
Pov: Vincent
Haahh.. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku menghela napas sepanjang hari. Hari ini aku sangat tidak bersemangat. Rasanya hanya ingin tidur seharian untuk mempersingkat waktu.
Dadaku terasa pilu dan sesak setiap mengingatnya lagi. Aku tak kuasa menahan perasaan ini, ingin menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi tidak kulakukan.
Ya, itu karena kejadian kemarin sore saat di Pekan Raya. Hanya waktu yang tidak tepat. Andai aku tidak terburu-buru keluar dari toilet, andai aku lebih lama membersihkan tubuhku di sana. Peristiwa mengerikan itu pasti tidak akan terjadi.
Aku tahu betul Thomas mencemaskanku. Dari tadi dia terus mengikuti. Walaupun tidak dikatakan, aku tahu dia sedang mendesakku berbicara.
Sebenarnya, aku sangat ingin mengatakan padanya, tapi aku belum siap. Aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat saat aku mulai ingin membahasnya.
Thomas sedang keluar membeli makanan untuk malam nanti. Ini kesempatanku untuk tidak lagi berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.
Aku duduk di pinggiran kolam renang di samping rumahku.
Air kolam itu terlihat keruh karena sudah cukup lama terabaikan. Mungkin ini hanya tampungan air hujan yang memenuhi kolam hingga sepertiganya. Lagi pula, tidak ada yang akan memakainya.
Kupeluk kedua lututku yang terlipat, mataku menatap kosong ke arah air yang tidak jernih itu. Potongan-potongan kenangan buruk itu mulai memasuki pikiranku.
"Tidak.. Kenapa aku harus mengingatnya lagi disaat seperti ini?" Aku mulai berbicara sendiri.
Kubenamkan wajahku pada kedua lututku, lalu memeluknya lebih erat.
***
*Seorang anak kecil berlari ke arahku. Matanya fokus pada baling-balik kertas yang berputar tertiup angin di tangan kanannya.
Brugh!
Anak perempuan itu menabrak lututku dan terjatuh. Aku reflek berjongkok, meletakkan bungkusan pakaian kotor yang baru saja kutukar dengan baju yang kupakai sekarang.
Kuangkat tubuh kecilnya dan membuatnya berdiri, lalu membersihkan rok dan lututnya yang dipenuhi pasir. Ada goresan kecil pada kedua lututnya.
Aku memperhatikan wajahnya dan merasa agak familiar.
"Adik manis, siapa namamu?" tanyaku dengan lembut yang masih berjongkok menyamakan tinggi kami.
"Elyn."
Begitu menggemaskan saat bibirnya mengucap namanya dengan sedikit cadel. Jelas bicaranya belum lancar, sepertinya anak ini masih berumur sekitar dua atau tiga tahun.
"Di mana mamamu?" tanyaku lagi.
Aku tidak bisa menyembunyikan senyum dari wajahku karena anak ini sangat imut, bibirnya yang merah dan pipinya yang chubby membuatku ingin mencubitnya.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia memalingkan pandangannya pada baling-baling kertasnya yang jatuh ke tanah dan rusak. Yang tersisa di tangan kanannya tinggal kayu tipis penyangga baling-baling kertas itu.
Hanya butuh waktu dua detik, Elyn menjerit dan menangis kencang.
Tentu saja aku kaget dan sedikit panik. Aku mengerti dia sedih karena mainannya rusak setelah menabrakku.
Saat aku sedang kebingungan harus bagaimana menghadapi anak ini, terdengar suara wanita yang berteriak mendekat ke arah kami.
"Jesselyn!" panggilnya.
"Mama!" Elyn segera menoleh pada sumber suara, lalu mengangkat kedua tangannya. Wanita itu langsung menggendongnya.
Aku pun langsung berdiri dan mataku terbelalak kaget tanpa berkedip melihat wanita itu yang kuduga adalah mamanya Elyn.
Deg!
Jantungku berdegup sangat kencang, aku sangat terkejut melihat siapa yang ada di depanku saat ini. Seseorang yang sudah cukup lama tidak kulihat.
"Mm-mama..." Tanpa sadar bibirku mengucapkannya.
Ah, benar. Aku baru ingat. Itu wajah anak yang pernah diperlihatkan Bi Yati dalam videonya waktu itu. Jadi namanya Jesselyn?
Cukup lama kami saling menatap dan mematung. Suara tangisan Elyn yang makin menjadi menyadarkan kami berdua.
"Kau...!"Wanita itu menaikkan nada bicaranya dan melotot tajam ke arahku.
