
Setelah satu jam berdiam diri di makam keluarganya, Yasmine beranjak dan bersiap kembali ke kontrakannya. Gerimis yang sejak tadi turun tidak menunjukkan sedikitpun tanda akan berhenti atau bertambah deras.
Yasmine menghembuskan nafas kasar mengingat polisi yang datang keruang inapnya malam itu, sebenarnya bukan karena laporan pembunuhan. Melainkan datang untuk melakukan pemeriksaan pada ayahnya yang diduga melakukan suap pada kasus yang ditanganinya beberapa bulan sebelumnya. Ayahnya adalah seorang jaksa. Dan polisi menuduhnya menerima suap dalam kasus korupsi yang ditanganinya terakhir kali. Meskipun menjadi korban pembunuhan, hal ini tidak menutup kasus suap yang telah dilakukan ayahnya. Dan membuat Yasmine harus merelakan beberapa harta yang tersisa untuk membayar kerugian atas “kejahatan” ayahnya.
Yasmine menyakini kalau ada sesuatu yang tidak benar dari kejadian malam itu. Dan Arga masih sempat terlihat beberapa kali saat Yasmine dirawat di rumah sakit. Arga saat itu mengatakan kalau ibunya menyerahkan barang itu – yang entah apa - , maka mereka akan selamat. Pada kenyataannya Arga masih tetap membunuh ibu dan kakanya. Juga ayahnya.
Ini semakin membuat Yasmine curiga. Barang apa yang mereka cari hingga ibunya lebih memilih mati dengannya. Dan Yasmine yakin kalau barang itu masih aman disuatu tempat. Karena sampai sekarang Arga belum mau melepaskannya. Itu menandakan kalau Arga tidak mendapakan sesuatu yang ia mau.
***
Hujan semakin menjadi saat Yasmine sampai di kontrakannya. Gadis itu membuka pagar besi yang sudah kehilangan warna peraknya. Deritan dari engsel besi yang sudah lama tidak tersentuh cairan pelumas terdengar menyakitkan. Yasmine meringis sendiri saat tanganya memperlebar celah pagar agar bisa masuk. Dia jadi merasa seperti tokoh di film horor yang sedang berusaha masuk ke rumah tak berpenghuni di tepi hutan lebat. Bulu kuduknya tiba-tiba bergidik ngeri membayangkannya.
Iris hitamnya melebar begitu menangkap keberadaan seseorang di depan pintu rumahnya. Duduk di lantai kotor, menekuk kedua kakinya dan bersandar di atas lututnya, beralaskan kedua tangan. Dari bahunya yang gemetar terlihat kalau seseorang itu sedang menagis. Rambut sebahunya di kucir asal dan terlihat berantakan. Gadis itu terlihat menyedihkan. Ditambah dengan suara hujan, Yasmine tidak bisa tidak berpikir bahwa gadis di depan sana terlihat seperti hantu kecil yang baru saja meninggal dan menangisi nasibnya. Yasmine menjadi enggan untuk melangkahkan kakinya dan masih berdiam ditempatnya semula. Tidak peduli hujan yang tidak kunjung reda terus membasahi badannya.
Sampai kemudian gadis itu mendongakkan kepalanya setelah menyadari Yasmine sudah memasuki pelataran kontrakannya. Gadis itu berjalan dengan lamban ke arah Yasmine. Mata yang dulu terlihat cerah dan memancarkan aura yang menyenangkan berganti menjadi merah. Wajah ayunya terlihat kusut. Bulu mata lentiknya masih terlihat basah. Kemeja abu-abunya juga basah. Bibir pinknya terkatup rapat. Terlihat sedikit pucat dan bergetar. Tampilannya bahkan lebih menyedihkan dibandingkan dengan Yasmine saat mengantar keluarganya menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Plakk
Suara tamparan terdengar begitu keras. Hampir menyaingi suara rintikan hujan yang turun. Yasmine akan terjungkal ke belakang andai tidak ada pagar besi reot yang menanyangga tubuh rampingnya.
‘Ternyata pagar reot ini masih ada fungsinya.’ Batin Yasmine.
Yasmine kembali menegakkan badanya. Menatap kearah manik hitam dari gadis yang tadi menamparnya. Tidak ada satupun emosi yang dapat dilihatnya dari mata hitam itu. Seolah-olah semua ruhnya telah lenyap bersama air hujan yang menuruni bumi.
