
Keesokan paginya ...
Ana sedang menyusuri tangga untuk keruang makan untuk malakukan sarapan sebenarnya dia bisa menggunakan lift tapi dia ingin berolahraga sedikit dengan menuruni tangga , sebenarnya dia sangat malas untuk kerencana apalagi melihat wajah pria yang membohonginya , tapi dia harus melakukannya karena saat dia bangun albert memberitahunya bahwa Christian akan menunggunya diruang makan dia ingin mengatakan sesuatu.
Ana masih mengingat kejadian tadi malam , entah keberanian darimana dia bisa membentak Christian . saat sampai dilantai bawah dia mendengar handphone berdering diruang santai , saat melihat kerencana kemari tak ada orang yang berani mengangkatnya karena dia tahu itu posel diaa, jadi dia memutuskan untuk mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon .
Belum sempat dia berbicara suara seorang wanita yang sangat dia kenali walaupun belum pernah bertemu langsung menyambutnya. Wanita yang membuat pria yang dicintainya berubah.
" hi.. sayang" ucap wanita disebarang rencana.
Kata pertama dari wanita diseberang rencana sudah membuat hatinya sesak matanya mengeluarkan air mata yang tak dapat dibendungnya.
" aku tau kau pasti baru bangun, jadi malas berbicara, jadi cukup dengar saja" ucap wanita itu lagi.
" jadi apa kau sudah bersiap- siap? Apa hari ini kita jadi pergi berlibur, aku sudah meminta izin pada sekolah Julio untuk satu minggu. Julio sudah tidak sabar menunggu mu. Kalau semua urusanmu sudah selesai cepat jemput kami. Bye sayang. Aku mencintaimu" ucap wanita itu lalu menutup telepon.
Ana meletakkan ponsel itu ketempatnya semula , tubuhnya merosot disamping sofa. Air mata dan suara tangisan yang dari tadi ditahannya ia keluarkan, maid dan penjaga yang mendengar tangisan yang menyayat hati itu hanya bisa merasa iba bahkan ada yang menitihkan air matanya, salah satu penjaga yang merasa seperti itu langsung menitup pintu ruangan itu agar tak terdengar oleh tuannya, karena setiap ruangan dimansion ini kedap suara.
Ana menangis sejadi jadinya rambut yang sudah dia tata rapi kini menjadi acak acakan akibat dari tangannya yang menarik rambutnya sendiri agar bisa mengurangi rasa sakit yang teramat dalam hatinya. Mendengarkan Aurelia memanggil Christian sayang membuat dia merasakan cemburu yang luar biasa. Dia membayangkan kedua insan itu saling memanggil sayang dan mengucapkan kata cinta, ia bahkan tak pernah mendegarkan Christian memanggilnya sayang apalagi cinta .itu mustahil.
" aaaakkkhhhh" teriak Ana.
" sakitnya semakin terasa tuhan" ucap Ana sambil memukul dadanya yang semakin sesak.
" sekali lagi, rasa sakit ini datang, mencengram hatiku. Bukan kah orangg bilang Tuhan tak akan memberi ujian melebihi kekuatan hambanya, tapi kau memberiku penderitaan yang sangat besar bahkan sedikitpun tak bisa kulalui, KAU TIDAK ADILLL" tiak Ana frustasi
Tubuhnya bergetar bahunya berguncang hebat , dia merasakan tulang- tulangnya remuk bukan hatinya saja, dia tak tahu bagaimana cara menghilangkan kehampaan dan kesakitannya ini.
" tuhan .kenapa kau memberikan aku kebahagiaan yang begitu singkat, lalu kau berikan duka yang begitu lama dan berkepanjangan, jiaka tak ada kebahagiaan untukku kenapa kau memberikanku harapan palsu yang menyakitkan, kenapai tidak dari awal duka semua." Ucap Ana mengadu pada tuhan berharap tuhan akan menjawabnya.
" aku sakit, sesak, bahkan sangat tersiksa, aku sudah lelah " ucap Ana sambil memeluk kedua lututnya, air matanya terus saja mmengalir bagai air sungai yang tek pernah menangis.
" beritahu aku , bagaimana cara menghentikan sakit ini, beritahu aku agar tidak ada lagi yang harus berduka selain aku" ucap Ana.
Ana tak henti hentinya mengoceh dan mengadu pada tuhan. Dia seperti orang mati, tubuhnya terasa mati tapi hatinya , yang sudah dia coba matikan tetap tidak bisa.