The Simplicity of Happiness

The Simplicity of Happiness
Chapter 12 - Sesuatu Terjadi




Pov: Thomas


Kupercepat langkahku kembali ke tempat di mana aku meninggalkan Vincent dan Olvie tadi setelah mendapatkan kaos untuk menggantikan bajunya Vincent yang ketumpahan minuman.


Vincent berdiri saat melihatku yang semakin dekat dengan mereka. Kuberikan kaos itu padanya lalu menyuruhnya segera ganti baju dan membersihkan diri di toilet dekat sini.


Dia meraih lenganku dan berbicara pelan di telingaku, "Tolong kamu tenangkan Olvie, sepertinya dia masih kaget." Lalu dia sempat menoleh ke arah Olvie sekilas dan langsung berjalan ke toilet.


Olvie masih duduk di kursi yang tadi, tapi kepalanya terus ditundukkan. Aku berjongkok di depannya, mengintip wajahnya yang terus menghadap ke bawah, bersembunyi di balik rambutnya yang panjang.


"Kau terluka?" tanyaku dengan lembut.


Dia menggelengkan kepala.


"Terus kenapa?"


Olvie diam saja. Dia menggigiti bibir bawahnya. Air matanya mulai mengalir jatuh di pipinya, lalu menetes ke tangannya yang berada dalam pangkuannya.


Aku sedikit terkejut melihatnya. Kenapa dia menangis? Apa dia shock? Aku bangun dan duduk di sebelahnya.


"Hei, kau ngga malu dilihat Vincent nanti? Bahkan sekarang pun orang-orang sedang memperhatikan kita. Aku terkesan seperti orang jahat kalau begini." Aku bermaksud menghiburnya.


Dia langsung menghapus air mata dari pipinya dengan lengan bajunya yang panjang, kemudian menarik ingusnya beberapa kali.


"Ih, jorok sekali. Lihat tuh, makeup-mu luntur," ejekku.


Olvie mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak dari dalam tasnya lalu membukanya. Oh, kotak bedak rupanya. Lalu dia mulai bercermin dan bersiap untuk re-touch.


"Iihhh, bohong!" katanya setelah yakin riasannya masih utuh.


Aku menertawainya. Seperti biasa, dia mencubit lenganku keras sekali.


"Udah lebih baik?" tanyaku setelah berhenti tertawa.


Dia mengangguk, "Sedikit."


"Oke, jadi tadi kau kenapa?"


Olvie menghela napas sebentar lalu menjawabnya, "Aku ga enak sama Kak Vincent."


"Ini hari pertama kita kencan, tapi sepertinya aku memberikan kesan yang buruk padanya."


"Kencan?" tanyaku dengan nada agak kaget.


"Eh.. itu, bukan. Maksudku hangout, Kak, jalan-jalan gitu," jawabnya dengan terbata-bata seperti habis berpikir mencari alasan yang tepat untuk mengoreksi kata-katanya.


Dia terlihat tersipu sekarang, senyum malunya kembali menghiasi wajahnya.


"Ohh, jadi begitu. Kalian sedang kencan, berarti aku apa? Obat nyamuk, ya?" Aku kembali meledeknya.


Olvie tertawa kecil, "Bukan kok, Kak. Kalau bukan karena Kak Thomas mana mungkin aku bisa di sini dengan Kak Vincent sekarang."


"Makasih loh, Kak."


Akhirnya dia kembali ceria.


"Nah, kalau kau senyum begini 'kan cantik."


Tapi memang benar, bukan hanya karena aku terus menghiburnya. Kalau diperhatikan, dia benar-benar cantik saat sedang tersenyum atau tertawa. Bahkan semakin cantik aku melihatnya dari dekat tadi.


Loh, apa yang baru saja kupikirkan? Kugelengkan kepalaku satu kali mencoba fokus kembali.


"Kak Vincent marah padaku ga, ya, Kak?" tanyanya kembali dengan raut cemas.


