
5 Bulan yang lalu
24 Agustus
Pak Yasa baru saja menyelesaikan sidang putusan hakim kasus pembunuhan mahasiswi yang bernama Anggi. Dia adalah mahasiswa semester 6 yang tinggal sendiri di flat yang tidak jauh dari kampusnya. Seorang kurir pengantar barang ditetapkan bersalah dan mendapat keringanan 2 tahun dari yang diminta Pak Yasa, yaitu 6 tahun.
Masih dengan jubah kebesarannya, Pak Yasa menuju ke ruang kerjanya ditemani oleh jaksa Moreo. Juga dua penyidik di belakangnya. “ Kita kembali ke TKP.” Permintaan tiba-tiba Pak Yasa membuat semua rekannya terkejut.
“ Untuk apa pak? Bukannya kasus ini sudah selesai?” salah seorang dari penyidik bertanya penasaran.
“ Ada beberapa hal yang harus aku pastikan. Moreo kamu ikut denganku.” Pak yasa melepaskan jubah dan menyampirkannya asal ke sandaran kursi. “ Kalian berdua selesaikan sisanya!”
“ Siap pak”, kedua rekannya menjawab serentak.
Pak Yasa dan Jaksa Moreo segera meluncur ke tempat keajdian perkara dengan mobil sedan hitam milik Pak Yasa. Tidak banyak percakapan yang terjadi diantara kedua pria itu selama di perjalanan. Setelah 30 menit berlalu, sampailah mereka di sebuah flat di pinggiran ibu kota.
“ Bau ini masih saja membuatku mual.” Jaksa Moreo mengeluh dengan bau anyir darah yang masih tercium samar-samar di ruangan itu. Semua barang dan kekacauan yang sebelumnya, sudah dibereskan. Meskipun sampai sekarang belum ada yang meninggalinya lagi. Beberapa barang milik korban juga masih berada di tempatnya. Keluarganya bilang kalau mereka akan membiarkannya tetap seperti ini setidaknya sampai mereka benar-benar ikhlas dengan kepergian Anggi.
“ Apa yang akan kita cari, pak ?” Pak Yasa hanya diam sembari meneliti setiap sudut dari ruangan yang bias dibilang cukup mewah untuk seukuran mahasiswa rantau di Jakarta.
Tidak ada catatan buruk sama sekali dari Anggi tapi, sebagaian besar dari mahasiswa di kampusnya mengetahui kalau Anggi adalah ayam kampus. Gadis berusia 22 tahun itu sering terlihat pergi bersama dengan orang-orang bersetelan rapih dan berjas. Dan tentu saja dengan isi dompet yang cukup tebal.
“ Kita bongkar sofa itu!” Pak Yasa memerintahkan sembari menunjuk sofa yang berada di sudut ruang tamu. Terlihat mencolok dengan warna merah, sedangkan barang-barang lainnya lebih banyak berwarna nude. Meski dengan wajah penuh tanda tanya, jaksa moreo tetap melaksanakan perintah dari atasannya itu.
Kedua pria itupun merobek sofa dengan pisau yang ada di meja dapur. Di dalam sofa itu terdapat bubuk kristal putih dalam sebuah plastik klip. Mungkin sekitar 20 gr. Dan juga sebuah pnsel hitam dengan kondisi yang cukup rusak parah. Layar dan casingnya pecah, seperti terlindas oleh ban motor atau mungkin mobil.
Saat mayat Anggi diotopsi, mereka memang menemukan kandungan metafitamin dalam tubuh Anggi, tetapi kadarnya terlalu sedikit untuk menjadikannya seorang pecandu. Sedangkan di sofa ini terdapat banyak sekali metafetamin bubuk dalam plasit kecil. Kecuali Anggi adalah seorang pengedar.
“ Ponsel ini rusak parah.” Jaksa Moreo meneliti ponsel yang bisa dibilang barang rongsokan saja.
Pak Yasa membawa ponsel itu dan memerikannya pada seorang ia yakini bisa membuat ponsel Anggi kembali berfungsi.
“ Apa mungkin masih bisa diperbaiki.”
“ Ini akan membutuhkan waktu yang lama.”
Pak Yasa terdiam, “ Berapa lama ?”
Seorang pemuda dengan rambut acak-acakan memainkan ponsel rudak Anggi sambil sesekali meneguk es jeruk yang dipesannya. “ Pak tua kamu tau kalau aku orang yang sibuk.”
“ Berapapun yang kamu minta.” Pemuda itu mengeluarkn senyum tengilnya ketika Pak Yasa dengan mudah menangkap umpannya. Pemuda itupun pergi setelah mencapai kesepakan seperti yang diinginkannya dengan Pak Yasa. Meninggalkan tagihan bakso dan es jeruk yang dipesannya tadi.
“ Sebagai DP-nya bayarkan baksoku pak tua.” Pemuda itu berseru sambil berlari meninggalkan angkringan bakso sederhana di pinggir jalan.
***
Setelah hampir 2 bulan lamanya akhirnya ponsel rusak yang ditemukan di sofa milik Anggi bisa diperbiaki. Meskipun tidak semua data dapat dikembalikan, tapi mereka berhasil memulihkan beberapa video.
“ Analisis siapa pemilik suara-suara dalam video itu!” Pak Yasa memberi perintah setelah mendengarkan tentang beberapa kerusakan ponsel Anggi dari pemuda itu.
