Treason

Treason
Chapter 6 : Pergi ke Bogor pt. 1



*Malam tahun baru, 31 Desember.


Yasmine tesentak sadar dan memandangi orang-orang diruangan itu dengan wajah gelisah. Mulai dari Arga lalu keempat orang dengan pakaian serba tertutup di .belakang Arga. Mengamati satu persatu perawakan dari rombongan orang-orang yang sangat asing dimata Yasmine. Dan berakhir pada sosok ibu dan kakaknya.


Yasmine melepaskan tangan ibunya dengan perasaan berat. Langkah kakinya mulai bergerak meninggalkan dapur dan menuju lantai atas. Tanpa sekalipun menoleh kearah belakang. Berharap bisa menemukan bantuan secepatnya.


Yasmine tahu Arga menatapnya. Memandangi kepergian Yasmine ke lantai 2 rumah itu. Arga tidak sedikitpun melepaskan pandangan pada Yasmine sejak masker yang menutupi wajahnya tersingkap. Pandangan matanya tidak dapat dijelaskan ketika melihat Yasmine – sahabatnya itu. Atau mungkin sekarang Yasmine sudah enggan untuk memanggilnya sebagai sahabat setelah apa yang sudah ia lakukan kepada ayah tecintanya. Siapa pula yang akan menganggap seorang pembunuh adalah sahabat jika bukan orang bodoh.


Tapi untuk saat ini Arga tiak bisa melakukan apapun atau menjelaskan apapun. Tidak untuk sekarang. Pandangannya kembali beralih kepada Anjani setelah Yasmine tak terlihat lagi.


“ Apa kamu tidak membohongiku ?” pertanyaan ini lebih terdengar seperti sebuah pernyataan. Dan Anjani hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.


Setengah jam yang lalu mereka datang dengan tiba-tiba dan menawarkan sebuah perjanjian dengan suami Anjani, Yasa Jayanegara. Arga akan melepaskan mereka dan membiarkan keluarga Yasa pergi keluar kota asalkan mereka menyerahkan berkas perkara dan juga bukti kasus untuk kasus Wakil Bupati , Brama Abimanyu.


Diluar dugaan, dibandingkan harus menyelamatkan keluarganya, Yasa lebih memilih untuk mempertahankan tanggung jawabnya sebagai seorang jaksa. Dan karena perintah yang dibebankan pada Arga, akhirnya pemuda itu membiarkan anak buahnya membunuh Yasa. Dan meskipun suaminya telah terbunuh, Anjani masih melindungi berkas tersebut.


“ Mereka mengijinkanku untuk membunuh siapapun yang menghalangi.”


“ Kamu tidak tahu cara berterima kasih. “ Naufal membalas perkataan Arga dengan sengit. Dia sangat siap untuk menyerang Arga andai ibunya tidak menahannnya.


“ Aku sudah memberikan penawaran. Tetapi pria kaku itu sama sekali tidak mempertimbangkannya. “


“ Begitupun denganku. Kejahatan kalian harus terungkap. Entah melalui tangan siapapun selain suamiku.”


Arga menggeram. Dia menatap nyalang pada Anjani.


Wanita ini selalu saja membuatku dalam pilihan yang sulit.


Arga mengangkat tangan kananya dan memberi isyarat agar keempat anak buahnya menyerang secara bersamaan.


Naufal maju dan melawan empat orang secara bersamaan. Meskipun memiliki kemampuan bela diri, tetapi lawannya ini juga memiliki tingkat bela diri yang setara atau bahkan lebih tinggi. Naufal sangat kualahan. Beberapa kali dia menerima serangan di perut dan dadanya.


Salah satu lawannya melayangkan tendangan yang mengenai bagian kepala kanan Naufal. Dia tidak sempat menghindar karena baru saja menyarangkan sebuah pukulan pada lawan lainnya. Naufal tersungkur. Tubuhnya sudah babak belur. Anjani menghampiri anak lelakinya.


“ Kamu tahu sendiri konsekuensinya Bu Anjani.” Arga menghampiri ibu dan anak yang masih terduduk dilantai.


Dor .. dor .. dor


Tanpa ampun Arga menembak Anjani dan Naufal tepat pada jantung mereka. Arga bahkan menahan nafasnya saat melakukan itu kepada orang-orang yang dulu sempat menyelamatkan Arga dari ketidakberdayaannya. Sekelebat pemandangan masa lalu sedikit mengganggu pikirannya. Tangannya sedikit gemetar.