Seolah sudah menjadi kebiasaan yang melekat dalam pikiranku, aku menundukkan kepala. Batinku tentu tidak siap bertemu kembali dengan wanita ini, yang dulu selalu kupanggil dia 'mama'.
"Sedang apa kau di sini?! Apa yang kau lakukan pada anakku?!" tunjuknya menuduhku melakukan sesuatu pada anak perempuannya sehingga dia menangis begitu kencang.
Anaknya? Bukankah aku juga anaknya? batinku tidak terima.
"Anak ini.. adikku, ya, Ma?" Kuberanikan diri mengangkat wajahku untuk melihat Elyn sekali lagi.
"Adik dari Hong Kong! Sejak kapan aku menjadi ibumu! Berhenti memanggilku mama! Menjijikkan!" bentaknya. Lalu ia membuang ludah ke arahku, membuatku tersentak mundur.
Perasaan takut mulai menyelimutiku. Tubuhku gemetaran. Kepalaku sontak kembali menatap ke tanah. Aku tidak bisa menjawabnya.
"Dengar ya, aku tidak tahu apa yang kau rencanakan. Kalau sampai kau menyentuh anak ini lagi, aku akan membunuhmu!" ancamnya dengan tatapan mata yang keji.
Aku memejamkan mata mendengar kata-kata mama. Sangat menusuk tepat di jantungku, bukan di hatiku lagi.
Aku tidak tahu ternyata mama seorang ibu yang sangat memperdulikan anaknya. Aku tidak tahu kalau mama bisa melakukan apapun untuk melindungi anaknya, seolah anak semata wayangnya.
Aku juga yakin pasti mama sangat memperlakukan Elyn dengan lembut dan penuh kasih sayang, yang tidak pernah kurasakan seumur hidupku.
Kukepalkan kedua tanganku dan masih menunduk.
"A-aku.. hanya menolongnya." Suaraku tedengar lemah dan terbata-bata, menahan diri sebisa mungkin.
Plak!
Tangan mama mendarat persis di pipi kiriku. Mataku kembali terbelalak karena kaget. Belum sempat kupegang pipiku yang mulai terasa panas, mama sudah menamparku untuk yang kedua kalinya, membuatku sempoyongan dan hampir terjatuh.
Mama benar-benar tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang terus memandang dan memperhatikan kami sambil berbisik.
Tidak ada yang berani menghentikannya karena ia seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, dan aku, sebagai korban, seorang pria yang tidak melakukan perlawanan apapun. Mereka hanya melihatku dengan tatapan iba.
Kupegang pipiku sambil meringis kesakitan. Dadaku yang terasa sesak mulai naik turun, aku tidak bisa mengontrol napasku yang sudah tidak stabil.
Tidak perlu kujelaskan lagi bagaimana perasaanku saat ini. Kenapa aku harus bertemu kembali dengannya di hari yang baik ini?
"Jangan harap kau bisa balas dendam pada anakku, camkan itu!" Mama terus mengacungkan telunjuknya di wajahku, lalu pergi membawa Elyn meninggalkanku.
Kenapa mama sampai berpikir seperti itu? Sungguh aku tidak ada niatan untuk membalas semua perlakuan mama terhadapku dulu pada anak selugu itu, apalagi sampai menyakitinya. Walau bagaimanapun dia tetap adik kandungku.
Aku tidak menyangka mama akan menamparku dan berteriak marah di depan adikku sendiri, Elyn.
Aku tahu dia masih kecil, tapi tetap saja tidak baik matanya menangkap perlakuan kasar ibunya. Aku ingin dia tumbuh besar dengan ingatan-ingatan serta kenangan yang indah.
Terpaan angin kencang membuatku ambruk seketika. Kakiku yang gemetaran sudah tidak mampu menopang tubuhku, bahkan terlalu lemah untuk bangkit berdiri pun.
Kuremas dadaku yang terasa seperti ditikam pisau puluhan kali, sangat sesak dan menyakitkan.
Beberapa orang pria mulai menghampiriku. Mereka sibuk memastikan apakah aku baik-baik saja. Dengan pandangan yang kabur, kulihat tatapan prihatin para gadis dan wanita yang ikut mengelilingiku.
Kupejamkan mata karena sudah tidak kuat.
"Ss-sesak." Hanya itu kata yang berhasil kuucap.
Aku bisa merasakan mereka memapah tubuhku dan membawaku entah ke mana. Aku tetap memastikan kesadaranku tidak hilang dengan mencoba terus-terusan menarik napas walau sulit.