Dia Feby. Sahabat yang sudah dua minggu ini tidak ia temui.
Kedua tangannya terangkat mencengkeram erat bahu Yasmine sampai membuatnya meringis kesakitan. Dalam sedetik mata yang kosong itu berubah menjadi kemarahan. Dan Yasmine hanya bisa menunduk menghindari tatapan penuh kemarahan dimata sembab Feby. Rasanya air matanya akan tumpah begitu banyaknya jika ia terus melihat kemarahan dari sahabatnya itu.
Feby tidak pernah semarah ini sebelumnya. Gadis itu tidak pernah marah sebelumnya. Bahkan jika Yasmine dengan sengaja menjahilinya berulang kali, Feby tidak akan marah. Dia adalah gadis yang membawa sifat hangat matahari. Bahkan jika kesialan dan kesedihan datang padanya berulang kali Feby pasti bisa mengontrol emosinya dan menjaga wajahnya tetap tersenyum dengan lembut.
Feby yang melihat hal itu jadi semakin sebal. Cengkraman di kedua bahu Yasmine semakin menguat. Seakan memberitahukan betapa marahnya dirinya.
" Kenapa ?" suara Feby terdengar pelan namun menuntut.
" Kau tau betapa khawatirnya aku selama dua minggu ini , hah ? Kenapa kau tidak masuk sekolah ? Kenapa kau mematikan ponselmu ? Kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberi tau aku ? Kau anggap aku ini apa , heh ? Ada apa dengan dirimu ini ?”
Pertanyaan beruntun dengan nada khawatir dan marah Feby teriakkan dalam satu kali tarikan nafas. Yasmine dapat melihat Feby yang menghirup udara dengan rakusnya. Semua emosinya terlepas bersamaan dengan rintik hujan yang juga membasahi rambutnya.
Yasmine masih membungkam mulutnya. Tak satupun kata keluar dari bibir tipisnya. Bahkan rintihan karena cengkeraman Feby tak dapat lolos dari diamnya. Dia menahannya. Menahan rasa sesak yang juga menhujani hatinya yang sudah sangat rapuh. Bahkan lebih rapuh dari sebuah gelas kaca.
" Harusnya kau datang padaku Yas. Aku akan selalu membantumu. " Feby tidak menyerah karena diamnya Yasmine. Dia terus berbicara dan memandang Yasmine yang sekarang juga memandangnya dengan sorot mata yang sangat sulit untuk Feby artikan. Tapi Yasmine dapat melihat sirat kesedihan didalamnya. Feby tahu dengan jelas penderitaan sahabat terbaiknya itu. Feby tidak tahan untuk memeluknya. Memberitahu Yasmine bahwa dia ada disanaa. Dan dia siap untuk menjadi sandaran bagi Yasmine.
Tapi lihatlah apa yang dilakukan gadis bodoh itu. Yasmine menghilang dari pengawasannya selama dua minggu dan membuatnya tidak bisa bernafas dengan tenang sampai Feby menemukan gadis bodoh itu di sini berkat bantuan ayahnya.
Yasmine membalas pelukan hangat sahabatnya. Mencoba membagi semua beban beratnya. Dia sudah tidak punya alasan lagi untuk lari. Dia tetap saja Yasmine yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Dia tetaplah Yasmine yang selalu bergantung dengan orang lain. Usahanya untuk menjadi kuat runtuh begitu saja dalam dua minggu. Langkah langkahnya untuk maju terhenti sebelum langkah ke duanya dimulai.
***
Yasmine meletakkan dua cangkir teh diatas meja kayu sederhana. Uap panas masih mengepul di atasnya. Meskipun bukan coklat panas, setidaknya teh itu juga bisa untuk sekedar menghangatkan badan mereka.
Yasmine lalu duduk di samping Feby yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Keduanya masih diam tanpa sedikitpun usaha untuk memecahkan keheningan yang sejak tadi tercipta diantara keduanya. Yasmine juga enggan untuk menjelaskan apa yang seharusnya ia jelaskan pada Feby.