“ Kk- kau ti- dak ak- kan me-ne-mukan apapun di-sini ..” Anjani berkata dengan susah payah disaat-saat terakhirnya. Darah kental keluar dari mulunya. Urat-urat nadinya terlihat sangat jelas. Matanya mendelik menahan rasa sakit yang tidak tertahan. Dan akhirnya wanita itupun menghembuskan nafas terakhirnya.


Tukk ...


Suara benda jatuh menyadarkan Arga dari keterkejutan yang ia buat sendiri. Kepalanya menoleh demi melihat asal suara. Disana Yasmine jatuh terduduk dengan pandangan kosong. Tubuhnya bergetar dengan hebatnya. Matanya memerah. Tapi tidak setetespun air mata keluar dari dua mata bulat itu. Sebuah flashdisk merah terjatuh dihadapannya. Beberapa langkah jaraknya dengan Arga berdiri sekarang.


“ Ambil flashdisk itu. “ Arga membelakangi Yasmine. “ kita pergi. ” dan pergi begitu saja.


Salah satu anak buahnya mengambil flashdisk merah yang dijatuhkan Yasmine. Dia memandang Arga sebentar lalu beralih pada Yasmine yang masih diam seperti patung.


“ ck sebaiknya kalian menurut dari tadi.”


Pria itu menyusul kelompoknya keluar rumah. Tapi sebelum benar-benar pergi, dia menembak Yasmine pada bagian perutnya. Pria itu tampak sedikit kasihan dan mengurungkan niatnya yang tadi ingin membunuh Yasmine sekalian. Dan lebih memilih menembakkan pelurunya pada bagian perut Yasmine yang masih tetap diam terduduk.


Tapi sepertinya belas kasihan itu menjadi awal sebuah skenario yang tidak akan pernah dibayangkan. Entah sebulan lagi, satu tahun lagi atau bahkan sepuluh tahun kemudian*.


***


Hari sudah semakin siang saat Yasmine sampai di rumah sakit Permata Medika. Jarak rumah sakit ini dengan kontrakannya cukup jauh. Yasmine harus menaiki KRL selama 2 jam untuk sampai di sini. Beruntung hari ini cuaca tidak terlalu terik. Setidaknya Yasmine tidak akan kehabisan tenaga saat dia nanti harus berdebat atau mungkin mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk menghajar Arga.


“ Datanglah ke rumah sakit Permata Medika besok. “ suara berat Arga terdengar dari seberang telpon. Tetapi Yasmine masih diam dan tidak mau menanggapi permintaan Arga.


“ Keh ..” kekehan Arga mengisi kekosongan diantara panggilan malam itu.


Yasmine tidak sedikitpun mengeluarkan suara hanya untuk memberi tahu Arga bahwa dia masih disana mendengarkan Arga. Gadis itu juga tidak menutup panggilan yang menandakan bahwa masih ada sedikit kepercayaan dalam hati Yasmine untuk sahabatnya itu. Tapi tidak pernah sekali saja Arga mengungkit masalah penyerangan pada malam tahun baru itu. Seolah kejadian itu tidak melibatkan Arga. Dan tidak pula Yasmine menemukan rasa bersalah dari setiap interaksi setelah penyerangan malam itu.


“ Kenapa?” Yasmine akhirnya menjawab setelah sejak tadi hanya berkutat dengan pikirannya sendiri.


Terdengar suara sirine ambulance samar-samar sebelum akhirnya Arga menimpali pertanyaan Yasmine. “ Aku bersama dengan Naufal.”


Yasmine menegang. Telinganya masih berfungsi dengan baik. Dan saat ini dia masih tersadar. Yasmine tidak sedang bermimpi. Dia memang benar mendengar kalau Arga menyebutkan Naufal. Naufal adalah kakaknya. Dan dia turut terbunuh dalam penyerangan pada malam tahun baru. Satu bulan yang lalu.


Yasmine mendengus. “ Kamu gila ?!” tanya Yasmine dengan gemetar.


Ada seberkas harapan disana. Dan Arga menyadari itu dengan baik.


“ Aku bersama Naufal.” Arga kembali mengumandangkan kata yang sama.


“ Datanglah besok.” Arga diam sejenak. “ atau kamu tidak akan pernah bertemu kakak kesayanganmu ini.”


“ Aku akan mengirim alamat lengkapnya.”


