, tanpa Daddy bertanya semua sesuai seleramu kan?" Berlian mengangguk dan Samuel beranjak pergi karena ia harus mengontrol para pekerja.
"bis später(Sampai jumpa dalam bahasa jerman)" Berlian tersenyum dan melambaikan tangan. Saat berbalik Samsul terkejut dengan keberadaan laki-laki tinggi dan tampan di belakang mereka duduk.
Samuel mengerutkan kening dan menatap tajam kepada laki-laki di hadapannya. "Siapa kamu?"
...☘️☘️...
GAIS GAIS GAISS.......
NIH DI BAWAH ADA TOMBOL JEMPOL,,, JANGAN LUPA LIKE, COMENT, SAMA VOTE YA KALAU KALIAN SUKA SAMA CERITA AKU.... TERIMA KASIH 💜