Setelah selesai dengan rambut basahnya Feby meletakkan asal handuk di kursi sebelahnya dan mengambil cangkir berisi teh yang sudah disiapkan untuknya. Gadis itu sudah lebih tenang sekarang. Setidaknya itulah yang tampak dari ekspresi wajah yang ditampilkannya. Apa yang ia rasakan dalam hatinya, siapa yang akan tahu. Dan Yasmine termasuk salah satu yang tidak akan repot-repot untuk mengetahui apa isi hati sahabat disebelahnya ini.
Setelah menyesap sedikit tehnya, Feby meletakkan kembali cangkir keatas meja. Gerakannya sangat anggun seperti seorang bangsawan Inggris yang tersesat di salah satu rumah reot milik masyarakat miskin.
Yasmine mengakui bahwa sekarang ia memang miskin. Harta keluarganya sudah ia gunakan untuk bertanggung jawab atas kasus “suap” yang dilakukan ayahnya. Dan itu bukanlah jumlah uang yang sedikit. Hanya tersisa sedikit saja yang cukup untuk hidup Yasmine selama kurang lebih tiga bulan kedepan.
Feby menyapukan pandangannya pada setiap sisi ruang tamu yang nampak kosong. Hanya terdapat satu set tempat duduk sederhana dengan bahan kayu yang tidak berkualitas. Sangat berbanding 180° dari sebelumnya dirumah Yasmine.
Feby menatap nanar sahabat yang sudah dikenalnya sejak SMP itu. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Feby tidak akan pernah paham mengapa sampai ada orang yang tega melakukan ini pada keluarga Yasmine. Keluarga Yasmine adalah keluarga yang baik , ramah dan harmonis menurut Feby.
“Yasmine.” Feby menatap Yasmine setelah puas memandangi ruang tamu kosong di kontrakan Yasmine.
“Kamu harus menjelaskan apa yang kamu lakukan ini?” pertanyaan Feby terdengar biasnya saja meskipun terdapat tuntutan yang jelas didalamnya.
“Yasmine.” Suaranya kali ini lebih tegas dan dingin dari panggilan pertamanya. Dan itu berhasil menarik perhatian Yasmine sepenuhnya.
Yamine menghela nafas dengean berat. Tangannya terulur untuk meletakkan cangkir teh katas meja dan berniat memulai ceritanya.
Yasmine menceritakan semuanya, dimulai dari bagaimana malam berdarah itu terjadi sampai ayahnya yang akhirnya dijadikan tersangka kasus “suap”, karena meskipun sudah satu bulan berlalu tetapi Feby masih belum mengetahui dengan jelas rincian kejadian dimalam itu. Yasmine juga terluka saat itu dan baru bisa keluar dari rumah sakit 3 hari sebelum Yasmine memilih pergi 2 minggu yang lalu. Yasmine juga menceritakan kondisi keuangan yang ia alami sekarang. Pekerjaannya disebuah kedai kopi dan juga keputusan yang diambilnya untuk pindah ke sebuah kontrakan kecil jauh dari rumahnya. Tetapi Yasmine masih menyembunyikan bahwa Arga adalah salah satu dari kelompok penjahat yang malam itu membunuh keluargnya.
Karena meskipun Yasmine sudah melihat sendiri dengan mata kepalanya, sebagian dari hatinya masih saja menolak untuk mempercayai. Bahkan Yasmine masih saja berharap kalau semuanya hanyalah kesalahpahaman saja.
***
Seorang pria berusia 35 tahun dengan setelan kasual menuruni sebuah mobil van diujung gang kecil. Dengan topi hitam yang menutupi kepalanya, pria itu berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang. Memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang akan mengikuti kemana ia pergi. Pria itu berhenti disebuah rumah dengan pagar reot yang cat nya sudah terkeluapas.
Suasana suram terpancar jelas dari rumah kecil itu. Dengan perlahan pria itu memasuki halaman rumah. Sampailah ia didepan pintu kayu berwarna coklat yang terbuat dari kayu murahan.
Pria itu mengetuk pintu rumah dengan perlahan. Tetapi tidak mendapat jawaban dari penghuni didalamnya. Tanganya mengambil sebuah kertas dan memastikan bahwa rumah yang didatanginya benar dan tidak salah.