Yasmine mati-matian menahan amarahnya. Dia tidak ingin mempercayai Arga. Tapi Yasmine memang tidak melihat jenazah keluarganya saat itu. Karena Yasmine baru tersadar tiga hari setelahnya. Dia sangat shock saat itu.


Yasmine meragu. Hatinya bimbang.


Dan pada akhirnya Yasmine memberanikan diri untuk mempercayai Arga sekali lagi. Meninggalkan persidangan dan menggantungkan harapan sekali lagi pada perkataan Arga yang entah sebuah kebenaran atau hanya jebakan yang memang sudah disiapkan untuk menangkap Yasmine.


Yasmine memberikan uang dua lembar sepuluh ribuan kepada tukang ojek yang sudah mengantarnya. Memantapkan hatinya sekali lagi sebelum memasuki pelataran rumah sakit yang cukup luas dihadapannya.


Rumah sakit dihadapannya hanyalah rumah sakit kecil dengan dua lantai. Tetapi memiliki halaman yang sedikit luas disamping kanan dan kirinya. Ada pembangunan di bagian kanan rumah sakit itu. Separuh bangunannya sudah hampir jadi.


Yasmine memasuki rumah sakit dan menuju ke lantai dua dengan tangga. Karena memang lift disini hanya untuk dokter dan pasien saja. Dan sampailah Yasmine didepan sebuah ruangan.


Dia ragu sejenak. Tangan kirinya yang tersimpan di saku jaket menggenggam erat-erat gunting kecil yang sudah dibawanya sejak dari kontrakan untuk berjaga-jaga. Tangan kanannya perlahan membuka pintu berwarna coklat kayu didepannya.


Aroma obat kimia bercampur dengan pengharum ruangan menyapa Yasmine. Semakin lebar pintu itu terbuka semakin kuat aroma itu menusuk-nusuk hidungnya. Bukannya membawa ketenangan, aroma ini terasa seperti aroma kekhawatiran yang memacu detak jantung Yasmine menjadi semakin cepat.


Yasmine membencinya.


“ Akhirnya kamu datang juga.” Suara berat Arga terdengar saat Yasmine sudah sepenuhnya memasuki ruangan dan menutup pintu dibelakangnya.


Tatapan tajamnya menusuk langsung pada sosok tinggi tegap yang berdiri disamping ranjang rumah sakit. Tapi tidak ada siapapun yang berbaring diranjang itu. Yasmine menatap Arga dengan marah.


Sialan ! Dia menipuku ?!


***



Brama Abimanyu, sang wakil bupati yang sekarang tengah menjadi tahanan di rutan KPK hanya bisa duduk diam di atas kasurnya. Dia berada di sel dengan satu orang di dalamnya. Di ruangan sempit itu, Brama hanya bisa berdecak tidak puas. Statusnya sekarang adalah tersangka. Dan dia harus berada disana menunggu sidang keputusan hakim atas kasus perijinan pendirian bangunan, bansos dan kampanye gelap saat pemilu untuk bisa mendapatkan jabatannya itu.


Dia menerima kabar kalau Jaksa Yasa ternyata juga menerima suap. Dan terbunuh oleh perampok bersama dengan keluarganya. Brama tidak menyangka kalau ia bisa membalaskan perlakuan Jaksa Yasa bahkan tanpa bertindak sedikitpun. Pria itu memang beruntung.


Tangan kanannya mengelus dagunya yang sudah mulai ditumbuhi jambang. Dia sedikit menyrengit merasakan tusukan tajam dari dagu yang biasanya selalu ia cukur dengan mulus.


“ Sial. Aku harus keluar dari sini lebih cepat.” Brama memutuskan untuk tidur karena tidak memiliki kegiatan apapun.


Belum sepuluh menit matanya terpejam, terdengar suara logam yang saling beradu, dan juga putaran kunci yang akhirnya terbuka.


“ Pak Brama, ada seseorang yang mau berkunjung.” Suara berat seorang penjaga menyadarkan Brama sepenuhnya dari gerbang mimpi. “ Mari ikut saya.”


Brama sedikit bingung saat dia melihat orang asing yang katanya datang berkunjung. Di ruangan berkunjung yang penuh dengan kursi besi saling berhadapan itu hanya ada dia seorang dan tentunya pria yang mengunjunginya.



Pria itu mengenakan jaket bomber hitam dan celana jeans serta sepatu warrior lusuh. Tatanan rambutnya tidak terlalu berantakan tapi juga tidak bisa dibilang rapi. Matanya sedikit cekung dengan bibir tipis yang menghitam. Sepertinya pria itu sudah merokok sejak lama.