"Nggaklah, seharusnya kau itu senang tahu!"


"Kok senang?" Olvie mengerutkan dahinya.


"Vincent menolongmu, 'kan? Padahal, posisiku lebih dekat denganmu dibandingkan dia. Aku yang tepat berada di depanmu aja terlambat menyadarinya."


"Waktu berbalik, aku udah melihatnya menarik lenganmu," terangku.


"Eh iya, benar juga, Kak!" seru Olvie dengan matanya yang berbinar-binar, seperti baru menyadari hal itu.


"Lalu tahu-tahu kau udah ada di dalam dekapannya, 'kan? Ciyee.."


Olvie terlihat sangat malu, lalu dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku yakin pasti wajahnya merah sekarang. Hahaa


"Iya sih, Kak. Tapi kan ... "


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, aku memotong, "Tetap aja intinya kau berpelukan dengannya."


Kali ini Olvie tidak melanjutkan bantahannya. Dia menalar perkataanku kemudian senyum-senyum sendiri.


"Mau beli es lagi? Sepertinya wajahmu sebentar lagi terbakar," godaku sambil tertawa jahil.


"Enggak!" sahutnya sambil kembali mencubit lenganku.


Aku mengelus-elus lenganku yang sakit. Dia mencubit persis di tempat yang sama seperti terakhir kali dia mencubitku tadi. Wah, sepertinya memar ini bisa-bisa.


Tidak terasa sudah sekitar empat puluh menit kami mengobrol sambil menunggu Vincent, masih di tempat yang sama. Hari semakin sore, teriknya mentari sudah meredup. Suara-suara teriakan dari setiap wahana semakin terdengar keras, menandakan tempat ini semakin ramai.


"Vincent kok lama banget, ya," gumamku sambil terus melihat jam di ponselku.


"Tadi sebelumnya Kak Vincent bilang sakit perut dan akan lama di toilet, 'kan, Kak?"


"Iya, tapi ngga selama ini juga. Lagi pula aku tahu dia itu hanya membual," jawabku.


"Eh, bohong maksudnya, Kak?"


"Iya, dia hanya menghindari naik kora-kora."


"Udah kubilang 'kan dia ngga berani naik itu. Tapi jangan bilang-bilang padanya ya. Haha." Kami tertawa bersama.


Kuputuskan untuk menelpon Vincent, tapi tidak diangkat. Aku terus mengulang panggilan setiap satu menit. Lima panggilan telponku tidak dijawab juga. Aku mulai gelisah.


"Apa mungkin Kak Vincent pulang duluan, Kak? Mungkin dia menghindariku dan ga mau ketemu denganku lagi." Olvie kembali berpikir yang tidak-tidak.


"Ngga mungkin begitu, seenggaknya dia akan mengangkat telpon dariku," jawabku yang langsung bangkit berdiri.


Sekarang aku benar-benar merasa khawatir. Aku berencana menyusulnya ke toilet sendiri, tapi Olvie mau ikut denganku. Kami bergegas menuju toilet terdekat ke arah Vincent pergi tadi.


Aku masuk ke dalam toilet sementara Olvie menunggu di luar. Hanya ada dua bilik di dalam toilet. Kubuka setiap pintu dan tidak mendapati seorang pun.


Haish.. Ke mana sih dia? Tidak mungkin dia pulang seperti kata Olvie, 'kan? Aku merogoh kantung celana dan meraih kunci mobil., sempat berpikir jika Vincent diam-diam mengambilnya tanpa kusadari, tapi ternyata tidak.


Olvie mengahampiriku begitu aku keluar dari toilet. Aku menggelengkan kepala memberi jawaban. Kucoba untuk menelponnya kembali.


"Tolong angkatlah, Cent. Jangan membuatku khawatir begini." Aku terus bergumam sendiri.


Olvie ikut cemas karena melihatku yang dari tadi gelisah. Wajahnya nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi. Sudah hampir satu jam sejak dia pergi berganti baju.


