
Pov: Olvie
Suara berisik Reihan membangunkan tidur pulasku. Kupindahkan bantal menutupi telingaku.
"Berisik banget, sih!" gerutuku.
Terdengar suara anak-anak laki maupun perempuan dari ruang tamu. Benar juga, semalam Reihan bilang mau mengajak teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok.
Kenapa harus sepagi ini, sih? Aku masih ingin tidur lebih lama mumpung libur.
Oh iya, hampir lupa. Aku meraba kasurku mencari ponsel. Kuhidupkan ponselku, menunggu sebentar sambil memejamkan mata. Tidak ada balasan chat dari Kak Vincent. Apa dia masih marah, ya?
Kemarin acara kencan kami yang sangat kunantikan itu awalnya berjalan dengan baik. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku.
Melihat berbagai macam atraksi penjual balon yang melipat-lipat balon panjangnya sehingga menimbulkan suara gesekan balon yang membuatku bergidik.
Penjual es krim yang mempermainkan para pembelinya yang rata-rata anak kecil, atau bapak pembuat permen lolipop yang bisa ia bentuk bermacam-macam rupa seperti bunga dan binatang.
Aku juga masih ingat jelas bagaimana ekspresi malu-malu Kak Vincent saat kusodori permen kapas pink yang ragu-ragu diterimanya.
Aaaaah.. Kak Vincent benar-benar imut sekali. Reflek kututup wajahku dengan bantal sambil tersenyum mengingatnya.
Ternyata Kak Vincent tidak secuek seperti gosip yang beredar. Sesekali dia juga menunjukkan sisi lembutnya. Dia juga bisa tertawa lepas saat main bom-bom car denganku. Padahal, selama ini sikapnya agak dingin terhadapku.
Sampai kemudian karena kecerobohanku, aku menumpahkan minumanku ke baju Kak Vincent. Aku mendengar dan bahkan sempat melihat saat sepeda itu sedang menuju ke arahku, tapi rasanya kakiku tidak mau bergerak. Aku kaget sampai-sampai hanya terdiam melongo menatap sepeda itu yang terus mendekat.
Seharusnya aku langsung reflek bergerak menghindar saat melihatnya, sehingga Kak Vincent tidak perlu sampai berlari dan menarik lenganku untuk menolongku.
Dan bodohnya lagi aku membiarkan susu cokelatku tumpah dan menyiram Kak Vincent. Bajunya jadi basah dan kotor karenanya.
Aku sangat amat menyesal. Saat itu pikiranku dipenuhi rasa takut Kak Vincent akan marah. Bagaimana tidak, ini jalan-jalan pertama kami dan aku memberikan kesan buruk padanya.
Tanpa sadar aku menangis begitu saja kemarin. Aku pasrah jika mungkin Kak Vincent akan kapok jalan bersamaku lagi.
Untungnya ada Kak Thomas. Dia menghiburku dengan ejekannya seperti biasa. Dia bahkan bisa membuatku kembali tersenyum membalikkan apa yang ada dalam pikiranku.
Kak Thomas bilang Kak Vincent baru saja menolongku dan membuat aku berada dalam pelukannya. Hehee. Benar juga, sih.
Kak Thomas yang menyebalkan itu ternyata baik juga. Dia selalu berpikiran positif dan bisa menularkannya pada orang lain.
Cerewetnya menghidupkan suasana saat aku canggung dengan Kak Vincent, karena Kak Vincent yang paling pendiam di antara kami kemarin itu. Tapi aku senang karena sepertinya aku mulai sedikit lebih banyak mengenal Kak Vincent berkat Kak Thomas.
Kami pulang sore hari dan membatalkan rencana kami untuk menyaksikan kembang api di Pekan Raya semalam. Kak Vincent tiba-tiba tidak enak badan. Dia sempat menghilang yang membuat Kak Thomas cemas sekali. Aku benar-benar dibuat bingung dengan mereka.