Saat kucoba kembali membuka mata, aku sudah berada di sebuah kursi panjang di bawah pohon yang rindang, sepertinya tidak jauh dari depan toilet tadi.
"Ada yang punya inhaler?" Aku mendengar salah satu dari mereka berteriak, lalu disusul yang lainnya saling bertanya hal yang sama.
Ah iya, inhaler. Aku menitipkannya pada Thomas beserta dompetku tadi karena aku tidak membawa tas dan kantung celana jeansku hanya dapat menampung ponsel.
Oh iya, ponsel. Aku ingin menghubungi Thomas, tapi aku terlalu lemah untuk merogohnya dalam kantung celanaku. Tanganku tidak bisa beralih dari dadaku yang sesak.
Dengan tenaga yang tersisa, kugapai lengan orang di dekatku tidak peduli siapa pun itu.
Kemudian dengan setengah membuka mata, aku melihat wajah orang itu mendekat dan memasang telinga di wajahku.
"T-tolong obat pereda.. ny-nyeri juga. Ss-sakit.. ukh.." Aku mengatakannya dengan susah payah.
Lalu pria itu pergi menyusul pria tadi yang sudah berlari ke arah minimarket.
Setelah sekitar sepuluh menitan aku merasa sedikit lebih baik, setelah dipaksa menghidup inhaler dan dicekoki obat pereda nyeri.
Perlahan aku mulai bisa bernapas norma., Meskipun, masih tersenggal-senggal dan sesekali kembali memegangi dadaku.
"Mau diantar ke rumah sakit, Dek?" tanya salah satu pria itu.
Aku menggelengkan kepala.
"Udah baikan, Pak. Terima kasih banyak. Tapi maaf merepotkan, kebetulan saya gak bawa uang." Kupandangi wajah mereka satu persatu.
"Nggak apa-apa. Itu tadi ibumu?"
Deg!
Seperti disiram air, tiba-tiba dingin menjalar ke seluruh tubuhku, teringat kembali kejadian tadi.
Melihatku yang langsung menunduk dan ekspresiku yang berubah, mereka langsung mengalihkan pembicaraan,
"Mau diantar pulang?" tanya seorang pria paruh baya lainnya.
"Enggak perlu, Pak. Terima kasih." Aku tersenyum padanya, "Saya bersama teman tadi, saya akan menghubunginya."
Mereka mengangguk dan mulai meninggalkanku satu persatu. Sebelumnya, seorang wanita yang bersama salah satu orang-orang tadi menyodorkanku sebotol air mineral.
Aku menunggu sebentar hingga napasku benar-benar pulih, lalu aku memutuskan untuk kembali ke tempat Thomas dan Olvie tadi. Kuurungkan niatku untuk mengabari mereka.
Kuraih bungkusan baju kotorku yang berada di sebelahku. Baguslah mereka juga membawanya, aku tidak ingin kembali ke tempat tadi. Kupilih jalan memutar dan tidak mendapati Thomas dan Olvie di sana. Apakah mereka mencariku*?
***
Aku memilih untuk menuliskan apa yang sangat ingin diketahui Thomas itu dalam bentuk ketikan pesan Whatsapp.
Ketikan yang sangat panjang, setiap detail kata yang diucapkan mama saat itu kutulis semua. Aku tidak kuasa menahan air mataku. Dadaku kembali sesak setiap mengingatnya.
Beberapa kali aku berhenti mengetik, lalu membenamkan kembali wajahku pada kedua lututku yang masih terlipat. Aku menangis sesegukan.
Tidak hentinya aku berpikir kenapa setelah sekian lama ia masih sangat kejam padaku. Bahkan sudah cukup lama juga aku pergi dari hidupnya, seperti yang dia inginkan dari dulu. Hanya bedanya aku masih ada di dunia ini.
Aku terus memandang pesan yang sudah selesai kuketik. Cukup lama sampai akhirnya aku benar-benar yakin dan menekan tombol 'kirim'.
Benar, ini keputusan yang tepat untuk tidak menceritakannya secara langsung pada Thomas. Aku tidak bisa memperlihatkan wajah ini di depannya.
Tidak butuh waktu lama Thomas membaca pesanku. Tidak ada balasan darinya.
Tiga menit kemudian, aku mendapat telepon darinya, tapi tidak kuangkat. Suaraku masih terdengar berat dan parau, seperti habis menangis.
Thomas terus mengulangi panggilannya. Enam panggilan tak terjawab. Aku yakin dia pasti sangat khawatir. Jika dia tiba di sini aku pasti langsung dibogem olehnya. Haha.