"Kak Vincent 'kan bukan anak kecil, Kak, mungkin dia udah pulang." Olvie berusaha menenangkanku.


"Gimana caranya dia pulang? Kunci mobil ada padaku. Dia juga menitipkan dompetnya padaku sebelum berangkat. Vincent menyuruhku menggunakannya untuk pengeluaran selama kita di sini."


Olvie terkejut mendengarnya. "Apa mungkin naik ojek online, Kak?"


"Ngga mungkin. Aku tahu betul dia ngga pernah naik ojek."


Mataku terus mencarinya di antara kerumuman yang ada. Perasaanku tidak tenang, aku panik dan tidak memperdulikan Olvie yang kebingungan.


"Kak, Kak Vincent pasti baik-baik aja, tenanglah," katanya sembari memegang lenganku.


"Aku ngga bisa tenang."


"Bukannya aku khawatir tanpa alasan, Vincent baru aja keluar dari rumah sakit kemarin pagi. Aku cemas dia kelelahan atau sampai pingsan entah di mana."


Olvie terlihat semakin bingung, tapi dia tidak berani bertanya lebih jauh.


"Mungkin dia udah kembali ke tempat tadi dan sedang mencari kita juga, Kak. Mau kembali ke sana?"


Baiklah, kutarik napasku sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan kasar. Pikiranku sudah lebih baik sekarang. Aku mengikuti saran Olvie untuk kembali ke tempat duduk kami tadi. Mungkin saja yang Olvie katakan benar.


Betapa leganya aku ketika melihat Vincent ada di sana dari kejauhan. Dia sedang duduk di kursi tempat kami duduk beberapa saat lalu. Benar kata Olvie, dia sudah kembali. Mungkin aku berlebihan mengkhawatirkannya.


Aku berlari ke arahnya, Olvie menyusulku dari belakang. Kulihat Vincent sudah mengganti bajunya.


"Vincent, kenapa kau lama banget?" tanyaku penasaran.


Perasaan suaraku sudah cukup keras, tapi Vincent tidak menjawabnya. Dia hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan matanya yang kosong.


"Hey!" Kutepuk pundaknya dan membuatnya tersadar dari lamunan.


"Ah, kalian. Habis dari mana?" tanya Vincent dengan nada yang lesu.


Aku langsung menyadarinya. Wajahnya pucat, matanya agak merah dan pandangannya sayu, tidak bersemangat seperti saat sebelum dia berganti baju tadi.


"Kau kenapa, Cent?" Aku bertanya padanya sembari duduk di sebelahnya. Olvie duduk di sisi satunya, ikut memperhatikan.


Terlihat dengan jelas salah satu pipinya memerah dan agak bengkak.


Dia menghindarinya, jelas pasti sesuatu terjadi tadi yang membuatnya lama kembali. Vincent diam dan tidak menjelaskan apapun.


"Kak Vincent?" Panggil Olvie.


"Hm?" Vincent menoleh ke arah Olvie.


"Maaf ya, Kak. Aku harap Kakak ga marah padaku."


"Gak apa-apa, kenapa aku harus marah?" Bicaranya pelan dan terputus-putus.


Kudekatkan kepalaku padanya dan aku bisa merasakan napasnya yang pendek. Aku yakin dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja. Mungkin dia bisa mengelabui Olvie, tapi tidak denganku.


"Cent, lihat aku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku tidak melepaskan tatapanku dari matanya.


Dia menoleh ke arahku dengan sedikit tersenyum.


"Gak ada apa-apa. Aku hanya merasa gak enak badan. Kalian masih ingin berkeliling atau naik wahana? Aku boleh tunggu di sini aja?"


"Nggak, aku temani Kak Vincent. Atau mau pulang aja?" tanya Olvie khawatir.


"Bukannya tadi kamu bilang sangat ingin melihat kembang apinya?" terdengar dari suaranya, Vincent memaksakan berbicara saat napasnya tidak stabil, terdengar ngos-ngosan seperti habis naik tangga tiga lantai.