Aku tidak menyangka Kak Thomas sangat peduli terhadap Kak Vincent. Mungkin karena mereka tinggal bersama kali ya, jadi sudah seperti saudara sendiri.
Haahh.. Aku sempat mengirimkan pesan pada Kak Vincent semalam untuk minta maaf dan menanyakan apakah dia sudah merasa baikan, tapi tidak juga dibacanya sampai pagi ini. Jangan-jangan dia marah dan memblokirku? Semoga tidak :(
Kubuka chat Kak Thomas, lalu menanyakan padanya apakah Kak Vincent sengaja tidak membaca pesanku dan apakah aku benar-benar ditolaknya, tapi dia juga tidak membacanya.
Aku keluar kamar dengan membawa handuk serta pakaian, lalu berjalan ke ruang tamu untuk menyapa teman-teman adikku sebelum aku mandi.
"Hai, Adik-Adik. Kerjakan tugas yang benar ya, jangan berisik," sapaku yang dibalas jawaban kompak dari mereka. Ada sekitar enam orang termasuk Reihan di sana.
"Rei, bantu mama siapkan minum dan cemilan dong, jangan duduk aja!" seruku.
Reihan yang malu didengar teman-temannya langsung bangun dan pergi ke dapur. Puas sekali rasanya melihat Reihan patuh, biasanya dia acuh padaku. Kemudian, aku bergegas mandi.
Sambil mengeringkan rambut, kuperiksa notif pesan di ponselku. Akhirnya, salah satu dari mereka membalas.
Kak Thomas:
Ngga, kok. Vincent sedikit demam dan memang belum melihat ponselnya aja.
Anda:
Ohh.. Parah sakitnya, Kak? Kujenguk ya, Kak, boleh?
Kak Thomas:
Ngga parah kok, cuma demam sedikit. Biarkan dia istirahat aja.
Nanti kubantu lagi kalian bertemu. Ngga usah buru-buru kau itu. Haha
Uh, mulai lagi dia menyebalkan! Haha. Kurebahkan tubuhku di kasur. Sambil memandang langit-langit kamar aku mengingat kembali kencan kemarin.
Aku membayangkan bagaimana jika aku berpacaran dengan Kak Vincent nanti. Aku rasa dia bisa bersikap romantis dan sangat baik pada pacarnya. Memikirkannya saja membuatku bergulingan di kasur.
Waktu menunjukkan pukul sebelas, aku sedang menonton drama korea yang belum sempat kuselesaikan karena kesibukanku. Lalu tiba-tiba ponselku berdering, Kak Bobby menelponku.
Kuangkat panggilannya tanpa menyapa lebih dulu.
"Dek?" Panggilnya, memastikan telponnya sudah terhubung denganku.
"Ya, Kak, ada apa?"
"Hari ini free, 'kan?" tanyanya.
"Hm.. Iya, sih, Kak. Kenapa?"
"Sejam lagi kakak jemput makan siang, ada yang ingin kakak bicarakan."
Deg!
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Nada bicaranya terdengar serius sekali.
Aku teringat Kak Theo yang tidak sengaja kulihat di Pekan Raya kemarin. Apa dia sempat melihatku dan mengadukannya pada Kak Bobby? Tapi kurasa tidak, seharusnya dia memanggilku jika melihatku.
Aku jadi penasaran dan kepikiran apa yang mau Kak Bobby bicarakan denganku. Apakah bisa nanti kujadikan kesempatan untuk jujur padanya bahwa aku sudah lelah dengannya? Kira-kira Kak Bobby bakal marah tidak, ya?
Aku yang sudah bersiap keluar kamar didahului mama yang membuka pintu kamar.
"Ada Bobby tuh, di depan," kata mama dengan tatapannya yang seolah menuduhku.
"Kemarin jalan dengan cowok lain, eh besoknya jalan dengan pacarnya lagi," lanjutnya sambil berdecak heran.
"Haish.. Mama 'kan tahu aku lagi mencari kesempatan untuk mengakhiri hubunganku dengan Kak Bobby," jawabku dengan wajah cemberut.