Anda:
Gak usah cemas, aku baik-baik aja kok. :)
Kusempatkan mengiriminya pesan sebelum dia kembali menelpon.
Aku baru kepikiran, dia pasti ngebut saat perjalanan kembali ke sini. Aku yakin sekali.
Kulihat riwayat pesan dari Olvie, tumben sekali dia tidak mengirimiku chat. Walaupun chat kemarin malam tidak kubalas, biasanya dia akan mengirimnya lagi di pagi hari. Bahkan hari ini tidak ada sama sekali.
Apa dia masih kaget dengan kejadian kemarin sampai tidak berani menyapaku duluan?
Tanpa sadar aku mengharapkan Olvie mengirimiku pesan, setidaknya dia bisa menghiburku sambil menunggu Thomas kembali.
Aku tidak mengerti perasaan apa ini, dan sejak kapan rasa ini ada. Sepertinya hanya kurasakan setiap aku memikirkan Olvie.
Aku teringat ucapan Thomas bahwa dia bisa membuatku tertawa bahkan lebih dari yang Thomas lakukan. Benarkah begitu? Aku tidak begitu yakin.
Kugelengkan kepalaku berusaha mengusirnya dari pikiranku. Ini tidak benar, pikirku.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar, seperti didobrak. Aku rasa Thomas sudah kembali dari membeli makanan.
"Vincent!" panggilnya sambil berteriak.
Terdengar dia menutup pintu kamar, lalu meneriakkan namaku sekali lagi.
Aku menarik napas dalam, menepuk-nepuk wajahku, lalu segera memasang senyum di wajahku.
"Aku di sini, Tom!" jawabku dengan setengah berteriak.
Aku bisa melihatnya mengintip ke arahku, ke bagian samping tempat kolam renang di mana aku sedang duduk sekarang. Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
Bergegas dia berjalan menghampiriku.
Kulihat wajahnya serius sekali. Auranya terlihat gelap seperti hendak menerkamku, membuatku bergidik dan bersiap menerima apapun responnya.
Di luar ekspektasiku, kedua tangannya meraih pundakku dan langsung merangkulku. Tubuhku bisa jatuh ke belakang kalau tanganku tidak reflek menahannya.
Thomas mendekapku sangat erat. Aku kaget dan melongo dengan kedua tangan yang masih menyangga tubuhku.
"Kenapa tiba-tiba..?" tanyaku heran.
Dia diam dan tidak melepaskan dekapannya.
"Padahal, aku udah menyiapkan diri dibogem olehmu atau menerima segala bentuk amarahmu," kataku sambil tertawa kecil.
Kudengar Thomas menghela napas tepat di telingaku.
"Maaf, harusnya aku menemanimu ganti baju. Seharusnya aku juga ada di sana," katanya pelan.
Kudorong dia sedikit dan membalas rangkulannya dengan satu tangan.
"Tidak bisa kubayangkan kalau kamu ada di sana, Tom. Pasti kita akan berakhir di kantor polisi," ejekku, memaksakan tertawa.
Dia mendengus kesal, lalu perlahan melepaskanku. Aku dapat melihat matanya yang berkaca-kaca, membuatku mengalihkan pandanganku. Aku tidak bisa menatapnya seperti itu, rasanya aku akan menangis lagi.
"Bagaimana seorang ibu setega itu pada anak kandungnya sendiri?" Thomas berdecak kesal.
Aku semakin menunduk, "Sudahlah, Tom, gak usah dibahas lagi, ya.."
"Dengar, Cent, walaupun aku sangat marah padanya karena menyakitimu sampai seperti ini, aku tetap tidak bisa membalasnya." Tatapan matanya sangat serius.
Kuangkat wajahku dan menantikan kelanjutannya.
"Walau bagaimanapun, wanita itu tetap ibumu, ibu yang melahirkanmu. Benar? Aku sangat paham kenapa kau ngga mampu melawannya. Dan aku benci ngga bisa membalasnya."
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Air mataku tidak terbendung lagi, mengalir dengan bebasnya. Namun, aku terus mencoba menahannya agar berhenti mengalir.
Thomas kembali memelukku. Kali ini dia juga menangis, kudengar dia menarik ingusnya sesekali. Aku kembali memaksakan diriku untuk tertawa.
"Terima kasih, Tom."
* * * *
Walaupun hari sabtu dan minggu tetep aja ga bisa ngejer chapter yg tertinggal karena kesibukan 🥺
Semoga kalian suka ya^^
jangan lupa tinggalkan komentar, like dan favorit. Kritik dan saran welcome~ 🤗