Dia kembali mengetuk tetapi kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dan masih tidak ada jawaban sama sekali. Suasana disini terasa sangat sunyi. Bahkan suara burungpun tidak terdengar. Lebih tepatnya tidak ada yang memelihara burung disini. Jadi dia tidak bisa mendengarnya.
Pria itu akhirnya kembali mengetuk pintu dengan lebih tegas dan menyuarakan kedatangannya.
“ Nona Yasmine ini saya, polisi yang menangani kasus pembunuhan keluargamu. Saya Dirga. Bolehkan saya masuk kedalam?”
Pria yang ternyata bernama Dirga itu kembali menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya pintu terbuka dengan perlahan.
Senyum lega terkembang di wajah Dirga. Berbanding terbalik dengan wajah Yasmine yang masih menunjukkan kewaspadaan yang sangat ekstra. Gadis itu enggan untuk membuka pintu lebar-lebar dan hanya menunjukkan kepalanya sedikit keluar.
“Nona Yasmine saya Dirga. Kita pernah bertemu sebelumnya. Bolehkan saya masuk?” Dirga kembali membujuk agar Yasmine mengijinkannya memasuki rumah.
Dengan keengganan yang sangat terlihat, Yasmine akhirnya membuka pintu dan membiarkan polisi itu memasuki kontrakannya. Mempersilahkannya duduk disalah satu sofa dan Yasmine duduk diseberangnya.
Suasana menjadi hening dan canggung. Yasmine bahkan tidak melihat wajah Dirga sama sekali sejak pria itu memasuki rumahnya.
Suara deheman pelan akhirnya mengalihkan perhatian Yasmine dan membuatnya fokus pada sebuah amplop coklat yang dikeluarkan Dirga dari jaket kulitnya itu.
“Sidang akan dijalankan lusa nanti. Sidang sudah tertunda karena kamu yang menghilang - ”
“Aku tidak mau datang.” Yasmine tiba-tiba saja menyela.
“Nona Yasmine kamu harus da-...”
“Untuk apa aku datang. Kalian bahkan tidak pernah menyelidiki pernyataan yang sudah aku berikan. Aku sudah mengatakan kalau ini bukanlah kasus perampokan dengan kekerasan yang akhirnya membunuh keluargaku.” Suara dingin Yasmine memotong perkataan Dirga.
Tatapan matanya menyiratkan keyakinan yang Dirga sendiri tidak akan menyangkanya. Dirga sangat mengerti kalau tedapat sesuatu yang janggal dengan kasus yang ditanganinya kini.
Pihak kepolisian mendapatkan laporan pada pagi hari setelah peristiwa itu terjadi. Ditemukan 3 orang dewasa tewas karena luka tembak dan seorang remaja perempuan terluka disana. Rumah berantakan dan beberapa barang berharga menghilang. Tidak ada rekaman cctv didalam rumah. Cctv diluar rumah juga rusak. Hanya terdapat rekaman dari rumah tetangga yang menunjukkan segerombolan orang tidak dikenal keluar melalui pintu depan rumah Yasmine dengan barang barang berharga dan senjata pembunuh, yaitu pistol.
Hasil dari autopsi dan olah tkp menunjukkan kalau semua itu memanglah sebuah perampokan dengan kekerasan yang akhirnya menewaskan keluarga jaksa kecuali putri bungsunya.
Semua bukti sangat jelas kecuali pernyataan dari saksi kunci, Yasmine. Tapi tidak ada sedikitpun bukti yang mampu menunjukkan pernyataan dari Yasmine. Dan karena hal inilah Yasmine lebih memilih untuk melarikan diri.
“Setidaknya kamu harus datang untuk memastikan tersangka yang sudah ditangkap polisi adalah orang yang benar.” Suara Dirga terdengar sangat tulus.
Polisi itu kembali menyodorkan sebuah amplop coklat yang berbeda dari yang ia letakkan diatas meja. Yasmine menerimanya dan membukanya secara perlahan. Didalamnya terdapat sebuah gambar yang membuat Yasmine terdiam.
Yasmine memandang polisi didepannya dan kembali menatap kertas ditanganya.
“Yakinlah aku akan membantumu.” Dirga berkata dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Tekad yang kuat terpancar jelas kedua bola matanya yang berkantung seperti panda. Penampilannya pun sebenarnya agak kurang menyakinkan.
“Aku akan menjemputmu lusa pagi.”