Aku langsung naik ke mobil Kak Bobby setelah berpamitan dengan mama dan kelompok belajar Reihan.
"Kita mau makan siang di mana, Kak?" tanyaku membuka obrolan.
"Nanti juga akan tahu, nggak jauh kok."
"Oke. Pertandingan Kakak kemarin gimana?"
"Lancar, yah walaupun gak juara satu, tapi tim kakak dapat juara dua. Ini kita mau merayakannya dengan anak-anak." Kak Bobby terlihat bangga.
Ah, begitu rupanya. Aku tidak perlu parno begini 'kan dari tadi.
"Wah.. Selamat, ya, Kak."
"Thanks, Sayang," jawabnya sambil melirikku dan tersenyum.
Tidak lama kemudian, ponselku berbunyi menandakan ada pesan Whatsapp masuk. Aku langsung mengira itu Kak Vincent dan dengan ligat mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang kubawa.
Ternyata benar, Kak Vincent membalas.
Kak V♥:
Gak apa-apa. Udah kubilang aku gak marah. Aku udah baikan, kok. :)
Aku spontan tersenyum membaca pesannya, merasa lega.
"Chattingan dengan siapa, Dek? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Kak Bobby mengagetkanku.
"Oh, ini ... dengan Vira, Kak! Ada yang lucu," jawabku gelagapan sambil cepat-cepat memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
Kak Bobby memarkirkan mobilnya di halaman parkir sebuah cafe besar tempat dia dan teman-temannya sering berkumpul. Tempat ini sudah seperti basecamp bagi mereka.
Saat masuk, kami langsung disambut teman-temannya yang sudah berkumpul. Hanya ada satu wanita di sini, denganku jadi dua.
"Oh ya, waktu kami lagi makan siang, aku melihat cewek mirip banget denganmu, Vie!" seru Kak Theo yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
Aku kaget setengah mampus. Kak Theo beneran melihatku kemarin? pikirku.
"Eh, masa iya, Kak? Di mana memangnya?" tanyaku.
"Di lapangan gedung olahraga itu, 'kan lagi ada acara Pekan Raya di sana. Kemarin pertandingan kami diadakan di sana," terangnya.
"Oh, begitu ya, Kak."
Aku kaget ternyata Kak Bobby juga ada di sana kemarin kalau pertandingannya diadakan di sana, tapi beruntung sekali kemarin aku tidak berjumpa dengannya.
"Iya, tadinya aku yakin sekali itu kamu, Vie. Dia 'kan duduk di meja sebelahku, jadi cukup jelas mirip sekali. Hampir saja kutegur. Haha," kata Kak Theo.
"Lalu dari mana kau yakin kalau itu bukan Olvie?" tegas Kak Bobby yang mulai mencurigaiku.
"Dia bergandengan dengan dua cowok sekaligus, Bro! Dan mereka hanya bertiga saja, satu cewek dan dua cowok. Ya nggak mungkin Olvie, 'kan?" Kak Theo mulai tertawa.
Aku diam menundukkan kepala. Kulihat Kak Bobby sedang memperhatikan gerak gerikku, sepertinya sudah dari tadi dia mengamatiku.
Jantungku jadi deg-degan begini. Padahal ruangan ini ber-AC, tapi aku merasa panas dan keringatku mulai bercucuran.
Kemudian, Kak Bobby mengambil ponselnya, lalu dia mulai menelpon seseorang. Beberapa detik kemudian, orang yang dia telpon mengangkatnya.
"Vira, kau kemarin ke mana?" tanya Kak Bobby tanpa basa basi.
Glek! Aku menelan ludah.
Matilah aku, Kak Bobby sampai menanyakannya langsung dengan Vira! Aku tidak kepikiran untuk mengajaknya kongkalikong denganku. Kugigit bibir bawahku sambil menggoyang-goyangkan kaki kananku, aku gugup sekali.
"Ohh, begitu. Gak ada apa-apa, kupikir kau main dengan Olvie. Ya udah, bye."
