
"YEYYYYYY AKU MENANG!!!!!"
Bola itu ia peluk erat. Anak laki-laki berusia sekitar 14 tahun itu tak berhenti melompat-lompat kegirangan. Kemenangan adalah sesuatu yang membanggakan untuk siapapun termasuk dirinya.
Mata bulatnya melirik sang kakak yang nampak terduduk mencoba mengusir penat. Pemuda lain yang menjadi lawannya berusia sekitar 19 tahun.
"Aku ngalah Kookie bukan kalah," ucap sang Kakak mencoba mengelak dari kekalahannya.
Sang adik yang ia panggil Kookie menjulurkan lidahnya. "Kalah ya kalah saja, Kak. Jangan cari alasan! Tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan Jungkook!"
"Yang penting kau bahagia," timpal pemuda itu mencoba mengalah pada adiknya tapi Jungkook?
"Bahagiaku hanya saat melihat Kak Taehyung menderita," timpalnya.
Pemuda yang di panggil Taehyung melotot lalu menatap kesal sang adik. "Dasar adik durhaka," dumelnya.
Sementara Jungkook berjalan mendekati sang kakak sembari menatap dengan binar mata polosnya.
"Kak Taehyung tahu?" tanyanya. Taehyung menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Kakak itu terlihat tampannnn sekaliii," ujar Jungkook. Taehyung menyatukan alis bingung lantas kemudian menyunggingkan senyum bangganya.
"Kakaknya siapa dulu dong?"
"Iya," sahut Jungkook. "Kak Taehyung tampan tapi--"
Taehyung menatap penasaran akan kelanjutan ucapan sang adik dan Kookie malah tersenyum lebar.
"Kak Taehyung tampan tapi kalau di lihat dari sedotan Hahahaha"
Bocah itu tertawa sembari menghindari amukan sang kakak.
"Kelinci nakal sini kau!"
*
"Jangan panggil aku Jungkook kalau aku tak bisa melakukan itu."
Jungkook mengayunkan kaki kanannya sembari memegang kedua sisi tangga dengan kuat. Mata bulatnya terus menatap ke arah atas dahan pohon tempat sapu tangannya tersangkut karena terbawa angin.
Sapu tangan itu adalah benda yang berharga baginya, sapu tangan yang biasa di gunakan mendiang neneknya.
Sampai saat Jungkook berhasil membuat sapu tangan itu berada di genggamannya, anak itu bersorak dan perlahan turun ke bawah hingga kakinya menapaki anak tangga ke tiga terakhir, ia tergelincir.
Brakkk!!
Jatuh dan tertiban tangga karena faktanya Jungkook memang tidak akan pernah bisa melakukan apapun tanpa Taehyung.
"Jungkook!"
Taehyung berlari mengitari halaman rumahnya, jantungnya berdegub kencang melihat adik kesayangannya terduduk, menangis sesegukan sembari terus menendang kesal tangga yang tergeletak di sampingnya.
"Kenapa? ada apa? astaga! sudah berapa kali Kakak bilang, kalau ada apa-apa katakan jangan sok jadi pahlawan!"
Dan Taehyung akan selalu menjadi Taehyung. Sosok Kakak yang terlalu memanjakan adiknya hingga Jungkook memiliki goresan kecil di kulitnya, ia bisa marah-marah tak jelas karena terlalu khawatir.
"Aku sakit Kak, butuh di manja bukan dimarahin." Jungkook memajukan bibirnya beberapa senti menjadikan Taehyung melembutkan tatapannya.
Pemuda itu menatap dengan helaan nafas kasar lutut adiknya yang memerah lalu membungkuk di hadapan sang adik. "Ayo naik!"
Dan Jungkook mengusap air matanya kasar sembari tersenyum semangat menaiki punggung Kakaknya.
"Jungkook jangan jorok! jangan pakai kemeja kakak buat membersihkan ingusmu!"