“ Yang benar saja bung. Disini ada puluhan video dengan suara yang sangat banyak.” Pemuda dengan kaos hitam dan rambut acak-acakan berdiri dari duduk nyamannya di kursi. Dia baru saja bisa tidur dengan nyenyak setelah hampir 2 bulan ini memperbaiki ponsel rusak milik Anggi. Pemuda itu bahkan hampir tidak pernah keluar dari ruang bawah tanah milik Pak Yasa, kecuali utnuk mencari makan. Yah, kesepakatan yang diminta pemuda itu dari awal adalah sebuah ruang tertutup yang aman dan tersembunyi. Jadilah Pak Yasa membangunkan ruang bawah tanah di rumahnya. Dengan keamanan canggih yang sudah disempurnakan oleh pemuda itu.
“ Aku akan menambah bayaranmu. Jadi cepat kerjakannlah.” Pak Yasa nampak sedikit geram.
“ Aish dasar pak tua menyebalkan.”
Setelah 5 hari, pemuda itu berhasil menemukan beberapa pemilik suara yang ada di video Anggi. Salah satu pemilik suara itu adalah Brama Abimanyu. Dalam video tersebut jelas bahwa Brama melakukan suap kepada beberapa pejabat dan menggunakan Anggi sebagai bonus di dalam suapnya.
***
Kembali kemasa sekarang.
Akhir bulan Februari.
Sinar matahari yang semakin meredup membuat jalanan ibukota menjadi sedikit gelap. Udara panas berganti dengan semilir lembut angin sore. Lampu-lampu berwarna putih berpendar seriring menghilangnya sinar matahari. Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib dari toa yang terpasang di menara masjid, atau terpasang seadanya di atap mushola. Anak-anka kecil berlarian dengan sarung mengalungi tubuhnya, beberapa anak perempuan sudah rapi dengan mukena mereka yang warna warni.
Arga mengabaikan semua pemandangan petang yang sejak tadi dilewatinya. Pandangannya tetap focus pada jalanan sempit yang Ia lalui untuk sampai ke kompleks perumahan Yasmine. Tangannya sesekali menggenggam erat stir mobil saat beberapa anak lelaki berlari dengan sembrono di jalanan.
Setelah 15 menit berlalu, akhirnya sampailah Arga di depan sebuah rumah dengan dominasi warna putih. Ditambah dengan bunga berbagai macam jenis yang tidak satupun Arga ketahui namanya. Arga merasakan perasaan yang sangat familiar ketika tangannya membuka ganggang pintu. Sekelebat bayangan ketika dia dengan malas menanggapi ocehan Yasmine di sofa ruang tamu membuatnya berhenti melangkah. Dan bayangan lain ketika dia membunuh ayah Yasmine masih jelas diingatannya.
Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya, tersenyum meremehkan. Langkahnya kembali berlanjut menyusuri ruang makan dan sampailah dia di pintu samping rumah. Hawa dingin angin malam menyerbu ketika Arga membuka pintu itu. Hamparan taman keluarga yang tidak terlalu luas menyambutnya. Terdapat sebuah ruangan kecil tempat menyimpan barang-barang tidak terpakai disudut taman itu. Dan di sanalah ruang bawah tanah, tempat Jaksa Yasa menyimpan berkas yang dicari Arga.
Berkat sidik jari Yasmine yang sudah didapatkannya dengan paksa, ruangan bawah tanah itu bias terbuka. Cahaya diruangan itu cukup gelap, udaranya juga pengan karena tidak ada ventilasi. Ruangan dengan lebar 4x4 meter itu memiliki banyak sekali computer yang sudah dihancurkan, beberapa berkas berantakan di meja. Arga mulai mencari berkas perkara dari wakil bupati Brama Abimanyu.
Dan tiba- tiba saja sebuah sauara berdesing disamping telinga kananya membuat ia berhenti. Sebuah pulpen melintasi telinga Arga dari arah belakang dan menancap di rak kayu yang berada didepannya. Arga yang sedikit terkejut segera berbalik dan bersiap dengan kuda-kudanya. Satu lemparan pulpen lain hampir saja mengenai mata kirinya jika saja Arga tidak bisa mengelak dengan cepat. Arga menyipitkan matanya demi bisa melihat dengan jelas wajah si penyerang yang bersembunyi di kegelapan.
“ Keluar dari sana dasar pengecut.”
“ Tidak.” Suara gemetar yang cukup melengking menjawab dari kegelapan.
Arga hanya bisa melihat kaki gemetar yang berusaha untuk maju dan kembali melemparkan pulpen. Meskipun kecepatan dan kekuatan lemparannya todak sekuat seperti saat pertama tadi.
Arga berusaha menyerang untuk memancingnya kelaur dari kegelapan. Dia memberikan sernagan bertubi yang beberapa kali berhasil mengenai tubuh sosok itu. Dan ketika Arga berhasil melemparkannya ke tempat yang sedikit terang, Arga menghentikan tinjunya diudara. Dia terkejut mendapati seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun yang menggenggam erat tas punggung di dadanya. Tubuhnya meringkuk ketakutan sambil terus mememlas, “ Ampun kak, ampun.”
“ Siapa kamu?”
“ Namaku Lucas kak. Aku anak tetangga sebelah. Aku mecuri komik dari gudang diatas.”
Lucas bersujud sambil menangis meminta agar arga tidak memukulnya lagi. “ aku tidak sengaja masuk tadi. Maafakan aku kak.”
Arga menurunkan tinjunya dan membiarkan Lucas pergi begitu saja. Tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga padanya.