Kupejamkan mata dan menarik napas sedalam mungkin. Aku sudah ketahuan berbohong. Suasana tempat ini jadi mendukung sekali membuatku merinding.
"Vira bilang, kemarin dia ke laut dengan pacarnya, si Rudi. Berdua aja." Kak Bobby mengatakan apa yang Vira katakan di telepon.
Kak Theo dan teman-teman lainnya tampak bingung dan saling memandang satu sama lain. Kak Bobby menantikan penjelasanku.
Kenapa harus di depan mereka semua, sih? Kak Bobby sengaja ingin membuat aku malu dan merasa dipojokkan seperti ini? Amarahku timbul dalam hati.
"Kamu gak mau jelasin sesuatu, Dek?" tanyanya dengan nada sedikit menantang.
"Itu ... Kak, apa ga bisa kita bicara berdua aja?" pintaku dengan suara pelan.
Kak Bobby diam sebentar, melipat kedua tangannya di dada lalu menjawab, "Bicarakan di sini aja."
"Mumpung ada Theo juga di sini, aku ingin mendengar lebih darinya. Tapi sebelumnya, biar kudengar darimu dulu."
Dengar ucapannya barusan itu? Aku jadi membencinya. Dia sengaja memojokkanku di depan teman-temannya. Supaya mereka memihaknya karena jelas terlihat aku yang salah. Pembelaan dariku pun akan sia-sia kalau seperti ini.
"Tunggu, tunggu... Maksudmu, cewek yang kulihat kemarin itu beneran Olvie, Bob?" tanya Kak Theo kaget.
"Tanyakan padanya langsung." Kak Bobby menatapku tajam, tatapannya penuh emosi yang membuatku takut.
"Iya begitu, Vie?" tanya Kak Theo padaku dengan diikuti tatapan-tatapan lainnya.
Aku terpaksa mengangguk. Aku sudah dalam situasi di mana aku tidak bisa mengelak lagi. Kini tatapan penasaran mereka berubah menjadi tatapan kekecewaan, tatapan seolah memandangku rendah.
Kutahan air mataku supaya tidak menetes. Aku menyiapkan diri kalau-kalau mereka akan menghujaniku dengan cacian dan makian.
"Jadi, siapa mereka dan apa yang kalian lakukan?" tegas Kak Bobby.
"Aku hanya jalan-jalan biasa, ga lebih, Kak." Aku berusaha menjelaskan.
"Bagaimana bisa dari menemani Vira di rumahnya menjadi jalan-jalan ke Pekan Raya bersama dua orang pria dan menolak ajakan pacarnya makan siang? Hah?!" Kak Bobby menaikkan nada bicaranya, membuatku terlonjak kaget.
Sebagian teman-teman Kak Bobby menggelengkan kepala dan sebagian lagi mulai berdecak tidak percaya.
"Aku terpaksa berbohong karena aku sudah membuat janji dengan mereka duluan sebelum Kakak menelponku." Akhirnya aku jujur.
"Mereka hanya temanku, kami baru berkenalan, mereka kakak tingkatku."
"Oke, teman baru, ya? Lalu kenapa kamu gak bilang aja yang sebenarnya, Dek?" Nadanya masih menuduh.
"Karena ... aku tahu Kakak akan seperti ini kalau aku bicara."
"Seperti ini bagaimana?"
"Oke, aku akan jujur di depan kalian semua ..." Aku memandang mereka satu per satu.
"Sebenarnya, aku lelah, Kak. Aku capek, bosan!" Kukatakan semua yang kurasakan sekarang, mataku terasa panas dan berkaca-kaca.
Kak Bobby yang kaget mendengarnya langsung menurunkan lipatan kedua tangannya dan membelalakkan matanya padaku.
"Apa Kakak ga sadar? Kakak udah berubah, Kakak ga seperti dulu lagi."
"Apanya?"
"Kakak ga lagi mementingkan diriku. Selalu game, game, game! Bahkan Kakak juga lebih mementingkan kumpul dengan teman-teman Kakak dibanding bersamaku!" Air mataku mulai jatuh membasahi pipi.