"Bisa lain kali, Kak. Kak Vincent lagi ga enak badan, 'kan? Aku ga mau Kakak memaksakan diri."


Olvie terdengar sangat tulus. Dia terus menggenggam lengan baju kemeja Vincent, raut wajahnya terlihat cemas.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin dia menyembunyikannya karena ada Olvie di sini, pikirku.


Matahari sudah tenggelam, langit sudah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Terdengar suara MC yang sedang mengecek mic dan sound system dari arah panggung, menandakan puncak acara akan dimulai sebentar lagi.


"Ya udah, kita pulang aja." Aku langsung berdiri dan mengajak mereka pulang.


Suasana perjalanan pulang sangat berbeda dengan saat berangkat tadi. Jika saat pergi tadi kami banyak mengobrol dan bercanda, kini tidak ada satu patah kata pun terucap.


Vincent bersandar dan memejamkan mata, entah dia benar-benar tidur atau sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Olvie hanya memandangi jalan lewat kaca di sisi kanan. Sesekali aku melihat spion tengah dan melihatnya sedang menatap Vincent.


Aku merasa kasihan dengan Olvie. Padahal, seharian ini dia kelihatan senang sekali. Semoga dia tidak menyimpulkan yang tidak-tidak seperti Vincent masih marah padanya atau memikirkan kejadian minumannya yang tumpah tadi.


Sampai di rumah Olvie, aku berniat turun untuk berpamitan dengan orang tuanya. Rupanya Vincent tidak tidur, dia juga membuka pintu mobil.


"Biar aku aja yang berpamitan, kau di sini aja, Cent." Aku mencegahnya memaksakan diri untuk turun.


"Gak apa-apa."


Dia langsung keluar dari mobil, menarik napas panjang, lalu dengan cepat memasang senyum di wajahnya dan bersiap untuk masuk ke halaman rumah Olvie.


Ibunya Olvie membukakan pintu setelah kami mengetuk pintu dan Olvie menanggilnya. Kami memberi salam dan langsung berpamitan. Kebetulan ayahnya sedang mandi, jadi kami pamit seadanya saja.


"Terima kasih, ya, Kak Vincent, Kak Thomas, untuk hari ini dan juga telah mengantarku pulang," katanya dengan nada manja.


Aku reflek mengangkat tangan dan mengacak-acak pangkal rambutnya. Kemudian, dia mendumel dan sibuk merapikan kembali rambutnya.


Kami tertawa bersama, termasuk Vincent dan ibunya Olvie. Lalu kami berpamitan sekali lagi dan kembali ke mobil.


Ke mana senyum Vincent tadi? Dia kembali murung saat perjalanan pulang. Yah.. Aku tahu dia hanya berpura-pura tadi.


Aku menunggunya bicara sesuatu, tapi tetap saja sepertinya dia tidak berniat memberikan penjelasan apapun padaku. Sifatnya yang seperti ini paling kubenci darinya.


Langit sudah gelap saat kami tiba di rumah. Aku masuk ke dalam dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh.


Vincent pergi ke dapur dan aku segera menyusulnya. Dia meneguk segelas penuh air, kemudian tangannya memegang pipinya yang sebelah kiri.


Aku diam sebentar memperhatikannya sebelum kuhampiri dia.


"Pipimu kenapa bisa merah dan memar seperti itu?" tanyaku langsung to the point.


Kaget mengetahui aku yang sempat melihatnya, dia segera menurunkan tangannya.


"Sebenarnya..."


"Tadi aku gak sengaja terjatuh, di toilet," jawabnya sambil tertawa kecil yang dipaksakan.


Tangannya menggoyang-goyangkan gelas kosong yang dipegangnya.


"Kau bercanda? Kau tahu aku ngga akan percaya, 'kan?"