Brama hanya diam duduk didepan pria itu sampai penjaga pergi dan mengunci pintu besi dibelakangnya. Dia hanya mendengus dan mencibir pelan. “ aku tidak akan bisa kemana-mana dengan tangan diborgol seperti ini.”


“ Pak Brama .” suara serak pria didepannya memecah keheningan setelah penjaga pergi.


“ Kamu siapa?”


“ Aku hanya pembawa pesan. Panggil saja aku Ian.”


“ Apa kamu dari ketua ?” suara Brama mengecil saat mengatakan kata terakhir. Badannya sedikit condong ke pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Ian.


“ Iya. “ jawab Ian sambil mengangguk pelan.


“ Ada pesan apa ?”


“ Ketua akan mengurus sisanya. Besok seorang pengacara akan mendampingimu.”


Brama kembali menegakkan badannya. Dia nampak berpikir sedikit lebih keras. Dan segera mengangguk paham akan pesan yang disampaikan Ian. Sepertinya dia bisa bebas dengan cepat nantinya.


***


Jaksa Yasa menyimpan berkas yang di cari Arga di ruang bawah tanah dirumahnya. Tapi sialnya ruangan itu memiliki pelindung agar tidak seorangpun dari pihak yang tidak diijinkan untuk masuk. Pintu besinya juga tidak bisa dipecahkan dengan peluru ataupun bom ringan. Arga tidak menyangka kalau seorang jaksa seperti Jaksa Yasa itu memiliki ruangan yang sangat terlingungi di rumahnya. Sekarang kunci satu-satunya adalah dengan bantuan dari Yasmine.


Sayangnya setelah mengetahui kalau Yasmine dijebak oleh Arga, gadis itu buru-buru melarikan diri. Yasmine merasa bodoh karena dia mempercayai bahkan menaruh harapan pada Arga.


Tanpa mempedulikan pandangan bingung dari pengunjung rumah sakit, Yasmine terus saja berlari menuju ke tangga. Baru saja menuruni dua anak tangga, beberapa orang berjas hitam datang dari lantai satu. Yasmine mundur dan kembali ke lorong sebelumnya. Dia terus berlari dan berbelok di perempatan pertama. Dan disana dia juga menjumpai orang-orang berjas itu.


Yasmine kembali memutar arah. Tangannya meraih tempat sampah yang berada didepan ruang inap dan melemparkan asal pada orang-orang berjas hitam. Tanpa sengaja dia juga menabrak perawat dan pengunjung yang kebetulan lewat. Yasmine kembali sampai diperempatan lorong tadi. Diarah kiri dia melihat orang berjas yang datang dari lantai satu. Disisi lorong lainnya dia melihat Arga yang berjalan santai kearahnya. Sementara dibelakangnya orang-orang berjas itu juga semakin dekat.


Satu-satunya jalan adalah lurus kedepan. Papan penunjuk arah diatasnya menunjukkan kalau hanya ada dapur, kamar mandi dan ruang jaga untuk perawat disana.


Jalan buntu. Yasmine tidak bisa pergi kemanapun.


Ada tangga lain yang menuju ke lantai bawah. Dan salah satu nya ada di lorong diamana Arga berjalan santai kearahnya. Dia kembali melirik orang-orang berjas yang semakin dekat. Dia pasti akan kalah lebih cepat jika melawan orang-orang dalam jumlah banyak itu. Dan pada akhirnya Yasmine lebih memilih untuk melawan Arga saja yang seorang diri. Meskipun Yasmine sendiri tidak yakin kalau bisa menang.


Secara kebetulan seorang perawat keluar dari ruang jaga dengan membawa peralatan medis diatas nampan alumunium. Dan ada jarum suntik diatasnya.


“ Pinjem mbak. “ Yasmine menyerobot begitu saja jarum suntik dan segera berlari kearah Arga.


Dan benar saja Arga dengan mudah mencekal lengan Yasmine yang berlari disampingnya.


“ Kamu tidak bisa lari Yasmine.” Desis Arga dengan nada mengancamnya.


“ Aku. Bisa “


Jleb


Yasmine menancapkan jarum suntik yang tajam pada lengan kekar Arga yang menahannya. Cekalan itu menjadi kendur dan Arga sedikit sempoyongan. Yasmine menendang kasar tulang kering Arga dan meloloskan diri.


“KEJAR DIA !!”