"Kapan aku seperti itu?! Ini karena aku sedang ada tournament penting. Lihat 'kan, begitu selesai kakak bahkan mengajakmu ke sini."
"Enggak, Kak. Aku udah menyadarinya sebelum kakak ikut pertandingan itu. Kakak mulai berubah sejak aku ujian nasional SMA." Aku menghela napas, lalu kembali menunduk.
"Aku memilih universitas yang sama dengan Kakak supaya bisa mengembalikan jarak di antara kita, tapi nyatanya apa?" Aku mulai sesegukan.
Aku tidak bisa menahan emosiku lebih jauh. Kalau saja ini bukan di cafe dan hanya ada kami berdua di sini, aku pasti sudah mengeluarkan semua unek-unekku.
Tiga orang teman Kak Bobby memilih pindah meja membiarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri.
"Tidak usah mencari-cari alasan. Cepat bilang siapa cowok yang kamu gandeng itu?!" bentak Kak Bobby.
Aku tidak menjawabnya dan hanya menangis.
"Kau kenal mereka, Theo?" tanyanya beralih pada Theo.
"Aku nggak kenal, tapi aku tahu mereka anak dari jurusan Akuntansi. Aku sering melihat mereka di kantin," jawab Kak Theo jujur, sepertinya dia takut karena Kak Bobby terus saja menaikkan suaranya.
"Bukan, Kak. Mereka ga tahu apa-apa." Aku berusaha melindungi Kak Thomas dan Kak Vincent.
Kak Bobby mengambil rokok dari kantung baju Kak Theo yang di sebelahnya. Kemudian, dia membakar ujung rokok itu dan mulai menghisapnya.
Sejak kapan dia merokok? Aku bahkan baru tahu. Seberapa banyak lagi perubahan dalam dirinya yang tidak kuketahui?
"Jadi, sekarang kamu mau apa, Dek?" nada bicaranya melembut.
"Kamu juga berubah, ya, sekarang berani melawan kakak." ucap Kak Bobby.
Dia mendekatkan wajahnya padaku, lalu menghembuskan napasnya yang penuh dengan asap rokok ke wajahku.
Aku langsung berdiri dan sudah memantapkan hati, "Aku mau PUTUS!"
Beberapa orang di sekitar kami termasuk semua teman Kak Bobby menatapku. Kak Bobby ikut bangkit dari tempat duduknya, lalu dengan entengnya tangan kanannya dilayangkan pada wajahku. Dia menampar pipiku.
Kak Theo dan pacarnya yang dari tadi ikut mengamati bergegas berdiri memegangi Kak Bobby. Yang lain menyusul berdiri dan menghampiri kami. Mereka mencegahnya agar tidak melakukan yang lebih parah dari sekadar menampar.
Aku sangat tidak menduganya, kupegangi pipiku yang panas bekas telapak tangannya mendarat tadi. Kutatap Kak Bobby dengan air mata yang mengalir deras. Kata-kata kasar yang belum pernah kudengar terus terucap dari bibirnya.
Ke mana Kak Bobby yang kukenal? Dia dulu sangat lembut dan baik, dia yang dulu selalu melindungiku dan berkata tidak akan membiarkan siapa pun menyakitiku.
Tapi lihat sekarang, orang yang mengucapkannya adalah orang yang sama dengan orang yang menyakitiku sekarang!
Kak Theo membawanya keluar. Kak Itin, pacarnya, mengelus pundakku dan berpamitan disusul dengan yang lain. Menyisakan aku sendirian di ruangan itu, masih dengan tatapan mata yang sama orang-orang di sekitarku.
Masih dengan sesegukan aku kembali duduk dan menunggu mereka semua benar-benar pergi, aku tidak sanggup jika harus bertemu mereka lagi di depan.
* * * *
Terima kasih telah membaca^^
Silahkan tinggalkan komentar, like dan favorite~ kritik dan saran welcome! XD