Aku menatapnya tajam, menahan emosiku. Aku sudah memutuskan akan berbicara baik-baik padanya kali ini.


Dia tersenyum sebentar lalu mendekat kepadaku. Aku tidak menduga dia akan memelukku.


"Tom, aku baik-baik aja, tapi aku benar-benar ingin sendiri," katanya pelan di telingaku, lalu melepaskan pelukannya.


Belum sempat kujawab, Vincent sudah meninggalkanku dan berjalan menuju kamarnya. Kutarik tangannya saat dia membuka pintu.


"Kalau ada apa-apa panggil aku," kataku memastikan.


Dia tersenyum dan mengangguk.


"Angkat kalau nanti kutelpon. Kau tahu 'kan aku sangat khawatir?" kutekankan dia.


Dia menatapku sebentar sebelum kembali mengangguk. Kemudian Vincent masuk ke kamar dan mengunci pintu.


Kunyalakan TV meskipun aku sedang tidak fokus untuk menonton. Kuambil ponselku dari kantung jaket yang kugantung di belakang pintu tadi sebelum mandi.


Oh, Olvie mengirimiku beberapa pesan. Dimulai dari basa-basinya mengucapkan terima kasih atas hari ini.


Si Tukang Nyubit:


...


Kak Vincent udah baikan, Kak?


Dia sakit apa sampai masuk rumah sakit kemarin?


Aku baru ingat aku sempat mengatakannya tadi karena sedang panik. Aku tidak ingin terlalu jauh menceritakan pada Olvie, biar Vincent sendiri yang memberitahunya suatu saat nanti.


Anda:


Yaa.. dia sedang beristirahat.


Kemarin cuma kelelahan aja.


Sudah jam sembilan lewat, Vincent masih belum keluar kamar. Aku mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban. Lalu kutelpon dia untuk mengajaknya makan.


"Kau ngga ingat makan?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Hm.. Gak, aku terlalu mengantuk," katanya lalu mengakhiri panggilanku begitu saja.


Tidak sampai satu jam kemudian, aku kembali menelponnya.


"Hm?" sahutnya malas.


"Katanya ngantuk, tapi masih bisa jawab telponku."


"Ada apa?" tanyanya.


"Ah, perutku sakit, sepertinya maag-ku kambuh," jawabku.


Aku tidak berbohong. Perutku memang sudah perih sejak tadi. Aku sengaja menunggu Vincent untuk makan bareng. Sekalian saja kujadikan alasan untuk memancingnya.


Tidak sampai satu menit Vincent membuka pintu kamarnya dan mendapati diriku berada di depannya. Aku tersenyum menyapanya, senyum penuh kemenangan karena berhasil membuatnya keluar.


"Mau makan apa?" tanyaku percaya diri.


Dia mentapku bingung. "Kenapa kamu belum makan, Tom?"


"Lalu kenapa kau ngga mau makan, Cent?" Aku balik bertanya.


Vincent tidak membantahku. "Baiklah, kamu pesan delivery aja apa pun."


"Ngga mau keluar? Hitung-hitung mencari udara," ajakku.


"Gak, aku agak lemas," jawabnya. Kemudian dia duduk di sofa ruang tengah.


Aku menyusul duduk di sebelahnya, lalu memesan beberapa menu makanan di aplikasi ojek online.


"Setidaknya kau makanlah dan minum obatmu, kau terlihat kurang sehat."


Kutunjukkan padanya kalau aku khawatir dengan maksud supaya dia lebih memperhatikan dirinya.


Vincent hanya menyentuh sedikit makanan yang kupesan. Dia masih suka melamun dan tidak banyak bicara.


Aku memutuskan untuk tidak mendesaknya lagi karena aku takut dia bisa drop kembali. Mungkin besok dia sudah bisa membicarakannya padaku.


Yah.. semoga saja.


* * * *


Terima kasih sudah membaca^^


Silahkan tinggalkan komentar, like dan favorit. Kritik dan saran welcome~