*
"Iya tunggu! kakak belikan!"
Sekembalinya Taehyung membelikan adiknya susu pisang. Jungkook kembali menatap kakaknya memelas.
"Kenapa lagi?" tanya Taehyung.
"Aku lihat tadi di Televisi, ada robot Iron man sama boneka Chooky keluaran terbaru," jawab bocah itu dengan tampang polosnya.
"Terus?"
Jungkook tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya yang menyembul lucu. "Belikan."
Taehyung balas tersenyum kecil sembari melangkah untuk mengacak surai hitam adiknya penuh sayang. Pemuda itu menyerahkan susu pisang kesukaan sang adik.
"Tunggu ya, Kakak belikan!"
Dan kembali berlari keluar rumah untuk memenuhi semua permintaan adiknya. Tak pernah peduli pada rasa lelahnya. Taehyung akan melakukan segalanya untuk menciptakan senyum dibibir anak itu.
*
Tumbuh bersama, tinggal bersama, dan selalu kemana-mana berdua. Meski Taehyung duduk di bangku perkuliahan dan tentu memiliki waktu yang sibuk namun sedikitpun tak pernah ia lewatkan untuk tak memperhatikan adiknya. Baginya, Jungkook adalah prioritas utama.
"Kak Taehyung, bagaimana kalau nanti papa sama mama pulang terus tiba-tiba membawakan kita adik, apa Kakak akan terus menyayangiku seperti sekarang?"
Di halaman belakang rumah besarnya, dengan berbaring di atas rerumputan di temani sayup-sayup angin malam sembari menatap bintang, Jungkook bertanya pada sang Kakak yang membuatnya penasaran.
"Tentu." Taehyung menjawab seadanya dan jawabannya membuat Jungkook tak puas.
"Kau akan selalu menjadi satu-satunya adikku yang ku sayang," sambungnya.
Raut wajah yang tadi terlihat tak puas berubah. Jungkook tertawa. "Lebay!"
Bibirnya mencibir namun hatinya menghangat. Ia berharap waktunya dengan sang kakak tak pernah berakhir sampai kapanpun.
"Tapi Kakak tak bisa selamanya jadi bodyguardku da--"
"Kau bilang apa tadi?" tanya Taehyung melirik sang adik.
"Maksudku, Kakak pasti suatu saat akan jatuh cinta pada seorang gadis dan memberikan waktumu padanya." Jungkook menatap sang Kakak dengan senyum kecil. "Tapi aku berharap sebelum Kakak menemukan seseorang, Kak Taehyung lebih baik menungguku berpacaran lebih dulu."
Taehyung melotot lalu kemudian meledakkan tawa. "Memangnya gadis mana yang mau sama Kelinci manja sepertimu hah? jatuh dari tangga saja menangis keras."
"Kau menghinaku?"
"Bukan menghina Kookie tapi membeberkan fakta."
Jungkook mendengus. "Kakak menyebalkan."
"Dengar." Taehyung membuat sang adik menatapnya. " Kau lahir untukku jaga, lindungi, ku bahagiakan, dan untukku sempurnakan. Aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini jadi berhenti bertanya yang macam-macam Kookie, itu semua tidak akan terjadi."
Jungkook tersenyum bahagia mendengar ucapan sang Kakak. Dengan semangat, ia memegang kedua bahu kakaknya sembari membalas tatapan Taehyung.
"Aku lahir untuk menemanimu, melewati suka-duka bersama, Kakak panutanku, cita-citaku untuk membahagiakan dan membalas semua jasamu. Aku menyayangi melebihi yang Kakak tau." Tutur anak itu memandang lurus keatas dengan seutas senyum yang tak memudar.
Taehyung menatap adiknya sewot. "Kau meniruku?"
"Menurutmu?"
"Dasar kelinci nakal!!"
"Hahahahaha ampun Kak, ampun Hahaha hentikan haha ku mohon