Orang-orang berjas segera mengejar yasmine yang sudah berbelok kesalah satu lorong. Mereka kembali berpencar membagi menjadi 2 kelompok besar. Kelompok yang satu tetap mengejar Yasmine dan kelompok satunya lagi berbalik untuk menuju tangga yang menuju lantai 1.


Rumah sakit ini kecil. Yasmine tidak akan bisa lolos.


Yasmine terus berlari dengan panik. Beberapa kali dia menabrak orang-orang yang dilewatinya. Tapi lorong didepannya hanya ada sebuah pintu. Dan sialnya pintu itu terkunci.


Orang-orang berjas itu sudah ada dibelakangnya dan siap untuk menangkap Yasmine yang terjebak. Disisi kanannya terdapat ruangan lain bertuliskan ruang laboraturium. Sedangkan disisi kirinya adalah pagar pembatas setinggi pinggang orang dewasa. Dibawahnya terdapat sebuah taman dengan kolam ikan ditengahnya.


Salah seorang dari pengejar itu maju untuk menangkap Yasmine. Yasmine menggunakan tas punggungnya untuk memukul wajah orang itu berkali-kali dan tangannya menusuk kedua mata pria itu. Orang lain maju dan dengan ganasnya Yasmine menendang bagian bawah pria itu. Tepat diantara kedua kaki besarnya.


Yasmine sedikit meringis melihatnya.


“ Sepertinya itu sakit. Maafkan aku.” Ucapan maaf tidak tulus Yasmine hanya dibalas erangan kesakitan dari korban.


Beberapa pria berjas lainnya mencoba maju bersamaan. Yasmine tidak mungkin bisa melawan. Dia berkali-kali melirik taman di bawah sana.


Dengan sekali lompat Yasmine sudah berada di atas pagar pembatas.


“ Aku pergi dulu paman. Dah...” dengan wajah tengil, Yasmine menggoda orang-orang yang mengejarnya tanpa berani melukainya itu.


Yasmine yakin itu perintah dari Arga, karena biar bagaimanapun Yasmine harus ditangkap hidup-hidup untuk membuaka kunci ruangan tersembunyi ayahnya.


Hap


Yasmine terjatuh dengan kaki yang tidak sempurna. Kaki kirinya sepertinya terkilir. Dia ambruk kesisi bunga tapak dara. Bunga-bunga kecil berwarna putih itu sedikit rusak karena tertimpa badan ramping Yasmine.


“ Dia disana !!” teriakan nyaring dari belakang yasmine menyadarkannya dari rasa sakit yang masih dirasakan dikaki kirinya.


Dengan tertatih Yasmine bangkit dan kembali berlari ke luar taman. Dia sampai pada lorong panjang yang menjadi penghubung dua gedung. Yasmine melihat bed pasien kosong yang berada beberapa meter didepannya. Dengan sekuat tenaga yasmine mendorong bed itu agar melintag menghalangi lorong. Dan menjatuhkannya setelah mengambil tiang penyangga infus yang akan digunakannya sebagai senjata.


Orang-orang berjas itu terhalang dan sesekali mundur karena sabetan tiang infus dari Yasmine yang tidak sedikitpun dapat melukai mereka. Sampai akhirnya Yasmine yang kelelahan sendiri. Yasmine melemparkan tiang penyangga itu asal kearah orang-orang yang mengejarkanya dan kembali berlari.


Di persimpangan pertama, dia berbelok kearah kiri dan kembali berbelok lagi ke kanan. Terus seperti itu sampai dia menemukan halaman luas dimana terdapat gedung yang sedang dibangun.


Banyak pekerja disana yang sedikit terkejut dengan kedatangan Yasmine. Tapi sedetik berikutnya mereka kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Dan kali ini Yasmine sudah tidak bisa pergi. Sebelah tangannya dicekal dengan kuat oleh orang yang tadi sempat Yasmine tendang bagian masa depannya.


Berkali-kali Yasmine mencoba melepaskan cekalan itu, tapi tidak bisa. Tenaganya tidak cukup besar bahkan hanya untuk sedikit melonggarkannya saja. Yasmine diseret menuju kembali kegedung rumah sakit lama.


Rasa sakit tiba-tiba saja menyerang bagian belakang kepala Yasmine. Dan pandanganya seketika menjadi buram. Tubuhnya merosot mengikuti arus gravitasi. Yang terakhir bisa ia lihat adalah sosok Arga yang berjalan semakin dekat, sebelum kesadarannya menghilah seutuhnya.